
Jones uring uringan di kamar, sudah dua hari Shafa pindah kamar ke kamar tamu karna ingin pokus belajar.
Laki-laki itu mondar mandir di dalam kamar, rasa rindu ingin bercumbu dan bermesraan dengan sang istri tidak lagi bisa ia tahan.
Salah sendiri mengapa mengiyakan permintaan istri, padahal selama menikah Shafa kuliah dan sering ujian tidak pernah pisah kamar.
Bahkan saat hari ujian malamnya mereka tetap bercinta tapi Shafa tetap bisa lolos ujian, kali ini Shafa meminta hal yang aneh menurut Jones dan dia malah menurut saja.
"Sialan.. kenapa gua nurut sih, selama menikah kami belum pernah pisah kamar, kami selalu bersama dan ngak pernah libur bercinta selain pas istri gua datang bulan, lah sekarang mengapa begini sih, kepala gua sudah pusing gara gara si junior minta di puaskan." oceh Jones garuk garuk kepala.
Jones berjalan cepat keluar kamar langkah kakinya mantap menuju kamar tamu, di depan pintu kamar Jones diam sejenak.
"Gua ngak tepat janji dong, gimana kalau istri gua marah, gimana kalau istri gua ngambek lagi, mana tukang ambekan sekarang." gumamnya.
Cukup lama dia berdiri di sana sampai ahirnya ia memutuskan untuk masuk kamar itu meskipun akan menanggung berbagai resiko.
"Ahhh masa bodo, gua ngak tahan lagi." memutar handle pintu.
"Astaga istri gua.., pintunya kok di kunci sih,hahh belajar licik ya yank, Aa juga bisa hmm, dede lupa Aa pasti punya kunci cadangannya." kekeh Jones.
Laki-laki itu berjalan cepat menuju lemari tempat kunci cadangan di simpan, setelah mendapatkannya Jones lalu kembali kedepan pintu kamar dan membuka pintu itu berlahan.
Glek..
Jones menelan ludahnya kasar melihat pemandangan indah yang sudah 2 hari ini tidak ia lihat sama sekali.
Shafa duduk di atas tempat tidur memangku bantal di pahanya dengan buku tebal di atas bantal, yang membuat Jones menelan ludah tentu saja bukan karna buku atau bantalnya tapi pada pemiliknya.
Shafa duduk memakai baju yang sangat tipis, baju haram yang sudah lama di beli oleh Jones dan sangat ingin ia lihat sang istri pakai, bisa di bilang itu bukan baju karna memperlihatkan semua isi yang ada di dalamnya.
Lingerie warna merah maron itu sangat kontras dengan kulit putih mulus Shafa membuat hasrat Jones semakin membuncah.
Jones yang sudah tidak tahan lagi langsung naik ke atas tempat tidur dan langsung memeluk Shafa mesra, tubuh laki-laki itu bergetar menahan nafsunya.
"Aa.. kok kemari." protes Shafa.
Jones tidak menjawa, laki-laki itu menarik bantal.dari atas pangkuan Shafa lalu melemparkan ke sembarang arah, Jones menciumi seluruh wajah Shafa sambil mengurung tubuh sang istri di bawah tubuh besarnya.
"Emhhh Aa.. Shafa lagi belajar, jangan ganggu Shafa dong, Aa kan udah janji ke Shafa." protesnya tapi tidak menolak sentuhan Jones pada tubuhnya.
"Hmmm.. Besok pagi saja belajarnya sayang, belajar subuh itu lebih baik yangk."
"Tapi Aa kan udah janji, kita ngak gitu dulu selama Shafa belajar." menikmati sentuhan dan cumbuan Jones.
"Aa tarik janji Aa, Aa ngak bisa jauh dari dede kita udah biasa bercinta setiap hari, waktu dede ujian dulu juga kita bercinta, lagian ujian dede masih tiga minggu lagi, jadi sekarang layani Aa dulu hmmm." lanjut melepaskan seluruh pakaian yang menutupi tubuhnya.
"Tapi Aa.."
"Tidak ada tapi tapi, Aa mau sekarang, dede ngak boleh menolak, dede ngak mau berdosa kan karna ngak melayani suami." ancamnya.
"Enghhhh Aa.."
Jones langsung menyumbat mulut Shafa dengan mulutnya, kemudian pergulatan pun tidak bisa lagi di hindari.
Achhhhh .. teriak Jones kencang melepaskan hasratnya, laki-laki itu kembali menciumi seluruh wajah Shafa berulang kali.
"I love you sayang Aa, love you so much." bisiknya pelan di telinga Shafa.
"Shafa ngak tuh.." jawabnya cuek.
"Aihhhh kok ngak sih yank, Aa sedih nih." pura pura sedih dan kecewa.
"Ngak ajah.." jawabnya manja, tangan kanannya menoel noel ****** susu Jones gemas, sedang tangan kirinya berada di pinggang Jones.
"Dede marah sama Aa ya sampe minta pindah kamar hmm, dede benci sama Aa, apa salah Aa yangk, udah ngak cinta malah di cuekin lagi Malang betul nasib laki-laki ini."
"Iya Aa benci sama Aa."
"Kenapa ?."
__ADS_1
"Ngak tau benci aja.." makin manja.
"Sedih Aa lo yangk."
"Biarin.."
"Aa nangis nih.."
"Silahkan dengan segala hormat." Kekehnya.
"Ya ampun isti Aa kok jahat amat sih."
Shafa terkekeh.
Jones lalu turun dari atas Shafa, kemudian ia meraih lingerie yang tadi ia lepas paksa dan memakaikan nya kembali pada tubuh Shafa.
"Aa udah lama ingin lihat dede makai ini tapi ngak pernah mau pakai, ehhh sekali pakai malah kamar di kunci hmmm."
"Ehhh iya kok Aa bisa masuk."
"Dede lupa kalau setiap kamar dan ruangan yang tertutup pasti punya kunci cadangan kan."
"Yahhh betul juga, ishhh sia sia Shafa mengurung diri dong Aa masuk juga."
"Iya bisa dong, udah masuk kamar masuk kemari juga." tawa Jones menyentuh milik sang istri.
"Aa..."
"Sudah ngambeknya ya, marahnya sekarang kita kekamar kita ya yangk." meski sebenarnya Jones tau Shafa bukan sedang marah tapi karna pengaruh hormon kehamilannya yang membuat mood Shafa tidak stabil.
Saat itu umur kehamilan Shafa sudah memasuki dua belas minggu tapi dia tetap tidak sadar kalau sedang hamil padahal perutnya sudah jelas terlihat berbeda.
Shafa memang suka marah tampa sebab, kadang suka menangis tampa sebab dan kali ini dia sengaja menghindari Jones karna tiba tiba benci dan tidak suka pada suaminya itu, dia sengaja pindah kamar dengan alasan ingin pokus belajar.
Jones sangat paham dan mengerti perubahan sikap dan tingkah laku sang istri, dia sabar dan sangat sabar menghadapinya.
"Ya udah kita bobok di sini aja deh."
Ahirnya tampa penolakan Shafa mau tidur bersama lagi dengan Jones.
Pagi itu seperti biasa Jones bangun lebih dulu ia lalu membangun kan Shafa dan mengajaknya mandi bersama, kemudian setelah itu mereka Sholat subuh berjamaah.
Shafa meraih bukunya lalu kembali duduk di atas tempat tidur, Jones sendiri pamit ke dapur untuk memasak sarapan untuk mereka berdua.
Sekitar satu jam kemudian Jones kembali kekamar, namun ia tertegun di dekat tempat tidur saat menyaksikan sang istri yang berdiri di depan kaca rias dengan ukuran besar dan memperlihatkan seluruh tubuh.
Jones tersenyum.
"Kamu mulai curiga dengan tubuh mu ya sayang."
gumam Jones memperhatikan gerakan Shafa yang berputar putar di depan kaca, sedang tangan nya mengelus elus perutnya yang sudah mulai membuncit.
"Sayang.. kenapa hmm." berjalan mendekat, Jones lalu meletakkan salad dan nasi goreng di atas meja langkap dengan minuman susu yang tidak pernah bosan di makan oleh Shafa.
"Aa.. Shafa kayaknya gendutan deh, lihat perut Shafa kayak balon." menunjuk perutnya yang dulu datar kini berubah.
"O ya.. ngak tuh, perasaan dede aja." mencium tengkuk Shafa dari belakang karna posisi Jones sedang memeluk sang istri dari arah belakang.
"Tapi perut Shafa mulai berlemak." cicitnya.
Jones hampir saja meledakkan tawanya mendengar penuturan sang istri, dia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Shafa agar senyum dan tawanya bisa tertahan.
"Ya Allah.. istri gua kenapa sepolos ini, udah lulus kuliah kedokteran juga, dokter ngak tau sedang hamil, bentar lagi anak anak gua bergerak di dalam sana nanti malah di bilang apa ya." tawa Jones dalam hati.
"Aa..a.." manja.
"Hmmm ya sayang Aa." menahan tawa.
"Gimana kalau Shafa gendut ?."
__ADS_1
"Aa pasti makin cinta, ngak apa apa."
"Jelek dong.." mulai menangis.
"Ngak sayang, ngak akan jelek."
"Jelek huaaaa.."
Jones membalik tubuh istrinya lalu memeluknya erat, ia cium berkali kali wajah sang istri dia sangat gemas melihat tingkah istrinya itu.
"Mau seperti apapun perubahan sayang Aa akan tetap cinta, karna cinta itu tidak memandang fisik tidak memandang wajah, rupa dan lainnya, cinta Aa pada dede sangat besar tidak bisa Aa gambar kan sebesar apa, tapi Aa sangat cinta, dunia sampai akhirat cuma dede milik Aa, bidadari surga dunia Aa."
Jones menghapus air mata di wajah Shafa, menciumi berkali kali, mencurahkan segala kasih dan cintanya di sana membuat Shafa menjadi tenang dan merasa nyaman.
"Janji.." membalas pelukan Jones.
"Janji, sumpah sayang Aa."
"Aa ngak ninggalkan Shafa kalau Shafa gendutan ?." mengedip ngedipkan matanya.
"Tidak akan sayang, sampai Aa mati tidak akan pernah terjadi justru Aa yang takut dede tinggalkan kalau Aa buat kesalahan, Aa pasti akan sengsara, kalau Aa buat salah yang tidak di sengaja atau di sengaja karna kelalaian Aa dede janji tidak akan meninggalkan Aa ya hmm, Aa mohon sayang." mencium kedua mata Shafa.
"Lihat salah Aa apa, kalau Aa selingkuh Shafa ngak akan maafkan Aa." mencucutkan bibirnya.
"Tidak akan sayang, ehh tapi kan dulu dede pernah minta Aa nikah lagi, gimana dong." godanya.
"Apa.. jadi Aa mau nikah lagi ??." teriak Shafa mendorong tubuh besar Jones emosi, wajahnya berubah merah padam.
"Ehhh ngak sayang, Aa cuma bercanda yank, itu ngak akan terjadi, kan dede yang pernah nawarkan." cemas melihat kemarahan Shafa, Jones meraih kembali tubuh Shafa dan memeluknya.
"Itu kan dulu, karna mama Aa yang minta, atau Aa memang mau nikah lagi karna Shafa ngak hamil hamil." menangis sesegukan.
"Ti..tidak sayang, kan Aa sudah bilang Aa cuma bercanda jangan marah dong yank, kita pasti akan punya anak secepatnya yank, dede jangan nangis lagi ya Aa mohon, Aa minta maaf sayang Aa tidak akan ulangi canda an seperti itu lagi, Aa janji."
Jones sangat menyesal dengan kata katanya, dia memeluk Shafa mesra lalu menggendong tubuh istrinya berjalan kearah sopa, Jones duduk dengan Shafa di pangkuannya.
"Maaf sayang, jangan marah ya Aa mohon yank, Aa ngak akan menghianati pernikahan kita, untuk mendapatkan sayang aja Aa sangat bahagia, Aa mati matian berjuang untuk bisa bersama Aa meski Aa tau cinta Aa bertepuk sebelah tangan Aa tidak mundur karna Aa percaya suatu saat dede juga akan menyukai dan sayang pada Aa, kita kan hidup bahagia selamanya."
"Ngak Shafa ngak sayang sama Aa."
"O ya.. tapi suka kan ?." wajah Jones langsung sumringah melihat sang istri yang mulai tenang.
"Nghhh suka ngak ya, ngak juga." tawanya.
"Sedih Aa, udah cinta bertepuk sebelah tangan ngak suka lagi, malang betul nasib suami dede nih." pura pura sedih.
Jones bukan tidak tau bagai mana perasaan istri padanya, dari sikap manja, perlakuan Shafa yang suka ini itu dia tau dan sadar kalau istri nya itunjuga sudah menyukai dan bahkan sayang padanya tapi namanya anak baru gede dan tidak pernah jatuh cinta tentu Shafa tidak menyadari perasaannya pada sang suami.
❣❣❣❣
pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
🪴 LIKE
🪴 RATE
🪴 VOTE
🪴 HADIAH yang banyak
🪴KOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
Happy Reading.
__ADS_1