
Tiga hari di rawat di rumah sakit Zahra ahirnya kembali ke rumah, semua keluarga berkumpul menyambut kehadiran Zahra dan baby Wu dengan penuh kebahagiaan.
Jones, mama dan adik adiknya juga sudah ada di sana, mereka datang untuk bersilaturahmi sekaligus ingin melamar Shafa.
"Ma.. sudah pernah lihat wajah calon istri kak Jones ?." tanya Jack.
"Pernah tapi masih kecil mama sudah lupa, dan mama tidak perduli mau seperti apa wajahnya." jawab mama Dara ketus.
"Kok gitu sih mama, Shafa itu akan menikah dengan kakak mama jangan ngomong aneh begitu kalau papanya dengar nanti dia
marah lagi." ucap Fio.
"Sudah lah jangan bahas lagi, mama malas, gara gara wanita itu kakak kalian hampir kehilangan nyawanya berkali kali mama tidak suka, dia pembawa sial pada kakak kalian, tapi kakak kalian itu tidak mau mendengar kata kata mama ya sudahlah." mama dara duduk sedikit jauh dari anak anaknya.
"Mama, hati hati kalau bicara." ucap
Jack pelan.
Jones sendiri kini tengah berada di dapur bersama Janeet yang minta di buatkan susu oleh calon kakak iparnya.
"Sepertinya posisi mbak Mimi bakal di gusur pak dokter ini hahaha." tawa mbok sumi maid bagian bersih bersih rumah.
"Ngak apa apa bik, yang penting Inces senang." senyum Jones.
Sejak mama dan papanya di rumah sakit Janeet malah tidak mau jauh dari Jones karna ia merasa kalau mama dan papanya kurang perhatian dan kurang sayang padanya karna sudah ada sang adik baby Wu.
Bahkan tidur saja ia ingin bersama laki-laki itu, Sehingga Jones terpaksa membawa Janeet kemana ia pergi, meski kaki Jones belum benar benar pulih tapi karna Janeet yang selalu ingin di gendong Jones terpaksa menahan rasa sakitnya demi menyenangkan gadis kecil itu.
"Uncle kok di sini, nanti nenek nyariin lo." panggil Shafa mendekati Jones dan Janeet.
"Lagi buatkan susu inces sayang, jangan panggil mama nenek dong, kamu harus manggil mama juga ya, ngak lucu tau."
"Tapi kan."
"Kita belum nikah ?, sebentar lagi kita akan menikah aku sudah bicara dengan papa kamu gils makanya aku ajak mama serta keluarga ku lainnya untuk membicarakan pernikahan kita, jadi mulai sekarang kamu harus terbiasa memanggil mama dengan sebutan itu juga."
"Lihat nanti saja Uncle." menunduk malu.
"Loh di sini berduaan, papa kakak nyariin lo, ayo keruang tamu semua sudah menunggu di sana, kamu lagi Jones belum apa apa sudah main ke dapur." Maili pura-pura marah.
"Buat susu Meimei kok mami." bela Shafa.
"Hmmm sudah main bela belaan ya." goda
Maili pada gadis cantik itu.
"Iya dong mami, harus itu ya kan sayang."
Jones ikut menggoda.
"Ayo ke ruang tamu saja mami." malu lalu
berjalan mendahului Jones dan Maili, membuat kedua orang itu tertawa kecilelihat Shafa yang malu malu.
Shafa duduk di antara papa dan oma Wu, Jones duduk di barisan mama serta keluarganya yang lain, cukup banyak orang yang hadir di sana bahkan semua keluarga Zahra yang masih ada di sana juga ikut berkumpul.
"Assalamualaikum wrwb saya selaku paman Jones mewakili keluarga ingin menyampaikan maksud kedatangan kami kemari adalah untuk melamar dan membicarakan hari maupun tanggal pernikahan antara Jones dan putri tuan nona Shafa." menjeda sedikit kata katanya.
"Berhubung karna Jones sudah melamar nona Shafa lebih dulu beberapa hari lalu jadi kami ingin pembicaraan kita kali ini sudah lebih dalam lagi, kami harap tuan dapat mengerti dan memahami maksud dan tujuan kami ini."
Kata kata pembuka dari paman Jones membuat Johan sedikit terkejut, meski ia sudah berbicara sebelumnya dengan Jones tentang lamaran resminya tapi tetap saja Johan merasa janggal.
Tatapan mata mama Dara pada putrinya di perhatikan oleh Johan sedari tadi, tatapan yang sulit di artikan tapi tatapan itulah yang membuat Johan tidak nyaman.
"Baik, kami anggap lamaran ini sudah di terima karna memang sebelumnya sudah ada lamaran dari Jones untuk putri saya, namun sebelumnya saya akan membuat beberapa syarat dan perjanjian pada Lu dan keluarga lu Jones, kalau lu dan keluarga lu sanggup maka pernikahan ini akan berlanjut."
Johan menatap Jones kemudian beralih pada mama Dara, Jones langsung mengerti maksud kata kata Johan, sebab dia sudah tau kalau mama dara pernah menendang Shafa karna marah waktu Jones di ruang operasi.
"Syarat apa bos, katakan saja saya akan
__ADS_1
patuhi." tanya Jones serius.
"Baik yang pertama setelah lu menikahi putri gua lu harus setia dan tidak akan pernah meninggalkan atau menyakiti putri gua dengan berhubungan atau selingkuh dengan wanita lain."
"Gua akan setia sampai mati, percayalah." jawab Jones mantap.
"Yang kedua, keluarga lu tidak boleh ikut
campur masalah rumah tangga lu."
"Baik, keluarga gua tidak akan melakukannya."
"Yang ke tiga, lu harus menjaga dan menyayangi putri gua dengan tulus, kalau lu melanggar janji lu, kalau lu sempat menyakiti putri gua sekali saja maka gua pastikan seumur hidup lu, lu tidak akan pernah bisa menemukan apa lagi kembali bersama putri gua, karna gua akan mengambilnya kembali." berbicara tapi tatapan Johan pokus pada mama dara.
"Gua berjanji akan selalu setia, sayang, menjaga dan tidak akan pernah menyakiti Shafa seumur hidup gua, gua berjanji."
"Lu tau kan Shafa putri gua, kami semua sangat menyayanginya, gua ngak mau ada yang memandang putri gua sebelah mata, gua ngak mau ada yang sepele padanya, jadi lu harus benar benar menjaganya dengan baik."
"Iya gua janji." Jones.
"Baik kalau begitu gua setuju lu menikahi putri gua, dan lu harus selalu ingat dengan janji lu, di sini banyak saksi yang melihat dan mendengar lu berjanji." ucap Johan dengan kata menekan.
Sebenarnya maksud kata kata dan syarat dari Johan juga melibatkan mama dara serta keluarganya juga karna Johan tau mama dara kurang suka pada putrinya.
"Iya gua paham, kalau begitu gua ingin pernikahan kami akan segera di laksanakan." Jones.
"Kapan menurut lu." Johan.
"Dua minggu dari sekarang, tepatnya saat ulang tahun Shafa, saat itu ia genap berusia delapan belas tahun jadi pernikahan kami tidak perlu di sembunyikan dan tidak perlu nikah siri karna Shafa belum cukup umur." usul Jones.
"O ya .. putri papa sudah hampir delapan belas tahun ternyata papa sudah lupa itu, papa kita putri papa masih putri papa yang dulu." senyum Johan menatap putri sulungnya itu penuh kasih sayang.
Senyum yang sangat langka di lihat oleh orang lain, senyum yang menggambarkan cinta, sayang yang tulus dari seorang ayah pada putrinya.
"Papa, jangan ngomong gitu dong Shafa kan malu." ucap Shafa menyembunyikan wajahnya di balik punggung oma Wu.
Hahahaha gelak tawa semua orang
Pembicaraan pun berlanjut sampai menemukan keputusan yang sesuai dan terbaik menurut mereka, wajah Jones tampak di liputi kebahagiaan yang berlimpah sebab calon papa mertua menuruti permintaannya untuk menikahi pujaan hati dalam waktu hanya dua minggu.
"Robby.. Lu urus semua kebutuhan dan keperluan pernikahan putri gua, gua tidak mau ada kesalahan dan gua ingin pernikahan putri gua berlangsung dengan baik." titah Johan pada Robby yang duduk tidak jauh dari Jones.
"Siap bos, dengan senang hati gua akan laksanakan." semangat Robby.
"Papa.. bisa ngak pernikahannya jangan terlalu mewah dan ramai, sederhana saja papa, apa lagi itu kan hari kelahiran Shafa, boleh Shafa mengunjungi anak yatim juga kan." tanya Shafa polos menatap sang papa.
"Sudah papa putuskan pernikahan kalian akan di lakukan terbuka, papa tidak mau sederhana saja karna papa ingin semua orang tau putri papa sudah menikah dan menikah dengan siapa, masalah keinginan kakak yang mau mengunjungi anak yatim pas pernikahan kalian papa akan mengundang mereka."
"Tapi papa." Shafa.
"Keputusan papa sudah bulat sayang, papa
harap kakak mengerti."
"Bukan begitu papa, apa Uncle punya uang sebanyak itu." cicitnya tapi masih terdengar oleh Johan dan oma Wu yang ada di sampingnya.
Untung hanya Johan, oma, opa Wu yang mendengar kalau sampai semua orang dengar mau di buat kemana wajah Jones karna kata
kata Shafa.
Bukan maksud Shafa menyepelekan keuangan Jones tapi ia berpikir kalau sang papa mengadakan pesta besar besaran tentu akan membebani sang calon suami, dan sebenarnya dia juga tidak suka pesta yang terlalu berlebihan menurutnya, karna hanya akan membuang uang dengan sia sia saja menurutnya.
Hahahahahaha
Johan, oma dan opa Wu tertawa terbahak bahak mendengar kata kata Shafa yang polos, gelak tawa Johan yang lepas membuat semua orang penasaran hal apa yang mereka bicarakan sehingga laki laki dingin dan arrogant itu bisa tertawa sampai seperti itu.
Shafa sendiri menunduk, dia ******* ***** ujung hijabnya karna malu dan grogi di tertawakan oleh papa dan opa,oma nya.
"Ada apa sih, kok sampai begitu tawanya." tanya Zahra yang baru datang, sejak tadi Zahra hanya di kamar saja, tapi karna mendengar gelak tawa Johan ia lalu datang dengan langkah pelan dan hati hati, sebab luka bekas jahitan di jalan lahir belum sembuh dan kering.
__ADS_1
"Sayang, kenapa kemari, koko kan sudah bilang istirahat di kamar saja, sayang masih lemah lo." Spontan Johan berdiri lalu meraih tubuh istrinya yang masih lemah untuk ia bawa duduk di sampingnya.
"Habis ketawa koko itu buat penasaran." senyum Zahra, mata wanita itu menangkap putrinya yang menunduk sepertinya gadis itu salah bicara.
Setelah Zahra duduk dan Johan, laki-laki itu lalu berbisik di telinga Zahra dan ahirnya ia juga ikut tertawa cekikikan hingga semua orang makin penasaran.
"Kenapa sih tertawa terus bos, ada apa ?." Robby.
"Huss anak kecil di larang ikut campur." jawab Johan, mana mungkin ia mengatakan hal yang di katakan oleh putrinya itu yang pasti akan membuat Jones ngenes mendengarnya.
Acara lamaran berjalan sukses dan dengan penuh kekeluargaan, seperti yang sudah di tentukan pernikahan Shafa dan Jones hanya berselang dua minggu dari lamaran resmi tentu saja untuk mempersiapkan itu butuh perhatian lebih.
"Sayang, tadi ngetawain apa sih hmm." tanyanya saat mereka kini duduk berdua di taman belakang, semua keluarga masih berkumpul di ruang utama karna masih ingin berbincang, kecuali Johan dan Zahra karna wanita post partum itu masih butuh istirahat yang banyak dan lebih.
Jones sendiri sudah permisi pada Johan untuk mengajak Shafa berbincang berdua di taman belakang karna banyak yang harus mereka bahas berdua, Jones ingin tau apa yang di inginkan calon istrinya itu sebagai mahar, karna untuk mahar Johan menyerahkan pada mereka berdua.
"Sayang.. kok diam." menggenggam tangan
kecil Shafa dengan cinta.
"Itu.. Shafa bilang, takut nanti Uncle ngak punya uang kalau pestanya terlalu besar." menunduk dan ******* ***** tangannya.
"Hahhhh ya Allah sayang, pantas papa mu tertawa terbahak bahak begitu, ternyata sayang ngomongnya gitu." senyum Jones.
"Maaf .. maaf Uncle, bukan nya Shafa menyepelekan Uncle, tapi menurut Shafa pesta seperti itu terlalu berlebihan, setelah menikah kita kan masih butuh uang."
"Aduhh sayang, kamu tau ngak yangk, aku juga ingin semua orang tau kalau aku sudah menikah dan menikah dengan wanita yang paling ku cintai wanita yang banyak di inginkan orang lain untuk menjadi istri atau menantu mereka, aku ingin semua laki-laki di dunia ini tau kamu lah istri ku, bukan karna kamu putri Johan, karna itu aku juga setuju pernikahan kita di publikasi secara terbuka."
Jones menggenggam tangan Shafa lalu membawa tangan itu kebibirnya kemudian ia ciumi berkali-kali.
"Sayang, kamu jangan kwatir masalah uang, aku memang hanya seorang dokter saja, tapi asal kamu tau aku juga punya usaha lain sayang, jadi uang calon suami mu ini banyak." tersenyum menggoda.
Shafa diam, ia sebenarnya hanya ingin pesta sederhana saja, karna memang ia bersifat sama dengan mamanya, sama sama kurang suka keramaian.
"Aku ingin pernikahan dan pesta kita berlangsung mewah karna pernikahan itu cuma satu kali seumur hidup sayang, aku ingin mengingat setiap momennya sampai di hari tua nanti, ngak apa apa kan sayang, nurut sekali ini saja hmm, aku tau kamu kurang suka keramaian tapi kan cuma satu hari sayang ku, dan yang paling utama aku ingin semua orang tau kalau kamu itu milik ku, agar laki-laki yang lain berhenti mengejarmu."
Merayu sang gadis.
"Ishhh apa Uncle, semua orang juga sudah tau, tuh lihat di televisi dan media lainnya wajah Uncle terpampang jelas saat melamar Shafa di pesta abang, untung ngak ada yang kenal wajah Shafa jadi wajah Uncle saja yang menjadi sorotan."
"Iya ya.. haha ngak apa apa juga, bagus dong apa lagi sampai sekarang menjadi berita utama, Jones dokter tampan melamar putri pengusaha Johan Wu di pesta saudaranya hahaha aku dan kamu tiba-tiba viral ya."
Jones menarik tubuh Shafa agar masuk kedalam pelukannya, dia sangat bahagia sampai sampai tampa sadar ia memeluk lagi gadis itu dengan tubuh yang bergetar menahan haru dan kebahagiaan yang memuncak.
"Maaf sayang, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memelukmu, maaf kan aku ya, jangan marah sayang, sebentar lagi kita juga akan menikah ngak apa apa aku peluk ya, cuma peluk saja sayang, kamu tau aku sangat bahagia, terimakasih karna sudah menerima laki-laki tua ini, terimakasih karna bersedia menjadi pendamping ku, aku berjanji akan selalu sayang, cinta dan setia seumur hidupku."
Jones memeluk Shafa makin erat, gadis itu bisa merasakan tubuh Jones yang bergetar, suara serak Jones dan air mata Jones yang membasahi bahunya yang di balik hijab.
Shafa memang tidak marah, dan tidak bergeming dari duduknya karna dia juga bingung harus melakukan apa mau marah dia pun tidak tega.
*************
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
💝 LIKE
💝 RATE
💝 VOTE
💝 HADIAH yang banyak
💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
__ADS_1
Happy Reading.