UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
18.Pernah di lamar.


__ADS_3

Shafa berjalan ke arah tebing yang di pagar besi sepanjangnya, senyum terpancar di balik cadarnya seketika ia bergerak gerak untuk melemaskan otot ototnya.


"Hai nona, sudah senamnya, kamu ngak lapar apa ayo sarapan." panggilan Jones menyita perhatian Shafa yang masih menikmati aroma udara pagi yang sejuk.


Apa lagi pemandangan yang sangat indah dengan hamparan danau yang sangat luas di kelilingi pohon pohon yang menghijau, membuat mata terasa sejuk memandangnya.


Shafa berjalan ke arah Restoran kecil itu di ikuti oleh Niken dan Lila, sejak keluar mobil tadi mereka terus menemani Shafa di sisi kiri kanannya, bodyguar laki laki berdiri siaga beberapa meter dari mereka.


"Loh kok udah ada sarapannya ?." tanya Shafa bingung melihat makanan kesukaan sudah tersaji di meja makan.


"Kamu ngak suka lagi makanan seperti ini biar aku pesan yang lain lagi, kamu mau apa."


Nasi goreng lengkap dengan telor orak arik sarapan kesukaan Shafa itu langsung di pesan oleh Jones begitu mereka sampai, karna ia masih hapal betul makanan pafotit gadis itu.


"Tidak Uncle, jangan pesan lagi, Shafa suka ini, siapa yang pesan kok tau makanan kesukaan Shafa." gadis itu langsung duduk di kursi di hadapan Jones.


"Aku belum lupa makanan kesukaan kamu,


dari dulu kalau sarapan selalu itu itu saja, tapi kok bisa besar juga ya hahaha." tawa Jones, menatap Shafa penuh arti.


"Ishhh Uncle ya, masa Shafa kecil terus sih." gerutu Shafa.


"Emang kamu udah besar ?."


"Ngak Uncle Shafa masih kecil, nih jentik Shafa aja masih sebesar lidi." Shafa menunjukkan jari kelingkingnya, matanya menyipit karna gemas dan geram akibat candaan Jones.


"Kalau udah besar udah bisa nikah dong." pancing Jones.


"Belum Uncle, Shafa masih dede bayi." masih geram tambah merajuk.


"Hahaha dede bayi tapi udah bisa buat ade adekan." canda Jones makin jadi.


"Hmmm maksudnya ?." Sambil mengunyah makanannya.

__ADS_1


"Maksudnya, kamu makan aja kan lapar."


Aishhhh..


Jones memperhatikan cara makan Shafa yang sepertinya kesulitan karna harus bolak balik menyingkap cadarnya, rasa iba menyerang hatinya karna Shafa tidak dapat makan dengan leluasa di hadapannya.


"Kalau susah makannya kamu ke tempat sebelah aja, di sana aga tertutup jadi bisa buka cadar."


"Ngak apa apa Uncle, udah biasa gini."


"Ya sudah, makan pelan pelan."


Jones menyodorkan satu gelas air putih pada gadis cantik itu, kemudian ia makan pesanan yang sama dengan Shafa, pandangan matanya tak lepas dari Shafa, sedang menikmati makannya ia tersenyum lebar.


" Girl.. kamu tau ngak aku dulu pernah di lamar gadis kecil."


"Pernah ?? siapa ?? lucu ya, anak anak melamar Uncle. " masih mengunyah makanannya.


"Bagi yang merasa aja, lucu memang tapi buat aku dia istimewa."


"Udah, jadi gadis rupawan, kecilnya aja udah cantik apa lagi besarnya."


"Emang pernah jumpa,.liat orangnya maka tau cantik."


"Udah dong, sering malah."


"Terus Uncle suka juga."


"Kan udah aku bilang dia istimewa, tentu suka dong, suka banget malahan."


"Kalau gitu tunggu apa lagi ?."


"Tunggu apanya ?."

__ADS_1


"Yah lamar lah Uncle, apa lagi coba."


"Betul nih, bisa di lamar."


"Kan Uncle suka, ehh dia suka Uncle ngak ?."


"Iya aku suka banget, sayang banget, cinta banget rasanya mau mati saja kalau ngak dapatin dia."


"Yee yee gitu amat Uncle, semoga jodoh deh, Shafa doain."


"Aminn...." rasanya Jones ingin menyingkap cadar gadis muda itu, lalu ia menerkam bibir yang asik ngoceh dan tidak berperasaan itu.


Sepertinya Shafa benar benar ngak sadar kalau dialah orang yang di maksud oleh Jones, dan Shafa benar benar tidak ingat dia lah yang mengucapkan kata kata lamaran pada Jones.


❣❣❣❣


Hai....


Dukung author terus ya..


❣Like..


❣Vote..


❣Rate..


❣Hadiah yang banyak.


❣Komen yang sebanyak banyaknya.


Happy Reading.


Wo Ai ni all.........

__ADS_1


😘😘😘😘😘😘


__ADS_2