UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
44. Penyakit Shafa.


__ADS_3

Zahra keluar dari kamar rawatan Shafa meninggalkan Niken, Lila dan Asiah di dalam sana, air matanya masih tampak di sudut mata indahnya.


"Kenapa sayang ?."


"Mari kita bicara dengan dokter Jones koko."


" Ada apa yangk."


"Nanti koko akan tau sendiri di sana." berjalan mendahulukan Johan.


"Yangk...emang tau ruangan si ngenes di mana." tanya Johan karna Zahra yang mendahului.


"Ngak, kan koko nyusul." jawabnya cuek.


"Oalahhh." memeluk pinggang Zahra sembari menjajarkan langkahnya.


"Pelan pelan jalannya sayang, ingat perutnya yang buncit." cengir Johan.


"Ulah siapa."Zahra.


"Kokolah, sayangkan nampung doang."


"Dasar mesum."


"Sama istri wajib mesum, kalau ngak mesum ngak muncul bibit bibit unggul yang super paripurna."


Zahra diam, ahir ahir ini dia selalu kalah berdebat dengan suaminya yang makin bucin dan banyak tingkah, ( memang laki-laki kalau sudah di di turutin pastinya di kasih hati minta jantung.) kata Zahra loh All bukan kata bu Author πŸ˜πŸ˜‹.


Kedua orang tua itu sudah duduk berhadapan dengan dokter Jones dan dokter wanita yang melakukan pemeriksaan pada Shafa, rahang Johan tampak mengeras melihat wajah cengegesan Jones namun laki-laki itu tampak biasa saja tampa beban.


"Jadi nyonya nona harus di periksa lebih lanjut lagi untuk memastikan kista itu hanya ada di dalam rahim saja atau masih ada di tempat lain, misalnya seperti di oparium." ucap wanita itu menjelaskan sembari menunduk karna takut pada sang Ceo yang menatapnya tajam setiap mengangkat kepala.


"Kalau begitu kenapa lu tidak lakukan segera." marah Johan membentak wanita itu.


"Kalau pemeriksaan sampai ke oparium tidak mungkin untuk saat ini koko." tiba tiba Zahra meneteskan air mata.

__ADS_1


"Kok nangis yangk, memang kenapa kok ngak bisa." tanya Johan lembut melap air mata Zahra dengan ujung ibu jarinya.


"Karna .. karna putri mu masih gadis koko." jawabnya terbata, karna dia tau pasti maksud kata kata dokter itu sedikit banyaknya Zahra juga tau bagai mana pemeriksaan dan pemgobatan wanita yang mengalami penyakit seperti Shafa.


"Loh apa hubungannya sayang." tanyanya lagi makin tidak mengerti.


"Itu artinya agar papa mertua segera menikahkan gua dengan Shafa, gua ngak mau dong alat USG Transvaginal itu mendahului gua."


"Cihh bangun .. jangan kebanyakan mimpi, itu ngak akan terjadi, tunggu mendahului apa maksud lu." menatap membunuh ke arah Jones.


"Sudahlah ko kita bicarakan di rumah saja nanti." beranjak dari duduknya.


"Sayang, koko benar benar ngak ngerti lo." membantu Zahra berdiri.


"Nanti saja koko, dokter terimakasih atas penjelasannya, saya mohon tolong berikan obat obatan yang terbaik buat putri kami, untuk saran yang dokter katakan tadi nanti akan kami pertimbangan, sementara tolong berikan obat yang kegunaan mengarah ke penyakitnya saja dulu." ucap Zahra menatap dokter wanita itu yang masih tertunduk takut.


"Baik nyonya, kami akan berusaha sebaik mungkin." menunduk hormat.


Jones ikut berdiri lalu berjalan mengiringi sepasang suami istri itu.


"Bos.. gua serius, gua benar benar ingin bersama Shafa, plis izinkan gua." Jones mengatupkan kedua tangannya di depan dada meminta dan memohon serius.


"Gua ngak lupa umur, gua sudah berusaha keras agar bisa melupakan Shafa gua sampai pergi berbulan bulan hanya untuk menghilangkan rasa ini tapi gua ngak bisa di hati gua hanya ada Shafa, tolong berikan gua kesempatan gua berjanji akan menjaga Shafa seumur hidup gua, apapun hasil pemeriksaan Shafa nantinya gua tidak akan pernah meninggalkannya gua janji dan gua bersumpah."


Dari sorot mata Jones tampak kekhawatiran yang besar dia saat ini sangat takut kehilangan gadis impiannya itu andai Johan sudah tau dengan jelas sakit apa yang di alami oleh sang putri.


Laki-laki itu berkata sangat serius dan sungguh sungguh dengan sepenuh hati berharap jawaban Johan akan memberikan jalan terang pada masa depan dan kebahagiaannya.


"Maaf dokter Jones berbicara seperti itu bukan di sini tempatnya, dan Shafa masih butuh perawatan kita akan tunggu Shafa pulih dulu baru bicarakan, malahan jodoh maut dan rezeki bukan kita yang tentukan sehebat apapun kita berusaha bilang tidak kalau sang pencipta yang bilang iya maka kita bisa bilang apa, saya harap dokter mengerti maksud saya."


"Iya nyonya saya paham, tapi saya sungguh sungguh sangat menyayangi dan mencintai Shafa." dari sorot mata Jones tampak begitu menghiba.


"Saya tau, tapi tolong jangan di paksakan dan jangan terlalu berharap besar agar tidak terlalu sakit bila nanti tidak tercapai, buat saya pribadi saya akan serahkan pada putri saya kalau dia menerima atau tidak dokter sebagai pendampingnya nanti karna kebahagiaannya adalah harapan saya biar dia yang menentukannya nanti."


Kata kata Zahra cukup menenangkan sekaligus menakutkan bagi Jones meski Zahra menyerahkan keputusan di tangan Shafa tapi belum tentu ia bisa memenangkan hati gadis itu.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu saya akan datang kerumah bersama orang tua saya untuk melamar Shafa saat Shafa sudah pulang ke rumah."


"Ngak perlu, gua ngak terima." Johan.


"Maaf bos gua mau melamar putri lu bukan lu sendiri ya, kalau lu yang terima gua juga ogah." bergidik ngeri.


Zahra yang tadinya masih sedih karna kepikiran penyakit putrinya malah jadi cekikikan sampai tubuh dan perutnya bergetar karna merasa lucu dan geli mendengar kata kata Jones.


"Buakhhh gua seribu kali ogah, lu ngak lihat hasil perbuatan gua udah banyak, gua normal kunyuk."


Johan berjalan membawa Zahra yang masih cekikikan memegangi perut buncitnya, tinggal Jones menatap kedua orang tua Shafa dengan tatapan layu, ia masih berdiri tegak di depan pintu ruangan praktek pribadinya sampai ahir dokter wanita yang mereka tinggalkan di dalam keluar dan menegurnya.


"Dokter.. apa nyonya dan tuan besar orang tua gadis yang dokter sukai itu, dan apakah nona Shafa orang yang dokter sukai ?."


"Iya .. orang yang gua sukai Shafa gadis kecil yang dulu sering gua gendong sekarang gua sayangi dan cintai lalu mereka berdua orang tuanya." jawab Jones menatap lurus kedepan dengan tatapan gamang.


Dokter wanita itu ikut tergugu mendengar penuturan Jones, di hati laki-laki itu benar benar sudah ada wanita lain dan bukan levelnya untuk menyaingi gadis pemgisi hati Jones, siapapun tau siapa Johan ayah dari wanita yang Jones sukai.


#########


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baikΒ  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


πŸ’ LIKE


πŸ’ RATE


πŸ’ VOTE


πŸ’ HADIAH yang banyak


πŸ’KOMEN yang sebanyak banyaknya.

__ADS_1


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.


__ADS_2