
Tidak lama lagi wisuda dokter muda Shafa akan berlangsung, semua keluarga jadi bingung harus bagai mana mengambil sikap di satu sisi Shafa harus di dampingi di sisi lain sang calon wisudawati belum siap statusnya diketahui banyak orang.
" Hahhh gitu dong sesekali dede yang minta jangan Aa terus ngak adil namanya." Jones mencium pucuk kepala Shafa mesra.
"Apa Shafa yang minta duluan, ngak ya Aa kok yang tadi cium cium Shafa." membela diri.
"Ooo gitu ya, terus siapa tadi yang nyambut Aa di pintu apartemen dan langsung megangin itu Aa, mana tangan nya langsung nyelonong masuk celana Aa lagi hmmm." goda Jones mengingat kejadian beberapa jam lalu.
Jones menghubungi Shafa kalau dia sudah sampai di lantai dasar apartemen, dan akan naik ke lantai atas tempat apartemen mereka berada, dengan demikian Lila, Nisa dan Niken secara otomatis terusir dari dalam apartemen begitu sang suami pulang.
"Yahhhh nasib, habis manis sepah di buang." ucap Niken tertawa kecil begitu Shafa menyuruh mereka kembali ke apartemen yang berada di samping apartemen suami istri itu.
Sejak Jones membawa Shafa kembali ke apartemennya Niken dan bodyguar laki-laki juga ikut tinggal di apartemen, mereka tinggal di sisi kiri kanan apartemen Jones agar bisa dekat dan bisa mengawasi Shafa secara intensif.
Shafa tidak perduli dengan kelakar ketiganya dia malah berlari ke pintu dengan semangat menyambut suaminya.
Begitu Jones masuk Shafa langsung memeluk dan minta di cium, tapi tangannya tanpa permisi sudah masuk ke dalam celana Jones, melakukan hal hal sesuka hatinya bahkan melakukan gerakan ringan di sana membuat sang empu memejamkan mata menahan hasrat.
"Sayang.." melepaskan pagutannya.
"Shafa mau.." mengatur napas.
"Mau yank, Aa juga." suara serak dan mata Jones mulai berkabut.
Jones langsung melepaskan seluruh pakaian nya
begitu tubuh nya polos, laki-laki itu langsung mengangkat Shafa dan membawanya kekamar mereka.
Kali ini bukan Jones yang memimpin tapi sang istri dengan gemulai yang berada di atasnya dengan suka rela tampa permintaan dan tampa paksaan.
Jones menjerit jerit kecil menahan gejolak kenikmatan yang di berikan oleh sang istri yang dulu pemalu kini berubah nakal dan menguasai tubuhnya.
Hahh hahhh hahhh
"Ayo sayang lebih cepat uhhhh dede makin pintar sekarang ya." ocehnya.
Laki-laki itu terus saja meracau tidak jelas menikmati setiap sentuhan dan gerakan Shafa di sana, kali ini Jones benar benar kewalahan menghadapi istrinya yang makin semangat melancarkan aksinya mendengar suara dan jeritan suami.
Dia merasa menang sendiri karna berhasil membuat sang suami seperti orang kesurupan, Senyumnya melebar sempurna.
Peluh membasahi seluruh tubuh Shafa yang putih mulus, tatapan mata Jones tidak mau lepas dari sesuatu yang menggantung indah di dada sang istri.
Benda kenyal itu tampak makin indah dan makin berisi, saat Shafa menggerakkan tubuhnya benda besar itu tetap diam tidak bergerak dari tempatnya.
Tangan Jones juga ikut bergerak di sana, membelai dan bermain main di sana berulang kali, suara suara aneh Keduanya serta jeritan syahdu makin menggema di kamar luas dan mewah itu saat kedua insan itu sama sama menuju puncak kenikmatan.
"Sayang.. tumben nih hmm."
"Apa.." mengatur napas sembari merebahkan tubuhnya di atas Jones.
"Tumben suka rela bantu Aa di atas." senyum Jones membelai punggung Shafa.
"Emang kenapa ?, ngak boleh ya ?
"Boleh banget dong sayang, lebih sering malah lebih bagus pasti asik." kekeh Jones.
Jones memejamkan mata merasakan hangat tubuh istrinya yang masih berada di atasnya, perempuan itu menempel seperti prangko dan bermanja manja di sana.
"Aa Shafa ngantuk,Shafa boleh bobok di sinikan ?." meletakkan kedua tangan di atas dada Jones.
"Dede mau bobok yank ??."
Hmmm ..
"Abis make Aa terus di cuekin ya."
"Aa.."
"Iya ya.. bobok sayang Aa." mengecup kening Shafa berulang kali.
Tidak menunggu lama dengkuran halus sang istri langsung terdengar, Jones tersenyum bahagia, di usapnya berulang ulang punggung dan bokong polos Shafa di bawah selimut.
"Semua nya makin berisi , dada bahkan pipi dede juga ikut tembem, Aa jadi gemas yank dede malah makin cantik." gumam Jones pelan di telinga Shafa.
Laki laki itu semakin mengeratkan pelukannya pada sang istri yang makin hari makin manja tapi makin cengeng.
Sudah hampir dua minggu ini Shafa selalu minta lebih dulu, dan selalu lebih akresip dari Jones bahkan Jones sendiri sampai kewalahan melayani Istrinya itu.
Pagi itu Jones bangun dengan kondisi tubuh lemah dan kelelahan, semalaman dia harus melayani sang istri biasanya cuma 1 sampai 2 ronde kali ini dia terpaksa bolak balik bangun karna Shafa yang merengek minta di puaskan.
"Sayang bangun yank, dede ngak ke kampus hmm." suara lembut Jones malah makin membuat Shafa tertidur pulas.
"Sayang Aa, bangun dong, Aa udah buat sarapan, kita sarapan yuk." membelai wajah cantik Shafa.
Wanita itu malah makin menarik selimut, Jones menarik napas dalam dalam tidak biasanya sang istri begitu, biasanya habis sholat subuh dia akan belajar karna setelah wisuda dokter muda dia harus mengikuti ujian lagi agar bisa secara resmi di sebut dokter dan bisa bekerja.
"Sayang, bangun dong, ehhh belum pake baju luar ternyata, ayo mandi sayang Aa, abis itu sarapan kalau dede ngak ke kampus ngak apa apa, tapi dede sarapan dulu dong, sebentar lagi Aa berangkat kerja."
"Enghhhh Aa, Shafa ngantuk, nanti aja sarapannya ya."ucapnya dengan suara serak dan manja namun mata masih terpejam.
"Kita biasa sarapan bareng, Aa ngak enak sarapan sendiri tampa istri Aa." mencium kening dan bibir pink Shafa dengan rasa cinta yang makin besar.
"Shafa ngantuk Aa."
__ADS_1
"Ya udah bobok, tapi pake baju luar ya masa pake dalaman saja dingin lo yank, nanti kalau bangun dede jangan lupa sarapan oke, Aa bawa bekal saja, Aa berangkat kerja ya sayang."
"Hammm peyuk." mata masih terpejam tapi kedua tangan di.rentangkan.
"Tentu sayang Aa, cinta Aa."
Jones memeluk dan mencium berkali kali seluruh wajah Shafa, setelah itu Jones meninggalkan Shafa tidur seorang diri di kamar.
Niken dan yang lain langsung masuk kedalam apartemen begitu Jones memanggil mereka untuk menjaga istrinya.
"Istri saya masih tidur, tolong bangunkan dari luar kamar kalau sampai jam sepuluh belum juga keluar kamar, dan tolong panaskan sarapan yang saya buat, kalau istri saya cari tolong sampaikan kalau saya sudah berangkat kerja." Jones.
"Baik tuan." jawab ketiganya.
"Titip istri saya."
"Baik tuan." jawab mereka menunduk.
Jones berjalan keluar apartemen, langkahnya tampak lambat dan lemah, sang asisten sudah menunggu sejak tadi di lantai dasar untuk membawa Jones ke tempat kerjanya.
"Ehhh Nisa lihat ngak leher tuan muda ?." Lila.
"Lihat, sejak kita bersama nyonya muda dan tuan baru kali ini lihat sih." tertawa kecil.
"Husss kita ngak boleh bahas itu, tapi tuan muda apa ngak tau ya." Niken.
"Ishhhh tadi katanya ngak boleh bahas." Nisa.
"Ehhh tumben nyonya muda masih tidur." Niken.
"Iya kan ?, apa myonya muda kurang enak badan ?." Lila.
"Kalau nyonya muda sakit ngak mungkin tuan muda pergi kerja." Nisa.
"Iya juga ya, sudah lah jangan bahas majikan kita ngak sopan, kerjakan kerja masing masing saja." Niken.
Di tempat kerja Jones.
"Kenapa lu kelihatan lemas banget." Ryan.
"Iya, mata lu mata panda banget." dokter Anton.
"Seperti pengantin baru saja lu, berapa kali emang." kekeh dokter Alwi.
"Diam lu semua, gua ngantuk jangan ganggu gua." omel Jones karna temen temennya yang selalu berkicau sementara dia sudah sangat mengantuk dan ingin tidur di ruang praktek dokter Ryan.
Waktu istirahat mereka memang sering berkumpul di salah satu ruangan, berganti ganti tempat tergantung mereka ingin kemana, saat Jones datang mata Ketiganya sudah tertuju pada leher Jones.
Ada tanda merah di leher laki-laki itu, tanda merah itu tidak beraturan dan lebih dari dua, tentu saja terlihat jelas di.leher putih dokter tampan itu.
"Lihat lehernya pamer atau ngak sadar tuh." jawab dokter Anton ikut terkekeh.
"Gimana dia ngadapin pasien pasiennya tadi ya." tawa dokter Alwi.
Mereka bertiga sama sama tertawa, namun Jones yang sedang membaringkan dirinya di sopa sama sekali tidak terganggu dengan keributan dokter dokter tampan itu.
"Paling cuek saja." Anton.
"Kasian juga nih orang, perlu di kasih resep obat kuat dia itu." dokter Alwi.
Hahahaha..
Mereka bercerita panjang lebar tentang berbagai hal, bagi orang lain yang mendengar pasti mengatakan ribut tapi bagi Jones malah bukan apa apa dia justru tidak terusik sama sekali.
Jam istirahat hampir selesai Jones belum juga bangun, laki-laki itu tetap pulas sampai suara handphone Jones menghentikan pembicaraan ketiganya.
"Bro.. istri lu nelpon, bangun." dokter Anton.
Masih tertidur.
"Bangun bro, nanti ngak di kasih jatah kalau telat angkat panggilan nyonya lu." dokter Alwi menepuk pelan pundak Jones.
"Apaan si lu, ganggu gua saja."Jones.
"Heiii bro, nyonya lu nelpon." dokter Ryan.
"Hahhh apa ??." Jones melompat dari sopa dan langsung meraih handphone.
"Assalamualaikum wrwb, sayang.." Jones.
"Aa dimana ?? kok belum pulang,." Cicit Shafa dengan suara berat dan tertahan.
"Ehhh maaf sayang, Aa masih di rumah sakit, Aa lupa telepon istri Aa jangan marah dong." rayunya membuat ketiga manusia yang ada di sekitarnya tertawa kecil.
"Aa sama siapa ?? pasti bukan di rumah sakit pasti lagi kumpul makan makan sama teman Aa kan, Aa tega ya, Shafa aja belum makan dari tadi nunggu Aa pulang Aa malah makan enak dan kumpul sama temen temen."
"Ehhh bukan yank, kami ngak makan kok cuma kumpul di ruang teman Aa."
"Ya udah di situ saja ngak usah pulang lagi." menangis histeris.
"Aduh...jangan marah dong sayang, Aa ngak makan makan kok, Aa malah mau pulang ini, kalau dedek ngak percaya tanya sama dokter Alwi, iya kan dokter." memberi kode pada teman teman agar menyahut.
"Iya nyonya muda, kami cuma lagi bahas penyakit pasien kok." dokter Alwi.
__ADS_1
"Shafa ngak perduli, terserah Aa di situ aja ngak usah pulang sekalian." tambah menangis membuat Jones kalang kabut.
Apa lagi handphone langsung di matikan sepihak oleh Shafa, Jones terduduk lemas di sopa tadinya dia sempat oyong karna tiba tiba berdiri tapi karna mendengar suara tangis istrinya dia menjadi tegang dan panik.
"Kenapa nyonya lu bro."dokter Anton.
"Gua salah, biasanya pulang makan siang gua malah ketiduran."Jones.
"Lu kecapean tuh, pasti lembur tadi malam." dokter Alwi.
"Bukan cuma tadi malam, setiap malam gua juga lembur tapi lebih lagi dalam dua minggu ini." Jones.
"Wahhh lu harus makan vitamin deh biar kuat." tawa Anton.
"Biasanya gua ngak butuh, tapi kali ini sepertinya gua harus konsumsi." memijat kepala.
"Nyonya muda marah lu ngak pulang." dokter Ryan.
"Gua mau pulang bro, tapi gua bingung mau bilang apa ke istri gua, istri gua belum pernah marah sebelumnya jadi gua bingung bagai mana menghadapinya." Jones.
"Rayu aja kok bingung sih." Ryan.
"Ngomong sih enak, istri lu gampang rayunya kasih uang aman,.lah gua sendiri ngak tau istri gua maunya apa selain buku, apa apa maunya buku sampai gua bingung mau beli buku apa lagi buat istri gua, selama dua tahun lebih menikah istri gua tidak pernah marah sama sekali paling ngambek ngak sampai marah seperti tadi."Jones.
"Resiko nikahin bocah bro." kekeh dokter Ryan.
"Sialan lu, bukannya kasih solusi malah ngejek gua, dasar teman ngak ada akhlak." Jones.
"Ehh tunggu lu sadar ngak dengan leher lu." dokter Anton.
"Kenapa leher gua." Jones.
"Berkaca sana, seharian menghadapi pasien lu seperti itu ??." tanya dokter Alwi.
"Maksudnya." Jones berjalan ke arah kaca kecil dekat jendela.
"Astaga.." terkejut melihat tanda di lehernya.
Ketiga pria tampan itu sama sama tertawa.
"Ulah istri lu pasti." Ryan.
"Siapa lagi coba.." kekeh Jones.
"Kok lu malah tertawa."Alwi.
"Yahh bagga dong gua, dapat tanda cinta dari istri gua." Kekehnya.
"Sepertinya itu tanda peringatan." dokter Anton.
"Maksudnya.." Jones.
"Sepertinya nyonya muda sengaja itu biar pada tau lu sudah punya istri." dokter Alwi.
"Biarin deh, gua mah ngak apa apa." Jones.
"Lu sering begadang ya, lu lusuh banget." dokter Anton.
"Biasalah nyenangkan istri." Jones.
"Lu pasti kalah sekarang." tebak dokter Ryan.
"Sok tau lu." Jones.
"Buktinya lu seperti ngak berdaya dan sering ngantuk, kata perawat lu kadang kurang pokus." dokter Anton.
"Ahhh biasa aja." Jones.
" Gua anjurkan lu konsumsi vitamin deh biar fit , jangan sampe lu kalah mulu, yahh kalah juga ya wajar lah sama yang muda."kekeh dokter Ryan.
"Sialan lu, sudah lah gua mau pulang, dari pada tambah kena murka gua bisa kacau dunia persilatan." Jones.
"Sana pulang suami teladan." Anton.
"Sialan lu semua." umpat Jones.
*******
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
💝 LIKE
💝 RATE
💝 VOTE
💝 HADIAH yang banyak
💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.
__ADS_1
Wo Ai Ni all..
Happy Reading.