
Melani duduk di hadapan Shafa yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur, wajah melani tampak murung melihat Shafa tidak berreaksi apa apa saat dirinya menyapa sang majikan.
"Maaf nyonya, saya akan periksa tekanan darah nyonya dulu."
Shafa tetap diam, namun tidak menolak saat tangan Melani memasang alat pengukur tekanan darah tersebut ke lengan bagian atasnya.
Saat tangan melani menyentuh nadinya Shafa tiba tiba menatap Melani, tatapan Bingung, bola mata indah itu memperhatikan wajah Melani lamat lamat.
Entah apa yang Shafa rasakan di sentuhan Melani pada kulitnya tapi sentuhan itu berhasil menarik perhatian Shafa.
Shafa sudah tau kalau dokter Melani akan merawatnya, menjaganya siang dan malam bersama para bodyguar, karna sebelumnya sang papa dan sang mama sudah memberitahukan kalau akan ada perawat atau dokter yang akan menjaganya.
Meski pada awalnya Shafa menolak tapi tetap kalah pada keputusan papanya, setelah memeriksa vital sing Shafa Melani menyiapkan alat USG yang sudah di siapkan olehnya.
"Tekanan darah nyonya cukup rendah, 90/70 mmhg, temperatur 37,6 °c tubuh nyonya hangat, sepertinya nyonya dehyrasi saya akan pasang infus."
Pandangan mata Melani dan Shafa tiba tiba beradu, membuat getaran aneh di hati Shafa, meski tidak merespon tapi melani tau kalau wanita cantik itu tidak menolak perkataannya.
"Tapi sebelum di infus saya akan periksa dulu dulu kandungan nyonya." Melani.
Shafa tetap tidak merespon, hanya saja bola matanya tetap memperhatikan raut wajah melani yang tampak tenang dan senyum yang senantiasa menghiasi wajahnya.
"Kak..dengar kan apa kata dokter, kakak di USG dulu ya nak." Zahra.
Shafa tidak menyahut, bumil itu cuma mengangguk mendengar pertanyaan sang mama.
"Maaf, saya bantu menyingkap bajunya nyonya." Melani lalu menyingkap baju bagian atas Shafa.
Shafa tetap diam, bola matanya tetap pokus pada wajah Melani entah apa yang ada di pikiran Shafa, hanya saja ia tiba tiba merasa nyaman dengan sentuhan tangan wanita itu di kulitnya.
Padahal mereka baru saja saling kenal, bahkan Shafa belum komunikasi dengan baik sama sekali dengan Melani.
Melani mengoles gell di atas permukaan perut Shafa kemudian dengan lincah dan telaten Melani menggeser alat pemindai ( probe ) tersebut.
Shafa mengalihkan pandangan matanya pada layar monitor yang berada di samping tempat tidurnya, wajahnya yang tadi muram berubah sedikit cerah begitu melihat ketiga buah hatinya yang tampak lucu dan menggemaskan.
Usia kehamilan Shafa sudah memasuki minggu ke-21, janin telah menyerupai bayi yang siap lahir, tetapi dalam ukuran yang sangat kecil
bobot berkisar antara 360–600 gram dengan panjang kurang lebih 26–30 masing masing janin.
Zahra memperhatikan mimik wajah Melani yang tampak cerah dengan senyum menawan di bibir, tangannya masih mencari sesuatu dengan alat pemindai tersebut.
"Bagai mana dokter ?." Zahra.
"Alhamdulillah kondisi ketiga janin nyonya Shafa baik dan sehat, volume ketuban cukup dan baik, berat badan ketiganya normal tidak ada yang mengkhawatirkan bahkan mereka sangat sehat." jawab Melani, pandangan matanya masih pada layar monitor.
"Alhamdulillah kalau begitu." Zahra.
"Jika janinnya saat ini sehat dan baik, tapi yang saya khawatir kan justru Mommynya nyonya Ara, kalau nyonya muda masih tidak mau makan yang saya takutkan nanti malah berpengaruh pada kondisi kesehatan nyonya dan tentu akan berpengaruh pula pada janin yang ada di dalam rahim nyonya muda."
Huphhhhh... Zahra menghela napas, ia menatap Shafa yang sedang sibuk menatap layar monitor USG.
__ADS_1
"Dengar kata dokter kan kak, kalau kakak ngak mau anak anak kakak sakit dan pertumbuhannya terganggu kakak harus makan yang banyak dan bergizi." Zahra.
Shafa mengganguk.
Melani membersihkan permukaan perut Shafa yang basah karna gell dengan tissu, setelah itu ia lalu menutup perut putih mulus ibu hamil itu dengan baju dan selimut.
"Nyonya sudah makan ?." tanya Melani lembut, pandangan matanya beradu dengan mata Shafa yang sayu dan lembut.
Deg..
Melani merasa pandangan sayu itu seperti menusuk relung hatinya, entah apa dan mengapa dokter itu merasakan sesuatu yang aneh dalam hatinya, kasihan dan simpati mungkin.
"Kak.. kok ngak jawab sih nak, kakak udah makan belum ?."
Shafa menggeleng.
"Kenapa sih kak, kok diam aja." Zahra.
Shafa lagi lagi menggeleng lemah, kini pandangan matanya lurus ke depan, namun tiba tiba ia meneteskan air mata, membuat Zahra dan yang lain terkejut.
"Kak..kenapa menangis." membelai sayang tangan Shafa.
Shafa tetap diam hanya air mata yang masih mengalir, wajah pucatnya terlihat kaku tanpa ekspresi.
"Kak.." Zahra menggenggam tangan Shafa lembut.
"Nyonya muda kenapa." tanya Melani bingung.
"Kak..kenapa nangis nak, ini kenapa yank, putri koko kenapa ?." Johan yang sedari tadi diluar langsung masuk saat mendengar suara berat Zahra.
Laki-laki itu menunggu di luar kamar sejak Shafa di periksa oleh Melani, sebagai laki-laki, meski bergelar ayah dia tetap memberi batasan dan jarak pada dirinya agar tidak mendekat.
Apa lagi pada saat putrinya butuh prifasi dan saat putrinya di periksa Melani yang harus membuka kain di bagian tubuhnya tentu saja akan sangat janggal kalau sampai ia ikut masuk kedalam kamar dan melihat putrinya di periksa.
"Kak.., dengar papa ngak nak, jangan buat papa takut, kakak mau apa hmm, katakan pada papa." Johan menatap nanar putrinya yang terbaring lemah di atas tempat tidur.
"Shafa .. Shafa mau Aa pa, apa papa bisa memenuhi permintaan Shafa pa ?." tanyanya lemah.
"Kak.." Johan, Zahra sama sama terkejut mendengar permintaan Shafa.
"Kakak mau ke negara Daddy ya ?, mau jiarah ..?" ahirnya hanya kata itu yang keluar dari mulut Johan.
"Iya.. Shafa mau kesana, Shafa rindu makan masakan Daddy..hiks..hiks." Shafa menagis sedikit kuat.
"Sabar ya nak, kita akan kesana nanti, tapi kakak harus kuat dulu, harus sehat hmm." Johan.
"Daddy Shafa nanti pasti datang lagi kok nak, sekarang Daddy sedang sibuk, tadi papa sudah hubungi Daddy, iya kan ko ?." menyikut lengan Johan pelan.
"I..iya kak, tadi papa teleponan sama tuan Axton, beberapa hari lagi beliau datang nak, jadi kakak jangan sedih ya." Johan.
"Mereka bohong Be, tidak sampai berhari hari, Daddy sudah di sini, kamu merindukan Daddy atau masakan Daddy sih Be."
__ADS_1
Secara tidak terduga Axton malah muncul dari balik pintu sambil membawa keranjang buah dan buket bunga tulip warna pink.
Tulip warna pink merupakan suatu lambang penghargaan dan harapan baik pada penerima, karna itu bunga tulip itu merupakan pilihan bagi orang orang yang ingin mendukung dan menyemangati keluarga, kerabat, sahabat yang tengah butuh dukungan atau support.
"Dad..Daddy ..hiks." tangis Shafa kencang begitu mendengar suara mertuanya itu.
"Loh.. anda..?" ucap Johan gugup karna ketahuan bohong, baik Johan maupun Zahra, semua orang yang ada di dalam sama sama terkejut melihat kehadiran Axton yang tiba tiba di sana.
"Hallo Be, kesayangan Daddy kenapa jadi kurus begini ?, kita kan sudah sepakat kalau Daddy pulang ke negara Daddy Shafa tidak boleh sakit, harus makan dan merawat diri hmm."
Axton mendekati Shafa, ia lalu duduk di sisi kiri berlawanan arah dengan Johan dan Zahra yang duduk di sisi kanan tempat tidur Shafa.
Axton mengulurkan tangan ke pada Shafa lalu di sambut oleh Shafa, wanita hamil itu mengangkat tangannya lemah untuk menyalami mertuanya itu.
"Hiks.. masakan mereka ngak ada yang enak Daddy, Shafa ngak bisa makan hiks Daddy jahat sama dengan Aa, hiks kata Daddy cepat pulang tapi lama hiks hiks."
Shafa mengadu sekaligus marah pada sang mertua, Axton menatap iba menantu kecilnya itu.
"Maafkan Daddy Be, banyak sekali yang harus Daddy urus di sana, belum lagi Daddy harus mengecoh paparazi yang selalu membuntuti Daddy kemana pergi, Daddy tidak mau kalau sampe menantu Daddy yang cantik ini nanti terganggu dengan kehadiran mereka."
Axton membelai kepala Shafa penuh kasih, layaknya kasih seorang ayah pada putrinya.
"Tapi.. tadi papa, mama bilang Daddy masih lama ?." mengalihkan pandangan mata pada mama, papanya.
"Ehhh ehhh..itu papa emhhh." Johan menatap Axton memelas, mengisyarat kan sesuatu, meminta pertolongan tentunya " Tolong beri aku muka di depan putri ku." begitulah kira kira.
"Hahahaha ya ya ya.., tadi memang Daddy di telpon papa kamu Be, Daddy bohong dikitlah, Daddy kan mau kasih surprise pada kamu Be, kalau Daddy kasih tau Daddy sudah di sini ngak seru dong." tawa Axton.
Johan menarik napas lega, ahirnya besannya itu menolong dirinya, meski mereka sering ribut kalau sedang kumpul tapi Axton tentu lebih berpikir logis dari pada besan keras kepalanya itu.
"Huhhh untung lah, punya hati juga lu." gumam Johan dalam hati.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
🌻 LIKE
🌻 RATE
🌻 VOTE
🌻 HADIAH yang banyak
🌻 KOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
__ADS_1
Happy Reading.