UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
151. Kualatkan Lu.


__ADS_3

Di sebuah kontrakan sangat sederhana bahkan terbilang kumuh, empat orang manusia sedang berkumpul di ruangan berukuran tiga kali tiga, kontrakan itu hanya memiliki satu ruangan saja, di sana tempat tidur dan tempat masak.


Sedang kamar mandinya berada di luar kontrakan, kamar mandi umum untuk semua penghuni kontrakan yang ada di wilayah itu, hanya saja kamar mandi laki-laki dan perempuan berbeda tempat.


"Kenapa sih mama masih menyalahkan kami dengan keadaan ini, mama tau kan kebangkrutan keluarga kita karna apa, itu semua karna mama." omel Jack pada mama Dara.


"Alahhh.. tidak ada hubungannya dengan ku, semua itu terjadi akibat kebodohan kalian dan kecerobohan kalian yang tidak becus mengelola usaha restoran dan hotel milik Jones, kalian sangat bodoh, tolol, cuma mengelola itu saja kalian tidak mampu." kesal mama Dara.


"Mama.." Jack.


"Kenapa sih selalu menyalahkan aku, kalian yang tidak becus mengapa aku yang salah, mana mungkin si Johan itu yang menghancurkan usaha kita, bisa apa dia."


"Ma.. sepertinya mama memang perlu bergaul dengan orang orang pejabat atau pengusaha di luar sana, yang tau percis siapa tuan Johan, bagai mana tindak tanduknya bagai mana dia menghancurkan orang orang yang berani menggangunya, agar mama tau seperti apa hebatnya dia di dunia bisnis." piyo.


"Huhhhh aku tidak perduli, yang penting sekarang bagai mana cara kita mencari uang, kau piyo masih kuliah, bagai mana uang kuliah mu, sedangkan kakak mu tidak perduli pada kita lagi dan dia sendiri sulit di temui." keluh mama Dara dengan suara lemah.


"Bagai mana kakak perduli pada kita, sementara penyebab kehancuran rumah tangganya mama, mama tau kakak hampir gila karna kehilangan istrinya." Jack.


"Itu cuma gosip, lagian apa sih yang di lihat Jones pada perempuan itu, huhhh mama benci padanya benci, gara gara dia kakak kalian hampir mati berulang kali."


"Masih hampir kan ma.., sebentar lagi kakak mungkin akan mati betulan di saat itu mama baru puas dan bahagia." marah Jack laki-laki itu berdiri dan keluar kontrakan kecil itu.


"Mau kemana Jack.." mama Dara.


"Cari uang ma, mungkin aku akan mengemis karna keuangan kita benar benar menipis, sisa uang di tangan istri ku hanya cukup makan kita sampai besok." jawab Jack dingin.


"Apa.. mengemis ??, jangan gila kau Jack kau mau mencoreng muka keluarga kita." teriak mama Dara berlari mengejar Jack ke pintu keluar.


Jack tidak perduli dia terus melangkah meninggalkan tempat itu, dia sudah sangat pusing memikirkan pekerjaan yang tidak pernah dapat meski sudah mencari pekerjaan kesana kemari, tapi hasilnya nihil.


Belum lagi harus mendengar ocehan mamanya yang selalu menyalahkan mereka karna jatuh miskin tanpa perduli penyebabnya.


Johan benar benar membuat usaha mereka hancur berkeping keping, Johan melakukannya dengan apik, usaha hotel, restoran serta usaha properti yang di percayakan Jones untuk di kelola adik adiknya kini berpindah tangan pada orang lain.


Entah bagai mana cara Johan melakukannya tapi semua usaha Jones hancur lebur, Jack bahkan terpaksa menjual rumah, mobil serat properti lainnya guna menutupi utang utang yang entah bagai mana datangnya.


Kejam memang cara Johan tapi begitulah kalau dia sudah merasa terusik dan di sakiti dia akan berubah menjadi mosnter paling kejam.


Harta Jones satu satunya yang tidak di sentuh oleh Johan hanya apartemen yang di tempati oleh Jones itu pun karna apartemen itu pernah di tempati oleh putrinya kalau tidak apartemen itu pun pasti.sudah berpindah tangan.


"Kau mau kemana piyo." panggil mama Dara saat menyadari anak bontotnya itu juga menyusul kakaknya Jack.


"Ikut kakak mengemis, mama mau ikut ?, ayo ma." ajak Piyo berdiri tidak jauh dari sang mama.


"Kau gila.." mama Dara.


"Ma.. lebih gila lagi kalau cuma pasrah dan duduk saja di sini menunggu ajal karna akan mati kelaparan akibat kehabisan uang." jawab piyo dingin.


"Hahhhh sialan.., harusnya kalian mencari kakak mu bukan mengemis." marah mama Dara.


"Kami tidak punya muka mencari kak Jones ma, kita begini karna ulah siapa mama jangan lupa, kakak sudah berkorban banyak untuk kita dan apa yang kita lakukan menghancurkan nya, ma sadar ma."


Setelah berkata begitu piyo melangkah meninggalkan mama Dara yang masih meracau tidak jelas di teras kontrakan itu.


"Kenapa aku terus yang di salahkan sih." omel mama Dara makin kesal, dia lalu masuk kedalam kontrakan.


"Kak...kak Jack, kakak mau kemana ?? masa mengemis betulan sih kak." panggil Piyo berjalan mendekat pada Jack yang duduk termenung di pinggir trotoar.


"Kita masih punya tenaga piyo ngak mungkin ngemis, meski harus jadi buruh kasar tidak mengapa." jawab Jack menatap lurus kejalan raya melihat mobil dan kenderaan lainnya yang lalu lalulalang.


"Hahh ku pikir betulan kak." piyo ikut menatap jalanan seperti yang di lakukan sang kakak.


Hmmm..


"Kak.. kakak rindu mobil kakak ya." tanya piyo sedih mengingat mobil sport yang baru di beli oleh Jack dan harus di jual lagi untuk menutupi utang.


"Sudahlah tidak perlu di pikirkan." bangkit dari duduknya.


"Piyo..pulanglah, di rumah tidak ada kawan mama dan kakak iparmu." ucap Jack tanpa menoleh pada piyo.


"Kakak mau kemana ?."


"Kakak mau cari kerja, aku mau meminta bantuan kak Robby, mungkin cuma dia sekarang satu satunya yang bisa menolong kita, setidaknya minta bantuan pinjaman atau apa


lah."


"Bagai mana kalau kak Robby tidak mau karna takut tekanan dari tuan Johan ?." piyo.


"Setidaknya kita coba."


"Apa tidak lebih baik kita menemui kak Jones." tanya piyo.

__ADS_1


"Kita sudah berulang kali mencoba menemuinya tapi tidak pernah bertemu, lagi pula kakak malu dan segan, kakak tidak mau menambah beban pikirannya, kak Jones sudah cukup menderita akibat perbuatan mama, dan harus berpisah dengan istrinya."


"Betul juga kak, ya sudah aku ikut dengan kakak."


Piyo berjalan mendahului Jack.


"Kau mau cari kemana Piyo ?."


"Kekantornya lah kak."


"Tidak..kerumahnya saja, kalau kekantor bisa jadi masalah kalau tuan Johan tau kita menemui kak Robby, kak Robby bisa kena imbasnya juga."


"Betul juga kak, kakak tau rumah kak Robby." tanya Piyo.


"Tau.. tapi sangat jauh, kita harus berjalan kesana , kalau naik taxi atau kenderaan lainnya uang kakak tidak cukup."


"Lalu bagai mana ?."


"Jalan.." Jack.


"Berapa jauh kak ?."


"Kurang lebih dua puluh tiga kilo." jawab Jack sembari menghela napas.


"Hahhh sejauh itu." tanya Piyo bingung.


"Iya .. jauh, makannya kau pulang saja." berjalan mendahului sang adik.


"Tidak aku ikut kakak." menyusul Jack berjalan cepat di pinggir jalan raya itu.


"Ya sudah jangan ngeluh kalau capek."


Mereka lalu berjalan bersama menyusuri kota, berjalan berdua di bawah teriknya matahari, haus dan lapar sama sama mereka rasakan, uang di kantong celana Jack hanya ada belasan ribu dan hanya cukup membeli air mineral saja.


Dengan berbekal air mineral harga tiga ribuan mereka terus berjalan selama hampir lebih tiga jam, dan mereka pun tiba di depan sebuah rumah mewah dengan penjagaan di depan rumah itu.


Meski Robby hanya seorang asisten tapi mengingat Robby adalah orang kepercayaan Johan dan ancaman bukan hanya akan datang pada keluarga Wu tapi bisa juga pada keluarga orang orang kepercayaan Johan karna itu Johan juga menempatkan pengawal di rumah Robby.


Setelah permisi dengan para pengawal dan mengatakan ingin bertemu siapa para penjaga mengizinkan kedua kakak betadik itu masuk kedalam rumah setelah berkomukasi dengan istri Robby.


Karna Robby masih dalam perjalanan pulang jadi mereka terpaksa menunggu di dalam rumah, istri Robby yang sudah tau kebangkrutan Jones merasa kasihan melihat wajah lelah adik adik tiri teman suaminya itu.


Dia pun meminta mereka makan dan istirahat sambil menunggu Robby sampai di rumah, tidak berapa lama kemudian Robby Sompai dan langsung menemui kakak beradik itu.


"Maaf Jack aku tidak berani membantu terlalu banyak, tapi ini aku kasih kalian modal gunakan lah untuk usaha apa yang bisa dengan uang segitu, kalian tau lah dengan posisi ku."


Robby menyerahkan uang dalam tas kecil senilai tiga puluh juta, karna dia menganggap uang segitu sudah bisa untuk membuka usaha kecil kecilan dan yang penting usaha kecil dengan modal segitu tidak akan di ganggu oleh Johan tentunya.


"Ini sangat banyak kak, maaf merepotkan kakak, kami janji kalau sudah ada uang akan kembalikan." Jack.


"Tidak usah..pakai lah, hanya satu permintaan ku, tolong kalian awasi tante, jangan sampai dia datang sementara ini menemui Jones, aku takut Jones nanti tidak dapat menahan diri, meski pun tante mama tapi tante penyebab dia berpisah dengan istrinya."


Robby lalu bercerita hal apa saja yang sudah terjadi pada Jones selama berpisah dengan Shafa, terutama saat Jones berubah jadi waham dan hampir gila.


"Astaga kak.. kami tidak tau sampai begitu sakit yang di alami kak Jones, baik kak kami akan menjaga agar mama tidak menemui kak Jones sementara ini." Piyo.


"Kalau begitu ayo aku antar pulang." Robby meminta supirnya mengeluarkan mobil dan bersiap mengantar keduanya pulang.


"Tidak usah kak, kami naik taxi saja."


"Tidak biar ku antar, tadi kata istri ku kalian jalan dari rumah kalian sampai di sini ya." tanya Robby iba.


"Iya kak.." jawab keduanya menunduk.


"Sudah ayo ku antar."


Jack dan Piyo tidak lagi bisa menolak Robby bagi mereka juga sama dengan Jones mereka sudah menganggap laki laki itu seperti kakak mereka sendiri.


Robby menatap rumah kontrakan kecil itu dari dalam mobil, hatinya teriris melihat nasib yang menimpa keluarga Jones tapi apa mau di kata semua itu terjadi akibat kelakuan mama Dara yang menyakiti menantunya sendiri yakni putri Johan pengusaha sukses dan kejam.


"Hahhh karna ulah tante semua orang kena imbas nya, semoga tante segera taubat dan sadar akan kesalahan yang tante buat." gumam Robby lalu dia meninggalkan kontrakan itu.


Di Rumah besar.


"Waduh.. itu sudah mangkok keberapa ice creamnya yank." tanya Johan bingung pada Zahra melihat Shafa yang duduk di sopa ruang keluarga dengan posisi duduk bersila memegang mangkok besar ice cream.


"Ngak tau ko, di larang nangis." menarik napas dalam dalam.


"Kok gitu ?." Johan.


"Ngak tau ko, sensitif banget." Zahra juga ikut bjnggung sejak pulang dari Mall semalam Shafa banyak bertingkah yang aneh aneh dan yang menjadi sasarannya tentu si papa.

__ADS_1


Johan berjalan mendekati putri sambungnya itu lalu mengajak bicara, Johan hanya meminta sang putri untuk tidak banyak makan ice cream karna menurut informasi yang ia terima dari Mommy Shafa sudah menghabiskan tiga mangkuk besar ice cream.


Bahkan Shafa sampai berantem dengan Janeet karna berebutan ice cream yang ada di kulkas rumah itu, sampai sampai para maid terpaksa keluar bolak balik untuk membelinya.


Shafa menangis sesegukan dia tidak terima papanya melarang makan makanan yang ia suka, dia lalu meninggalkan Johan dalam kebingungan duduk di sopa sendirian.


"Hahahaha rasain lu, makanya jangan keras kepala." tawa Mommy wu melihat Johan yang masih kebingungan.


"Kok Mommy bilang gitu." Zahra.


"Iya... itu balasan karna sudah memisahkan ibu hamil dengan suaminya, Mommy malah berharap kak Shafa meminta yang lebih aneh lagi pada papanya biar tau rasa."


"Hahhh hahaha .. Mommy." kekeh Zahra.


Kedua wanita itu tertawa bersama membayangkan Johan kalang kabut dan akan memaki Jones setiap waktu kalau Shafa meminta ini itu yang seharusnya menjadi tugas Jones.


Shafa duduk sendiri di taman belakang dia berayun di depan televisi berukuran besar yang ada di tempat itu, tiba tiba ia menghentikan gerakan ayunan dan bola matanya pokus pada berita yang ada di layar televisi.


"Kak.. kok diam aja, kakak mau makan buah nak, ini sudah papa kupaskan." Johan dan Zahra serta adik Wu menghampiri Shafa.


Johan menyerahkan buah apel, mangga dan buah naga yang sudah di potong potong ketangan Shafa, tanpa menoleh Shafa menerima buah itu dan langsung memasukkan kedalam mulutnya sedang pandangan matanya tetap pokus kelayar televisi.


"Kak.. kok serius kali sih, papa mama dan adik wu sampai tidak di perdulikan" Johan.


"Papa.." panggil Shafa tatapan tetap ke televisi.


"Hmmm ya kak." Johan duduk di sebelah Zahra memangku adik Wu.


"Panda .. baby pandanya lucu banget, Shafa suka, gemas deh..." ucap Shafa memainkan jari jatinya tanda gemas.


Deg..


"Mampus gua, semalam kucing milik tetangga, kelinci dari mongolia, ikan mas berlapaz Allah dan Rosul yang tidak di jual oleh pemiliknya dan di paksa jual, sekarang panda ??."


Gumam Johan garuk garuk kepala, tawa Zahra hampir meledak melihat nasib naas suaminya beberapa hari ini yang harus memenuhi permintaan putri kesayangannya itu.


Kalau tidak di turuti Shafa akan menangis dan tidak mau makan sampai papanya menuruti kemauan Shafa dan yang paling aneh Shafa tidak mau di beli oleh orang lain tapi harus Johan sendiri yang turun tangan membelinya.


"Pa.. beli ya.. Shafa mau panda, bayi panda itu yang ada di Tv itu." menunjuk gambar yang ada di televisi.


"Hahhh harus itu kak.." Johan terperanjat


"Iya .. harus itu." mengangguk.


"Kak.. itu adanya di Cina, dan tidak di penjual belikan, dia hewan lindung kak, mana bisa kita beli kak." ucapnya.


"Shafa mau itu pokoknya hiks..Oma..Opa .. papa jahat hua..." tangis Shafa kencang,mengeluarkan senjata andalannya.


"Ehhhh ehhhh.. kak jangan nangis dong, ya .. ya papa akan cari cara mendapatkannya." jawab Johan pasrah.


Shafa langsung berhenti menangis mendengar janji sang papa, tidak ada senyum di bibirnya apa lagi ucapan terimakasih, sepertinya memang dia ingin menyiksa papanya itu meski tanpa ia sadari dan tanpa di sengaja.


"Sialan lu Jones, gua patah patahkan juga lu kalau ketemu, gara gara lu gua yang sengsara, harusnya lu yang nurutin kemauan putri gua huhhh dasar tidak berguna lu Jones." umpat Johan dalam hati.


"Rasain.. kualat kan lu, makanya jangan jauhkan wanita hamil dengan suaminya." cebik Mommy Wu pada putra semata wayang itu.


Ahirnya kata kata yang selalu di simpan oleh Mommy Wu beberapa hari ini keluar juga, membuat Johan hanya bisa mendelik pada


sang Mommy.


"Mommy.." garuk garuk kepala.


🪴🪴🪴🪴🪴🪴🪴🪴


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


🪴 LIKE


🪴 RATE


🪴 VOTE


🪴 HADIAH yang banyak


🪴KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..

__ADS_1


Happy Reading.


__ADS_2