UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
97. Langsung miskin.


__ADS_3

Setelah mandi berdua tampa modus dari Jones pasangan itu lalu sarapan pagi di bawah pohon pinus di saksikan deburan ombak laut biru, dan mata para bodyguard yang menjaga dari kejauhan.


"Kak Niken, Kak Asiah dan Kak Lila sudah makan ?." tanya Shafa pada ketiga pengawal yang baru muncul.


"Belum nyonya, makan saja dulu, kami akan makan sebentar lagi." jawab Lila, menahan lapar karna mereka harus tetap disiplin saat berjaga meski mereka juga lapar.


"Ngak makan sekarang, udah main air dari tadi nanti masuk angin kak." Shafa.


"Nanti saja nyo." Asiah.


"Sekarang, ini perintah." untuk pertama kali Shafa berkata tegas pada ke tiganya membuat mereka semua terkejut.


"Kalian dengar kata istri ku kan, ambil makanan kalian semua, dan makan di sini sama sama, itu masih ada tempat kalau kalian segan makan dengan kami di sini." Jones menunjuk dipan lain yang agak luas dari tempat itu.


"Baik tuan, nyonya."


"Kak Niken berapa kali Shafa bilang, kalau kita lagi ngumpul ngak ada papa, opa, oma panggil Shafa saja." menatap Niken dan yang lain bergantian.


"Untuk yang satu ini maaf kami tidak bisa turutin nyonya." Asiah.


"Hahhhh ya sudah, panggil bibik dan yang lain juga biar makan bareng." Shafa makan sambil di suapi Jones, laki-laki itu tidak membiarkan istrinya makan sendiri pakai tangannya.


Semua orang pun berkumpul atas perintah Shafa mereka membagi dua kelompok kelompok laki-laki di.sebelah kanan Shafa dan Jones sedang perempuan di sebelah kiri, mereka pun makan dengan santai sesuai keinginan Shafa.


Dita memperhatikan Shafa yang makan sambil menyingkap cadar saat nasi masuk ke mulutnya dan tetap di suapi oleh suami.


"Kenapa kamu memperhatikan nyonya muda ?." tahya Niken, sebagai seorang bodyguar yang terlatih di berbagai hal tentu curiga melihat gelagat Dita, pandangan matanya terlihat berbeda saat menatap Jones dan Shafa.


"Ehh ngak apa apa mbak, cuma penasaran wajah istrinya bang Jones."


"Hemm hati hati memanggil pak dokter Dita, bibik kan sudah ingatkan, antara kamu aku dan kita semua punya jenjang dan jarak pada majikan kita meski mereka baik tapi kita harus tetap hormat." lagi bibik menegur Dita.


"Kamu suka sama tuan muda ?." tembak Asiah.


"Enghh ngak kak, eii itu.. saya cuma kagum melihat kedekatan dan kemesraa mereka." jawab nya gugup.


"Jangan coba coba mengganggu dan cari kesempatan mendekati tuan, ingat kami akan mengawasi mu." ancam Lila.


Dita diam, dia menunduk karna tebakan ketigany tepat sasaran, dalam hati Dita dia sama sekali tidak suka pada ketiga pengawal Shafa.


"Dan kamu jangan panggil abang, beliau majikan kita, kamu harus jaga kesopanan." Asiah.


"I.. ya kak." Dita.


Handphone di saku celana Jones bergetar, laki laki itu langsung mengangkat panggilan vidio itu lalu muncul wajah Nazwan memenuhi layar handphone Jones.


"Assalamualaikum wrwb."


"Waalaikumsalam wrwb, apa kabar ayah." Jones.


Mendengar ayahnya di sebut Shafa langsung maju di depan Jones, wajahnya yang tertutup cadar tentu membuat Nazwan protes.


"Loh anak ayah kok ngak kelihatan wajah cantiknya, apa suamimu itu ngak kasih izin ayah lihat." goda Nazwan.


"Apa sih ayah mertua itu namanya fitnah." sela Jones cengengesan.


"Lalu kok ngak di buka niqabnya."


Jones memutar badannya ke samping lalu menatap para bodyguard laki laki itu memberi kode agar mereka berbalik, Jones kemudian menggeser tubuh istrinya agar membelakangi para laki-laki dan kini mereka berhadapan dengan Asiah dan yang lain.


Jones lalu menyingkap cadar istrinya agar ayah mertua tidak lagi protes atau sampai membuly dirinya.


"Nah sudah lihat kan yah, jangan protes lagi." canda Jones.


"Ngak lagi, kan bagus kalau sudah begini, kapan kalian kemari, ayah sudah lama tunggu di rumah."


"Nanti sore ya yah, istri ku istirahat dulu, tadi main air laut yah sampe kecapean." bohong Jones.

__ADS_1


"Ngak yah, Shafa main air cuma bentar kok."


"Nah kau pikir putri ku pintar bohong seperti mu, cepat kemari." omel Nazwan.


"Iya ayah mertua tenang saja."


"Ayah, ayah tau Shafa di sini, Shafa aja bingung bangun tidur udah di sini yah, Aa bawa Shafa lagi tidur ya." menatap Jones yang duduk di sampingnya.


"Iya sayang, kamu tidur pulas banget sih." Jones.


"Ayah tau lah putri ayah datang, ayah tau kalau putri ayah tertidur pulas karna di kasih obat tidur, bahkan ayah juga tau kalau kalian naik pesawat pribadi papamu, suamimu sekarang kan langsung miskin begitu selesai pesta."


Nazwan tertawa terbahak bahak membuat Jones jengkel melihat mertua yang membuka kartunya di hadapan Shafa, tentu saja Shafa bingung mendengar ucapan ayahnya.


"Aa miskin ?, kok bisa."


"Jangan percaya apa kata ayah sayang, mana mungkin Aa miskin, pitnah itu."


"Hisss apanya yang fitnah, kau sudah miskin sekarang kan makanya kau bawa putri ku honey moon kemari, kalau banyak uang ke turki kek, Jepang kek, ini kampung apa lagi namanya kalau ngak miskin." ejek Nazwan.


"Iya Aa." menatap iba suaminya.


"Jangan percaya sayang, Aa banyak uang, ngak percaya ya, lihat rekening sayang Aa sudah kirim banyak uang di sana, nanti Aa tunjukkan juga Black card Aa kalau masih ngak percaya."


Membelai sayang kepala Shafa.


"Yah.. kalau Aa ngak punya uang, Uang Shafa juga masih ada Aa." berkaca kaca.


"Aduh jangan percaya ayah yangk, ayah cuma bercanda iya kan yah, lihat yah gara gara ayah ini, istri ku jadi mewek." pura pura marah pada


ayah mertua.


"Idihh.. ngeles kau ya hahaha."Nazwan.


"Jangan gitu dong yah, lihat wajah putri mu ini." Jones.


"Kenapa ?, cantik." Nazwan.


"Astagfirullah halazimm, dasar tidak bersopan kau ya, datang ke mari tak gunting bibir mu pake gunting pagar, berani nya kau begitu hahhh." marah Nazwan, menghapus dadanya karna sikap tidak sopan sang menantu.


Shafa melotot, semua bodyguard menunduk, mereka berpikir sebentar lagi pasti akan ada boom yang akan meledak, sadar hal itu satu persatu di antara mereka berdiri membawa piring masing masing.


"Aa......., ngak sopan tau A." mematikan panggilan vidio lalu setelah itu menghujami dada Jones dengan tinju anginnya.


"Aw.. aw..sakit dong sayang." menangkap tangan Shafa lalu memeluknya.


"Huaaaa Aa, Shafa malu tau." tangis Shafa.


Jones mengangkat tubuh kecil istrinya lalu berlari di pinggir pantai sambil tertawa, Shafa makin marah tapi Jones tidak perduli.


"Ayo marah lagi yangk, makanya bibirnya jangan di buat gitu, kan Aa sudah sering bilang, Aa ngak tahan tau lihat bibir sayang begitu, mau Aa makan saja." tawa Jones berputar putar.


"Aa.. Shafa pusing."


"Masih marah istri Aa."


"Marah." jutek.


"Kalau begitu lanjut meter nih."


"Aa.. jangan, Hassyimm.. haaasyim." Shafa bersin berkali kali, bersim Shafa terdengar lucu karna karna terlalu pelan dan anggun.


Jones menghentikan langkahnya, lalu pelan pelan ia turunkan Shafa, wajah Jones tampak kwatir melihat istri yang tiba tiba bersin.


"Kenapa sayang, dede sakit ya, maaf." memeluk Shafa.


Hassyimm.. haaasyim..

__ADS_1


Wajah Shafa memerah hidung juga ikut merah karna berkali kali di pencet, rasa gatal di hidung Shafa membuat ia memencet hidungnya.


Jones kembali menggendong Shafa, ia setengah berlari membawa istri menuju rumah dan langsung ke kamar mereka.


"Tuan.. nyonya Shafa kenapa ?."


"Istri ku bersin, mungkin karna terlalu lama main air laut tadi, tolong smbil kan air hangat." pinta Jones pada Asiah.


Jones meletakkan Shafa di atas tempat tidur lalu ia segera mengambil air untuk mencuci kaki Shafa yang terkena pasir.


Setelah membersihkan kaki Shafa dan mengeringkan nya Jones lalu menyadarkan tubuh Shafa di headboard tempat tidur, dengan teladan ia membersihkan hidung Shafa yang berulang kali bersin.


"Biar Shafa aja Aa, jorok." menghindari tangan Jones yang melap hidung Shafa yang sudah mengeluarkan ingus.


"Siapa bilang jorok, ini milik Aa ngak jorok sama sekali." Jones mencium hidung dan bibir Shafa.


"Jangan Aa, nanti nular." mendorong pelan tubuh Jones agar menjauh darinya.


"Biarin, ngak masalah, biar nular sekalian, cup cup cup." Jones malah makin mencium bibir dan hidung Shafa berulang kali.


Tok..tok..tok..


Aksi Jones berhenti saat pintu di ketuk dari luar, Jones berdiri dan membuka pintu, di sana muncul Asiah membawa nampan berisi air.


"Mbak tolong buatkan rebusan jahe ya, tolong mbak yang buat langsung."


"Baik tuan." tampa banyak tanya Asiah pun pergi menuju dapur.


Setelah mengunci pintu Jones lalu memberikan air putih pada Shafa, lalu Jones merebahkan tubuh kecil Shafa


"Bobok ya sayang, Dede kecapean itu." membelai lembut rambut panjang Shafa mesra.


Enghhh..


Karna Shafa memang mengantuk ia langsung tertidur begitu Jones membelai belai rambut panjangnya.


Jones melepaskan pelukannya, lalu menyelimuti istrinya sampai batas leher, setelah mencium istri nya berulang kali Jones lalu turun dari atas ranjang pelan pelan.


Jones membuka pintu kamar, di depan pintu sudah berdiri Asiah, Niken dan Lila mereka menunggu Jones di sana atas permintaan laki-laki itu yang ingin menyampaikan sesuatu pada mereka, Jones sengaja mengirimkan pesan pada Asiah agar datang ke depan pintu kamar.


"Mbak Asiah, Niken dan Lila saya minta tolong pada kalian, untuk makan kami dan segala keperluan istri saya tolong kalian yang siapkan, jangan biarkan koki itu memasak untuk kami."


"Kenapa tuan." Lila.


"Tampa saya jawab kalian sudah tau jawabannya, dan yang paling penting hati hati padanya."


"Baik tuan, kami mengerti." Niken.


Tampa di jelaskan oleh Jones sebenarnya mereka sudah mengerti maksud dari permintaan Jones, dia takut Dita berbuat macam macam pada makanan mereka karna itu Jones meminta mereka untuk berhati hati.


*******


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


🪴 LIKE


🪴 RATE


🪴 VOTE


🪴 HADIAH yang banyak


🪴KOMEN yang sebanyak banyaknya.

__ADS_1


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.


__ADS_2