UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
140. Boleh Panggil Daddy ?.


__ADS_3

Shafa dan rombongan yang terpaksa menurut kini sudah berada di mansion Axton yang besar dan luas, mansion model klasik yang unik dan mewah.


Shafa sangat bahagia ada di mansion itu, dia serasa tinggal di rumah sendiri, meski rumah mewah yang ia tempati sebelumnya juga tak kalah indah tapi di mansion ini ia merasa nyaman.


"Bagai mana apa kamu suka tinggal di sini nak Shafa." tanya Axton yang duduk di ruang tamu laki-laki itu tidak lagi duduk di kursi roda tapi di Sopa senyum laki-laki itu sangat menyejukkan di mata Shafa.


"Suka pak, nyaman dan sejuk, Shafa suka di tempat yang berbau bau klasik." jawab Shafa riang.


"Syukur lah, lalu apa Shafa sudah bilang kalau Shafa di sini ke mama papa ?."


"Kakak kakak pasti udah lapor pak hehehe nanti Shafa ngomong sama papa dan mama."


"Hmmm ya, baiklah." senyum Axton, dia sudah mendapatkan berita dari anak buahnya kalau identitas Shafa tidak bisa di dapatkan, anak buahnya bahkan meminta Axton untuk berhati hati, pengamanan mansion bahkan di perketat.


"Pak.. hmmm." Shafa berdiri menggoyang goyangkan bajunya.


"Kenapa ??." senyum Axton geli melihat tingkah Shafa yang seperti anak kecil.


"Enghhhh Shafa lapar, emmmm bisΓ kah memasakkan nasi goreng buat Shafa." tanya Shafa penuh harap.


Tawa Axton hampir meledak melihat tingkah Shafa yang sangat menggemaskan, Shafa bahkan memelintir ujung hijabnya berulang ulang.


"Ohhh jadi aku harus tepat janji nih." masih menahan tawa.


"Emhhh ya pak hehehe." malu malu.


"Nyonya muda, biar kami yang masak ya." pinta Lila tidak enak hati.


Mereka sangat kwatir dan takut kalau kalau terjadi sesuatu pada nyonya mereka itu, bagai mana tidak laki-laki yang baru beberapa jam mereka kenal dan belum tau sifat asli di minta Shafa memasak nasi goreng untuknya.


Bahkan mereka kini tinggal di mansion mewah laki-laki itu, sungguh sangat janggal dan aneh tapi bagai mana lagi nyonya mereka itu sekarang keras kepala dan tidak mau mengalah.


Bahkan papanya saja sudah tidak bisa lagi membujuknya, biasanya Shafa akan patuh pada sang papa tapi kini sudah mulai menentang.


"Ngak kak, Shafa mau di masakin sama pak Axton, pasti enak." tanpa sadar Shafa mengelus perutnya sendiri sehingga Axton bisa melihat benjolan di perut wanita bercadar itu.


"Astaga jadi ada dua wanita hamil di rumah ku, ya ampun mimpi apa aku semalam hahaha, kalau keberadaan mereka di ketahui keluarga ku dan media bisa salah paham ini." gumam Axton dalam hati.


"Tapi aku sangat suka pada anak ini, entah mengapa aku merasa sangat nyaman dan bahagia melihatnya, suami dan keluarganya pasti sangat memanjakannya." gumam Axton lagi.


"Baiklah, mari kita ke kitchen, kita akan lihat apa yang ada di sana untuk di masak." Axton.


"Maaf tuan, apa ada beras di sini." Niken.

__ADS_1


"Hahahah lidah masih lidah Indonesia aku bahkan setiap hari makan nasi, tenang saja." ucap Axton berjalan menggunakan tingkat besinya.


Sebenarnya dia bisa berjalan normal meski dia menggunakan kursi roda, karna pernah mengalami kecelakaan lalu lintas membuat kakinya cedera dan lemah sehingga dia tidak sanggup berjalan jauh.


Laki-laki paruh baya itu berjalan lambat menuju dapur, tiba tiba Shafa menggandeng tangan laki-laki itu seperti menggandeng tangan ayahnya sendiri.


Semua penghuni mansion yang melihat terperanjat, Shafa sendiri tidak berpikir aneh akan hal itu, dia seakan sudah lama mengenal Axton sehingga ingin bermanja manja padanya.


Jangan tanya Axton, tentu saja dia sama terperanjat dengan yang lain, di liriknya wanita yang menggandeng tangannya itu, senyum bahagia langsung terpatri di bibir tegasnya.


"Kenapa aku seperti sudah lama mengenalinya, rasanya seperti punya putri sendiri, hahhh andai kau benar benar memiliki anakku , aku pasti sangat bahagia, di mana kau sekarang, tapi andai kau memiliki anakku usianya tentu sudah di atas dua puluh lima hmm." gumam Axton dalam hati.


Tangan kanannya yang lepas menggenggam tangan sebentar Tangan Shafa yang menggandeng tangannya.


"Nah.. kita sudah sampai, sekarang Princess silahkan duduk di sana, biar hamba mulai memasak nasi goreng permintaan princess." Axton membungkuk hormat ala ala kerajaan jaman dulu.


Shafa tertawa bahagia mendapatkan hormat dari Axton, lalu dia juga ikut membungkuk memberikan hormat yang sama untuk kemudian ia duduk di kursi mewah yang ada di dapur itu.


Koki dan para pelayan datang mendekat menawarkan bantuan tapi Axton menolak keras tidak ingin di bantu sehingga mereka hanya berdiri memberi jarak sekitar tiga meter dari Axton sekedar berjaga jaga kalau kalau laki-laki itu bertanya dan membutuhkan sesuatu.


Shafa duduk manis di kursimya sambil memperhatikan laki-laki itu memasak dengan antusias, Naya dan yang lain hanya bisa pasrah dengan kelakuan Shafa yang nekat menyuruh seorang bangsawan memasak untuknya.


Kalau Shafa belum tau siapa Axton lain hal dengan Naya dia sudah tau laki-laki itu keturunan bangsawan bahkan kini pemegang kekuasaan tertinggi di keluarganya karna hanya dia anak laki-laki di dalam keluarga.


"Nasi goreng sudah siap my Princess lengkap dengan telor orak arik sesuai permintaan, silahkan di makan." senyum Axton meletakkan satu piring nasi goreng penuh di hadapan Shafa.


Naya sudah di tawarkan oleh Axton tapi dia menolak karna tidak lapar, wanita itu hanya minum susu bumil untuknya.


"Bagai mana my Princess apakah enak.." Axton tertawa geli melihat Shafa yang makan tanpa basa basi bahkan terkesan takut makanannya di minta orang lain.


Axton pastinya tau nasi goreng buatannya enak karna Shafa begitu semangat untuk memakannya.


"Emhhhh.. uenak.. enakkk enak banget .." memberikan dua jempolnya.


Axton tertawa kecil.


"Apa tidak repot makan seperti itu." tanya Axton karna kasihan melihat Shafa yang bolak balik menyingkap cadarnya.


"Enghhhh ya pak, bisakah meminta laki-laki untuk meninggalkan kita di sini." pinta Shafa.


"Tentu saja, apakah aku juga harus pergi, aku juga laki-laki." senyum Axton.


"Enghhhh ngak, engga usah pak." jawab Shafa.

__ADS_1


"Baiklah." Axton lalu memberi perintah pada koki untuk meninggalkan tempat itu, dan laki-laki lainnya, Axton bahkan menyuruh kepala pengawal untuk mematikan Cctv di dapur sementara.


Setelah yakin tidak ada laki-laki lain Shafa menyingkap cadarnya ke atas kepala, mata Axton langsung melotot, dia sangat terkejut melihat wajah cantik nan rupawan itu.


"Berapa umurmu my Princess ?."


"Duapuluh Daddy.., boleh aku memanggil mu Daddy ?." tanya Shafa menghentikan makannya sejenak.


Axton terkejut lagi, sehingga dia tidak langsung menjawab pertanyaan Shafa, mata hazelnya menatap Naya dan Niken seakan meminta penjelasan.


Keempat wanita yang di tatap sama sama mengangguk, mereka mengerti kebingungan Axton.


"Dua puluh tahun ..?, dan kamu sedang hamil ??." tanya laki-laki itu semakin bingung.


"Enghhhh ya.. dua puluh tahun, Shafa juga sudah dokter sekarang, Shafa hamil tiga bulan Daddy ehh boleh Shafa panggil Daddy kan ?." tanya wanita hamil itu lagi.


"Ahhh ya..ya..ya..ya tentu saja Bee, tentu boleh, dan apakah kalian akan ikut memanggil ku Daddy ?." kekeh kecil Axton bahagia.


"Tidak boleh, cuma Shafa dan kak Naya.." ucapnya spontan.


"Hahahaha .." Axton tertawa terbahak bahak.


Wajah Shafa langsung merengut, bahkan matanya sudah berembun, dia tidak mau kalau sampai Axton di panggil Daddy juga oleh Niken dan yang lain, baru saja menjadi Daddy Shafa sudah fosesif pada Axton.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jadi sudah ada jawaban yg pas nih ?


wkwkwkwk


Sepertinya aku akan kirim pulsa, kita tunggu bab berikutnya ya, kalau udah pas baru saya kirim THR pulsanya.


LIKE


RATE


VOTE


HADIAH


KOMEN


Happy Reading

__ADS_1


__ADS_2