UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
155. Menjijikan.


__ADS_3

"Siapa pun kau aku tidak perduli, sampai aku mati aku tidak akan menikah dengan mu, dan kau tidak sebanding dengan istri ku sama sekali tidak sebanding, kau tidak ada apa apanya."


Jones menatap Nina sinis, dia benci pada wanita yang sok segalanya itu, tapi apa Nina perduli tidak dia tidak perduli rasa cinta merubahnya menjadi sosok orang yang tidak punya hati.


Jones terduduk lemah di sopa menahan emosi dia takut sampai menyakiti perempuan apa lagi sampai menyakiti mamanya sendiri.


Plok .. plok..plok..


"Mantap .., bagus banget, keren..., kalian sudah berkumpul di sini semuanya ternyata, hmmm ada acara ngak undang undang ya." Suara seseorang yang tiba tiba masuk kedalam apartemen mengejutkan semua orang.


Laki-laki itu di dampingi oleh tujuh orang pengawal memakai seragam khas mereka, sedang lima orang lainnya berjaga di luar apartemen.


"Bos Johan.." Robby.


"Johan.." panggil Jones langsung bangkit dari duduknya.


"Lu jangan salah sangka, ngak ada apa apa di sini." ucap Robby cemas dengan kehadiran Johan.


Robby dan yang lain bingung bagai mana bisa Johan tau ada kejadian di apartemen Jones, bagai mana bisa Johan tiba tiba muncul di sana dengan senyum sinis.


"Jangan salah sangka ??, lalu ini apa hahhh, reuni keluarga begitu ?." cebik Johan.


"Bukan.. ini .. mereka cuma.." jawab Jones gugup .


"Mereka kenapa ?, ingin menikahkan lu dengan perempuan ini ??." tatap Johan dingin dan sinis.


"Bukan.., gua .. gua tidak mau tapi." Jones makin gugup.


"Hahahaha lu pikir gua tidak tau apa yang terjadi ?, pergerakan lu dan keluarga lu gua tau semuanya beberapa minggu ini, mama lu ini tidak juga kapok dan sadar meski sudah miskin, dia masih saja ingin menikahkan lu dengan perempuan pelacur ini, hahhhh kasian nasib lu ya setiap mama lu menjodohkan lu selalu dengan pelacur, mungkin mama lu lebih suka wanita model begitu dari pada putri gua yang suci." Ucapan Johan menusuk jantung.


"Apa kau bilang, kurang ajar kau ya menuduh putriku seperti itu, ingat aku akan menuntut mu." emosi Rahman menunjuk nunjuk dengan jari telunjuk Johan, ayah yang mana yang terima anak perempuannya di sebut pelacur.


"Hahahaha lu pikir lu siapa mau menantang gua, meski lu jadi hantu lu tidak akan bisa menuntut gua meski pun sampai ke akhirat." ejek Johan kesombongannya yang sudah lama di tekan oleh keluarganya muncul lagi.


"Siapapun kau aku tidak perduli, kau sudah menuduh putriku pelacur aku tidak terima." Rahman.


"Tidak terima ? cih.. gua mau tau reaksi lu melihat gambar dan video ini." Johan menerima beberapa lembar photo dari Andy lalu melemparkannya pada Rahman dengan kasar.


Johan membiarkan laki-laki tua itu melihat beberapa lembar gambar di mana putri tercintanya itu sedang tidur tanpa busana dengan laki laki yang berbeda beda.


Bukan cuma Rahman yang melihat tapi kedua laki-laki yang bersamanya, Jack, Piyo, mama Dara bahkan Nina sendiri bisa melihat karna photo photo itu bertebaran di lantai sehingga memudahkan siapa saja melihatnya.


Nina terdiam, wajahnya langsung memucat, namun dia masih berusaha menahan rasa takut dan pura pura tidak tau apa apa.

__ADS_1


"Nina..." panggil Rahman lirih menatap anak semata wayangnya itu.


"Bu..bukan papa, jangan percaya mana mungkin aku begitu, itu cuma rekayasa." Nina.


"Kau dengar kan, putriku tidak mungkin berbuat begitu." marah Rahman dengan sorot mata membara melihat Johan.


"Oke..kalau menurut lu itu palsu, sekarang silahkan tonton sendiri, itu tubuh putri lu atau tidak." cebik Johan.


Aldo maju ke arah mereka dan memperlihatkan vidio pulgar berdurasi panjang sekitar dua puluh lima menit dari laptop mewah itu, di vidio memang tertera waktu dan lama bercinta para pelakon di dalamnya.


Di vidio terlihat tubuh polos Nina yang sedang di pompa ganas oleh seorang laki-laki setengah baya, ******* dan jeritan Nina terdengar menjijikan di telinga semua orang.


"Kau..kau .. Nina.." Rahman tidak sanggup berkata kata, laki-laki tua itu terduduk lemah di atas lantai.


"Pak..pak .. sabar pak." panggil kedua laki-laki tua lainnya.


Aldo segera mematikan vidio dan kembali kesini Johan, jangankan orang lain di sana dia sendiri jijik melihat vidio itu, bagai mana Nina di pompa oleh laki-laki tua yang hampir sebaya ayahnya terlihat jelas di sana.


Nina diam, dia tetap berdiri di sisi mama Dara, sedang mama Dara sendiri shoc dan mematung di tempat tanpa reaksi apapun, seakan mulutnya terkunci rapat tidak mampu berkata kata.


"Bagai mana perempuan tua, silahkan nilahkan putramu itu dengan pelacur ini, gua tidak akan meminta putri gua menuntut meski surat cerai mereka belum ada di tangan kalian sebagai bukti status duda putra mu, tidak akan gua tuntut, tapi gua malah senang kalau itu terjadi karna secara tidak langsung pernikahan mereka merupakan ahir hubungan putra lu dengan putri gua."


Johan menatap mama Dara makin tajam dan dingin, seperti ia ingin menguliti perempuan tua itu saja, sakit di hatinya akibat tamparan tangan mama Dara di wajah Shafa tidak bisa hilang dari ingatannya.


"Tidak.. kesempatan itu sudah tidak ada, ini.. putri gua sudah tanda tangan surat cerai kalian, tinggal lu, cepat tanda tangani gua muak di sini lama lama, gua mual melihat orang orang tidak berguna ini."


Johan melemparkan map berisi berkas yang di sebutkan oleh Johan pada Jones, Jones meraih berkas yang jatuh di atas lantai tepat di hadapan nya dengan tangan bergetar.


Dia tidak percaya kalau istri yang sangat ia cintai itu telah menanda tanganni surat cerai mereka, berlahan ia buka map itu dengan degup jantung berpacu kencang.


Pandangan matanya kadang kabur kadang normal, ia membaca isi berkas itu berlahan dan benar itu adalah surat cerai mereka kalau dia tanda tangan maka resmi mereka bercerai, tinggal menunggu akta cerai dari pengadilan agama saja agar sah cerai di mata hukum negara dan agama.


Jones sadar tanpa.melalui proses sidang panjang di pengadilan akta cerai akan dengan mudah di dapatkan Johan apa lagi dengan kuasanya, meski tetap melalui prosedur yang ada di pemerintahan.


"Tidak.. tidak.. ini ngak benar, gua tidak akan menandatangi surat ini, sampai gua mati gua tidak akan bercerai dengan istri gua tidak akan." teriak Jones histeris dia lalu merobek kertas itu menjadi ukuran kecil tanpa bentuk.


"Terserah lu, terima atau tidak itulah yang harus lu terima." Johan.


"Tidak..gua tidak mau, tolong jangan pisahkan gua dengan istri gua Johan, gua mohon kasih gua kesempatan sekali lagi." Jones masih bersujud di depan Johan.


"Sorry kesempatan itu sudah tidak ada lagi, meski awalnya gua ingin tapi begitu gua tau mama lu masih bercita cita menikahkan lu dengan perempuan lain, gua pastikan kesempatan itu hilang total." sinis Johan.


Selama Shafa dan Jones berpisah Johan memerintahkan anak buahnya mengikuti dan memyelidiki gerak gerik Jones dan keluarganya.

__ADS_1


Dari sana Johan tau kalau Jones bersih, adik adiknya juga cuma mama Dara biang keladi semua permasalahan yang terjadi antara Jones dan putrinya.


Dia bahkan tau siapa saja yang di calonkan mama Dara dengan Jones dan wanita macam apa, dia tau semua.


Tapi hari itu dia mendapat kabar kalau ada orang yang datang ke apartemen Jones bersama mama Dara serta beberapa orang yang mereka curigai pemghulu dan calon pengantin wanita maka Johan langsung meluncur kesana dengan emosi tingkat tinggi.


Ayah mana yang terima putrinya di duakan, meski awalnya ingin memberi kesempatan tapi semua sirnah karna melihat kenyataan yang ia dapati di sana.


"Gua mohon Johan tolong kasih gua kesempatan." Jones.


"Tuan.. tolong maafkan kakak kami, tuan sudah menghukum kami semua dan kami sudah mendapat ganjaran karna ulah mama kami, sekali ini tolonglah berikan kesempatan pada kakak, kami atas nama mama meminta maaf tuan."


Jack ikut berlutut bersama Piyo, sedang mama Dara masih berdiri dengan kesombongannya tanpa berniat membantu anak anaknya untuk meminta maaf.


"Tidak.. sekali gua bilang tidak maka sampai kapan pun tidak, gua muak, gua jijik melihat perempuan tua yang tidak tau diri ini, sudah di bantu di angkat derajatnya dari tempat sampah malah menjatuhkan tangannya pada putri gua, gua tidak terima."


"Ini yang terahir tuan, kami pastikan tidak akan terjadi lagi, mama tidak akan menggangu kakak dan kak Shafa lagi."


"Menurut lu gua akan percaya, cihhh no gua tidak percaya, jika ada yang pertama maka akan ada yang kedua, lu lihatkan mama lu itu cuma diam, dia pikir dia hebat." Johan.


"Maafkan kami yang lalai tuan, mohon berikan kakak kesempatan lagi." Piyo.


"Tidak akan." Johan.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baikΒ  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


☘ LIKE


☘ RATE


☘ VOTE


☘ HADIAH yang banyak


☘KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..

__ADS_1


Happy Reading.


__ADS_2