
"Kenapa lu bro." Robby menghampiri sahabatnya itu dan duduk di sampingnya.
"Mana Shafa Robby, dia ngak jadi nikahkan ?." tanyanya dengan wajah pucat, dia yang tadinya masih terbaring lemah kini terduduk di atas tempat tidur.
Robby dan semua orang terdiam mendengar kata kata laki-laki itu, mereka saling pandang satu sama lain karna bingung harus berkata apa.
"Kenapa diam saja Robby, apa Shafa benar benar sudah menikah." tanya Jones.
"Belum kok bro, tapi pernikahannya besok pagi." jawab Robby pelan.
"Apa.." teriak Jones.
"Iya bro besok pagi." jawab Robby menunduk.
Jones terhenyak, tubuhnya langsung terjatuh di atas tempat, pandangan matanya nanar denyut jantungnya melemah.
"Ternyata ini tujuan kalian membuat gua tidur selama dua hari ini, agar gua tidak mengganggu pernikahan Shafa." ucapnya lirih dengan air mata mengembang di mata.
"Sama sekali tidak bro, saat itu lu benar benar membuat kita kwatir, kita cuma ingin membuat lu tenang dan istirahat, siapa sangka karna kondisi fisik lu yang lemah ahirnya lu menjadi tertidur, bangun dan tidur lagi."
"Sudah katakan saja lu sekongkol dengan si bos, tidak harusnya lu buat gua begini." berkata dengan suara lemah dan bergetar.
"Sungguh bro, kami sama sekali tidak mau lu begini, gua malahan berusaha membuat lu agar cepat pulih dan sadar, tapi memang tubuh lu butuh istirahat eksra karna itu lu jadi begini."
"Gua tau kondisi tubuh gua lu jangan membela diri lagi, sekarang lu puas lihat gua sengsara hmm kalau lu sudah luas tolong tinggalkan gua sendiri gua butuh ruang."
"Tidak, gua tidak akan pergi sebelum gua kasih tau lu sesuatu yang menganjal di hati gua beberapa hari ini."
Jones menatap Robby bingung.
"Terserah lu mau ambil tindakan apa setelah gua kasih tau, kalau lu pilih maju gua akan mendukung lu penuh." Robby.
"Iya bro, kita juga akan mendukung lu, meski setelah itu kita siap siap pindah kerja keluar kota." tawa dokter Ryan.
"Maksud lu semua apa ?." Jones.
"Lu masih punya waktu sampe besok pagi untuk berpikir, sebelum akad nikah terjadi." dokter Anton.
"Jangan berputar putar, tolong jelaskan gua
ngak mengerti." Jones menatap ke tiga sahabatnya yang akan membantunya, yang entah bantuan seperti apa.
"Kemarin bos bilang kalau lu sudah menyakiti hati nona, lu yang sudah menolaknya, karna itu bos sangat marah pada lu ?."
"Maksudnya ?." Jones.
"Sepertinya kedatangan nona muda waktu itu bukan untuk menolak lu, tapi nona ingin menyampaikan kalau nona setuju menjadi istri lu." jawab Robby.
"Apa .. jadi menurut lu Shafa ?."
"Iya bro, lu saja yang terlalu cepat berpriduga lain." Robby menatap Jones iba.
"Lalu gua harus apa bro." bingung.
"Lu masih punya waktu sampe besok pagi, lu pasrah atau lu rebut, kita ikutin apa lu mau."
jawab Ryan.
Ryan dan Anton memang tidak terlalu dekat dengan Jones tapi bagi mereka laki laki itu adalah teman sejawat dan teman seprofesi yang harus di dukung dan di support, karna perjuangan cinta Jones membuat mereka terharu dan simpatik sehingga ingin membantu laki-laki itu.
Jones diam.
"Sekarang lu pikirkan langkah apa yang akan lu ambil, lu punya waktu sampe besok pagi, kita akan menunggu keputusan lu." Robby.
"Tapi lu harus kuat dan sehat kalau lu mau kesana besok jadi lu makan obat lu sekarang." titah Anton, laki-laki itu menyerahkan beberapa butir obat pada Jones dan langsung di sambut dan di minum oleh Jones dengan cepat.
Kemudian mereka sama sama diam, terlena oleh pikiran masing masing, sampai Jones bangkit dari tempat tidur.
"Mau kemana lu." Robby.
"Kamar mandi." Jones.
"Ngapain malam malam ke kamar mandi." Robby.
"Gua mau membasuh diri gua sebentar dan gua mau Sholat malam." jawabnya.
"Good." Robby.
"Lu butuh bantuan." Ryan.
"Lu Aff infus gua, gua risih." Jones.
"Lu masih butuh itu, setidaknya sampe besok pagi." Ryan.
"Ngak, gua sudah kuat sekarang, tolong aff." pinta Jones memohon.
__ADS_1
"Oke kalau itu mau lu, tapi beneran lu sudah kuat kan, dan lu jangan mandi dulu." Anton.
"Gua sudah kuat, gua hanya ingin membasuh diri saja." jawab Jones yakin.
Asisten dan dokter Ryan membuka infus yang terpasang di tangan Jones, setelah infusnya terbuka berlahan lahan Jones turun dari atas tempat tidur kemudian ia berjalan ke arah
kamar mandi.
"Dari kemaren kemaren lu baik budi begini kita ngak perlu repot repot memberikan obat penenang buat lu." canda Robby.
Jones pura pura tidak mendengar kata kata Robby dia membuka pintu kamar mandi lalu masuk kedalam, Ryan, asisten dan Anton keluar kamar mereka menuju kamar tamu, karna hari sudah larut malam dan Jones tampak sudah tenang jadi mereka memutuskan agar beristirahat karna mereka juga sudah lelah dan mengantuk.
Di dalam kamar tinggal Robby dan dua bodyguar yang masih setia berjaga, para bodyguard sibuk bermain game di handphone masing masing sementara Robby merebahkan dirinya di sopa.
Matahari berlahan muncul malu malu dari upuk Timur, cahaya yang terang dan kemerahan membuat semangat siapa saja akan membara seperti pagi itu terjadi kehebohan di apartemen Jones.
Semua orang kalang kabut karna semua orang bangun kesiangan pagi itu, karna terlalu lelah kurang tidur dan istirahat sahabat dan bodyguar yang ada di sana benar benar tidurnya kebablasan.
Jones sendiri juga tertidur di atas sejadahnya
dan begitu ia terbangun lebih dulu ia langsung berteriak kencang membangunkan seisi apartemen itu.
"Ya Allah ya Tuhan ku, ngapain lu begitu, lu mau kemana hahh." marah Robby melihat penampilan Jones.
Semua orang memandang Jones dengan mata terbelalak lebar, karna laki-laki itu berlari dari dalam kamar menuju pintu apartemen dengan hanya memakai baju koko, sedang bagian bawahnya hanya pakai segitiga pengaman saja.
Jones melihat ke bagian bawah di mana mata semua orang tertuju.
"Astagfirullah lu mau sunatan lagi ?." goda Ryan.
"Sialan lu, cepat antarkan gua." omel Jones.
"Mandi dulu, lu bau tau ?." Robby.
"Ngak sempat." tolak Jones, berlari ke kamar sebentar kemudian keluar lagi dengan meninting celana di tangannya.
"Ya ampun Jones, masih jam tujuh, cepat mandi lu ngak malu ketemu nona bau begitu, lu sudah tiga hari tiga malam ngak mandi goblok." marah Robby.
"Gua sudah pake parfum." Jones.
"Tidak lu mandi dulu, yang rapi dikit dong, jangan sampe nona ilfil melihat lu." Robby menarik Jones kedalam kamar dengan paksa.
Sementara yang lain juga mengikuti dari belakang, mereka semua sama sama memaksa laki-laki itu agar mandi dan berpakaian rapi.
Meski sempat terjadi percekcokan tapi ahirnya Jones mandi juga, jangan tanya mandi apa namanya yang jelas kena air itu saja.
"Lu benaran sudah mandi." Robby.
"Jangan banyak tanya, cepat antar gua."
"Tunggu apa tujuan lu." Ryan.
"Merebut milik gua."
"Wow.. ayuk." jawab kompak mereka.
"Tunggu kami belum mandi, dan lu belem
selesai memakai baju." Anton.
"Ngak perlu, cepat gua ngak mau terlambat." berlari keluar kamar sambil mengancing celana panjang yang baru saja ia pakai.
Karna Jones sudah keluar kamar ahirnya mereka pun menyusul keluar kamar, sampai di luar mereka semua di hadang oleh bodyguard yang di tigaskan Johan.
"Maaf pak, kata tuan kami harus mengawasi kalian semua, kalian tidak boleh meninggalkan tempat ini." ucap bodyguar satu menghalangi pintu keluar.
"Menjauh dari pintu itu, gua di undang sendiri oleh tuan kalian, gua mau ke sana." marah Jones.
"Maaf pak kami tidak bisa." jawab bodyguar dua ikut menghalangi pintu.
"Lu berdua mau melawan gua."hadrdik Robby.
"Maaf pak, kami hanya menjalankan perintah." Bodyguar satu.
Robby, Anton, Ryan dan asisten saling pandang sementara Jones sudah meremas rambutnya karna menahan amarah.
"Menyingkirlah dari pintu." titah Robby
sekali lagi.
"Maaf pak ka.." belum sempat bodyguar satu menyelesaikan kata katanya Robby dan asisten sudah melumpuhkannya dengan sekali pukulan di wajah sang bodyguar.
Asisten langsung menahan tubuh laki-laki itu sementara Robby memborgol sebelah tangan sang bodyguar di kaki meja tamu.
"Maaf juga kami terpaksa melakukan ini." ucap Anton dan dua pukulan mendarat di tubuh bodyguar kedua.
__ADS_1
lalu Robby kembali mengambil borgol yang selalu ia bawa di dalam bajunya kemudian dengan sigap Robby memborgol tangan bodyguar ke kaki meja setelahnya lagi.
"Oke Let's go." teriak Jones semangat.
Mereka semua berlari keluar apartemen menuju lantai bawah, awalnya Jones ingin melewati tangga darurat karna tidak sabar ingin sampai ke bawah, tapi keempat orang itu dengan sigap meyeretnya masuk ledalam lift.
Setelah sampai di lantai bawah mereka langsung masuk kedalam mobil yang terparkir tidak jauh dari pintu lift tempat mereka keluar tadi.
Robby membawa mobil keluar dari pekarangan apartemen itu dengan kencang dan cepat membuat semua orang berteriak dan langsung berpegangan pada kursi masing masing.
"Lu mau membunuh kita Robby." teriak dokter Ryan marah.
"Lu mau si Jones yang bawa mobil, sudah pasti dua pilihan, kuburan atau rumah sakit, sudah jangan banyak protes lu semua." teriak Robby.
Semua orang pun terdiam menikmati laju mobil yang sangat kencang tapi masih terkendali, tapi laju mobil yang kencang hanya sebentar karna tiba tiba laju mobil melambat.
"Kenapa ini, aishhh pake macet lagi." marah
Jones.
"Sialan, waktu tinggal tiga puluh menit lagi
jam sembilan." ucap Robby membuat Jones memucat.
Jones yang tidak sabar langsung keluar dari mobil dia berjalan cepat di antara mobil dan sepeda motor yang ada di sana, lalu Jones meminta salah seorang pengendara sepeda motor untuk mengantarnya karna dengan menggunakan sepeda motor bisa menyelip di antara mobil.
"Lu antar gua ke hotel XX ya gua mohon, gua kasih lu satu unit mobil lengkap dengan isinya." ucap Jones memelas menunjuk mobil mewah miliknya dengan keempat orang yang ada di dalamnya.
"Maaf pak saya ngak bisa saya sibuk." jawab pemilik sepeda motor itu.
"Please bantu gua, ini masalah masa depan gua." memelas
"Maaf pak saya ngak bisa."
"Tolong berikan sepeda motor lu, nanti gua kasih sewanya." ucap Robby yang tiba tiba datang.
Tatapan mata Robby yang tajam membuat laki-laki itu bergidik ngeri dan entah mengapa dia langsung memberikan sepeda motornya, bukan hanya sepeda motor laki-laki itu tapi sepeda motor pengendara lainnya juga di minta oleh Robby dan dengan terpaksa di berikan.
"Kalian naik mobil itu cepat." titah Robby pada pemilik sepeda motor.
Dan dengan patuh kedua pemilik sepeda motor itu masuk kedalam mobil, di mana sang asisten yang berada di dalam mobil dan siap menyusul
Sedang mereka berempat meninggalkan tempat itu dengan kecepatan tinggi, di dalam ballroom JH Hotel, hotel terkenal milik Johan itu sudah berkumpul semua anggot keluarga, di bagian depan ruangan dengan pasilitas mewah itu duduk Johan dan Arkhan yang saling berhadapan karna ijab kobul yang akan segera di laksanakan.
Di belakang Arkhan sudah duduk pengantin wanita di temani dua orang di samping kiri kanan sang pengantin, karna sebelum Arkhan mengucapkan ijab kobul mereka berdua belum boleh duduk berdampingan.
"Bagai mana pak masih ada yang mau di tunggu." tanya sopan penghulu pada Johan.
"Tidak." jawab Johan.
"Bagai mana semua, bisa kita mulai acaranya." tanya penghulu pada saksi dan tamu undangan lainnya.
"Bisa pak." jawab mereka bersamaan.
"Baik lah mari kita mulai acara ijab kobulnya." ucap pak penghulu.
Johan dan Arkhan saling berjabat tangan, mereka berdua tampak serius, kedua orang itu sama sama saling pandang, pandangan yang sulit di artikan.
"Saya nikahkan engkau saudara.."
"Tunggu......" teriak seseorang yang baru sampai di dalam ruangan itu, laki-laki itu berlari kencang sambil berteriak teriak.
Sesampai di dekat pengantin Jones setengah menunduk seperti rukuk, tangan kanannya memegang dada dan tangan kiri mengarah pada pemghulu, Johan dan Arkhan seakan memberi isyarat untuk berhenti atau menunggu.
Tak lama Robby, Ryan dan Anton juga hadir di dekat Jones, Ryan yang berlari membawa tongkat milik Jones menyerahkan Tongkat itu pada Jones yang lupa memakai nya tadi.
*******
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
💝 LIKE
💝 RATE
💝 VOTE
💝 HADIAH yang banyak
💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
__ADS_1
Happy Reading.