UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
178. Permintaan Shafa.


__ADS_3

"Makan ya Be.. sudah dua hari kamu ngak makan." bujuk Axton, laki-laki itu menyodorkan piring berisi nasi goreng orak arik telor kesuksukaan Shafa.


"Shafa belum lapar Daddy.." liriknya.


"Kak..jangan gitu dong, badan kakak udah lemah lagi nih, kakak ngak kasian sama baby kakak ya, ingat mereka butuh nutrisi dari mamanya." Zahra kebingungan membujuk putrinya itu.


"Mama.., dokter Melani kok belum pulang juga, Shafa mau masakan dokter Melani ma." lirih Shafa, kepalanya ia letakkan di atas meja makan bertumpu pada kedua tangannya.


Shafa menyembunyikan wajahnya di sana, agar air mata yang mengalir tidak terlihat oleh siapapun yang ada di sana.


"Sialan dokter itu, ini sudah seminggu dia belum datang juga, janji cuma tiga hari." omel Johan mengepalkan tinjunya.


Axton menarik napas dalam dalam, dia juga bingung harus bagai mana membujuk menantu kecilnya agar mau makan.


"Mungkin chek kesehatan dokter Melani belum selesai nak, kakak sabar ya, ngak lama lagi dia pasti datang kok." Zahra.


"Hmmm tapi lama banget ma, Shafa kangen masakan dokter Melani."


"Masakan Daddy udah ngak mau lagi ya Be, kamu ngak suka lagi gitu ?."


"Suka Daddy, tapi .., tapi Shafa mau masakan dokter Melani."


"Kenapa sih harus masakan dia kak, apa Istimewanya, dulu masakan tuan Axton sekarang dokter itu." keluh Johan.


"Masakan Daddy mirip masakan Aa, masakan dokter Melani lebih mirip lagi papa." jawab Shafa jujur, masih menyembunyikan wajahnya.


"Hahhhh kenapa si ngenes itu lagi, ngak hidup ngak mati nyusahin saja." gerutu Johan dalam hati.


"Makan sedikit aja kak, demi baby baby cucu mama." bujuk Zahra tidak mau menyerah.


"Nanti saja ma, sekarang Shafa belum bertenaga untuk makan." Maksud Shafa belum selera makan.


"Karna tidak bertenaga makanya kakak makan nak, makan ya papa suapin hmm, tangan kakak katanya tadi lemah."


"Shafa belum mood papa." masih menelungkupkan kepalanya di atas meja bertumpu pada kedua tangannya.


"Kok gitu sih kak, kakak ngak sayang anak anak kakak ya hmm, ngak kasian pada mereka di dalam sana." Zahra.


Shafa diam.


"Kakak mau apa agar mood balik lagi." tanya Johan lembut.


"Papa yakin bisa menuhi permintaan Shafa ??."


"Selagi papa mampu apa yang ngak buat putri papa, mintalah apa saja nak, papa pasti penuhi."


"Papa yakin ??."


"Selagi bisa pasti kak."


"Tapi papa tidak akan bisa dan tidak akan mau." jawab Shafa lirih, menatap papanya sekilas dengan memiringkan kepala.


"Apa yang ngak bisa papa berikan pada putri papa ini, apa pun akan papa berikan asalkan kakak bahagia."

__ADS_1


"Kalau begitu kembalikan suami Shafa." jawab Shafa dengan suara tegas.


Tidak hanya Johan semua orang yang ada di sana sama sama terkejut mendengar permintaan Shafa yang tidak masuk akal menurut mereka.


Robby, Aldo yang sejak tadi duduk di sopa tak jauh dari mereka juga mendengar permintaan Shafa, Robby sampai mengusap wajahnya kasar berulang kali.


"Kasian nyonya muda, ya ampun andai lu dengar apa kata istri lu Jones apa lu masih tega ngelakuin itu, hahhh gua ngak sanggup lihat nyonya muda sedih begitu ya Tuhan." gumam Robby dalam hati.


"Kak.. " panggil Johan lemah, tadinya dia sangat yakin bisa memenuhi permintaan sang putri karna dia berpikir paling anaknya itu meminta makanan aneh atau barang aneh saja.


Tapi ia salah menduga, yang di minta sang putri tentunya cuma Tuhan satu satunya yang bisa kabulkan.


"Papa tidak bisa kan hiks.. tadi papa bilang mau kabulkan semua permintaan Shafa, Shafa cuma minta satu tapi papa diam saja." tangis Shafa sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Tapi kan kak, kakak tau pasti yang itu ngak mungkin papa bisa, papakan bukan tuhan kak, maafkan papa mana mungkin papa bisa, sampai kapanpun ngak akan bisa nak, maafkan papa, meski papa menukar semua harta kita tapi suami kakak tidak akan mungkin kembali."


Jawab Johan prustasi, ia lalu menjambak rambutnya sendiri, rasa sesal makin mendalam di hatinya, Johan sama sekali tidak menduga hal yang di minta sang putri malah suatu hal yang tidak masuk akal manusia manapun.


Hiks..hiks..hiks..


"Papa yang bilang tadi agar Shafa minta apa pun kan hiks.."


"Iiya nak, tapi ngak gitu dong." menatap iba sang putri.


"Andai suaminya bisa kembali koko pasti akan tetap memusuhinya, hahhh entahlah ko, koko ini sebelum bertindak ngak minta pendapat anak dulu, maunya sendiri saja."


"Yank.. sudahlah, jangan buat koko makin merasa bersalah." lirih Johan dengan suara parau menahan sesak dan sakit di dadanya melihat kondisi sang putri.


"Andai dia bisa kembali koko tidak akan ikut campur dan akan membiarkan ia bersama putri koko, tapi kan ngak mungkin yank, jadi koko mohon tolong jangan berkata begitu lagi."


Zahra terdiam, ia tadinya tanpa sadar berkata begitu karna sudut matanya tanpa sengaja melihat kehadiran seseorang yang baru muncul dari balik pintu, entah orang itu dengar atau tidak yang di ucapkan kedua orang tua Shafa.


Blasss.... terdengar suara barang jatuh tiba tiba dari tangan seseorang yang baru masuk namun masih sempat mendengar kata kata Shafa.


Robby, Aldo yang berjarak hanya sekitar dua meter dari si pelaku terkejut mendengar suara jatuh tas belanjaan yang berisi aneka sayur dan buah dari tangan seseorang itu.


Lebih terkejut lagi ketika orang itu berjalan dengan cepat kearah meja makan di mana keluarga Wu dan pak Axton duduk.


Orang itu membuka hijabnya lalu melemparkannya kesembarang arah, Robby berdiri dari duduknya begitupun Aldo namun mereka tetap mematung di tempat tanpa sanggup menggerakkan kaki untuk sekedar berjalan mengejar orang itu.


Shoc tentu saja, bingung apa lagi namun mereka tidak bisa berbuat apa apa, mereka berdiri seperti arca di tempat semula.


"Lu..lu..." teriak Johan pucat.


"Aaaaa.." teriak Shafa ikut terkejut ketika ia merasa tubuhnya melayang di udara karna di angkat seseorang.


Johan mengepalkan tangannya kuat kuat melihat putri kesayangannya di bawa oleh orang itu tanpa permisi dan tanpa kata, sangat sangat tidak sopan.


"Heiii... lu .. apa apa an lu." teriak Johan saat sadar putri nya sudah menghilang di balik pintu kamar.


"Koko..diam.." hardik Zahra dengan mata melotot sempurna.


"Aaa..apa maksudnya ini yank, di..dia.." tanya Johan bingung, terkejut dan dengan amarah membuncah.

__ADS_1


"Biarkan ko.. duduk di sini." titah Zahra santai dengan wajah dingin.


"Yank.. dia..dia itu ..dia.."


"Sudahlah, ini minum kopi koko, biar tekanan darahnya naik." ejek Zahra tersenyum simpul.


"Yank.. apa ini, apa maksudnya ?." Johan menatap Zahra lekat lekat mencari kejujuran di sana.


Detik berikutnya bola matanya beralih pada Axton yang juga duduk santai sambil menyeruput teh buatannya sendiri laki-laki itu tampak tenang tanpa beban seakan tidak terjadi apa apa di sana.


Sedang Robby serta bodyguar lain yang ada di sana seakan kesurupan hantu bisu sehingga mereka tetap membisu, mereka sama sama merinding ngeri karna merasa melihat hantu.


Hantu di siang bolong tentunya, Johan menatap Axton tajam bahkan lebih tajan dari silet yang baru keluar dari pabrik, pada sang istri dia tidak berani menatap seperti itu makanya ia menatap Axton.


"Apa ini rencana kalian hahhh, kalian sengaja hahhhh, kalian menipu gua dan semua orang ?." teriakan Johan menggema di dalam apartemen luas itu membuat para bodyguar lemas karna ketakutan.


Johan sering marah bukannya mereka tidak pernah melihat sang tuan marah, bahkan sering dan hampir setiap hari tapi kali ini kemarahannya sangat mengerikan di mata mereka.


"Yank...jawab koko, dan lu kenapa diam saja." teriak Johan tidak sabar.


"Benar kata nyonya Ara, tuan duduk dulu, tenangkan dulu hati dan pikiran." Axton.


"Apa maksud lu, lu mengejek gua hahhh."


"Bukan.. saya minta tuan duduk dulu agar kita bisa bicara." jawab Axton tetap tenang.


"Ko.. ayo duduk lah, maaf kalau buat koko shoc dan marah."


Zahra meraih tangan suaminya lalu membawa sang suami agar duduk di kursi, tangan mungilnya mengusap dada Johan lembut.


Zahra sendiri sempat takut melihat kemarahan Johan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


********


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


💝 LIKE


💝 RATE


💝 VOTE


💝 HADIAH yang banyak


💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2