UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
2. Seribu Tahun Lamanya.


__ADS_3

"Ok bro, gua penasaran tentang pelarian lo selama setahun ini, lo kemana aja sih gua dan bos nyariin lo sampe kemana mana, lo seperti di telan bumi saja, jangankan no handphone lo melacak keberadaan lo.dari keaktipan no rekening lo aja ngak bisa."


"Cih.. gua ngak butuh menarik uang dalam perjalanan menyedihkan gua."


"Sombong banget." Robby.


" Sejak gua tau Shafa wanita yang gua cari, gua selalu berusaha mendekatinya tapi lo tau sendiri bapaknya jelas jelas ngak setuju meski begitu gua terus berusaha mendekati Shafa tapi tidak pernah bisa karna selalu di halangi bapaknya, ahirnya gua prustasi, gua juga kecewa banget pada lo dan bos Jo andai dari awal gua tau itu Shafa gua ngak akan sesakit itu." Jones mengambil oxigen sejenak sebelum melanjutkan kata katanya.


"Gua merasa di hianati oleh lo berdua gua merasa di hinakan lo berdua, gua kecewa banget pada lo berdua hingga gua memutuskan untuk pergi jauh dari kalian dengan niat melupakan kalian semua termasuk Shafa, karna gua sadar siapa gua, gua ngak pantas buat mendampingi anak teman gua sendiri, gua tau itu."


Flasback on.


Setelah keributan di apartemen, Robby meninggalkan Jones dengan sang mama, mama dara membelai pucuk kepala Jones lembut dia yang tidak tau apa apa dan tidak tau mengapa anaknya seperti itu bertanya pada sang anak.


"Ada apa nak, kenapa begini, ini bukan seperti mu nak, apa karna wanita ?? cerita pada mama nak, mungkin mama bisa kasih solusi." ucap mama dara lembut.


"Mama tidak bisa membantu ku, mama tidak bisa, nasib ku sangat buruk ma." tangis Jones sambil menjambak rambutnya kasar dia sudah seperti anak anak.yang kehilangan mainannya.


"Coba ceritakan nak, setidaknya biar hati mu lega, Siapa tau mama bisa bantu." mama dara tetap membujuk anaknya itu lembut, putus dengan mantan pacarnya dulu Jones tidak seberantakan ini, dia masih bisa bekerja dengan profesional tapi sekarang malah terkesan tidak bertanggung jawab dalam pekerjaan.


Jones sering bolos masuk kerja hanya karna ingin bertemu Shafa, dia bahkan malas beraktifitas dengan baik, dia sudah seperti anak remaja yang baru tau cinta dan baru jatuh cinta apa apa bawaannya malas sebelum ketemu yang di cintai.


"Aku jatuh cinta ma, aku suka pada anak itu, sangat suka, baru kali ini aku benar benar jatuh cinta pada pandangan pertama."


"Bagus dong sayang, katakan di mana wanita beruntung itu, mama akan melamarnya untuk mu, kamu sudah berumur sudah waktunya kamu berrumah tangga." tanya mama dara bahagia.


"Kita tidak bisa melamarnya ma, mungkin tidak akan pernah bisa." sedih Jones menjambak rambutnya.


"Loh kenapa tidak, anak mama dokter tampan mapan, punya bisnis restoran dan sukses, apa salahnya."


"Ngak bisa ma, tunggu dia siap dulu dan tunggu bapaknya setuju."


"Apa masih di bawah umur."


"ngak sih ma , tapi belum genap delapan belas tahun saja mama, sekitar lima bulan lagi."


"Waduh nunggu dong nak, tapi ngak apa apa sih cuma lima bulan lagi ngak lama lah."ucap mama dara dengan mimik wajah kecewa harapannya untuk segera menimang cucu sirnah sudah.


"Sekarang bukan masalah menunggunya ma, masalahnya papanya tidak setuju, dia bahkan menyembunyikan gadis itu dariku."


"Oalahhh Jones , gimana mau setuju kalau umurnya saja masih segitu ya wajar dong nak, sabar dong kalau mau nikahin."


"Mungkin kalau aku tidak nekat dia tidak akan kasih putrinya padaku ma, meski seribu tahun lamanya."


"Lah kenapa, emang siapa bapaknya kok gitu amat , sombong banget."


"Iya ma dia memang sombong tapi baik banget."


Senyum Jones kecut.


"Kamu tau dia anak siapa nak."


"Taulah ma, anak teman ku sendiri." ucapnya menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Siapa ?."


"Putri Johan."


"Johan ?, bos sekaligus sahabat mu nak, bukanya nak Johan baru nikah kok sudah gadis saja anaknya."


"Iya ma Johan, yang bantuin uang kuliah ku dulu, Johan saudara sekaligus teman ku, Shafa anak sambungnya ma, mama lupa Johan menikah dengan nyonya Zahra status nyonya sudah Janda dan punya anak dua, Shafa anak sulung nyonya Zahra dengan mantan suaminya terdahulu."


"Ohhh mama baru ingat, ya ampun mama juga bingung kalau begitu." mama dara ikut menunduk mereka berdua masih duduk di atas lantai di samping sopa ruang tamu itu.


"Mama, aku mau pergi menenangkan diri, aku mau pergi jauh, mama tolong urusan restoran sama Manda."


"Loh kok gitu, kamu mau kemana nak."


"Belum tau ma, tapi aku mau pergi jauh."


"Berapa lama."


"Belum tau ma, sampai aku tenang baru aku akan pulang, aku mohon mama mengerti aku sangat kecewa pada Johan dan Robby andai mereka tidak menyembunyikan status Shafa aku tidak akan merasakan sakit seperti ini."


"Menyembunyikan bagai mana maksud mu nak."tanya mama dara bingung.


"Shafa dulu masuk asrama setelah tamat SD, begitu dia pulang dan sudah kelas sembilan pesantren aku melihatnya di rumah Johan, dari sana awal pertama aku menyukainya, karna dia memakai hijab, menutup wajahnya dengan cadar maka aku tidak lagi mengenali Shafa kecil.."


Jones lalu menceritakan asal mula pertemuannya dengan Shafa, ia juga bercerita kalau sudah mencari Shafa selama satu tahun lebih sejak mereka bertemu pertama kali hingga ia tau wanita yang ia cari adalah Shafa putri Johan sahabatnya.


Mama dara termenung ia merasa iba mendengar kisah cinta putranya itu, baru satu orang wanita yang ia kenal dan pacaran dengannya hampir saja kepelaminan tapi ternyata wanita itu hanya memampaatkan uangnya saja, tidak benar benar mencintainya.


Bahkan wanita itu sering menyakiti Jones bukan cuma hati tapi pisik juga, Jones kerap mendapat luka dan hampir meninggal karna di hajar oleh mantan pacar kekasihnya itu, karna mantan pacarnya punya kekasih dan mantan bukan cuma satu, meski begitu Jones tetap cinta dan percaya pada kekasihnya itu meski Johan dan Robby sudah memperingatkan kalau wanita itu bukan wanita baik baik.


Esok harinya Jones berangkat dari ibu kota, awalnya ia tampa tujuan, ia menjual mobil pribadinya dan mengganti dengan mobil lain karna ia tidak mau Johan dan Robby melacaknya dari mobilnya.


Menempuh perjalanan sampai berhari hari dengan menyeberangi lautan tampa tujuan pasti, hingga ia tersadar ia melewati tempat yang dulu ia lalui dengan keluarga Johan dan Shafa kecil.


Ia melanjutkan perjalanan hingga sampai di sebuah rumah makan di pinggir jurang dengan pemandangan danau dan pepohonan di bawah restoran kecil itu.


Jones keluar dari mobil, ia masuk kedalam restoran yang tidak terlalu ramai, Jones memilih duduk di depan kursi dan meja tempat Shafa duduk dulu.


Senyum terukir di wajahnya saat ia mengingat wajah polos dan ceria Shafa kecil.


"Maaf, mau pesan apa pak." tanya pelayan sopan.


"Nasi goreng dengan telor orak arik, teh hangat terus sup iga juga." jawab Jones.


Pelayan itu bingung dengan permintaan Jones karna cuma anak anak yang minta nasi pakai telor orak arik nah ini orang dewasa.


Jones ingat makanan itu adalah makanan paforit Shafa dan makanan yang ia pesan saat mereka singgah di sana dulu.


"Maaf mbak, tolong duduk di tempat lain." ujar Jones saat seorang wanita cantik berniat duduk di depannya di kursi tempat Shafa duduk dulu.


"Ada orangnya ya bang." tanya wanita itu tersenyum manis, menggoda.


"Iya mbak, benar." Jawab Jones datar.

__ADS_1


"Ohh maaf." wanita itu pergi dengan wajah kecewa karna tidak berhasil kenalan dengan pria tampan itu, wanita itu sudah lama datang bahkan lebih dulu dari Jones ia sengaja pindah tempat duduk karna ingin kenalan dengan laki-laki itu malah di tolak mentah mentah.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


" Oom dokter.. oom mana istri ?, papa udah punya istri bunda, oom mana ?." masih pokus dengan nasi goreng nya.


" Oom ga punya, emang napa shafa tanya shafa punya calon sama om ?, atau jangan jangan shafa naksir sama oom ya heheee. " goda jones menaik turunkan alisnya.


" Ihhh... apa itu naksil oom. " azka.


" Sejenis makanan ringan dek. " shafa menjawab polos, tetap pokus pada nasi gorengnya.


"Hahahahhaa." semua orang menjadi tertawa mendengar jawaban shafa yang asal dan memang tidak mengerti apa apa.


" Naksir itu artinya suka gils. " jones berkata setelah meminum kopi susunya.


" Suka...? gak shafa ga suka sama oom, tapi kalau oom ga punya istri shafa mau jadi istri oom kalau sudah besar nanti. " shafa masih saja asik dengan sarapannya yang berkata kata tanpa dosa.


Byurrrrrrr.....


Johan menyemburkan minumnya mendengar kata kata putrinya itu, ia lalu menatap tajam pada jones seakan jones yang bersalah.


" Wahhhh apa kau sedang melamarku gils. " goda jones pada shafa yang tetap cuek bebek seakan ia bicara dengan teman kecilnya yang tengah main rumah rumahan, jones pura pura tidak melihat tatapan membunuh johan.


" Ya... oom mau kan jadi suami shafa. " lagi Lagi sibuk dengan sarapan nya, bicara tanpa menoleh pada jones atau siapapun.


Jones tersenyum lebar saat mengingat masa lalunya dengan Shafa dulu, seakan Shafa kecil sedang berada di depannya saja saat itu.


πŸ’


πŸ’


πŸ’


πŸ’


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baikΒ  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


πŸ’ LIKE


πŸ’ RATE


πŸ’ VOTE


πŸ’ HADIAH yang banyak


πŸ’KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..

__ADS_1


Happy Reading.


__ADS_2