UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
67. Harga diri.


__ADS_3

"Gils...kamu marah ya, maaf bukan begitu


maksud aku." menggeser tempat duduknya


agar sedikit maju ke arah Shafa.


" Ngak Uncle, Shafa ngak marah kok, maaf


Shafa masih ada kerjaan Shafa pulang


dulu ya Uncle." berdiri dari tempat


duduknya.


"Tidak gils, kamu ngak boleh pergi."


menarik tangan gadis itu agar kembali


duduk.


"Shafa beneran ada kerjaan." masih


melihat ke arah lain, tidak mau menoleh


sedikitpun pada Jones.


"Sayang.. jangan gitu dong, dengarkan


aku dulu." membujuk dan menahan Shafa


agar kembali duduk.


"Shafa bukan sayangnya Uncle, jangan


panggil Shafa begitu, Shafa ngak mau,


lepaskan tangan Shafa Uncle Shafa


harus pergi." nada suara sedikit tinggi.


"Hmm kamu itu sayang ku, cintaku, kekasih


hatiku bidadari dunia dan surgaku, calon


istriku dan calon ibu anak anakku, tapi


aku baru tau kalau calon istri ku ternyata


suka merajuk,kalau merajuk apa obatnya ya."


goda Jones.


Shafa diam, menyimak dan mencerna


setiap kata yang keluar dari mulut Jones


,"apa katanya tadi Stop saat Shafa bilang


ingin menikah, lalu sekarang ngomongnya


kok gitu, pasti bohong Uncle saja." jerit hati


Shafa.


"Duduk sini yangk, dengarkan aku." menarik


pelan tangan Shafa, kemudian ia menggeser tempat duduknya agar gadis itu bisa duduk


di atas tempat tidur di sampingnya.


"Ngak mau, Shafa di sini." menunjuk kursi


yang ia duduki tadi.


"Di sini saja ya sayang." menunjuk tempat


yang sudah ia siapkan.


"Ngak.. Shafa ngak mau, kita ngak muhrim."


Tetap melihat ke arah lain.


"Ooh iya ya, tapi sebentar lagi kita kan


nikah jadi boleh dong dekat dengan calon


istri."senyum menggoda.


"Siapa bilang tadikan."


Jones menutup mulut gadis itu dengan jari tangannya, ia lalu menarik tubuh Shafa agar


dekat padanya, tapi karna terlalu kencang


Shafa malah tertarik pada Jones lalu


membentur dada bidang laki-laki itu.


Bukan cuma sampai di situ bibir mungil nan lembut milik Shafa mendarat sukses pada


bibir Jones, laki-laki itu dengan sigap


langsung mengambil kesempatan.


Cup.. mmmhhhh..bibir Jones ******* cepat


bibir Shafa, mata gadis itu melotot, wajahnya merah padam menahan malu dan marah, ia berusaha mendorong tubuh Jones namun


tidak bisa karna laki-laki itu langsung candu


pada bibirnya.


"Mhhmm Uncle, dosa tau." membentak Jones


lalu memukul bahu laki-laki itu tepat


di bekas lukanya.


"Aduhh.. sakit sayang, itu tanda jadi dari aku ya, bibir kamu udah aku stempel jadi kamu sudah jadi milik aku." ucapnya lalu pura pura sangat kesakitan agar terhindar dari mara bahaya yang akan timbul karna ulahnya.


Mula mula Shafa tidak perduli tapi karna


Jones terus meringis kesakitan ahirnya ia


tidak tega juga berlahan ia tarik tangan Jones yang menutupi bahunya.


Mata Shafa kembali melotot saat sadar daerah yang ia pukul tepat di bekas luka Jones, luka itu sudah tidak tertutup pernan lagi hingga bekas


luka dan jahitan terlihat dengan jelas.


" Stempel apaan, ehh maaf.. maaf Uncle, Shafa tidak sengaja, sakit banget ya." sesal gadis itu.


"Ngak sesakit saat membayangkan kamu


akan di ambil orang dari ku." menahan tangan Shafa di bahunya.


"Maksud Uncle ?."


"Hatiku sangat sakit waktu mendengar kamu


akan menikah dengan laki-laki lain, sementara


aku belum sempat mengatakan isi hatiku."


jawab Jones sembari mengatur pernapasan

__ADS_1


dan denyut jantung yang berdebar tak karuan sebab tubuh Shafa benar benar sangat


dekat dengannya.


"Ahhh Shafa bingung, Shafa ngak ngerti, dan sekarang Shafa masih marah sama Uncle


karna cium Shafa, Uncle tau kan itu dosa,


dosa besar bersentuhan dengan yang bukan suami atau istri." omel Shafa dengan suara


lembut dan manja.


"Iya iya.. maaf, aku juga tadi ngak sengaja, abisnya kamu sih jatuhnya ke aku, kan


spontan cium." berdalih.


"Itu karna Uncle menarik Shafa." membela diri.


"Iya aku salah gils, jangan marah dong hmm


ya ya ya.." merayu.


"Ngak bisa Shafa marah, dosanya Uncle


yang tanggung Shafa ngak mau berdosa


gara gara Uncle."


"Iya gils, dosanya aku yang tanggung, jadi


jangan marah lagi ya please." mengatupkan


kedua tangan di depan dada.


"Uncle jahat." mengalihkan pandangan lalu kembali duduk di atas kursi di samping


Jones.


"Ngak jahat kok, cuma nakal." mengaku


sendiri.


Sorot matanya menatap Shafa yang duduk memyamping sambil memegangi bibirnya,


Jones bukannya takut pada kemarahan


gadis itu tapi ia malah gemas ingin memeluk


dan menciumnya lagi dan lagi.


"Gils.. hadap sini dong."


"Ngak."


"Aku peluk dan cium lagi nanti kalau ngak berbalik." ancam Jones.


"Shafa bilang ke papa huaaa." tangisnya.


"Bagus, cepat bilang sayang, adukan ke


papa kamu sekarang saja ya, biar papamu


cepat menikahkan kita." tertawa kecil.


"Hahhh ngak, ngak mau."


"Kamu ngak mau menikah denganku gils."


suara pelan tampa semangat.


"Bukan Shafa Uncle juga ngak mau men.."


Jones kembali menutup bibir pink Shafa


dengan jarinya, ia memeluk gadis itu dari belakang.


pelukannya.


"Uncle.."


"Iya tau, dosa .. biar aku aja yang nanggung dosanya aku sendiri dan tidak akan


melibatkan kamu, jadi jangan marah lagi ya." meletakkan kepalanya di atas bahu Shafa, hembusan napas Jones terasa hangat di


wajah bagian kanan Shafa.


"Lepaskan Uncle."


"Hmm aku lepasin tapi jangan marah lagi ya." makin memeluk erat.


"Iya, lepaskan Uncle, ngak boleh begini tau."


sudah janji tidak marah tapi nada bicara


Shafa meningkat satu oktav.


"Katanya ngak marah, tuh kan marah."


"Makanya lepaskan."


"Ok, tapi dengar dulu penjelasan aku ya."


"Shafa ngak mau dengar."


"Kalau gitu ngak di lepas deh." makin


nemplok dengan nyaman di punggung kecil


Shafa.


"Mau jelaskan jelaskan aja ngak usah modus." omel Shafa memberontak.


"Yahh ketauan." memutar kursi Shafa agar menghadap padanya.


"Uncle.."


"Sayang." udah manggil sayang aja.


" Infus Uncle berdarah."


" Biarin."


"Nanti stuing ( bengkak ), infusnya ngak jalan, terus infusnya di lepas terus di pasang lagi,


terus di cucuk lagi venanya terus sakit."


ngomel panjang kali lebar.


"Sayangku ini, sudah tukang merajuk tukang ngomel lagi." menoel hidung mancung Shafa.


"Jangan pegang lagi, udah dong."


" Iya sayangku, kamu dengar ya, aku bilang


stop tadi bukan karna aku ngak mau


menikah dengan kamu sayang, mau


banget mau mau mau, asal kamu tau


menikahi kamu adalah impian ku,


harapan ku, keinginan ku dan cita cita ku."


Menjeda kata katanya, karna rasa sakit di

__ADS_1


tangan, darah di selang infus Jones naik,


karna pergerakan yang berlebihan, dan


selang infus nya kini sedang di otak atik


Shafa.


"Demen banget lihat gua tersiksa." lirih Jones, membiarkan gadis itu membalaskan sakit


hati akibat perbuatannya.


"Gils.. aku ngomong dulu dong, biarin aja


infusnya."


Syett, mata tajam Shafa, Jones bungkam.


"Ngomong, ngomong aja kenapa."


"Enghh sakit yangk." sok manja.


"Jangan panggil sayang, Shafa bukan


sayangnya Uncle." marah.


"Masih marah juga, aku cium lagilah." mencondongkan wajahnya ke depan,


membuat Shafa memundurkan badannya.


"Uncle.."


"Sayang."


"Uhhhh, Shafa marah, jangan pegang pengang." menekan tangan Jones.


"Aduhhh sayang sakit." memekik karna sakit betulan.


"Sandiwara."


"Sayang beneran sakit, lagian masa tempat abucath ( jarum infus ) terpasang di tekan


ya sakit dong yangk."


"Shafa bilang jangan sayang, yangk gatal kuping Shafa dengarnya." makin marah.


"Iya cinta, lagian aku ajak ngomong serius


malah di sakitin." cicit Jones.


"Udah, infusnya udah jalan, mau ngomong apa cepat, Shafa mau pulang."


"Ishh jutek amat istri ku, lagi PMS ya, makasih


ibu dokter nyonya Jones." main mata.


"Uncle.."


"Sayang."


"Shafa pergi nih."


"Jangan dong, oke yangk dengarkan ya, aku


bilang Stop itu bukan karna aku ngak mau


nikah sama kamu tapi itu karna dimana


mana laki-laki yang melamar, mana ada


wanita yang melamar laki-laki, Andai pun


ada di tempat dan daerah tertentu itu hanya


satu dalam seribu orang, itu pun mungkin


karna adat."


"Terus Uncle mau bilang Shafa satu di antara seribu itu, terus kenapa ?." menantang.


"Aduh sayang, aku bisa kehilangan muka dan kehilangan harga diri kalau kamu yang


lamar aku, ingat ya sudah dua kali kamu


lamar aku, harga diriku sebagai laki-laki


anjlok dong." alasan.


Shafa menatap mata Jones, berpikir dan menyimak kata kata laki-laki itu.


"Ehh dua kali ??, kapan ?? dan emang yang


lamar Uncle siapa ?."


"Hahhh kamu dong, jangan bilang lupa ya."


"Ihhh Shafa nanya Uncle, bukan melamar, kepedean." berdiri dari duduknya.


"Yahhh sama saja dong gils."


"Ngak, beda."


"Mau kemana, jangan pergi kita belum


selesai." menarik Shafa.


Brukk.. Auwwww


Jones terjatuh di atas kasur dan ditimpa oleh Shafa, mata biru bertemu dengan mata hazel


milik Shafa, membuat debaran aneh pada keduanya.


"Nona." panggil Asiah panik membuka pintu, namun masih separuh badannya yang masuk langsung di tutup lagi.


"Kenapa." tanya Niken.


"Jangan masuk." titah Asiah menutup pintu dengan tubuhnya.


"Emang kenapa kak." Lila.


"Pokoknya ngak boleh dulu, nanti nona malu melihat kita." senyum senyum.


"Ohhh ya." tertawa bersama, padahal mereka hanya menduga duga saja dalam hati


masing masing.


******


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


💝 LIKE


💝 RATE


💝 VOTE


💝 HADIAH yang banyak


💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..

__ADS_1


Happy Reading.


__ADS_2