
Shafa makan dengan lahap, padahal dia hanya minta di masak cap cay serta telor mata sapi tanpa sambal.
Johan dan Zahra merasa lega melihat putrinya makan sampe minta tambah, setelah makan nasi dan sayuran Shafa masih minta di buatkan salad buah dan sayur oleh mertuanya itu.
Tentu saja dengan senang hati Axton membuatkannya, lagi lagi Shafa minta tambah dengan keju dan mayones yang banyak, wanita hamil itu sampai makan belepotan.
Semua orang sudah tertidur nyenyak di lamar masing masing, kecuali para bodyguar dan penjaga gerbang yang bergantian berjaga.
Tepat pukul satu dini hari Shafa tiba tiba terjaga dari tidurnya yang nyenyak, pelan pelan ia duduk lalu bersandar di headboard tempat tidur.
Ia menoleh kekiri dan kanan di dekat pintu kamar ketiga bodyguar tidur berdampingan, sejak berpisah dengan suaminya itu mereka memang tidur satu kamar menemani Shafa.
"Kenapa nyonya, kok bangun ?."
Niken yang belum tidur pulas terjaga saat menyadari ada bayangan orang di atas tempat tidur siapa lagi kalau bukan nyonya mereka.
"Kak.. Shafa mau sholat malam, bisa bantu Shafa turun." pintanya.
"Bisa nyonya tentu saja bisa." Niken langsung berdiri dan menghidupkan lampu yang remang menjadi terang.
Niken membantu Shafa turun dari atas tempat tidur lalu menemaninya ke kamar mandi, setelah mengambil whudu Shafa langsung menunaikan sholat tahajjud.
Shafa masih duduk di atas sajadahnya Nisa dan Lila yang ikut terbangun saling pandang satu sama lain, mereka sama sama menatap majikannya haru.
"Nyonya pasti sangat rindu tuan muda." Niken menghapus air mata.
"Iya.. sebelum tuan muda pergi, meski mereka berpisah tapi nyonya tidak seperti ini sedihnya."Nisa ikut menangis.
"Betul, rindu mendengar suara tawa nyonya muda, semoga Allah menguatkannya." doa Lila.
"Aminn .." Niken, Nisa.
Shafa berusaha bangkit di bantu Niken dan Nisa Shafa lalu kembali duduk di sisi tempat tidurnya.
Air matanya kembali tumpah, ia menunduk.sesegukan, Niken dan kedua Wanita lainnya memeluk Shafa dari berbagai arah di sisi kiri kanan dan belakangnya.
"Nyonya jangan menangis lagi." ucap Nisa tapi dia justru menangis.
"Kak.. Shafa mau pulang." ucap Shafa tiba tiba.
"Mau pulang kemana nyonya, kita kan di sini." Lila.
"Shafa mau pulang kak." lalu turun dari atas tempat tidur.
Wanita hamil itu berjalan cepat menuju pintu kamar lalu keluar dari sana di iringi ketiga bodyguarnya.
"Nyonya..nyonya mau kemana ?." Niken.
Tok..tok..tok..
"Papa..Mama..papa..mama." panggil Shafa menggedor pintu kamar orang tuanya.
"Nyonya, nyonya mau apa biar kami siapkan, ini tengah malam kasian nyonya Ara dan tuan, mereka sedang istirahat." Nisa.
"Siapkan barang barang Shafa aja kak, Shafa mau pulang." tangisnya.
__ADS_1
"Mau kemana nyonya rumah nyonya di sini." Niken dan yang lain sama-sama Bingung melihat perubahan sikap Shafa yang tiba tiba, dari tadi yang tenang berubah begini.
"Kak..kenapa nak." pintu kamar sang papa ahirnya terbuka.
Muncul Zahra dan Johan dengan raut wajah bingung, mereka terkejut melihat Shafa menangis.
"Shafa mau pulang ma, Shafa mau pulang." tangisnya makin kencang.
"Pulang..pulang kemana nak, rumah kakak di sini." Johan.
Axton dan beberapa anggota keluarga lainnya muncul di dekat kamar Johan, mereka sama sama terjaga karna mendengar suara tangis Shafa.
"Ada apa Be, kok nangis hmm." Axton berjalan mendekati Shafa yang masih menangis di depan pintu kamar Johan dan Zahra.
"Shafa mau pulang Daddy." tangisnya makin kencang.
"Pulang kemana Be, kamu di sini." Axton ikut bingung.
"Pulang kerumah Shafa." jawabnya.
"Ini rumah Shafa nak." Johan.
"Bukan ini bukan rumah Shafa papa, rumah Shafa di sana, Shafa mau pulang."
"Maksud kakak gimana nak, ini juga rumah kakak." ucap opa Wu sedih mendengar kata kata cucunya itu.
"Rumah Shafa ada di sana, rumah Shafa dengan Aa, Shafa mau balik ke sana opa."
"Apartemen maksud kakak." Johan.
"Kita di sini saja ya nak, ini rumah kakak juga." ucap Johan sedih.
"Ngak papa, Shafa mau pulang, Aa nunggu Shafa di rumah hiks." sesegukan.
"Ya Allah kak, itu..itu.." Johan.
Zahra mencubit pelan punggung Johan seraya memberi kode, sepertinya putrinya itu memang sangat ingin pulang ke rumah suaminya.
"Kakak pulangnya nanti saja ya nak, kalau kakak sudah sehat betul." bujuk Zahra.
"Ngak ma, sekarang juga, Shafa mau pulang kalau mama dan papa ngak mau antar Shafa pulang sendiri ngak apa apa." masih menangis, berjalan pelan menuju lift di ikuti ketiga bodyguarnya.
"Tu..tunggu kak, besok saja ya ini sudah tengah malam apartemen itu harus di bersihkan karna sudah lama tidak ditempati pasti berdebu dan kotor." Zahra.
"Betul Be, besok saja ya nak, besok pagi kita langsung pindah setelah sholat subuh." bujuk Axton.
"Sekarang aja papa, mama, Daddy nanti biar di bersihkan sama kakak kakak Shafa." ngotot mau pulang juga malam itu.
"Be.. ingat kamu sedang hamil nan, tidak baik wanita hamil keluar rumah malam malam begini, nanti masuk angin dan sakit." bujuk Axton.
"Ngak apa apa Daddy Shafa ngak turun dari mobil, Shafa ngak minta kemana mana langsung ke apartemen saja."
"Ya sudan kalau begitu, ayo Daddy juga ikut kalau begitu." Axton.
"Ehh tunggu, tidak bisa malam ini, tempat itu harus di bersihkan, papa akan suruh Uncle Robby dan yang lain beres beres dulu di sana ngak baik pulang kalau rumah masih berabu." Johan.
__ADS_1
"Ngak apa apa biar di bersihkan." Axton.
"Tidak tuan, besok saja." memberikan tanda.
"Kenapa ?." tanya Axton bingung.
"Yank.. bawa kakak kekamarnya, sekalian beres beres, ini sudah nanggung kalau mau pulang sudah jam tiga dini hari, besok saja abis sholat subuh seperti kata tuan Axton." Johan mengalihkan pembicaraan.
"Betul juga sudah hampir pagi, cuma dua jam lagi kak, nanti aja ya, sekarang kita beres beres dulu, sambil menunggu Uncle Robby dan yang lain membersihkan apartemen." bujuk Zahra membawa Shafa pelan kekamarnya.
Shafa ahirnya setuju dan mau menunggu sampai pagi, kini tinggal Johan dan Axton serta opa Wu.
"Kenapa tuan Johan." Axton.
"Tempat itu harus di bereskan dulu, bekas peluru di dinding dan yang lain harus di tapikan." jawabnya sembari berusaha menghubungi Robby.
Axton ahirnya mengerti dan manggut manggut, setelah memerintahkan Robby membereskan apartemen Jones Johan lalu duduk di ruang keluarga di temani Axton dan opa Wu.
"Hisss.. gua pikir dia ngak butuh gua lagi." cebik Robby menatap layar handphonen.
"Ada apa pa.." istri Robby.
"Itu si kepada batu minta aku memberikan apartemen Jones karna nyonya muda mau pulang."
"Wajarlah pa, di sana kan tempat kejadian Jones, tuan Johan pasti tidak mau nyonya Shafa melihat ada yang aneh di sana."
"Iya betul, bekas peluru dan darah, tapi sebenarnya aku sudah menyuruh anak buah ku meraoikannya."
"Di cek lagi pa."
"Iya..aku pergi sekarang, hahhh nyonya muda pasti merindukan Jones sampai ingin pulang kesana, kasian banget nasibnya, lu juga Jones ngak mikir panjang, ngak kasian lihat bini lu janda di usia sangat muda, tega lu ya."
Robby merepet sendiri sambil memakai bajunya, setelah itu ia menghubungi anak buahnya dan langsung pergi menuju apartemen Jones.
Setelah sholat subuh mereka benar benar berangkat ke apartemen Jones, mereka tidak berani menghalangi lagi karna takut membuat Shafa menangis lagi.
☘☘☘☘☘☘
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
☘ LIKE
☘ RATE
☘ VOTE
☘ HADIAH yang banyak
☘KOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
__ADS_1
Happy Reading.