
Jones membawa Shafa menunju mobil, sebelum meninggalkan tempat itu Shafa sempat berkata pada papa dan bodyguarnya untuk tidak terlalu menyakiti Sendy.
"Papa.. Aa.. Shafa mohon jangan sakiti kakak itu, dia cuma salah paham, Shafa mohon papa, demi Shafa ya, janji ya papa." pintanya.
Johan tidak menjawab, wajahnya kaku karna menahan emosi dia juga sangat cemas memikirkan putrinya itu, sementara darahnya sudah mendidih menahan emosi.
Andai Shafa tidak sedang berada di sana Johan pasti sudah mengkuliti Sendy yang melukai Putrinya.
"Bereskan perempuan itu, tunggu keputusan gua."
Jones langsung membawa Shafa keluar dari pekarangan kampus, laki-laki itu memeluk erat istri, wajahnya masih tegang melihat luka yang ada di leher Shafa.
Mobil mewah itu meluncur cepat ke rumah sakit, Shafa meringis dalam dekapan suaminya, bayangan saat wanita itu menarik hijabnya sampai terlepas keseluruhan dan jadi tontonan banyak orang masih menari nari di pelupuk matanya.
"Aa.."
"Sayang Aa." mencium kening Shafa.
"Semua orang lihat rambut dan wajah Shafa." ucapnya lirih.
"Tidak apa.apa sayang." jawab Jones kembali mencium istri.
"Aa ngak marah."
"Tidak sayang Aa, kan ngak sengaja, hijab dede lepas bukan karna dede sengaja tapi karna dipaksa lepas, Aa ngak marah." membelai wajah cantik istrinya
"Nian Aa ?."
"Iya sayang, sungguh Aa ngak marah, meskipun Aa marah yang pasti bukan pada istri Aa, tapi pada perempuan itu, rasanya Aa pengen..." gigi Jones gemerutuk menahan emosi.
"Pengen apa Aa, jangan nyakitin ya, kakak itu pasti salah paham aja kok."
"Tentu pengen menendangnya sayang kalau tidak ingat sayang tadi ada di sana sudah pasti Aa cekik dia." geram Jones.
"Astagfirullah jangan Aa."
Selagi sibuk bercerita tidak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit tujuan, Jones lalu membopong istri menuju riang IGD, Jones meminta dokter perempuan yang memeriksa istrinya karna luka ada di leher Shafa.
Di bantu Jones mereka sama sama memeriksa leher wanita cantik itu, di sana ada luka goreng dan panjang akibat goresan peniti di lehernya.
Namun mereka malah senyum senyum sendiri karna di sana bukan cuma ada goresan tapi beberapa titik tanda cinta berwarna merah kehitaman yang tercetak secara acak dan tidak beraturan dalam jumlah yang banyak.
Jones tau dan paham senyuman teman teman sejawatnya itu tapi dia tidak perduli, dia hanya memikirkan luka yang ada di leher istri apa kah memang tidak dalam atau berbahaya.
"Dari pemeriksaan luka nyinya muda tidak dalam dan tidak berbahaya, cukup kita berikan obat obat anti biotik dan obat lainnya saja, tapi dari yang kami lihat luka bekas cokotan yang harus di berikan perhatian ekstra." senyum dokter Alya.
"Bekas cokotan ??, di apain ?." Jones.
"Di tata lebih rapi dokter ?." kekeh dokter sela.
"Emang taman bunga." oceh Jones sewot.
"Apa taman bunga Aa." bingung tidak mengerti arah pembicaraan ketiganya.
"Jangan perdulikan sayang, Jomlo mah bebas melihara pikiran negatifnya." ejek Jonesboafa tiga dokter junior.
"Ahhh kejam betul." dokter rahma.
Mereka sama sama tertawa, Johan datang setelah pemeriksaan, laki-laki itu datang bersama beberapa bodyguarnya yang tinggi besar, wajah cemas dan tegang masih tergambar di wajahnya.
"Bagai mana putri gua Jones ?."
__ADS_1
" Tidak apa apa, sudah di periksa hanya luka gores saja tidak dalam sama sekali."
"Periksa ulang, lakukan dengan baik, pastikan luka itu tidak berbahaya pada putri gua dan calon cucu gua." titah Johan tidak ingin di bantah.
Wajah tegang Johan membuat semua orang di sana juga ikut tegang, Jones sendiri tidak mau cari gara gara, dia kembali meminta rekan rekan ny untuk memeriksa ulang sang istri lebih diteil lagi, sampai ahirnya Johan puas dengan hasil pemeriksaan.
Setelah yakin putrinya baik baik saja Johan langsung membawa Shafa kembali kerumah besar bersama Jones tentunya, meski awalnya Jones keberatan tapi dia ahirnya pasrah.
Suasana rumah besar menjadi ramai begitu Shafa dan yang lain.sampai, Zahra berkeliling memeriksa seluruh tubuh putrinya, wanita itu sangat kwatir air matanya mengalir mulutnya tidak berhenti berkata kata.
"Ya Allah kak, kenapa bisa terjadi nak, kakak ngak apa apa kan." tangis Zahra.
" Ngak apa apa mama."
"Sudah yank, biarkan kakak istirahat ya, kakak ngak apa apa kok, jangan kwatir." Johan memeluk Zahra seraya menguatkan istrinya itu.
"Tapi koko .."
"Tidak apa apa yank, kakak butuh istirahat kakak sudah capek di tambah shoc karna kejadian tadi."
"Ya .. kalau begitu kakak istirahat ya, jangan banyak mikir dulu hmmm, Jones bawa Shafa kekamar kalian." Zahra.
" Ya ma.." Jones menggandeng tangan Shafa menuju kamar mereka.
Laki-laki itu membelai rambut panjang Shafa yang terurai di atas bantal, Jones tidak henti mengutuk dirinya sendiri karna merasa gagal menjaga istri, berulang kali Jones mengusap air mata yang mengalir.
"Maaf kan Aa sayang, semua salah Aa, Aa tidak bisa menjaga dede, maaf sayang, andai sesuatu terjadi pada dede dan anak anak kita Aa tidak akan bisa memaafkan diri Aa sendiri." gumamnya dalam hati.
Shafa sendiri sudah tertidur pulas di dalam pelukannya, wajah sang istri tampak pucat, Jones tau pasti kalau sang istri sebenarnya takut dan trauma tapi Shafa menyembunyikan agar semua orang tidak terlalu kwatir.
Lu kemanakan perempuan itu." tanya Jones bersandar di sisi meja makan, sambil memegang segelas air putih di tangannya.
Sorot mata Jones tajam menatap mertuanya yang baru datang di dapur dengan rambut basah di tengah malam itu.
"Gua ngak tau, tapi rasanya gua pengen saja menendang dan mencekik perempuan itu kalau gua ngak ingat istri gua sudang hamil." gigi geraham Jones beradu menahan emosi.
"Biar Robby yang urus lu tau gimana cara kerja dia kan, jadi lu jangan ikut campur kalau lu tidak mau putri gua murka."
"Hahhh kenapa istri gua punya sifat sama dengan istri lu, lembek." masih emosi.
"Hehhh kampret, istri gua mertua lu." giliran Johan yang marah.
"Ahhh ya gua lupa itu." kekeh Jones, laki-laki itu berjalan cepat menuju lift saat ia mengingat istri yang tidur sendiri di kamar.
"O iya.. istri gua pesan, jangan membunuh." ucapnya tampa berbalik melihat Johan.
"Lu tenang saja, setelah mereka puas bermain main dengan dia, perempuan itu akan mendekam dalam waktu lama di penjara." jawab Johan.
Laki-laki itu bersiap memasak sesuatu untuk sang istri yang mendadak kelaparan di tengah malam sehabis olah raga berdua.
Setelah kejadian itu pengawalan Shafa semakin ketat, meski para bodyguar tidak di hukum karna kelalaian mereka tapi mereka tetap merasa bersalah dan berjanji akan memperkuat pengawalan Shafa.
*********
Satu minggu setelah kejadian itu Shafa ahirnya wisuda dokter muda, awalnya Shafa yang ingin wisuda tampa pendampingan suami dan keluarga sekarang semua keluarga malah berkumpul Menghadiri nya.
Dengan bangga Jones menggandeng tangan istri setelah acara wisuda selesai dan tinggal sesi photo photo.
Semua orang yang ada di sana memandang takjub pasangan itu apa lagi keluarga yang ikut dengan mereka.
Senyum bahagia terpancar di wajah rupawan laki-laki indo bule itu, bagai mana tidak pernikahan mereka yang sudah dua tahun tidak banyak yang tau ahirnya tidak perlu di rahasiakan lagi.
__ADS_1
Jones dengan bangga bisa mengenalkan istri pada teman teman yang belum tau wanita mana pendampingnya selama ini.
"Gua tidak menyangka ternyata istri si Jones putri tuan Johan pengusaha sukses di negara ini beruntung bener dia ya." dokter Marwan teman sejawat Jones.
"Iya nih.., mana pintar sholehah, cantik banget lagi." jawab teman lainnya.
"Lu lihat wajahnya." dokter Marwan.
"Iya .. photonya sempat wara wiri di media sosial tapi ngak lama, karna langsung di hapus."
"Ya .. namanya juga orang kaya bro, apa pun bisa di lakukan."
"Ya betul itu, lagian wajar saja di hapus istri Jones kan memakai niqab tentu tidak bisa di lihat siapapun." dokter Marwan.
"Jantung yang nyebarin photo istri Jones aman ngak ya, berani beraninya buat begitu."
"Kita ngak tau apa cuma jantung yang aman, yang punya jantung gimana kabarnya." Marwan bergidik ngeri membayangkan hal buruk yang akan terjadi bagi siapa yang menyinggung keluarga kings grup.
"Selamat ya sayang, sekarang sudah jadi dokter mama harap kakak nanti jadi dokter yang amanah yang tidak pernah menghargai pasien dan selalu perduli sesama." memeluk putri bungsunya itu.
"Makasih mama, Shafa pasti ingat nasehat mama dan papa, Shafa janji akan mengabdi pada masyarakat siapapun itu."
"Ya sayang papa percaya itu."
"Kita pulang ya, kakak ngak boleh terlalu cape karna mau ujian lagi kan." alasan Zahra.
"Ujian nya masih lama mama." Shafa.
".Iya sayang, tapi kita harus pulang sekarang tadi pagi dede bangun cepat x karna mau siap siap, dede harus istirahat." membujuk istri agar mau pulang.
"Kenapa sih Shafa masih mau di sini lo Aa, Shafa mau makan macam macam buah yang ada di sini." mencucutkan bibir.
Jones menarik napas, sudah hampir empat jam mereka di restoran mewah miliknya itu, sehabis acara wisuda Shafa meminta mereka semua makan siang di sana karna ingin makan buah mangga yang ada di taman restoran itu.
Jones bahkan dengan semangat empat lima mengambilkan buah keinginan sang istri dengan cara menggalah buah mangga itu, meski sempat jadi perhatian pengunjung restoran tapi Jones tidak perduli.
Apa lagi Shafa sempat jingkrak jingkrak kecil menunggu buah hasil perjuangan suami, tawa kecil Shafa pun mengundang tawa semua keluarga yang menyaksikannya.
Shafa dengan lahap menghabiskan buah mangga itu tampa berniat berbagi bahkan menawarkan pada keluarga lainnya, dia sama sekali tidak curiga kenapa tiba tiba dia ingin makan buah asam khas makanan ibu hamil.
ππππ
Maaf beribu kali maaf ya All lama baru Up, karna kesibukan yang lumayan menyita waktu dan tenaga beberapa minggu ini, sekali lagi maaf ya ππ.
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baikΒ terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
πͺ΄ LIKE
πͺ΄ RATE
πͺ΄ VOTE
πͺ΄ HADIAH yang banyak
πͺ΄KOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
__ADS_1
Happy Reading.