
Ketiga Bodyguar berlari kencang menuju apartemen majikan mereka, napas ketiganya sama sama tersengal begitu sampai di lantai atas, Niken dengan cepat membuka pintu Apartemen dan langsung masuk kedalam.
"Ya Allah.. nyonya muda, kenapa ini." teriak Lila pucat melihat Shafa yang terduduk lemah di atas lantai dengan kondisi kedua tangan berada di kakinya.
"Sakit.. sakit kak, kaki Shafa kena pecahan kaca." tangis Shafa dengan suara parau.
"Ya Allah.., tuan muda tau nyonya." Niken.
"Ngak kak, Aa pergi." masih menangis,tangannya masih menekan perdarahan luka di kakinya.
"Gimana ini kak Niken, darahnya banyak." tanya Lila bingung.
"Ayo kita kerumah sakit." Niken.
"Kaki Shafa sakit kak." tangisnya.
"Iya nyonya, sabar ya, biar saya gendong belakang ya, kak Niken dan kak Lila yang pegang kaki nyonya." Nisa.
"Ngak usah kak Shafa bisa jalan."
"Tidak nyonya biar di gendong Nisa." Lila.
"Tapi kak, Shafa berat."
"Tidak apa apa, gendong empat orang sekaligus saya kuat kok." kelakar Nisa agar kesedihan dan rasa sakit di kaki Shafa bisa ia lupakan sejenak.
Shafa mencoba berdiri di bantu ketiganya, namun belum sempat berdiri sempurna ia merasa pandangannya gelap, tubuh kecil itu oleng kekanan dan hampir kehilangan keseimbangan untung Niken dan yang lain sigap menahan tubuh lemahnya.
"Nyonya .." panggil ketiganya.
"Shafa pusing kak, pandangan Shafa tiba-tiba gelap." lirihnya masih terisak.
"Ya Ampun nyonya." Nisa.
Shafa merasa tubuhnya memgambang, seperti terbang, kepala pusing dan tubuhnya makin lemah tidak bertenaga.
"Assalamualaikum wrwb." tiba tiba sepasang insan muncul dari luar, karna pintu tidak di kunci keduanya bisa dengan mudah masuk kedalam apartemen.
"Waalaikumsalam wrwb." jawab semua serentak bola mata mereka sama sama melihat ke arah sumber suara.
"Ya Allah dek, kenapa ini." teriak sang wanita cemas.
"Kenapa dek." tanya pasangannya.
__ADS_1
"Shafa.. Shafa.." Shafa tidak lagi bisa melanjutkan kata katanya karna langsung pingsan, untung tubuhnya bersandar pada Niken sehingga tidak jatuh ke atas lantai.
"Nyonya..nyonya.." teriak para bodyguar.
"Abang.. Shafa pingsan." ucap sang wanita panik, wanita itu meminta salah satu di antara bodyguar untuk mengambil selimut dan membalutkannya pada tubuh Shafa.
"Cepat gendong bang." titah sang istri.
"Aaa..ya...ya." jawabnya ikut panik.
Istrinya sengaja membalutkan selimut pada tubuh Shafa agar suaminya tidak langsung menyentuh kulit atau tubuh Shafa yang bukan muhrimnya.
Mereka sama-sama berjalan cepat menuju lift dan selanjutnya kelantai dasar, setelah memasukkan tubuh Shafa kebagian bangku tengah mobil dab kepala Shafa berbantal paha sang wanita.
Wajah tegang tampak jelas di wajah semua orang, Niken menghubungi Johan dengan tangan bergetar, mereka sepakat tidak menghubungi Jones karna mereka yakin dalang semua itu pastinya Jones meski mereka tidak tau permasalahannya apa.
"Bawa putri gua ke rumah sakit terdekat, cepat."
suara Johan terdengar menyeramkan dari seberang sana membuat bulu kuduk semuanya merinding dan takut.
Arkhan membawa mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat, awalnya kedatangan mereka ingin silaturahmi karna sang istri yang sedang hamil enam bulan mengidam ingin bertemu Shafa.
Bukannya silaturahmi seperti harapan malah mendapatkan adik angkatnya dalam keadaan terluka, sehingga mereka semua menjadi panik.
Shafa sudah berada di dalam ruangan observasi setelah mendapatkan perawatan dan pengobatan di ruang instalasi gawat darurat, luka jahitan di kaki Shafa sebanyak sembilan jahitan sudah di bersihkan dan di rawat dengan baik.
Ia memaki dan hampir menghajar bodyguar putrinya itu kalau saja tidak di halangi oleh Arkhan dan Andy yang ikut bersamanya.
"Om.. jangan om, sabar ingat dek Shafa masih belum sadarkan diri, nanti kalau dek Shafa tiba tiba bangun dia pasti protes om marah marah di sini apa lagi pada kakak kakaknya." Arkhan menahan tangan Johan yang hampir melayang pada Niken dan yang lain.
"Iya tuan, sabar kendalikan diri, kalau mau menghukum mereka nanti kita selesaikan di markas besar." Andy.
"Sial.. kalau bukan karna putri gua yang telah memanjakan kalain sudah pasti gua hancurkan tulang tulang kalian satu persatu." umpat Johan.
Semua bodyguar menunduk takut, mereka hapal betul bagai mana sifat tuan mereka itu kalau mereka buat kesalahan.
"Lu cari tau apa yang terjadi sebenarnya, kemana si keparat itu saat putri gua terluka." ucap Johan pada Andy.
Johan sudah mendengar cerita dari Niken dan yang lain dari apa yang mereka lihat, namun mereka tidak tau apa yang terjadi sebenarnya mengapa Jones meninggalkan Shafa di apartemen dan keluar dalam keadaan marah.
Karna ingin tau apa yang terjadi dan tidak ingin salah mengambil keputusan yang akan membuat putrinya terluka Johan pun memerintahkan Andy mencari tau apa yang terjadi pada pasangan suami istri itu.
Sementara Andy dan para pengikutnya pergi Johan memindahkan Shafa dari rumah sakit itu kerumah sakit mewah miliknya yang berada jauh dari kota, Rumah sakit yang baru di bangun di mana Johan belum pernah ke sana.
__ADS_1
Johan tentu membawa dokter ahli untuk mendampingi putrinya di dalam mobil, ada tiga dokter yang ikut, dokter obgin, dokter bedah dan dua dokter umum, serta dua perawat.
Menempuh perjalanan kurang lebih empat jam ahirnya mereka tiba di rumah sakit yang di tuju, para dokter ahli di sana sudah menunggu di depan Rumah sakit.
Mereka memberi salam hormat begitu Johan keluar dari dalam mobil mewahnya, laki-laki itu sebenarnya tidak gila hormat tapi karna dia memang pemilik rumah sakit dan orang terpandang semua orang menghormatinya, apa lagi itu adalah aturan dari Daddy Wu.
Johan ikut mendorong brangkat pasien di mana Shafa masih tertidur lemah, sejak tadi dia bolak balik bangun dan tidur lagi, kata dokter pengaruh perdarahan pada kakinya mengakibatkan tubuhnya menjadi lemah sehingga ia ingin
tidur terus.
Setelah memindahkan Shafa ke tempat tidur para dokter langsung memeriksa wanita hamil itu dengan seksama dan teliti.
Tidak ada yang berbahaya pada Shafa dan calon anak anaknya hanya saja Shafa butuh transpusi darah setidaknya lima ratus cc untuk menjaga Anemia dalam kehamilan terjadi pada Shafa.
Niken, Lila dan Nisa tidak beranjak dari sisi Shafa, penyesalan yang teramat dalam menikam hati mereka, mengapa harus meninggalkan Shafa seorang diri sementara mereka ada bertiga, satu orang belanja saja sudah cukup.
Meski Shafa yang memaksa harusnya mereka menolak, agar mereka bisa menjaganya, dan siapa sangka majikan laki-laki mereka yang katanya teramat mencintai malah meninggalkan nya seorang diri.
Tiga bodyguard duduk tidak jauh dari Shafa sementara sang papa duduk termenung di sisi tempat tidur putrinya, rahangnya mengeras, giginya gemerutuk, kedua tangannya mengepal melihat rekaman Cctv yang di kirimkan Andy padanya.
"Brengsek lu Jones, berani beraninya lu menghina dan memaki putri gua, tampa harus bertanya apa yang terjadi, bangsat.., gua menyesal menerima lu menjadi menantu gua, dasar tua bangka tidak tau diri." umpat Johan dengan suara pelan namun menekan agar sang putri tidak mendengar kata katanya apa lagi sampai membangunkannya.
"Gua pastikan seumur hidup lu tidak akan pernah bertemu putri gua, gua akan mengirimkannya jauh, dan gua akan buat bagai manapun caranya agar putri gua bisa melupakan lu, meski dengan cara licik gua akan lakukan itu." menarik napas dalam dalam sembari mengendalikan diri.
"Dan semua keluarga lu akan gua hancurkan sehancur hancurnya, satu kali dua puluh empat jam keluarga lu akan gua buat menderita akan gua buat mereka kembali menjadi sampah seperti dulu, sampah yang gua pungut di pinggir jalan dulu." Johan sendiri sudah memerintahkan Andy serta pengikutnya untuk menjalankan perintah.
π΄π΄π΄π΄π΄π΄
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baikΒ terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
β LIKE
β RATE
β VOTE
β HADIAH yang banyak
βKOMEN yang sebanyak banyaknya.
__ADS_1
Wo Ai Ni all..
Happy Reading.