
"Aduh.. pinggang ku kok gatal ya." pura pura menggaruk pinggang, menyingkap sedikit baju kemeja yang di pakai hingga terlihat ikat pinggang tebal di mana bagian samping ada sarung pistol serta isinya.
Sisy melotot melihat pistol di pinggang Nisa, seketika jantungnya berdegup kencang, Niken, Lila sama sama tersenyum miring melihat reaksi Sisy yang tampak gugup dan takut.
"Mau tidur aja kok masih di pakai ikat pinggang nya mbak." Fio juga terkejut melihat benda itu di pinggang Nisa.
"Kami sebagai bodyguar tidak bisa melepaskanny mas, di lepas paling cuma pas di kamar mandi." Niken.
"Jadi kalau ada bahaya bisa langsung dorr ya mbak." Fio.
"Iya, kalau katanya Police dan Tentara istri pertama mereka adalah pistol atau senapannya begitupun kami para bodyguar laki-laki istri pertama adalah benda ini dan bagi wanita suami pertama juga benda ini." Lila.
"Itu legal mbak ?." sibuk mengorak arik nasi goreng buatan bersama itu.
"Pasti mas, kami bodyguar juga di rekrut dari agenci terakreditasi." Nisa.
"Wahhh bahaya yahh punya pacar mbak mbak ini, kalau buat masalah bisa langsung di dor." kekeh Fio menatap Sisy sekilas.
"Kami akan bertindak kalau majikan kami di ganggu masalah pacar kami tidak bisa dekat dengan laki-laki manapun selagi dalam masa kontrak." Lila.
"Owhhh ya.. baik mbak mari makan, nasi goreng ala bersama sudah masak."
Mereka sudah siap dengan piring masing masing yang sudah di isi dengan nasi, mereka sama sama saling pandang karna binggung mau duduk di mana sementara kursi hanya tinggal empat saja di dekat Jones dan Shafa.
Melihat kelima orang dalam kebingungan Jones lalu mengangkat istrinya untuk duduk di atas pangkuan, padahal mereka sudah selesai makan tapi Jones masih detia mendengar kicauan sang istri yang sibuk bercerita tentang pengalaman mandi di sungai sore tadi.
"Aa.. nanti kita kemari lagi kalau senggang ya." Tidak sadar kalau sudah berada di pangkuan Jones.
"Tentu sayang, apapun untuk istri ku tercinta." mencium bibir Shafa dengan sengaja di depan semua orang.
Niken, Lila, Nisa yang sudah biasa dengan sikap fosesif Jones pada istrinya tidak perduli apapun yang di lakukan Jones pada sang istri sedang Fio pun cuek bebek saja.
Sisy tampak prustasi duduk di antara mereka, dia melihat jelas bagai mana Jones memperlakukan istri, betapa sayang dan cintanya laki-laki itu lalu apa bisa ia masuk.di antara mereka.
Menyadari bukan hanya mereka berdua yang duduk di sana membuat Shafa merona malu karna positif duduknya yang berada di atas pangkuan suami positifnya.
"Kenapa yank, mau bobok ?."
"Enghhhh Shafa ngantuk Aa." cicitnya manja.
"Oke kita istirahat ya, besok kita akan berangkat pagi, biar ngak kesiangan." Jones langsung berdiri dengan posisi Shafa masih dalam pelukannya.
Laki-laki besar itu membawa sang istri keluar dari dapur menuju kamar yang mereka tempati, Sepeninggal suami istri itu membuat semua merasa lega dan bisa bersuara.
"Ahhh kak Jones membuat gua baper saja." Fio.
"Tuan muda memang begitu." kekeh Lila.
"Iya .. nyonya muda sering malu di buat positif nya , meski sering di proses tapi tuan muda tetap begitu." Niken.
"Wahhh.. gitu ya, sayang banget kakak gua, kalau mungkin kalau gua makin sayang deh lebih positif juga, mana cantik, baik, pintar, lembut, sholehah lagi siapa coba ngak gila." Fio.
"Tuan Fio tau cerita awal pertama Tuan muda jatuh cinta sama nyonya Shafa ?." Lila.
"Tidak, kakak jarang berbincang dengan kami, tapi meski kakak lain ayah dengan kami kakak orang yang sangat baik dan berjasa pada hidup kami dari kecil hingga dewasa kakak yang mencari nafkah untuk kami, dari biaya hidup biaya sekolah bahkan sampai sekarang." Fio.
"Ngayomin banget ya tuan muda." Nisa.
"Itulah kakak gua, meski jarang kumpul tapi tetap perhatian." bangga Fio.
"Ya .. tuan muda orang baik, ramah dan penyayang, takutnya kebaikannya suatu saat malah di manfaatkan oleh orang lain." Niken.
"Tenang saja mbak Niken, tuan besar selalu menjaga dari jauh, kalau ada yang coba coba ganggu sudah pasti ketauan." Lila.
"Dan urusannya pasti panjang." kekeh Nisa.
Sisy tampak diam namun mencerna setiap kata kata mereka, dia pun sadar kalau mereka semua tengah menyindirnya.
*******
__ADS_1
Pagi itu suasana rumah bibi tampak sibuk karna Jones beserta rombongan akan pulang, sementara mama Dara serta kedua putra dan menantunya masih tinggal bersamanya.
Setelah sarapan pagi bersama mereka semua berbincang sebentar, suasana tampak kaku sejak kejadian malam itu, sejak Jones protes pada mama Dara.
"Nyai.. nanti sering sering berkunjung kemari ya, kami pasti senang kalau nyai dan ujang datang." bibi.
"Iya bibi..." Shafa.
Lagi asik berbincang tiba-tiba seorang laki-laki muncul dengan seragam warna gelap, laki-laki itu mendekati Jones sambil menunduk hormat.
"Tuan muda, jemputan sudah siap." ucap laki-laki itu tegas dan sopan.
"Jemputan ?, kok di jemput kami kan punya kendaraan sendiri ?." heran Jones.
"Maaf tuan kami di perintahkan tuan besar untuk menjemput tuan dan nyonya." jawab laki-laki itu.
"Ya sudah tunggu di luar sebentar." Jones.
"Baik tuan.."
"Sayang, kita berangkat sekarang ya ?." Jones mengajak Shafa berdiri dari duduknya.
"Ya Aa.. tante mang ujang Shafa pamit ya." menunduk hormat pada tetua.
"Ya nyai, hati hati." bibi.
Setelah bersalaman dengan sesama wanita Shafa dan Jones keluar rumah, Shafa dan Jones terkejut melihat para bodyguar yang sudah stanby di pintu keluar rumah sampai ke depan mobil.
Kedua suami istri itu saling bertatapan bingung, tiba tiba seorang gadis kecil turun dari mobil mewah berlari kencang ke arah Jones kemudian di susul lima anak laki-laki tampan dengan style mewah dan macho.
"Kakak.. inces tangen." merentangkan tangan.
"Wah.. inces kakak kok udah sampai di sini." mengangkat tubuh gemoy Janeet kemudian memeluk dan menciumi gemas.
"Hahahaha mau mandi sungai." teriak Janeet manja dan terkikik karna ciuman gemas Jones.
"Mandi sungai ??." tahya Shafa bingung.
"Wahh kok tau ?." Shafa.
"Tau lah yank, siapa lagi yang melapor kalau bukan bodyguar sayang." kekeh Jones.
"Papa.. mama ??." teriak Shafa tertahan.
Johan dan Zahra turun dari mobil lain, Johan sedang menggendong baby Wu yang tampak makin menggemaskan dengan kulit putih kemerahan serta matanya yang sipit.
"Hallo gils, ngak kangen sama papa lagi ya, udah betah di sini ?, baru aja beberapa hari, ngak ingat telpon papa mama." Johan.
"Hai papa mertua, lu lupa anak perempuan lu sudah punya suami pake manggil gils segala." protes Jones.
"Aa.. " hardik Shafa.
"Iya sayang maaf." mengelus pinggang Shafa sebelah tangan sedang di tangan satunya ada Janeet nemplok seperti prangko.
"Siapa bilang Shafa ngak kangen papa, Shafa ngak bisa megang Hp, lagian di sini susah jaringan." adunya.
"Lah handphone kakak kemana ?." Zahra.
"Di sita mama, sama polisi toba." melirik Jones.
"Hahaha emang polisi toba ada warna matanya biru ?." tawa Zahra terpingkal membuat kedua laki-laki itu kebingungan dengan istilah yang di sebutkan Shafa.
"Apa polisi toba." tanya keduanya.
"Ngak ada." jawab Shafa dan si mama.
"Wahhh nyonya dan tuan besar datang, mari mampir ke rumah dulu." bibik yang sadar dengan kehadiran keluarga konglomerat itu langsung datang menghampiri.
"Maaf ibu, kami tidak mampir lagi ya kami datang untuk menjemput kakak saja, lihat anak anak sudah sibuk ingin segera main air." jawab Zahra ramah.
__ADS_1
Mereka lalu saling bersalaman sekaligus perkenalan, anak anak tampak sudah tidak sabar apa lagi Wu bersaudara, mereka yang memang sama sama hobby dunia terbuka menjadi ribut karna kelamaan.
Johan tampak cuek bebek, meski sudah di minta oleh Zahra untuk berkenalan tapi karna ada mama Dara Johan berubah dong dan menyeramkan.
"Kenapa wajah lu papa mertua ?." Jones.
"Urus urusan lu, jangan sampai ada yang berani mengganggu ketenangan putri gua, kalau sampai itu terjadi gua pastikan tangan gua sendiri yang mengkulitinya." jawab Johan ketus.
Jones tentu mengerti maksud kata kata papa mertuanya itu, sudah bisa di pastikan masalahnya dengan mama Dara yang ingin menjodohkan dirinya dengan orang lain pasti sudah sampai ke telinga Johan.
"Tenang saja papa mertua, semua dalam keadaan aman, gua tidak akan membiarkan itu terjadi." jawab Jones serius.
Semua orang yang mendengar pembicaraan keduanya sama sama diam membisu, apa lagi sorot mata Johan yang tajam menatap Sisy membuat bulu kutuk merinding.
"Kalian ngomong apa sih Ko ?." Zahra.
"Ngak apa apa sayang." harimau berubah jadi kucing.
"Jones ?." Zahra.
"Tidak apa apa mama." senyum Jones.
"Jaga sikap mu monyet." Johan.
"Ehhh koko.." hardik Zahra.
"Papa.." Shafa.
Johan langsung mati kutu.
"Rasain papa mertua." kekeh Jones.
"Aa.." hardik Shafa.
"Aihhh .. iiiya sayang." salah tingkah.
"Jangan durhaka ?." Shafa.
"Mampus lu rasain." ejek Johan.
Cih..
Setelah berbincang sebentar di halaman rumah bibik semua keluarga Wu berpamitan menuju Villa yang ada di desa itu, orang orang yang ada di sana menatap takjub melihat keluarga kaya raya itu, mereka saling berbisik satu sama lain.
"Wahhh keluarga mang Ujang ternyata kaya kaya ya." bisik warga.
"Iya yang datang barusan sepertinya tuan tanah, tampan dan istrinya cantik." jawab warga lainnya.
Johan dan keluarga sudah meninggalkan tempat itu begitupun Jones serta istri, Sepeninggal mereka bibi kembali mengingatkan Sisy dan ibunya agar menjaga harkat dan martabat keluarga dan tidak mengganggu Jones dan istrinya.
"Wahhh ternyata benar ya, tuan Johan dan kak Jones sama sama takut istri." kekeh Jack sembari berjalan dengan yang lain masuk kedalam rumah.
"Iya, baru di hardik sama istri masing masing garangnya hilang lenyap." tambah Fio.
"Itu karna cinta, kalau ngak cinta di pandang pun tidak." cebik Sarah ke arah Sisy.
"Hahhh kalau belum sadar juga, nantikan tau sendiri akibatnya, lihat pengawal teteh banyaknya gua yakin perjodohan yang mama sebut sudah sampai ke telinga tuan besar kalau tidak dia tidak akan mengancam kak Jones seperti itu." sindir Fio tersenyum sinis ke arah Sisy.
Wanita yang di sindir cuma bisa diam, bagai mana tidak tatapan membunuh Johan dan para bodyguar cukup membuatnya spott jantung.
*********
Hai teman-teman author minta maaf ya lama baru Up, lagi sibuk dan lagi kurang fit, tetap stay di sini ya dan tetap dukung Author.
Like, Rate, Vote, Hadiah, Komen yang banyak
LOV u All
Happy Reading..
__ADS_1
🥰🥰🥰🥰