
Pemeriksaan mama Dara berlangsung cepat, serangkaian pemeriksaan sudah di lakukan, dari cek darah lengkap, rongent, USG hasilnya juga sudah keluar.
Dari hasil laboratorium di temukan loekosit yang tinggi di karnakan ada infeksi kandungan kemih, amenia berat dan penyakit lambung akut, di tambah penyakit Typhus abdominalis.
Pemyakit yang berasal dari pola makan dan pola hidup sehat yang kurang baik, tentu saja hati menjadi sakit mendengar penyakit yang ada di tubuh mama Dara, komplikasi.
Sungguh miris, karna kemiskinan membuat mama Dara menjadi begitu, bagi sebagian orang penyakit penyakit itu mungkin sepele karna tidak perlu meja operasi, tapi yang namanya penyakit tentu pasti bisa mematikan kapan saja.
"Lakukan yang terbaik dokter, kalau masih perlu pemeriksaan lanjut Lakukan juga." titah Axton pada dokter yang membacakan hasil pemeriksaan mama Dara, dokter yang sekaligus merawatnya.
"Baik tuan, yang jelas sekarang ini kita harus mencari darah untuk nyonya Dara sebab HB nya sangat rendah, jadi butuh transpusi, sedangkan persediaan darah kita sedang kosong." Jelas dokter.
"Kalai begitu cari sampai dapat secepat mungkin." titah Axton dengan suara lembut tapi menekan.
"Ba..baik tuan, ada jangan kwatir." jawab dokter itu gugup, karna merasakan tatapan tajam, menusuk dari Axton, meski nada suaranya lembut tapi bisa membuat seseorang takut.
Axton duduk di samping tempat tidur mama Dara, tatapan laki-laki itu pada mama Dara tidak bisa di nilai dengan kata kata.
Entah cinta, dendam, amarah, benci dan rindu, tapi menjadi satu bercampur baur yang pasti membuat mama Dara tidak berani membalas tatapan itu, dia hanya bisa menunduk.
"Mama.., sudah baikan." tanya Shafa yang memecah keheningan ruangan yang dingin bagai di kutub Utara.
Karna suasana yang sunyi senyap sedari tadi, Johan tidak mau masuk kedalam ruangan rawatan mama Dara karna dia belum bisa berdamai dengan hatinya untuk membuka pintu maaf pada mertua putri sambungnya itu.
"Alhamdulillah sudah lebih baik nyonya." jawaban masih lemah.
"Shafa .., Shafa mama." senyumnya di balik niqab.
"Ehh ya.." mama Dara.
"Shafa.."
"Ya Shafa.." mama Dara.
"Syukur Alhamdulillah, tapi maaf Shafa ngak bisa lama lama di sini, Shafa ngak tahan di luar apartemen lama lama."
"Ngak apa apa, memang sebaiknya Shafa pulang, tidak baik untuk kesehatan kamu kalau lama di rumah sakit ini." mama Dara.
"Ya.. lagian ada kak Jack sama yang lain jaga mama, Daddy tinggal juga kan ?."
"Emhhh.. sepertinya Daddy juga akan pulang bersama mu Be, lagian Shafa belum makan sejak tadi, biar Daddy masakkin." seraya beranjak dari duduknya.
"Tidak..Daddy tinggal saja dulu beberapa jam, apa Daddy tidak mau menjelaskan kesalah pahaman di antara kalian." Shafa.
"Tidak Be, tidak ada yang perlu di jelaskan, semua sudah jelas." Axton.
"Jelas apanya Daddy.., apa Daddy akan membawa kebenaran dan kesalah pahaman kalian sampe kalian menutup mata, Daddy meski Daddy merasa tidak penting tapi Daddy harus kasih tau mama kenapa Daddy pergi meninggalkan mama, kasih tau kalau Daddy pergi untuk melindungi dan menjaga keselamatan mama dari apa pun itu."
"Be.." lirih Axton.
Sedang mama Dara menatap Shafa bingung kemudian bergantian menatap Axton yang sedang berpikir keras menyimak kata kata Shafa.
"Daddy maaf, bukannya Shafa mau ikut campur di antara mama dan Daddy, tapi agar melegakan hati, lebih baik keluarkan kebenaran itu, agar tidak ada dendam dan sakit hati sampai bila bila."
Axton menarik napas dalam dalam.
"Nanti saja Be, tunggu mama kamu membaik dulu." Axton.
"Terserah Daddy, tapi menurut Shafa Daddy dan mama memang butuh bicara."
"Maksudnya apa ?, salah paham bagai mana ?." mama Dara.
"Tidak usah pikirkan dulu, nanti kalau kamu sudah lebih baik, baru kita berbincang, benar kata Shafa mungkin banyak yang harus kita bicarakan tentang masa lalu kita, agar tidak ada dendam dan sakit hati." Axton.
"Tapi.." Dara.
"Ya ma, maaf memang lebih baik mama sehat dulu baru berbincang dengan Daddy, mungkin saat ini belum waktu yang tepat." Shafa.
Mama Dara semakin bingung, dia tidak mengerti apa makna kata kata menantu dan mantan suami atau ahhh entah apa namanya, di bilang mantan tapi tidak ada talaq yang ia terima.
Di bilang suami Axton sudah meninggal kannya bertahun tahun, bahkan ia sudah memiliki anak dengan laki laki lain meski.
Tapi yang jelas menurut syariah islam kalau seorang suami meninggalkan istri dalam waktu yang lama tanpa nafkah bathin maupun lahir hubungan mereka sudah bisa di katakan gagal.
"Ya sudah kalau begitu kita pulang dulu ya, kakak sudah lelah, maaf bu kami pulang dulu." Zahra.
"Baik nyonya, terimakasih atas perhatian dan bantuannya." ucap mama Dara menunduk tanpa berani sama sekali menatap Zahra, dia menunduk karna malu dengan sikapnya selama ini pada keluarga itu terutama Shafa menantunya.
__ADS_1
"Jangan panggil nyonya, tolong panggil yang lain saja, tidak nyaman kuping saya mendengar." senyum tulus Zahra.
Dara bergeming dalam rasa malunya sungguh ibu dan anak di hadapannya itu tidak ada sombong sombongnya sejak awal meski sekalipun ia sakiti.
"Maaf, baik bu." Dara.
"Cepat sehat ma." Shafa mencium punggung tangan mama Dara hormat, hormat yang tulus tanpa dendam apa lagi dan beban.
Hiks.. mama Dara kembali terisak
"Maaf.. tidak seharusnya kamu masih baik padaku setelah apa yang sudah aku lakukan padamu, aku tidak pantas di baikin, aku sudah sangat jahat padamu, maaf kan aku, tolong maafkan aku nak Shafa."
Tangis mama Dara menangkap tangan Shafa, tangis penuh penyesalan, mata sendu wanita itu tampak benar benar menunjukkan penyesalan yang dalam dari hati nuraninya.
"Sudah ma, jangan di ingat lagi, Shafa udah lupa semua itu, sekarang yang penting mama sembuh." Shafa membalas genggaman mama Dara di tangannya.
"Terimakasih, kamu memang wanita baik, andai..andai aku tidak hiks.., Jones.."
"Sttttt.. sudah, jangan membuat menantumu bersedih lagi." tegur Axton.
"Hiks..hiks.. maaf." mama Dara.
Shafa sudah bersusah payah menghilangkan rasa di hatinya, setiap melihat mama Dara, namun wanita paruh baya itu malah mengingatkannya pada Jones sang suami.
"Kak.. kenapa?." Zahra menahan tubuh Shafa yang tiba tiba oleng.
"Be.. kenapa ?." tanya Axton cemas, terlihat tubuh menantu kecilnya itu tampak tidak berdaya dan akan tumbang.
"Tidak apa apa Daddy Shafa hanya sedikit pusing." jawabnya lemah.
"Kalau begitu ayo pulang." Axton ingin memapah sang menantu tapi cepat di batalnya begitu sang papa datang.
"Ada apa ?, ada apa dengan putri gua ?." tanya Johan ikut cemas, sejak tadi ia mendengar perbincangan semua orang di dalam dari depan pintu kamar, karna ia memang duduk di kursi tunggu yang berada di samping pintu.
Ia langsung bangkit mendengar suara cemas Zahra menyebut nama putrinya, wajah sang papa juga tidak kalah cemas saat masuk menerobos pintu ruangan.
"Tidak apa apa papa, Shafa cuma pusing."
"Ayo pulang kak, kakak harus istirahat." Johan memapah Shafa akan keluar dari dalam ruangan.
"Tidak.., pakai saja dulu mobilnya, kalian akan butuh itu untuk keperluan sana sini, dari pada naik angkot atau taxi." Shafa tidak mau menerima kunci dari tangan Piyo.
"Tapi..kami tidak apa apa naik angkot atau taxi kok kak." piyo tetap menyodorkan kunci.
"Pakailah, itu mobil Aa juga, kalian juga berhak memakainya, apa lagi mama sedang di rawat begini."
"Tapi.."
"Lu ngak dengar apa kata putri gua, pakai ya pakai kok repot, seperti ngak butuh saja." marah Johan karna sudah membuat putrinya berdiri lama dan membuat waktu terbuang.
"Ma..maaf tuan." jawab piyo menunduk takut.
"O iya kak.., ini pakailah, kalian juga mungkin membutuhkannya." Shafa menyerahkan black card yang ia punya pada istri Jack.
Mata semua orang melotot melihat kartu langka itu, dimana tidak semua orang bisa memegangnya, apa lagi memilikinya hanya orang orang tertentu saja, bahkan Jack, istrinya dan Piyo belum pernah menyentuh apa lagi memakai kartu itu.
"Tidak..tidak perlu dek Shafa, kami masih punya uang kok." tolak istri Jack dengan suara dan tangan bergetar, jelas jelas keuangan mereka saat itu memang sulit.
Uang yang di pegang istri Jack bahkan hanya ada lembar ribuan, mungkin sekitar lima belas sampai dua puluhan lembar saja, jangankan untuk makan untuk ongkos mereka bolak balik apartemen tidak akan cukup sama sekali.
"Maaf kak, Shafa ngak bilang kakak ngak punya uang, bukan maksud Shafa begitu, tapi ini juga untuk mama, mama butuh makanan dan nutrisi serta vitamin kakak bisa belanjakan semua untuk mama dan juga untuk kakak kakak tentunya, tolong jangan di tolak."
"Tapi ini terlalu berlebihan." Jack.
"Tidak ada berlebihan kak, Shafa ngak punya kartu lain yang Shafa bawa, cuma ini, kalau kakak segan setidaknya pakai lah ini dulu nanti Shafa ganti dengan kartu lain."
Mata Johan menatap tajam Jack dan yang lain, membuat mereka yang di tatap bingung dengan makna tatapan itu, apakah izin atau tidak.
"Jangan lihat papa kak, ini punya Shafa kok hehehe paling papa mau bilang jangan di tolak lagi, iya kan pa ?."
"Ehemmm ya kak."
"Ya sudah kami pamit dulu." Zahra memngapit Shafa di sebelah kiri sedang Johan di sebelah Zahra, memeluk fosesip tubuh wanitanya itu.
"Saya pamit Dara, jaga diri kamu baik baik lekas sembuh, kalau butuh sesuatu orang orang saya ada di luar." suara Axton.
"Tidak perlu menyuruh orang mu tinggal, ada anak anak ku, jangan kwatir." jawab mama Dara segan.
__ADS_1
Axton tidak perduli, ia menghubungi anak buahnya untuk masuk kedalam ruangan perawatan Dara.
"Jaga dia baik baik, tempatkan orang mu untuk mengawasi, ingat aku tidak mau ada kesalahan." titah Axton bernada dingin.
"Baik tuan.." jawab sang asisten hormat.
"Saya pamit dulu." tanpa menunggu jawaban Axton langsung keluar dari kamar itu, menyusul besan dan menantunya yang sudah keluar lebih dulu.
Axton sengaja tidak bersuara dab beramah tamah pada Jack dan Piyo, entah mengapa hati laki-laki itu sakit setiap melihat anak laki-laki Dara.
Apa salah mereka ?, tentu tidak ada tapi dengan adanya mereka Axton merasa dia sudah di selingkuhi oleh Dara, meski sebenarnya tidak, semua itu juga tidak terlepas dari kesalahannya juga.
"Apa maksud kata kata Shafa ya, salah paham ?, maksudnya ?, apa aku sudah membuat kesalahan dengan mencurigai Axton selingkuh dan meninggalkan aku tanpa kabar, ahhh aku makin pusing."
Mama Dara memijit keningnya yang terasa sakit dan berat, perkataan Shafa membuat ia penasaran dan ingin tau apa yang sebenarnya terjadi.
"Kenapa ma, kepala mama sakit ?." Piyo duduk di sisi tempat tidur mama Dara sembari menggantikan tangan sang mama di keningnya.
"Hemmm ya sedikit."
"Mama memikirkan apa?, tuan itu ?, dia mantan suami mama kan ?." Jack menatap mama Dara tanpa rasa aneh, curiga atau marah.
"Entahlah mama tidak tau, sudah jangan bahas, kepala mama sakit."
"Siapa tuan itu ma, sepertinya dia orang penting, lihat pengawalannya sangat ketat, aku yakin dia juga tidak kalah hebat dan kaya seperti tuan Johan." Piyo.
"Aku tidak tau, jangan bahas dulu tolong."ucap mama Dara.
Karna dia memang tidak tau apa apa tentang Axton, selama bersama sebagai suami istri Axton tidak pernah bercerita tentang keluarga dan siapa dia sebenarnya.
Hening, baik Jack atau Piyo tidak membahasnya lagi, mereka tidak ingin membuat sang mama makin sakit dan pusing dengan pertanyaan pertanyaan mereka.
"Mas.., Shafa mengirim pesan kalau kita harus berbelanja kebutuhan mama dan makanan untuk mama." istri Jack menunjukkan pesan dari Shafa di layar handphonennya.
"Ohh ya, baiklah, ayo kita pergi." Jack.
"Mama mau apa, ingin apa ma ?." istri Jack.
"Tidak perlu apapun, sekarang aku hanya ingin tidur."
"Mama, nanti Shafa bertanya aku bilang apa." istri Jack serba salah.
"Sudah kak, kalian pergi saja, kakak tau apa yang di sukai mamakan, beli itu saja, aku akan menjaga mama di sini." Piyo.
"Baiklah kalau begitu." Jack dan istri meninggalkan mama Dara dan Piyo di dalam ruangan.
Begitu sampai di luar kedua orang itu rerperanjat melihat bodyguar asing berada di depan pintu rawatan mama Dara, sejenak mereka ingat titah Axton pada sang asisten.
"Hahhh.. mantan mama sepertinya memang bukan orang sembarangan mas." ucap sang istri.
"Yahh.. tapi bukan urusan kita, ayo cepat pergi, aku sangat lapar."
"Ya .. betul mas, aku juga sangat lapar, kita belum makan sejak tadi, apa kita kirimkan makanan untuk piyo dulu saat kita makan nanti, dia dan mama pasti juga lapar."
"Ya mas rasa juga begitu, tapi kita harus hati hati menggunakan kartu itu jangan sampai kaluarga Wu salah duga pada kita."
"Betul mas.."
*********
Maaf kalau lama baru Up maklum lah waktu lagi kejar kejaran antara pekerjaan, kuliah dan RT maklum akoh merangkap semuanya, jadi ibu B jadi Ibu RT jadi bodyguar, baby sister, jadi ojek dan jadi bibik hahaha tapi berusaha untuk Up tiap hari namun apa daya baru dapat 300 kata berhenti nanti di ulang lagi bila bila ada kesempatan, sekali lagi mohon maaf All.
Biar makin semangat Up Jangan lupa kasih aku Support dengan:
🍀Like
🍀Rate
🍀Vote
🍀Hadiah
🍀Komen yang membangun
Wo Ai Ni all
Jangan lupa bahagia 🥰🥰
__ADS_1