
Sejak keluar dari kamar rawatan Jones Shafa tertunduk lesu, ia berjalan dalam diam di iringi para pengawalnya yang selalu setia menemani kemana ia pergi.
Shafa masuk kedalam mobil tetap dalam diam membuat Niken dan yang lain bingung, tidak biasanya sang nona begitu.
"Nona kok diam saja kenapa."
"Kak tadi Shafa nanya sama Uncle, mau ngak menikah dengan Shafa, kata Uncle gara gara Shafa tanya begitu Uncle jadi ngak punya harga diri apa iya kak." tanyanya tiba tiba.
Citttt...
Niken merem mendadak, Asiah yang tidak pakai Safety belt terjungkal kedepan, Lila dan Shafa yang duduk di belakang juga terjungkal, untung jatuhnya Shafa masih di tempat yang empuk kalau tidak bisa tamat riwayat Niken andai ada apa apa dengan sang majikan.
"Kau kenapa sih Niken." marah Asiah, Lila.
"Kenapa kak." Shafa.
"Maaf nona, maaf semua kalian ngak apa apa." melihat orang orang yang ada di mobil
satu persatu.
"Untung kepala ku ngak bocor." Asiah mengelus kepalanya yang terasa sakit akibat membentur dasboat.
"Shafa ngak apa apa.tapi jantung Shafa mau
loncat keluar."
"Maaf nona, maafkan saya, saya terkejut mendengar kata kata nona, masa cewek melamar cowok sih, malu dong."
"Shafa ngak lamar Uncle kak, Shafa nanya." berkata tegas dan menekan.
"Ya ampun nona, sama saja itu." Lila.
"Mnaa sama itu kak, bertanya dan melamar kata katanya aja beda."
"Sama saja nona, arti kata melamar itu berarti bertanya, di terima atau tidak saat lamaran tergantung pada yang di lamar, contohnya begitu."Asiah.
"Masa kak, masa begitu sih, ngak mungkin
aihhh Shafa jadi malu."
"Iya nona memang begitu." Lila.
Shafa tertegun, dia menutup mulutnya dengan kedua tangan saat sadar kebodohannya, Niken kembali mengemukakan mobil yang sempat berhenti mendadak di tengah jalan, untung lalu lintas tidak padat.
"Shafa lapar." menunduk lesu.
Kebiasaan gadis itu kalau lagi ada pikiran dan lagi marah ia akan sering kelaparan dan mau makan terus, ia akan melampiaskan marah atau kekesalannya pada makanan.
"Shafa bodoh ya." lirihnya.
"Siapa bilang nona bodoh, nona sangat pintar malahan kalau bodoh masa udah semester tiga umur belum delapan belas tahun." senyum Lila menggenggam tangan Shafa.
"Nona cuma ngak tau saja, nona jangan sedih gitu dong, kita jadi ikut sedih." Asiah.
"Huaaaa kakak, Shafa bodoh huaaaa bodoh, Shafa malu huaaaa." menangis kencang.
"Cup..cup .. cup jangan nangis dong nona, udah besar kok nangis." Lila menepuk nepuk punggung Shafa berlahan.
"Huaa Shafa malu kak, sama ngak mau lagi ketemu Uncle Jones, huaa Uncle jahat."
"Loh kok dokter Jones jahat, yang bil..." kata kata Niken berhenti karna melihat tatapan
tajam Asiah.
"Uncle jahat, sama ngak mau ketemu lagi Uncle udah cium bibir Shafa, Uncle udah peluk Shafa itu dosa, Shafa marah sama Uncle." Shafa berkata tampa rem, ia tampa sadar membuka
aibnya sendiri.
Hahhhh, Asiah,Lila dan Niken.
Huaaaa huaaaa ...
__ADS_1
Niken tetap pokus ke jalan, Asiah dan Lila bingung sendiri, mereka sibuk membujuk gadis itu agar berhenti menangis, gaya yang sok dewasa tapi tingkah laku masih sering seperti anak anak.
Bahkan Shafa masih merasa putri kesayangan papanya yang manja dan cengeng,
Terkadang gadis itu sering cemburu pada
Janeet kalau Johan lebih perhatian pada adik kecilnya itu.
Meski sekolah di pesantren dan mandiri tapi Shafa tetap merasa dia putri papanya satu satunya, dan bagi Johan sendiri tidak masalah kalau kemanjaan Shafa lanjut sampai besar, sebab dia sendiri sering lupa kalau Shafa sudah
remaja dan besar.
"Shafa lapar hiks.."
"Iy ..iya nona kita akan ke restoran favorit
nona ya." Niken langsung memutar mobil lalu melaju ke restoran favorit Shafa.
Asiah langsung mengirimkan pesan pada manajer restoran mewah itu untuk memberitahukan kalau mereka sedang di jalan seluruh menit lagi sampe.
"Mbak Asiah, nona muda sedang bad
mood ya." tanya manajer.
"Iya pak, cepat siapkan yang biasa nona
pesan." balas Asiah.
"Baik mbak, kami stay." manajer.
Asiah melirik ke belakang, Shafa tampak
memijit kepalanya, air mata masih membanjiri wajah cantik gadis muda itu.
Sesuai perkiraan sepuluh menit kemudian mereka sampai di restoran tujuan, Shafa turun dari mobil dengan keadaan lesu, berjalan menunduk tapi tetap membalas sapaan pelayan restoran.
"Selamat sore nona." sapa manajer.
"Selamat datang nona muda." pelayan.
"Ya terimakasih." Shafa.
"Mau makan apa nona." tanya manajer pura
pura, padahal dia paham betul sifat nona
muda kalau sedang bad mood.
"Siapkan semua makanan kesukaan Shafa
Uncle, seperti biasa." Shafa.
"Baik nona, segera datang." lalu laki-laki separuh baya itu undur diri menuju kitchen.
Para pelayan datang membawa beberapa menu kesukaan Shafa kemudian menyuguhkannya, Sebenarnya Shafa tidak lapar tapi karna marah dia tidak tau mau di lampiaskan kemana marahmya jadilah ia makan.
"Bungkus seperti biasa ya Uncle." pinta Shafa pada manajer.
"Baik nona, segera kami siapkan." jawab manajer kemudian berlalu dari hadapan Shafa.
Kalau Shafa sudah marah atau bad mood bukan hanya makan sendiri tapi dia akan meminta manajer restoran untuk membungkuskan semua makanan yang ada untuk di bagikan pada orang tua jompo, pengamen atau anak jalanan.
Meski bukan pas marah saja dia membagikan makanan tapi saat ia marah di saat itu berkah yang paling banyak keluar.
Sampai sampai sang papa menjulukinya si anak mama, karna sifat mereka yang sama sama dermawan, mama dan anak sama sama ngak tau punya uang mau di kemanakan, ahirnya di bagi bagikan ke orang yang kurang mampu.
Di tempat lain, seseorang sedang gelisah seperti cacing kepanasan, tidur telentang salah miring salah setengah duduk salah, duduk juga salah, keringat dingin membanjiri kening dan punggungnya, seperti baru melihat hantu saja.
"Kenapa sih lu, bising tau." umpat Robby.
Robby yang baru datang langsung di suruh mengupaskan buah pir untuk Jones, baru sepuluh menit duduk Robby sudah pusing melihat tingkah Jones yang tidak mau diam.
__ADS_1
"Lu lihat cinta gua ngak bro."
"Nona muda maksud lu."
"Iya, lu lihat ngak di luar."
"Ngak, emang kenapa ?."
'Habis lah gua, pasti ngambek tuh, gua hubungi handphonenya ngak mau angkat, gua chat juga ngak di balas, mampus gua."
"Loh kok bisa, emang nona muda kemari tadi." sambil mengupas kulit buah.
"Iya, tadi gua ngak sengaja narik tangannya, terus Shafa jatuh ke gua, gua peluk dan gua ciumlah gu ngak tahan sih, mana sampe dua kali." cicitnya menunduk sedih.
"Apaaaaa, lu..lu dasar mesum lu ya."
"Gua khilaf bro, gua sangat sayang ke dia, gua takut kehilangan Shafa bro." makin sedih.
"Mampus lu, rasain, berdoa saja nona ngak marah besar ehhh tunggu tadi si bos cerita kalau nona muda sedang ke restoran favoritnya, biasanya kalau nona kesana lagi kesal nona akan membagi bagikan makanan dalam jumlah yang banyak, nah tadi nona memesan lebih dari lima ratus kotak makanan itu berarti..."
Robby menggantung kata katanya.
"Berarti apa bro."
"Nona sangat marah, siap siap lu bakal.dapat murka nona lebih nanti."
"Gua ngak apa di murka, di tampar di tendang di gigit juga ngak apa apa asal gua jangan di cuekin dan di tinggal pergi, napas gua benar benar akan meninggalkan tubuh gua kalau sampai itu terjadi gua ngak akan sanggup."
Rasa takut dan khawatir tampak jelas di mata Jones, ia meminta Robby untuk menghubungi Shafa agar mau berbicara dengannya tapi hasilnya nihil, Shafa tidak mau mengangkat telepon dari Robby.
******
Sudah lebih satu minggu lebih Jones tidak bertemu dengan Shafa, sudah dua hari yang lalu Jones kembali ke apartemennya, di sana ia di dampingi oleh asisten pribadinya namun tiap hari Robby akan selalu datang berkunjung walaupun hanya sebentar.
"Bro .. lu lihat cinta gua hari ini."
" Lihat, tadi nona muda datang ke kantor mengantarkan bekal untuk si bos." jawab Robby.
"Hmmm sama papanya di antar gua di cuekin."gumam Jones namun masih bisa di dengar oleh Robby.
"Halahhh sama si bos aja lu cemburu, ingat itu bapaknya nah lu siapa ?."
Wajah Jones langsung berubah drastis.
"Maaf bro bukan maksud gua." sesal Robby.
"Sudahlah, lu pulang saja."
Berlalu masuk kamarnya menggunakan kursi roda , karna luka bekas tembakan di kaki Jones masih terasa sakit bila di pakai untuk berjalan.
**********
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
💝 LIKE
💝 RATE
💝 VOTE
💝 HADIAH yang banyak
💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
Happy Reading.
__ADS_1