UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
135.Proses perceraian.


__ADS_3

"Ahhh berasa punya istri dua nih, senangnya dalam hati..kalau beristri dua serasa dunia ana yang punya ciyeee." kekeh Arkhan sebelum memulai sarapannya.


Naya menendang kaki Arkhan karna tidak bisa menjaga mulut, Shafa sama sekali tidak menanggapi ecehan Arkhan, biasanya mereka akan ribut seperti berbalas pantun tapi kali ini Shafa kebanyakan diam.


"Shafa sudah punya suami kak." ucapnya dingin lalu bangkit dari duduknya kemudian berjalan pelan menuju kamar yang ia tempati bersama ketiga bodyguarnya.


"Ehhh dek, kok pergi sih, makannya belum di sentuh juga." panggil Naya berdiri berniat menyusul adik angkatnya.


"Shafa ngak mood kak nanti aja, Shafa pusing mau istirahat." tetap berjalan.


"Kakak bawa ke kamar ya." Naya.


"Ngak usah kak, nanti saja." Shafa.


Naya duduk kembali, wanita hamil itu lalu menatap suaminya, kesal marah hanya itu yang ada di hatinya.


"Abang sih, lihat dek Shafa kan ngak jadi makan gara gara bercandaan abang, Shafa sensitif sekarang bang jadi hati hati kalau ngomong." ucap Naya pelan, meski marah Naya tetap bicara lembut pada suaminya itu.


"Abang lupa dek, kan biasa bercanda." Arkhan.


"Lihat situasi dong bang, lagian Shafa itu sudah menikah, jangan ngomong gitu lagi."


"Ahhh ngak apa apa lah dek, kalau Shafa mau abang juga mau kok."


"Maksud abang ?."


"Suaminya brengsek, ngak apa apa dong abang gantiin jaga dek Shafa." jawabnya cuek.


"Apa..?, jaga ? dalam arti apa bang." mulai tidak enak hati.


"Ya jaga lah." mimik wajah serius.


"Abang ngak lagi bercanda kan ?."


"Ngak, abang serius, adek ngak mau punya madu adek anak angkat sendiri." menatap naya dalam dalam.


Naya yang berpikir Arkhan awalnya bercanda sadar kalau Arkhan serius dengan kata-katanya,wanita itu balik menatap Arkhan mencari kejujuran dari matanya.


Meski sempat curiga saat Shafa baru menginap di rumah mereka Arkhan pernah kepergok olehnya mengelus kepala Shafa yang baru tertidur di kamar.


Arkhan bahkan mencium tangan Shafa meski hanya tangan bagi wanita muslimah yang menjaga aurat agar tidak bersentuhan dengan laki-laki yang bukan muhrimnya tentu salah.


Tapi Naya masih berbaik sangka dan menganggap Arkhan hanya sayang sebagai abang pada adiknya bukan sebaliknya, tapi ternyata kejujuran Arkhan cukup menyadarkannya.


Wanita mana yang tidak sakit saat suami yang ia kagumi dan ia muliakan sebagai imam yang baik sanggup berkata begitu, meski calon madunya adalah adik angkatnya sendiri yang justru orang yang menjodohkannya dengan laki-laki pilihan sang adik yakni Arkhan suaminya.


"Abang serius ?." tanya wanita hamil delapan bula itu dengan nada suara yang pelan dan bergetar.


"Iya .., serius." meminum air putih lalu melap bibirnya dengan tissu.


"Sejak kapan abang suka dek Shafa, sebelum kita menikah ?." menahan air mata.


"Iya, sejak lama sebelum kita kenal." menjawab jujur.


"Kalau suka dek Shafa kenapa abang mau nikahin saya, kenapa bukan dek Shafa saja, saat itukan dek Shafa lagi di carikan jodoh oleh orang tuanya, kenapa bukan abang yang lamar." tanya Naya bertubi tubi.


"Karna tante Zahra tidak setuju, tante tidak mau anaknya menikah dengan sesama saudara meski kami boleh menikah, karna pernikahan saudara akan merusaka saudara lainnya kalau terjadi perselisihan antara suami istri."


"Lalu sekarang kenapa abang mau menikah dengan dek Shafa."


"Karna aku ngak sanggup melihat kesedihan ny, laki-laki brengsek itu bukannya menjaga tapi malah menyakiti aku benci laki-laki itu."


"Menurut abang apa dek Shafa mau."


"Itu tugas kamu membujuknya." tegas Arkhan.


"Saya ??."


"Iya, kamu." jawabnya dingin lalu bangkit dari duduknya, laki-laki itu pamit dan meninggalkan Naya duduk seorang diri di ruang makan.


"Ya Allah, apa ini ? kenapa harus adik angkat saya sendiri ya Allah, kenapa suami hamba setega ini."


ucap Naya lirih, air matanya tumpah di wajah ayunya.


Sejak menikah dengan Arkhan perlakuan Arkhan memang tidak manis dan mesra padanya, suaminya itu bahkan terkesan dingin namun karna tugas istri patuh dan taat dalam berbagai hal Naya berusaha sabar.


Kadang Naya cemburu atas sikap manis Arkhan pada Shafa, perhatian dan sering mengajak Shafa bercanda sedang padanya sikap Arkan berbeda jauh.


Wanita itu hanya berharap suatu saat Arkhan bisa lembut dan sayang padanya, Naya membereskan meja makan lalu ia berjalan ke kamar Shafa.


"Dek Shafa tidur ya mbak Niken ?." tanya Naya.


"Iya nyonya." jawab Niken.


Ketiga Bodyguar sibuk dengan aktifitas mereka sendiri, Niken sedang mengelus elus punggung Shafa sedang Nisa memijit kaki.


Lila membereskan barang barang mereka yang baru di beli karna mereka meninggalkan negara mereka tampa persiapan.


Naya duduk di samping Shafa yang tertidur pulas


di tatapnya lamat lamat wajah cantik adik angkatnya itu, baginya sebenarnya tidak mengapa kalau Shafa menjadi madunya meski hatinya pasti akan sakit.

__ADS_1


Tapi karna dia tau betul watak adik angkatnya dia hanya akan pasrah kalau kalau itu terjadi, di belainya lembut kepala sang adik kasih sayang keduanya memang tidak berbatas mereka saling sayang dan saling support meski tidak ada hubungan darah.


"Dek..ternyata orang yang adek jodohkan dengan kakak jatuh cinta dan sayang pada mu dek, dia juga ingin menikahimu, apa kamu mau dek." gumam Naya dalam hati.


Ia berusaha keras menekan air mata dan perasaannya agar tidak terbaca oleh orang lain kalau dia sedang berpikir sesuatu yang menyakitkan.


Shafa bergerak manja, di tangkapnya tangan Naya lalu ia bawa ke dadanya, dengan mata terpejam ia tersenyum sangat manis.


"Aa.., Shafa lapar, mau makan nasi goreng." ucapnya manja.


Naya, Niken dan yang lain saling pandang, mereka sama sama.diam, tangan naya yang bebas kembali mengelus kepala sang adik.


"Aa.., hiks..Shafa ngak mau makan yang lain, Shafa cuma mau makan nasi goreng sama rujak yang Aa buat." tangisnya sesegukan.


Naya masih diam, menyimak setiap kata yang keluar dari mulut sang adik, seketika hatinya terasa lapang sekaligus sakit, dari kata kata Shafa terlihat jelas kalau wanita hamil itu sedang merindukan masakan dan juga kemungkinan suaminya.


Dengan demikian akan sulit meminta Shafa masuk kedalam rumah tangga mereka karna sang adik sendiri belum lepas dari suaminya dan masih memikirkan suami, meski sedang di atur perceraiannya oleh sang adikuasa yakni Johan.


"Dek Shafa sering ngigau ya." tanya Naya pada para bodyguar.


"Ahir ahir ini saja nyonya, sepertinya nyonya Shafa merindukan tuan muda." jawab Niken sedih.


"Iya, bahkan kalau mau tidur nyonya Shafa minta tangan kami yang jadi bantal, kalau ngak nyonya ngak bisa tidur." Nisa.


"Mungkin nyonya Shafa tidurnya selalu di lengan tuan muda jadi maunya seperti itu terus, kami gantian ngasih tangan kami untuk bantal nyonya muda, kasihan nyonya, semoga semua masalah cepat terselesaikan."Lila.


"Masalahnya sekarang tuan besar sudah." perkataan Nisa di stop Niken karna takut Shafa tiba tiba bangun dan mendengar percakapan mereka.


Naya keluar dari kamar Shafa dengan pikiran kalut, di sebelah hati lapang karna kemungkinan besar Shafa pasti menolak jadi madunya, di sebelah hati lain dia harus menuruti permintaan suami untuk membujuk Shafa agar mau jadi madunya.


Malam itu Arkhan pulang dengan ceria, dia membawa berbagai makanan dan pakaian serta perlengkapan yang di butuhkan Shafa, laki-laki itu langsung masuk kamar Shafa tampa permisi, untungnya di sana ada Naya dan yang lain.


"Dek.., abang bawakan ini untuk adek." menyerahkan semua barang pada Shafa yang sedang duduk bersandar di headboard tempat tidur.


"Terimakasih bang, tapi kakak kakak tadi sudah belanja keperluan Shafa, jadi lain kali ngak usah repot repot ya bang." jawab Shafa pelan.


"Loh kok gitu, abang kan cuma beli aja, ngak apa apa dong dek." jawabnya kecewa.


Dia kecewa pada Shafa sementara kekecewaan istri tidak ia perdulikan, Naya memang wanita kuat dan penyabar, meski di depan mata sendiri melihat suaminya perhatian pada orang lain dia tetap bersikap normal meski hatinya sakit.


"Ya bang, lain kali ngak usah aja, kak Naya sudah abang belikan ?, istri sendiri harus di utamakan bang dari pada Shafa istri orang lain." Shafa.


"Ehhh itu, ya uudah lah, ya kan dek." jawabnya terbatas lalu minta pertolongan pada sang istri.


Naya tersenyum dan mengangguk.


"Ehh apa tadi istri orang lain ??, memang masih status punya suami sekarang bukannya perceraian kalian sedang di urus om ya ?."


Kata kata Arkhan membuat Shafa terkejut dan langsung duduk tegak, dia menatap Arkhan tajam dia tidak percaya mendengar kata kata laki-laki itu, sementara ketiga bodyguar yang sudah tau terdiam.


"Apa bang ?."


"Iya perceraian kalian sedang di urus om, sudah di daftarkan kepengadilan agama ?." senyum Arkhan.


"Tidak mungkin, Shafa ngak buat surat itu, ngak tanda tangan juga." suara parau karna sudah mulai terisak.


"Om punya banyak cara untuk menyelesaikan masalah dek, lagian wajar saja om marah mana mau om anaknya di sakiti begitu, untung om masih tenggang rasa kalau tidak sudah kekuburan mantan suami dan mantan mertua kamu itu dek.


Shafa diam, dia hanya menangis, dia sudah menuruti apa kata papanya, dia sudah meninggalkan suaminya tampa kabar, tapi tidak ada kata kata cerai kenapa sekarang malah dalam proses perceraian.


"Shafa ngak mungkin pisah dengan Aa, anak anak Shafa pasti nanti cari daddynya, Shafa ngak pernah mikir seperti itu, Shafa juga ngak niat cerai dari Aa, apa yang terjadi antara kami cuma salah paham kok, nanti kalau Aa tau yang sebenarnya Aa pasti sadar kalau ia salah." tangis Shafa.


"Kenapa masih di ingat sih dek, dia udah kasar dan jahat sama kamu lo." Arkhan.


"Cuma salah paham bang, lagian wanita sedang hamil mana sah cerai." Shafa.


"Terserah dek, tapi sedang di urus sekarang." jawabnya dingin karna kecewa pada Shafa yang selalu membela suaminya.


"Siapkan air mandi ku, aku cape." menatap Naya lalu keluar dari kamar Shafa.


"Dek kakak keluar dulu ya, dek Shafa istirahat saja dulu jangan terlalu mikir, berdoa saja yang terbaik buat rumah tangga adek dan cepat dapat jalan keluar ya." senyum Naya.


"Iya kak, doakan juga ya kak." tangisnya.


Naya keluar dari kamar Shafa menuju kamar mereka, Naya kecewa dan marah dengan sikap Arkan yang terlalu ikut campur dengan urusan pribadi Shafa harusnya dia tetap tenang dan pura pura tidak tau agar Shafa tidak sedih.


Walau pun Arkhan menyukai Shafa tapi harusnya dia sabar sampai status Shafa jelas, Shafa yang sedang bingung memikirkan suaminya pasti nanti akan makin sedih.


"Kenapa ?, kamu marah aku terus terang begitu pada dek Shafa." tanya Arkhan saat Naya sampai ke kamar.


"Ngak bang, saya ngak marah, cuma kecewa saja harusnya abang diam dan pura pura tidak tau, agar pikiran dek Shafa ngak tambah kacau, kasian dek Shafa bang, dia lagi hamil."


"Biar saja, toh itu akan terjadi agar dek Shafa siap dengan statusnya."


"Kalau abang sayang, harusnya abang sabar menunggu bukan malah abang buat dek Shafa makin tertekan dengan kata kata abang yang justru akan menambah beban mentalnya." Naya bergerak lincah menyiapkan pakain ganti Arkhan.


"Sudahlah, kau jangan banyak bicara, sekarang tugas mu membujuknya agar mau jadi istri ku." berjalan masuk kamar mandi.


Naya duduk di atas tempat tidur, air matanya mengalir sukses membasahi wajah ayu dan cantik itu, tangan nya meneglus perutnya yang buncit, tiba tiba anak yang ada di dalam perutnya bergerak.


"Ngak apa apa sayang, umi baik baik saja, kamu baik baik juga di dalam ya, jangan terlalu banyak gerak nanti umi sakit nak." ucap Naya lirih terus memgekus perutnya.

__ADS_1


"Umi, Abi.. andai kalian masih ada aku ingin bercerita pada kalian, aku rindu kalian umi, abi." tangis Naya pelan.


Arkhan keluar dari kamar mandi, di lihatnya Naya sedang mengelus perutnya sambil menyeka air mata, namun dia tidak perduli, dan pura pura tidak tau, laki-laki itu lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Abang ngak makan dulu." tanya Naya tampa melihat Arkhan.


"Tidak, aku tidak lapar." jawabnya dingin.


"O ya udah." Naya setiap malam menunggu Arkhan pulang untuk makan malam tapi kadang Arkhan sudah makan di luar.


Tapi sejak ada Shafa dia rajin pulang makan malam, kalau di depan Shafa Arkhan akan bersikap manis pada Naya, dan Naya rindu sikap manis suaminya itu hingga dia tetap berharap Arkhan bersikap begitu padanya meski hanya pura pura tapi Naya bahagia.


Naya yang belum makan malam karna menunggu Arkhan keluar dari kamar menuju ruang makan, Arkhan diam saja membiarkan sang istri keluar tampa bertanya karna dia tau kalau istrinya itu sedang lapar.


Naya duduk sendiri di ruang makan, dia menyuapkan makanan kemulutnya dengan air mata berurai.


"Kak.. kok makan sendiri, bang Arkhan mana ?." tanya Shafa yang tiba tiba muncul di sana bersama Nisa.


"Ehh ngak apa apa dek, abang udah makan katanya, abang cape jadi langsung tidur." jawabnya menunduk karna takut Shafa melihat matanya yang berair.


"Meski cape istri di temanin dong, Suami Shafa kapan saja nemenin Shafa makan dan nurutin apa mau Shafa, kok abang biarin kakak sih, apa abang sering begini kak."


"Ngak kok dek, kalau lagi cape aja." jawab Naya senyum.


Shafa duduk di depan Naya, sepertinya Shafa mulai curiga dengan sikap Naya, Naya tampak tertekan tapi Shafa enggan bertanya karna takut sang kakak tersinggung tapi Shafa sadar ada yang tidak beres di rumah tangga kakak angkatnya itu.


Sebab dia pernah melihat sikap dingin Arkhan pada Naya beberapa kali, namun Shafa hanya menganggap biasa saja.


Mereka bercerita panjang lebar, Shafa bercerita bagai mana perhatian dan bucinnya suaminya itu padanya bagai mana sayang dan cintanya Jones padanya meski ahirnya dia di sakiti.


"Hiks.. Aa jahat sekarang, Aa kasar pada Shafa padahal Shafa ngak salah, Aa jahat, Aa ngak sayang lagi, ngak cinta lagi sama Shafa hiks, Aa ngak perduli lagi pada Shafa." tangis Shafa sesegukan mengingat suaminya itu.


"Sabar dek, kan adek yang bilang cuma salah paham, berdoa saja semoga kak Jones segera tau kebenarannya dan cepat berubah, ingat dek meski manusia berusaha memisahkan kalau Allah berkehendak lain maka itu tidak akan terjadi." Naya mengelus tangan Shafa lembut.


"Shafa sudah dua minggu di sini, apa Aa ngak cari Shafa ya kak, atau Aa memang ngak perduli lagi pada Shafa."


"Bukan ngak perduli dek, mungkin sedang berusaha mencari Shafa, kakak percaya kak Jones benar benar sangat sayang dan cinta pada Shafa hanya saja demi membela mamanya dia lupa mencari kebenaran aduan mamanya, wajar sih kak Jones marah melihat wajah mamany yang luka tapi harusnya dia bertanya dulu."


Tangan seseorang menegepal mendengar kata kata bijak Naya, di hatinya berkata lain, harusnya Naya tidak membela Jones kenapa malah membela.


Shafa dan para bodyguar pamit masuk kamar mereka, sementara Naya juga berjalan menuju kamar, namun belum sempat masuk kamar tangannya sudah di tarik oleh Arkhan.


"Apa kau bilang tadi ?, kau membela laki-laki brengsek itu hahhh." teriak Arkhan marah.


"Aku ngak berniat begitu bang, aku cuma kasihan pada dek Shafa karna memikirkan suaminya terus." jawab Naya gugup melihat kemarahan Arkhan.


"Lalu kenapa kau bilang laki-laki itu sangat sayang sangat cinta, kalau iya begitu dia tidak akan mencampakkan dek Shafa begitu saja, sampai hampir Anemia." makin marah.


"Bukan mencampakkan bang, tapi..."


Plakkk..


"Dasar, sudah jelas membela masih bilang tidak, kenapa sengaja hahh agar Shafa terus terusan memikirkan laki-laki itu dan tidak mau berpisah dan aku ngak bisa menikahinya ya." marah Arkhan makin jadi, dia lupa kalau mereka sedang berada di luar kamar.


Shafa yang tadinya sudah masuk kamar tapi keluar lagi karna ketinggalan minuman yang sudah ia siapkan di atas meja.


Shafa tidak mendengar jelas percakapan mereka tapi dia melihat jelas tangan Arkhan yang melayang dua kali di wajah kakak angkatnya itu.


Seketika wajah Shafa berubah merah karna marah, dia tidak terima Arkhan menampar Naya apa lagi bersikap kasar pada kakak angkatnya itu, berjalan cepat ia lalu menghampiri keduanya.


"Abang.. apa yang abang lakukan pada kak Naya kenapa main tangan, kenapa kasar." teriak Shafa tampa sadar ke arah Arkhan.


Arkhan dan Naya sama sama terkejut melihat kehadiran Shafa, wajah Arkhan langsung berubah pucat, dia sama sekali tidak menyangka kelakuannya itu akan di lihat oleh cinta pertamanya itu.


"Dek.. kok.. kamu .." Arkhan berkata gugup tidak berani melihat Shafa.


"Abang jahat.. abang jahat.., kak Naya sedang hamil abang kok kasar sih." marah Shafa, air matanya ikut menandakan kekecewaannya.


Tanpa kata lagi, Shafa langsung menarik Naya kearah kamarnya meninggalkan Arkhan yang mematung seorang diri.


🌱🌱🌱🌱🌱🌱


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baikΒ  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


πŸ’ LIKE


πŸ’ RATE


πŸ’ VOTE


πŸ’ HADIAH yang banyak


πŸ’KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2