
Malam itu Jones sengaja tidak mengajak istrinya bercinta karna takut Shafa kelelahan, dia meminta Shafa agar cepat tidur dengan alasan dia merasa lelah dan ingin istirahat.
Sebelumnya Jones tidak pernah menolak ajakan Shafa apa lagi Shafa mau meminta sejak dua minggu terahir ini tapi karna curiga Shafa hamil Jones ingin memastikannya lebih dulu baru ia berani melakukannya.
Tangan besar Jones melingkar di pinggang Shafa, membelai belai punggung istri agar cepat tidur, meski sama sama memejamkan mata tapi ternyata sama sama tidak bisa tidur, Shafa gelisah didalam pelukan Jones.
Sebentar miring ke kiri sebentar kemudian miring ke kanan, Jones menarik tubuh mungil Shafa agar makin erat masuk kedalam pelukannya, di belainya rambut panjang istri manjanya.
"Kenapa sayang, kok belum bobo hmm." mengecup kening Shafa berulang kali.
"Ngak bisa bobok Aa, Shafa ngak belum ngantuk." mendusel dusel hidungnya di dada telanjang Jones.
"Lapar sayang, dede pengen makan apa ?."
"Shafa ngak lapar Aa."
"Terus dede mau apa ?."
"Ngak tau.." makin menyurukkan kepalanya di dada bidang sang suami.
Jones meraih wajah Shafa lalu di ciumnya hidung dan seluruh permukaan wajah Shafa kemudian ia singgah sebentar di bibir Shafa tapi sebelum Jones mengangkat wajahnya Shafa terlebih dulu menahan tengkuk suaminya itu.
Shafa menjilati bibir tebal suaminya itu lalu memberikan pijatan pijatan ringan di sana, lama lama lidahnya masuk menyusup ke dalam mulut suaminya itu, Jones diam saja dan membiarkan sang istri menjelajah seisi mulutnya.
Lama tidak mendapat respon Shafa lalu melepaskan pagutannya tapi segera di sambar lagi oleh Jones karna takut istrinya tersinggung sebab membiarkan istri bermain sendiri.
Cukup lama mereka saling bertukar saliva hingga tampa sadar seluruh tubuh mereka sudah tidak tidak memakai sehelai benang menutup tubuh dan aurat mereka.
Berkahan Jones memasukkan miliknya pada tempat kesukaannya, berlahan tapi pasti laki-laki itu mulai memompa naik turun di atas Shafa.
"Aa.. cepat dikit." pinta Shafa dengan napas cepat dan suara serak.
"Begini lebih enak sayang.." jawab Jones.
"Enghhhh Shafa .. Shafa mau di cepatin." pintanya lagi karna mereka terbiasa bercinta dengan tempo cepat dan Jones terbiasa ganas kalau di atas tempat tidur.
"Iya sayang sebentar lagi.." Jones sudah hampir sampai di puncak lalu ia mempercepat gerakannya hingga mereka sama sama melepaskan hasrat.
"Hahhh enaknya yank." menciumi seluruh wajah Shafa sambil memeluk istrinya.
"Henghhhh enak .." gumamnya pelan.
"Sayang perut dede ngak sakitkan hmm." mengecup bibir Shafa lembut.
Jones menunggu jawaban Shafa tapi detik kemudian ia sadar kalau istri manjanya sudah tertidur pulas di bawah kungkungannya.
"Ya ampun sayang Aa.." terkekeh.
Jones turun dari atas Shafa, kemudian ia raih baju istrinya yang berada di sisi tempat tidur lalu pelan pelan ia pakaikan.
"Ternyata ini penyebab dede ngak bisa tidur ya karna ngak dapat jatah hmm." membelai wajah Shafa berulang ulang.
Setelah yakin Shafa sudah tertidur pulas Jones lalu menghubungi asistennya yang sedari tadi menunggu di dalam mobil di parkiran lantai bawah apartemen itu.
Tidak lama kemudian sang asisten masuk membawa alat USG yang di minta Jones, laki-laki itu menunggu Jones memeriksa istrinya yang tertidur pulas.
Setelah meletakkan alat canggih itu di atas nakas lalu menghubungkan nya ke aliran listrik Jones kemudian menyingkap sedikit pakaian bawah istrinya berlahan ia oleskan gel di atas perut Shafa kemudian meletakkan alat pemindai ( probe) di atas permukaan perut Shafa.
Perlahan tangan Jones menggerakkan alat itu dengan lihai kesana kemari sampai ia menghentikan gerakan tangannya setelah menemukan apa yang ia cari.
Tangan dan tubuh Jones bergetar hebat, air matanya pun mengalir tidak terbendung, senyum dan tawa kecilnya terdengar lirih karna takut membangunkan istrinya.
"Alhamdulillah ya Allah, terimakasih atas karunia mu pada kami, terimakasih ya Allah, terimakasih hamba meminta satu tapi engkau memberikannya tiga, Subhannalloh.." tangis Jones.
Laki-laki itu turun sejenak di atas lantai, menghadap kiblat Jones lalu sujud syukur dari mulutnya terdengar terus menerus kata kata syukur dan pujian pada sang pencipta.
__ADS_1
Jones lalu merekam dan mengambil photo hasil USG tersebut, di layar monitor terlihat ada tiga titik sebesar biji kacang hijau di dalam sebuah lingkaran yang sudah di tandai oleh Jones.
Setelah merekam dan mengambil photo Jones lalu membereskan alat canggih itu memasukkan kedalam kotak dan tasnya.
Sebelum menyerahkan kembali pada asisten Jones mencium pelan wajah dan bibir Shafa setelah itu berganti pada perut Shafa.
"Hai sayang sayang Daddy terimakasih sudah hadir di rahim Mommy, Daddy dan Mommy sangat menginginkan kalian, dan sayang pada kalian baik baik di dalam sana ya, jaga Mommy oke son,gils." bisiknya pelan di atas perut Shafa kemudian mencium berkali kali seluruh permukaan perut istrinya itu.
Pelan pelan Jones keluar kamar setelah mengirimkan vidio dan photo hasil USG pada mertuanya.
Tepat setelah Jones berada di luar kamar Jones menerima panggilan masuk dari papa mertuanya Jones berjalan cepat menjauh dari pintu agar suaranya tidak terdengar sampai kedalam kamar.
"Hallo Grandad.., Grandma ..." sapa Jones bahagia.
"Lu serius kan, lu tidak bercanda hahhh, itu betulan kan." tanya Johan bertubi tubi.
Johan dan Zahra yang baru keluar dari kamar mandi sehabis membersihkan diri setelah berpetualang terkejut dengan panggilan vidio dari Jones tapi hanya sekali dan sebentar.
Johan lalu membuka kunci layar handphonenya kemudian membuka aplikasi chat, awalnya Johan tidak mengerti laki-laki itu bingung dengan vidio dan gambar yang di kirim tapi chat yang ia baca sedikit membuka kesadarannya.
"Assalamualaikum wrwb Grandad, Grandma tiga puluh minggu lagi kami akan hadir ke dunia, doakan kami dan Mommy sehat sehat dan tumbuh kembang dengan baik di dalam rahim Mommy ya, Grandad dan Grandma tunggu kehadiran kami." isi pesan yang di kirim Jones.
"Alhamdulillah ya Allah, Alhamdulillah.. ya Allah Terimakasih atas karunia mu pada keluarga kami terimakasih." Zahra mengangkat kedua tangannya seraya bersyukur dan berdoa pada sang pencipta.
"Maksudnya sayang, apa kita akan punya cucu ?."
Senyum sumringah tidak kalah bahagia.
"Iya koko, ini hasil USG cucu kita kembar tiga koko, Subhannalloh .." jawab Zahra.
Johan langsung memeluk istrinya itu erat, kata kata syukur tidak lepas dari mulut keduanya, bagai mana tidak setiap hari dan setiap waktu mereka selalu memikirkan nasib pernikahan putri mereka yang selalu di tuntut harus segera memiliki keturunan oleh mertua Shafa.
Sementara Shafa sendiri belum bisa di pastikan kalau ia bisa hamil atau tidak akibat operasi pengangkatan sebelah ovariumnya.
Karna penasaran dan kurang jelas Johan lalu menghubungi menantunya itu, tidak perlu lama menunggu Jones langsung mengangkat panggilan telepon.
"Alhamdulillah ya Allah, tentu saja senang dan bahagia Jones, selamat juga buat kalian berdua Daddy dan Mommy si kembar." Zahra.
" Alhamdulillah, Lalu mana putri gua." Johan.
"Tidur papa mertua.." jawab Johan.
"Hahhh padahal mau ngomong sama putri gua, gimana sih lu." marah Johan.
"Papa mertua dan mama mertua gua minta tolong sebesar besarnya, tolong rahasiakan pada istri gua, istri gua sepertinya belum tau kalau dia hamil, biarkan istri gua tau sendiri, lagian kalau tidak tau dan sadar juga gua mau kasih kejutan dan hadiah pada istri gua di hari ulang tahunnya beberapa minggu lagi." pinta Jones.
"Astaga jadi putri gua tidak tau, lalu bagai mana lu ambil photo nya." tanya Johan terkejut.
"Ya bisa papa mertua, putri lu itu kalau sudah tidur mau ada bom atau gempa juga ngak akan tau hahahaha."
"Astaga belum berubah ternyata putri mu koko."
kekeh Zahra.
"Namanya putri koko, apa bedanya sama mamanya coba." kekeh Johan.
"Jones tolong jaga Shafa dan calon anak kalian cucu kami ya." Zahra.
"Pasti mama mertua, bantu doakan kesehatan dan pertumbuhan anak anak kami." Jones.
"Tentu saja, sama berdoa kita." Zahra.
"Lu jangan pelit pada putri gua, lu harus turuti apapun maunya, dan lu juga harus katakan pada kami apa pun yang di maunya andai lu ngak sanggup kasih."
"Papa mertua gua akan turuti semua permintaan istri gua selagi tidak melanggar aturan kesehatannya, lu jangan kwatir gua juga masih banyak cuan buat memenuhi kebutuhan istri gua dan andai gua tidak mampu lu sebagai Grandad akan gua repotkan hahahaha."
__ADS_1
Ketiga orang dalam panggilan telepon itu tampak sangat bahagia, suara tawa mereka terdengar lepas tampa beban lagi, Robby dan sang asisten yang sedari tadi mendengar pembicaraan Jones dan mertuanya ikut bahagia
Kedua laki-laki itu berdiri lalu menghampiri Jones yang sudah selesai berbincang, Robby langsung memeluk sahabatnya itu menepuk nepuk punggung Jones sembari mengucap kata selamat dan doa.
"Selamat ya Bro, gua turut bahagia." Robby.
"Terimakasih bro, ahirnya gua sebentar lagi di panggil Daddy, gua bahagia sekali bro." ucap Jones dengan air mata yang mengalir di sudut matanya.
"Ya selamat, gua doakan kesehatan nyonya muda dan anak kalian." Robby.
"Anak anak kami bro, anak gua ada tiga." kekeh Jones bahagia tidak terkira.
"Hahhh kembar ?? wahhh keturunan kalian hebat banget ya, setelah kembar lima sekarang kembar tiga." kekeh Robby takjub.
"Alhamdulillah kami di beri anugerah itu, o iya kenapa lu sampai di sini, tadi asisten gua saja yang kemari dari mana munculnya lu."
Heran Jones.
"Gua tadi mau antar barang permintaan nyonya muda sama si bos, lalu gua lihat asisten lu masuk gua ikut sekalian." Robby.
"Jadi lu masuk setelah asisten gua."
"Iya, dan gua beruntung mendapat kabar bahagia ini, ahirnya lu nyusul kita punya anak." Robby.
"Alhamdulillah.."
"Selamat ya pak, aku turut bahagia." asisten.
"Terimakasih ya, ehh lu tolong panggil bodyguar istri gua ya, gua mau kasih tau mereka."
"Baik pak."
Tidak lama kemudian para bodyguar muncul di dalam ruang tamu, Jones lalu memberikan instruksi pada ketiganya untuk merahasiakan kehamilan Shafa.
"Kalian jangan kasih tau ya, kalian harus lebih hati hati menjaga istri gua, kalain jangan sampai menyinggung perasaannya, kalian tau kan ahir ahir ini istri gua gampang tersinggung jadi tolong kalian turuti apa maunya." titah Jones.
"Baik tuan.. Alhamdulillah ya Allah, selamat ya tuan muda, semoga nyonya muda dan cabang bayi sehat sehat hingga kelahiran nanti." ucap Niken tulus.
"Aminn..terimakasih bu Niken." Jones.
"Selamat tuan, semoga nyonya muda sehat dan persalinan lancar nantinya, Aminn." Nisa, dan Lila sama sama berdoa.
"Aminn.."
Setelah berbincang sebentar Jones lalu menyuruh mereka semua kembali ke tempat masing masing karna takut istrinya bangun lalu misinya untuk memberikan kejutan di hari ulang tahun sang istri bisa gagal.
**********
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
💝 LIKE
💝 RATE
💝 VOTE
💝 HADIAH yang banyak
💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
__ADS_1
Happy Reading.