UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
158. Murka Zahra.


__ADS_3

Kondisi Jones benar benar kritis perdarahan hebat di kepalanya membuat dia kehilangan darah cukup banyak, saat ini operasi sudah selesai.


Luka ki kepalanya sudah di hecting sebanyak dua puluh satu jahitan karna cukup panjang dan dalam, syukur nya peluru tidak sempat bersarang di kepala karna peluru itu melewati sepanjang kepala sebelah kiri Jones.


Untung Robby menendang tangan Jones kalau tidak sudah pasti kedua peluru tadi akan langsung menembus kepala Jones bersarang di sana dan mungkin akan mati di tempat.


Jones belum sadar sejak di bawa kerumah sakit sampai operasi berjalan dan sampai selesai.


Karna kondisi Jones kritis dia di masukkan ke ICU untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.


Robby dan kawan kawan Jones lainnya bergantian melihat Jones kedalam, mereka sangat kwatir dengan keadaan laki-laki rapuh itu.


Piyo,Jack dan istri menunggu di ruang tunggu ICU air mata mereka sama sama tidak bisa di bendung.


Meski Jones kakak tiri mereka tapi karna kebaikan dan kasih sayang Jones mereka sanangat menyayangi Jones seperti kakak kandung mereka sendiri.


Sejak tadi ketiganya tidak berhenti berdoa, berjizir memohon padanya yang maha kuasa untuk keselamatan dan kesembuhan sang kakak.


Sementara itu di Rumah besar Shafa membuat seisi rumah kalang kabut, dia menangis terus tanpa tau sebab, semua orang bingung harus apa dan bagai mana menenangkannya.


Mereka bingung apa penyebab Shafa begitu, andai tau karna ingin sesuatu atau karna hal lainnya mereka bisa atasi tapi mereka sungguh tidak tau apa apa.


Johan masih di kantor sedang Zahra belum pulang, Zahra sendiri setelah keluar dari apartemen Jones langsung ke kantor Johan.


Brak...


Suara pintu di buka dengan keras oleh Zahra, dia tidak perduli Johan sedang meeting bersama Andy, Aldo dan sekretaris baru Johan.


Wajah Laki-laki bermata sipit itu langsung memucat begitu melihat kehadiran Zahra di sana.


"Mampus gua, sialan bisa perang dunia ketiga ini, gara gara si brengsek Luky yang maksa gua kasih sekretaris baru, meski cuma magang, habis lah hidup gua." gumam Johan ketakutan.


Andy, Aldo tidak kalah takut dengan bos mereka, mereka yakin akan ada perang sebentar lagi, tapi tidak berani meninggalkan tempat itu tanpa perintah Sibos alhasil mereka cuma bisa saling pandang dan saling tatap saja.


"Hehhh.. apa apaan kau main masuk saja keruangan pak Johan tanpa permisi, tidak ada so.."


Dinda sekretaris baru itu tiba tiba menghentikan kata katanya ketika mata setajam silet milik Zahra menatapnya berapi dan tajam.


"Siapa kau sok berkuasa di sini,apa kau nyonya baru di rumah laki-laki itu hahhh, katakan biar aku tau." bentak Zahra.


"Saa..sayang." Johan berdiri ingin mendekat pada harimau betina yang mengaum seram itu.


"Diam di situ, kenapa kau tidak berreaksi hahh ada orang lain yang membentak ku kau diam saja, ooo jangan jangan benar dia simpanan mu, begitu ?? oke tidak masalah, lakukan, dan ingat jangan berlutut di kakiku, sampai matipun tidak akan ada maaf dariku."


Zahra melemparkan tas dan melepaskan cincin kawinnya lalu di lemparkan juga pada Johan, kemudian dia berbalik ingin meninggalkan tempat itu.


Secepat kilat Johan berlari, dia langsung menangkap kaki Zahra, memeluk kaki istrinya itu ketakutan, tubuhnya gemetar menahan rasa di dadanya rasa sakit dan takut kehilangan.


Dada Johan terasa perih saat cincin kawin itu melesat ke arahnya dan jatuh entah kemana karna tidak sempat di tangkap olehnya.


"Ampun sayang, maaf ..ini salah paham yank, tolong dengarkan penjelasan koko, jangan tinggalkan koko yank." Johan menahan kaki Zahra agar tidak bisa melangkah.


Andy, Aldo menatap tajam pada sekretaris baru itu, rasanya mereka ingin membakar wanita itu dengan bara api dari mata mereka yang sudah membara sempurna.


Tapi wanita itu masih tampak santai dan diam, dia tampak malah menikmati adegan life di depan matanya.


"Ooo jadi ini istri mu tuan ganteng, hmmm bagus dia salah paham dengan begitu dia akan meninggalkan mu lalu aku yang akan memiliki mu, huhhh kukira secantik apa, cih.. aku jauh lebih cantik dan ****." Dinda berguman kesenangan di dalam hati.


"Hehhh jaga sikap mu dinda kalau kau tidak ingin kaki ku ini akan menendang mu keluar dari ruangan ini melalui jendela itu." tegur Andy, suaranya pelan, dingin dan menekan.


Sejak Dinda berada di kantor itu menjadi sekretaris Johan, mereka sudah tidak suka pada wanita itu, tapi mereka tidak berani memperingatkan bos mereka untuk hati hati.


Yang bisa bicara langsung pada Johan cuma Robby dan kakak kakaknya, sedang Robby sendiri sudah pernah mengatakan pada Johan satu minggu sebelumnya agar tidak menerima wanita itu bekerja untuknya.


Tapi karna wanita itu di titipkan oleh Luky sahabat masa kecil Johan dan hanya sebagai sekretaris magang yang bersifat sementara Johan terpaksa terima.


Sebelumnya Johan sudah menyuruh anak buahnya menyelidiki Dinda dan latar belakangnya, setelah yakin aman barulah Johan menerimanya.


Johan juga menjaga segala kemungkaran yang terjadi setiap Dinda masuk harus ada Andy, Aldo atau Robby di ruangannya sekedar menjaga jaga fitnah dan kemungkinan buruk lainnya.


"Jangan salah paham katamu hahh, lihat dia mengeraskan suaranya padaku kau diam saja, kenapa ? kenyang melihat dadanya yang keluar itu, kau sudah pegang atau memakainya."


Murka Zahra suara nya makin tinggi membuat ketiga laki-laki di sana makin takut.


"Sayang.." panggil Johan tertahan.

__ADS_1


Sesungguhnya Johan tersinggung mendengar kata kata Zahra yang menuduhnya berbuat zina, tapi memang Dinda memakai kemeja ketat dengan kancing terbuka sampai dua, belum lagi rok pendek yang di pakainya di atas lutut siapa yang tidak curiga.


Sementara peraturan kantor dulu sudah jelas tidak ada wanita yang masuk kantor dengan memakai pakaian **** kenapa Dinda bisa.


Peraturan itu juga dulu di buat oleh Johan setelah ia menikah, karna takut Zahra salah paham pada setiap wanita yang ada di kantor apa lagi saat itu Zahra sedang hamil Wu bersaudara Zahra jadi sensitif dan curigaan.


"Apa.. kau tidak terima aku bilang gitu, kenapa ?, belang mu ketauan ?, enak lihatnya ya hahh, kalian juga puas lihat dadanya yang besar itu, kenyang ??." Zahra bukan cuma membentak Johan tapi Andy dan Aldo juga ikut menjadi sasaran kemarahannya.


"Ti..tidak nyonya, kami..kami.. juga risih, dan kami sudah mengingatkan dia untuk tidak memakai baju seperti itu tapi.."


"Tapi dia masih pakai karna tuan kalian ini tidak melarang dan mungkin malah menikmati begitu." Zahra menendang Johan sekuat tenaga agar bisa melepaskan kakinya.


Johan yang kebingungan bagai mana cara menenangkan istrinya itu menjadi tidak pokus hingga ia terpental kurang lebih dua meter dari Zahra.


"Sa..sayang, jangan menuduh koko begitu demi Allah koko tidak pernah berpikir begitu yank, koko tidak akan mungkin menghianati sayang sampai koko mati, jangan marah yank."


Mohon Johan ia langsung berdiri dan memeluk Zahra kuat karna takut istrinya itu pergi dalam keadaan marah dan bisa nekat meninggalkannya tanpa ampun.


"Lalu di mana hati mu saat dia mengencangkan suaranya padaku, biasanya kau akan langsung marah, jika ada orang yang tidak sopan padaku, jadi kenapa kau diam saja, apa t***nya yang besar itu membungkam mulutmu."


Entah mengapa Zahra bisa sekasar itu pada Johan, dia tidak lagi menghormati suaminya dia tidak lagi memangil suaminya dengan panggilan koko seperti biasa, tapi sudah berubah kasar jadi kau.


Sebenarnya tujuan kedatangan Zahra tadi hanya untuk meminta Johan agar merubah titahnya untuk membunuh keluarga Jones dan rombongan Nina saja.


Tapi saat sampai di kantor dia sempat mendengar dari bisik bisik staf saat melewati mereka yang asik bercerita di meja resepsionis tanpa menyadari kehadirannya di sana.


Johan sedang meeting dengan sekretaris baru yang seksi dan sering bersama di dalam kantor, tidak ada penjelasan kalau di dalam kantor Johan tidak hanya berdua masih ada yang lain.


Mendengar itu Zahra menjadi emosi dan ingin segera sampai ke kantor Johan dan tampa pikir panjang wanita itu langsung mendobrak pintu lalu masuk kedalam.


"Maaf sayang, koko tadi terkejut karna sayang mendobrak pintu, koko jadi tidak pokus dan tidak kepikiran lagi dengan bahasa wanita itu, tolong maafkan koko yank, dan dengarkan penjualan koko."


Johan makin mengeratkan pelukannya, dia lalu membawa Zahra ke sopa di mana ada Andy, Aldo serta dinda duduk, Johan membawa Zahra dengan tetap memeluk wanita cantik itu.


"Lepaskan aku, jangan sentuh aku." bentak Zahra, tapi Johan tetap tidak mau melepaskan pelukannya, sampai Johan terduduk di atas sopa dengan memangku Zahra di atas pahanya.


"Sayang tidak akan keluar dari kantor ini kalau tidak mendengar penjelasan koko, di depan mereka, mereka akan jadi saksi, sayang tidak akan keluar dari ruangan ini kalau masih salah paham pada koko."


"Baik.. jelaskan cepat aku tidak punya waktu." berusaha turun dari pangkuan Johan, laki-laki itu terpaksa membiarkan Zahra turun dari pangkuannya dan mendudukkan Zahra di sisinya.


Zahra memperhatikan gerak gerik dan seluruh tubuh wanita yang ada di samping Aldo, tatapan mereka bertemu awalnya Dinda grogi tapi kemudian dia biasa saja membuat Zahra makin curiga.


"Kenapa.., kau belum mengancing baju mu itu, masih kurang lama pamernya ?, apa kau menunggu orang lain mengancing atau melepaskan bajumu itu." hardik Zahra makin marah.


Andy menatap tajam Dinda, seraya menyuruh menutup dadanya, sesaat Dinda diam, tapi kemudian ia memgancing pelan bajunya.


Meski kata kata Zahra menyakitkan tapi tampaknya wanita itu tidak terganggu mendengarnya.


"lagian nanggung, kenapa bukanya cuma segitu lepaskan saja sekalian semua, sampai seluruh tubuh mu telanjang, kalau cuma membuka setengah seperti itu mungkin mereka tidak tertarik tapi kalau kau membuka semuanya mungkin mereka akan memakai mu berramai ramai." sinis Zahra.


Johan diam, dia tidak berani berkomentar, dia tidak mau melihat kearah Dinda dan memang sebelumnya dia tidak pernah menatap wanita itu secara seksama.


"Jangan bicara sembarang , aku tidak mau di bilangan begitu." ahirnya Dinda mengeluarkan suaranya.


"Sembarangan ??, lalu apa tujuan mu memamerkan t**** mu itu, atau kantor ini memang sudah berubah menjadi tempat mesum dan kumpulan pelacur ?."


"Kau.." melotot.


Plak..plak..


plak..plak..


plak..plak..


Tanpa komando, tangan Johan tiba tiba sudah sampai di wajah Dinda, tamparan yang sangat kuat dan keras, di susul tangan Andy dan tangan Aldo bergantian.


Jangankan Johan, Aldo, Andy mereka sama sama terkejut karna menampar Dinda bergantian tanpa komando.


"Jaga bicara lu pada istri gua perempuan, jangan lu pikir gua diam dari tadi karna gua setuju dengan sikap lu itu, sudah sangat lama tangan gua ini tidak menampar apa lagi membunuh wanita, tapi lu memancingnya, sialan lu." murka Johan.


"Dari tadi aku memperingatkan mu, tapi kau tidak perduli, atau memang kau punya niat terselubung di sini, ingat kau cuma magang di sini, kau dalam pengawasan kami, berani kau macam macam tangan ku ini yang akan mematahkan seluruh anggota tubuhmu." Aldi tidak tahan lagi ahirnya dia memaki Dinda.


"Berani kau berkata kasar pada nyonya kami, ku potong tidak bersisa lidahmu itu ya, tidak ada yang berani di sini bicara seperti itu kada nyonya kami, tidak akan kami biarkan itu, kalau kau masih ingin hidup lebih lama jaga sikap dan tingkah mu, terutama kau harus meminta maaf pada nyonya kami." Aldo berkata dengan nada mengancam.


"Kau pikir kami tertarik dengan tubuhmu itu, cihhh yang ada kami malah mau muntah melihat mu, wanita baik pasti akan menjaga harga dirinya dan menutup auratnya, kau malah pamer, jangan jangan kau memang pelacur." Andy.

__ADS_1


Dinda diam membisu, dia benar benar tidak menyangka akan panjang ceritanya akibat ulahnya, dia menyangka akan mudah menaklukkan Johan seperti laki-laki lain, tapi ternyata dia salah.


"Telepon Luky sekarang juga, suruh dia datang dan jemput perempuan ini gua tidak mau dia menjadi masalah di rumah tangga gua." perintah Johan pada Aldo.


Dinda tidak mampu berkata kata, pandangan matanya mulai kabur karna tamparan bertubi tubi dari ketiga pria di hadapannya.


Tamparan yang sama sekali tidak ia duga wajahnya langsung merah, darah segar keluar dari bibirnya, kemungkinan besar mulutnya pecah bahkan dari hidungnya juga keluar darah wajah perempuan itu sangat kacau.


Salah sendiri kenapa mengganggu dan kenapa tidak menjaga sikap dan menjaga mulut pada Zahra.


Dia memang berniat menggoda Johan tapi yang di goda tidak pernah menganggapnya ada.


Meski dari awal Luky sudah memperingatkan agar menjaga sikap, menjaga mulut dan berpakaian sopan di kantor itu apa lagi di depan Johan tapi karna sudah tertarik pada Johan dia tidak perduli malah makin gila.


Saat akan masuk keruangan Johan dia akan membuka kancing kemejanya agar dadanya terlihat seksi dan menggoda, dia tidak tau saja Johan tidak tertarik melihat wanita mana pun selain istri.


Johan tidak pernah melihat Dinda secara seksama, setiap bicara dengan Dinda pandangan matanya selalu di arahkan ke tempat lain karna dia tidak mau wanita itu berpikir aneh, karna itu Johan tidak tau pasti cara berpakaian wanita itu.


"Maafkan kami nyonya, semua ini salah kami karna kami yang lalai mengawasi wanita ini, nyonya jangan salah paham pada tuan, tuan tidak ada hubungan apa pun dengan wanita ini, setiap dia masuk kemari kami selalu ada di sini, tuan tidak pernah berduaan di dalam ruangan ini."


Andy mencoba menjelaskan kesalah pahaman Zahra.


"Huhhh tentu saja kau membelanya, kau kan anak buahnya." cebik Zahra pada Andy.


"Maaf nyonya, saya tidak membela tuan saya sungguh sungguh nyonya." Andy.


"Sayang, jangan marah begitu, jangan curigai koko yank, koko tidak pernah tertarik pada perempuan manapun selain sayang, dari dulu sampai sekarang, bahkan meski dia telanjang bulat di depan koko, koko tidak akan bernafsu melihatnya, koko tidak akan tertarik cuma sayang yang mampu membuat koko bergairah."


Johan berusaha keras meyakinkan Zahra sampai dia hampir salah kata karna rasa takut kehilangan sang istri.


"Menunggu sayang dan cinta sayang hampir sembilan belas tahun apa akan semudah itu koko melupakan perjuangan koko untuk memiliki sayang apa koko ingin cari mati yank." menarik napas dalam dalam.


"Kalau sampai koko melakukan hal di luar perjanjian kita, koko dengan kakak kakak sayang apa mereka akan membiarkan koko hidup di dunia ini, ingat yank, anak kita sudah banyak sebentar lagi kita akan punya cucu, apa koko masih kurang ?." menatap mata Zahra.


"Tidak yank, koko sudah sangat bahagia dengan kehidupan koko sekarang, jadi tolong jangan marah lagi yank, koko minta maaf kalau sayang sakit hati dan membuat sayang tersinggung pada koko, koko minta maaf."


Johan memeluk erat pinggang Zahra, laki-laki itu benar benar takut di tinggalkan oleh sang istri, dia begitu mencintai wanita itu.


Sebenarnya di dalam hati Zahra bersorak dia bukannya tidak percaya pada suaminya itu, dia tau bagai mana Johan seperti apa besar cinta Johan pada dirinya.


Tapi namanya cemburu, emosi pasti akan tetap datang meski tau dan sadar suami cinta mati padanya.


Zahra belum pernah sekasar itu pada orang lain, apa lagi pada Johan, semarah marahnya Zahra dia hanya akan mendiamkannya berhari hari.


Tapi kali ini tidak dia meledak ledak, dia sudah kehilangan akal sehatnya dia bahkan memaki serta mengatakan kata kata kasar dan penuh tekanan pada Dinda secara langsung.


sebenarnya kalau memang Johan berbuat curang di belakang nya insting seorang istri pasti berjalan, dia akan merasakan perubahan perubahan sikap dan tingkah laku suaminya itu.


Kalau memang ada yang aneh, tapi Zahra tidak merasakan ada perubahan sikap Johan selama ini dia bahkan makin romantis dan makin perhatian padanya juga pada keluarganya.


Hatinya bersorak bukan karan apa, dia merasa punya alat dan bahan untuk menekan Johan di dalam masalah Jones.


Hukuman pada mama Dara dan yang lain, dia punya celah untuk memaksa suaminya itu agar tidak bertindak berlebihan, dan agar memaafkan mereka.


☘☘☘☘☘☘


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


☘ LIKE


☘ RATE


☘ VOTE


☘ HADIAH yang banyak


☘KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2