
Maya sempat berpikir kalau Niken akan di keluarkan dari kampus, Shafa akan dapat peringatan tapi nyatanya dia dan temannya lah yang di keluarkan dengan berbagai alasan dari pihak kampus.
Yang paling memberatkan saat photo Maya dan teman prianya tersebar di mading kampus, ia sedang berpelukan mesra dengan laki laki lain yang bukan pacarnya di dalam sebuah club malam.
Anak buah Johan tentu dengan sengaja melakukan itu agar Shafa tidak merasa bersalah saat Maya dan teman temannya di keluarkan dari kampus itu.
Vidio dan photo tentang perkelahian Niken saat membela Shafa yang sudah menyebar di media sosial tidak sampai hitungan jam langsung hilang, bahkan Shafa sendiri tidak sempat tau berita itu.
"Nona maaf, maafkan saya, saya sudah tidak tahan lagi kelakuan mereka, saya mohon maafkan saya ya .. ya .. ya."
Sudah berkali kali Niken meminta maaf pada majikannya itu tapi Shafa masih saja mode ngambek, kali ini dia pakai cara tidak biasa ia pakai cara Janeet merayu Shafa, ia mengedip ngedipkan matanya seperti anak kecil.
Shafa yang tidak tegaan ahirnya kalah oleh tingkah Niken yang bergaya sok imut karna meniru gaya Janeet.
"Sudah sudah Shafa maafkan, tapi janji ngak buat gitu lagi ya kak, Shafa kan malu kalau nanti di bilang orang berteman dengan cewek bar bar hahahaha."
"Makasih nona, aku memang bar bar hehe."
Setelah Maya dan the gank lenyap maka lenyap pula penganggu hidup Shafa, ia bisa keluar masuk kampus dengan pikiran tenang dia bisa belajar dengan nyaman.
"Hai cantik, apa kabar." goda seorang laki-laki tampan dan masih muda.
Laki-laki itu duduk tepat di depan Shafa, Shafa yang terkejut menggeser duduknya agar mundur, ia berusaha sedikit menjauh dari laki-laki itu.
"Kabar baik kak, maaf saya masuk kelas ya." pamit Shafa menunduk.
"Ehhh tunggu dong, aku mau kenalan ni boleh ya, namaku Reihan nama kamu siapa."
"Niken, nama saya niken." jawab niken mengulurkan tangannya pada laki-laki tampan itu, ia tadi meninggalkan Shafa sendiri karna ia sedang ke kamar mandi.
"Maaf bukan kamu tapi cewek cantik itu." Raihan menatap Niken kesal.
"Hehehe maaf juga, teman ku tidak punya nama, namanya masih di simpan sama papanya."
"Maksudnya."
"Maksudnya teman ku tidak boleh berkenalan dengan laki-laki manapun."
:peraturan apa itu, kenapa tidak boleh."
"Peraturan dewe.., ngak ya ngak, ayo kita pergi dek kita masih banyak tugas." Niken menggandeng tangan Shafa meninggalkan laki-laki itu masih dengan wajah kesal dan kecewa.
"Ayo.. ayo masuk, ada dosen baru loh." teriak teman teman Shafa.
"Wahh dosennya tampan banget, tadi aku sempat lihat di ruang dosen." ucap seorang wanita cantik.
"Katanya masih single, belum nikah." ucap mahasiswi lainnya.
"Asik, bisa nih buat cadangan." mahasiswi lainnya.
"Ishhh setan kamu ya, jangan sok nanti malah kamu yang di buat cadangan haha."
Shafa tidak perduli dengan kata kata mereka dia sibuk membaca buku kedokteran, Niken yang duduk di sebelahnya ikut ikutan kepo mendengar ocehan mahasiswi lainnya.
__ADS_1
Tidak berapa lama kemudian seorang laki-laki tampan berkulit putih ,dengan kaca mata terpasang di atas hidung mancungnya memasuki ruangan, seketika semua mata memandang padanya, ketampanannya mampu memghipnotis para kaum hawa yang ada di sana.
Namun ada yang beda pada penampilannya, ia memakai baju atasan long kurta berwarna soft blue, celana panjang hitam menambah ketampanannya, meski memakai baju muslimah tapi ia terlihat makin maco.
"Astaga Shafa,lihat siapa yang datang." Niken menyenggol tangan Shafa.
"Siapa sih kak."
"Lihat aja, wiehhhh makin tampan saja." guman Niken tapi masih bisa terdengar oleh indra pendengaran Shafa.
Shafa mengangkat wajahnya, ia melihat kedepan kelas seketika pandangan matanya dan pandangan mata laki-laki itu beradu, keduanya malah sama sama terkejut.
Laki-laki itu terkejut karna tiba tiba pandangan mereka beradu, Shafa terkejut melihat dosen batu yang kini sedang menatapnya.
"Uncle Jones, dosen baru." gumam Shafa.
"Hmmm dokter tampan ku, idolaku." gumam Niken bahagia, Jones memang sudah lama di idolakannya dan karna laki-laki itu Niken makin tertarik pada dunia kedokteran.
Maka pada saat Niken tau kalau ia akan bekerja pada Shafa yang seorang mahasiswi kedokteran ia sangat bahagia, karna ia ingin dekat dengan orang yang belajar ilmu kedokteran, meski hanya melihat mereka belajar saja dia sudah bahagia.
Tapi rezeki malah berpihak padanya, Shafa malah mengajaknya kuliah bersama, Shafa berpikir dari pada di buntuti kedalam kelas dan membuat dia malu serta risih mending ajak Niken sekalian.
"Assalamualaikum wrwb, apa kabar semuanya perkenalkan saya dosen baru kalian, saya akan mengajar tentang obstetri gnikologi, saya harap kerja sama semuanya, saya tidak suka orang yang ribut dan tidak disiplin karna itu saya berharap kalian akan mengikuti pelajaran yang saya berikan dengan serius, ada pertanyaan."
Jones tersenyum saat pandangan matanya kembali beradu dengan Shafa, sementara Shafa sendiri juga tersenyum di balik cadarnya.
"Maaf dokter, statusnya." tanya seorang mahasiswi yang sedari tadi memandang Jones takjub dan penuh damba.
Huuuuuu hahahaha ...
"Saya masih single, belum menikah, tidak punya kekasih dan tidak berniat menjalin hubungan dengan cara berpacaran, kalau di hati sih sudah ada seseorang, tapi masih tahap pendekatan." jawab Jones tersenyum, pandangan matanya mengarah ke Shafa saat berkata begitu.
"Yahh patah hati dong aku." jawab mahasiswi lain bersamaan, gelak tawa terdengar di ruangan mewah dan luas itu.
Jones tertawa mendengar celotehan para mahasiswi, sementara Shafa tetap diam membisu di tempatnya.
Jones memulai pembelajaran darinya dengan materi sesuai bidangnya, sesekali ia berjalan di antara para mahasiswa dan mahasiswi, rasa rindu dan kasih sayang yang teramat besar pada Shafa membuat langkah kakinya selalu membawanya ke arah tempat duduk Shafa.
Para mahasiswi jadi baper setiap Jones berjalan di antara kursi yang ia lalui, Niken juga tentu saja berada di barisan mereka dia ikut baperan.
Jam pembelajaran sudah selesai, semua mahasiswi masih setia duduk di tempatnya, karna Jones juga masih ada di mejanya, Jones sengaja berlama lama karna ingin menyapa Shafa, dia yakin Shafa tidak keluar kelas untuk istirahat makan siang sebab Shafa dan Niken selalu membawa bekal.
Dia juga tidak mau gegabah mendekati Shafa sembarangan, apa lagi Shafa tampak selalu menghindari tatapan matanya karna Shafa pura pura tidak mengenali Jones di depan teman teman satu angkatannya.
"Kak Niken Shafa lapar, mereka masih di dalam saja kita ketaman belakang yuk." Shafa bangkit dari duduknya lalu keluar kelas di iringi Niken yang membawa belak mereka.
"Kita kemana nona." tanya Niken bingung sepertinya dia tidak menyimak kata kata Shafa karna perhatiannya tertuju pada Jones.
"Taman belakang kak Niken." Shafa tersenyum melihat tingkah Niken yang seperti tidak rela meninggalkan kelas karna Jones masih ada di sana, padahal tampa ia sadari begitu mereka keluar Jones sudah membuntuti dari belakang.
"Di sini kalian ternyata." tegur Jones pada Shafa dan Niken yang duduk di bawah pohon mangga Besar yang ada di dalam taman itu.
Shafa dan niken duduk berhadapan di kursi kayu itu sambil membuka kotak makan siang masing masing.
__ADS_1
"Uncle ehh pak dosen." tawa kecil Shafa.
"Jangan pak dosen, biasa aja manggilnya kalau bisa jangan Uncle dong, aku merasa makin tua nih panggil yang lain aja ya."
"Panggil apa om, paman ?."
"Ahhh makin rancau, ngak boleh berbau bau seperti itu panggilannya dong yang bagus dikit napa sih, kamu buat aku makin tua saja di panggil begitu."
"Terus apa dong Uncle, dari dulu Shafa kan manggilnya Uncle terus tiba tiba berubah Shafa kan jadi bingung, terus manggil apa dong sekarang."
"Panggil abang kek, nama juga boleh."
" Nama, ngak sopan dong Shafa, masa manggil nama sama yang lebih tua, kualat nanti."
"Ahh terserah Shafa deh yang penting jangan Uncle , setidaknya saat kita berdua jangan panggil seperti itu, kalau di depan orang terserah Shafa."
Jones sendiri bingung panggilan apa yang tepat di ucapkan Shafa ppadanya.
"Shafa bawa bekal apa, aku belum makan dari pagi loh." melihat isi bekal Shafa.
"Kok bisa sih Uncle, ini sudah siang nanti sakit, ini Shafa bawa bekal lebih makan ya."
Shafa masih Shafa yang dulu, Shafa yang ceriwis dan perhatian pada siapa saja, Gadis cantik itu menyerahkan sebuah kotak bekal yang berisi nasi lengkap dengan lauknya pada Jones.
"Namanya juga single dd Shafa, ngak ada yang urusin ya gitu deh." menerima bekal dari Shafa dengan senyum bahagia.
"Makanya nikah dong Uncle biar ada yang urusin." oceh gadis itu tampa menoleh ke arah Jones.
π
π
π
π
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baikΒ terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
π LIKE
π RATE
π VOTE
π HADIAH yang banyak
πKOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
__ADS_1
Happy Reading.