
"Sudah tidur .." tahya Axton setengah berbisik pada Nisa yang duduk di seberangnya sambil memijit kaki Shafa sebelah kiri sedang Axton memijit kaki Shafa di sebelah kanan.
"Sudah tuan.." jawab Nisa berbisik juga.
"Good.., jaga putri ku kalau dia terbangun nanti, dan butuh sesuatu panggil aku di kamar.
"Baik tuan.." Nisa.
"Naya.. ikut Daddy, kamu juga Niken." berjalan pelan keluar dari kamar itu.
"Iya Daddy.." Naya.
"Baik tuan." Niken.
Berlahan mereka juga berjalan mengikuti Axton keluar kamar, Axton berjalan keruang santai yang berada tidak jauh dari kamar yang di tempati para wanita.
Laki-laki itu lalu duduk di salah satu sopa yang ada di sana, kemudian ia meminta kedua wanita itu ikut duduk, Naya dan Niken duduk bersebelahan di depan Axton.
"Langsung saja Naya, Niken, Sudah lama kalian di sini bersama Daddy tapi Daddy tidak tau siapa Shafa sebenarnya, bukannya Daddy tidak percaya atau ingin ikut campur tapi melihat Shafa sering menangis seperti itu Daddy jadi penasaran apa yang membuat Shafa berpisah dengan suaminya, bisa kah kalian beritahu saya."
Menatap Naya dan Niken bergantian, kedua wanita itu saling tatap dan sama sama menarik nafas dalam dalam.
"Jangan kwatir aku tidak akan membocorkan pada siapapun, aku hanya ingin tau, aku ngak tega melihat Shafa seperti itu, usianya masih sangat muda tapi sudah menanggung beban pikiran, apa lagi sedang hamil itu bisa mengganggu kehamilannya."
"Maaf Daddy.., Naya saja yang jawab." Naya.
"Iya Naya saja, takut Niken nanti jadi masalah." jawab Axton sambil mengangkat kaki kanannya ke atas kaki kiri.
"Begini Daddy, Shafa menikah dengan Kak Jones, kak Jones adalah dokter keluarga Uncle Johan dan sekaligus teman akrab Uncle, saya pernah dengar Uncle Johan juga yang membantu membiayai kuliah kedokteran kak Jones bahkan membantu keluarga kak Jones masalah ekonomi."
"Lalu...?"
"Kak Jones jatuh cinta pada dek Shafa saat...." Naya ahirnya bercerita panjang lebar tentang sejarah pernikahan Shafa dan Jones sampai kejadian yang menimpa Shafa sehingga Johan memindahkan Shafa keluar negeri.
Naya juga bercerita kalau Shafa sempat tinggal dengannya di Sydney tapi ahirnya Shafa melarikan diri bersama Naya ke negara ini karna ada masalah dengan suaminya Arkhan dan ahirnya bertemu dengan Axton.
Naya tidak bercerita secara detail apa lagi sampai mengatakan kemiripan Axton dengan Jones, karna Naya merasa bukan bagian dari urusannya sebab terlalu pribadi, biar Shafa saja yang akan mengungkapkannya kelak.
"Astaga .., perempuan macam apa itu mama mertua Shafa, sudah di tolong malah menyakiti, Lagian kalau hanya karna Jones selalu terluka karna mengejar Shafa itu bukan salah Shafa, anak nya saja yang tergila gila." umpat Axton geram mendengar cerita Naya.
"Tunggu sampai Daddy tau siapa yang Daddy kesalkan itu, apa Daddy masih bisa marah." gumam Naya dalam hati.
"Jadi Naya juga dalam pelarian ?." Axton.
"Bukan pelarian Daddy tapi di larikan hehe." canda Naya meski hatinya sakit mengingat ayah dari anak yang ada dalam rahimnya.
"Ya ampun nak, kalian berdua ya, andai bisa Daddy ingin kalian tinggal dengan Daddy selamanya, tapi nak walau bagai manapun suami bersalah dia tetap ayah dari anak kalian, kalau kesalahannya masih bisa di maafkan maafkanlah nak, jangan buat penyesalan seperti yang Daddy rasakan, Daddy tidak mampu mempertahankan rumah tangga Daddy, Daddy kecewa pada diri Daddy sendiri tapi sudah terjadi ahirnya Daddy hanya bisa pasrah."
Naya diam, dia sendiri untuk saat ini bingung harus bagai mana, Shafa yang masih kekanak kanaan melarangnya kembali pada Arkhan sampai Arkhan menyesali perbuatannya dan meminta maaf.
Bahkan Shafa sudah meminta papanya menyiapkan tempat tinggal untuk dirinya dan Naya kalau kembali ke Indonesia, tempat yang jauh dari kota daerah pegunungan yang sejuk.
Shafa sangat murka dan sakit hati ketika melihat Arkhan melayangkan tangannya di wajah putih Naya, dia saja cuma di bentak sudah tidak tertanggungkan sakitnya bagai mana Naya yang merasakan tamparan tangan Arkhan.
Sementara itu di apartemen Jones.
Akhhhhhhhh...
"Shafa....., istriku..Akhhhh." teriak Jones kencang, Robby dan dokter Ryan yang menginap di apartemennya dan sedang tertidur pulas terkejut langsung melompat dari atas tempat tidur dan berlari masuk kamar Jones.
"Ada apa bro .." Robby.
"Kenapa sobat ?." Ryan.
"Istri gua.., istri gua Robby, cepat cek nomor ini, suruh orang orang lu melacaknya, gua di hubungi oleh no ini, gua yakin itu istri gua, gua dengar sendiri istri gua menangis, please bro bantu gua." pinta Jones memelas.
Jones menyerahkan handphone mewah di tangannya pada Robby, Robby langsung menyambut handphone Jones dan memeriksa nomor yang menghubungi.
"Sepertinya ini nomor luar bro, gua akan suruh anak buah gua yang lain menyelidikinya, lu tenang dulu oke."
Robby menghubungi seseorang lewat handphone miliknya dan menyebutkan angka angka yang menghubungi Jones tadi.
__ADS_1
"Lu yakin itu istri lu sobat." Ryan menepuk punggung Jones pelan.
"Iya sobat, gua yakin, filing gua ngak salah, gua udah bilang dengar istri gua menangis." jawab Jones.
"Kalau begitu lu jangan terlalu mikir lagi, kalau istri lu menghubungi lu itu artinya istri lu juga rindu, sekarang lu berdoa saja, seraya berusaha bagai mana caranya lu bisa menemukan istri lu, lu harus kuat dan semangat, lu juga harus bangkit." nasehat Ryan.
"Iya.. gua akan bangkit, gua akan cari istri gua sampai ketemu." Jones.
"Bagus kalau begitu, kita juga tetap akan bantu cari kok, lu jangan kwatir, yang penting kejadian ini jangan terulang lagi ya, lu tau sendiri bagai mana bos Jo, meski dia sulit memberikan kesempatan kedua pada lu, tapi kalau putrinya yang meminta dia pasti mengalah, jadi tugas lu sekarang menemukan nyonya muda, dan meminta maaf padanya." nasehat Robby.
"Iya .. gua akan meminta maaf, gua salah, tanpa pikir panjang gua menuduh istri gua, mama .. entah apa yang membuat mama benci pada istri gua, padahal istri gua tidak pernah mengganggu mama gua." keluh Jones.
"Nyonya muda tidak ada salah, yang salah keadaan, hanya karna lu terlalu cinta pada istri lu sehingga lu sering terluka sampai sekarat karenanya, makanya mama lu begitu."
"Itu bukan salah istri gua bro." Jones.
"Iya .. emang bukan salah nyonya muda, tapi mama lu berpikir begitu." Robby.
"Sudahlah, sekarang tidak perlu mengungkit itu lagi, yang perlu lu ingat kalau lu masih ada kesempatan bersama istri lu, lu harus menjauhkan istri lu dari mama lu." Ryan.
"Iya .. betul, gua akan membawa istri gua kekampung ayah Nazwan nanti, kami sudah janji kalau istri gua sudah jadi dokter kami akan mengabdi di kampung halaman istri gua."
Hari sudah menunjukkan pukul lima pagi, setelah Sholat subuh berjamaah dengan Robby, Ryan dan asisten Jones, ketiga laki-laki itu sama sama membaca ayat suci Alquran untuk menghabiskan waktu sebelum mereka berangkat kerja.
*********
Tok..tok..tok..
" Assalamualaikum Daddy..Daddy.." panggil Shafa mengetuk pintu lamar Axton sedikit kuat.
"Waalaikumsalam, ya.. Bee ada apa hmm, pagi pagi membangunkan Daddy." Axton muncul dari balik pintu dengan muka bantal dan rambut kusut.
"Maaf Daddy, Shafa membangunkan Daddy, karna Shafa mau pamit pulang Daddy."
"Hahhh kenapa, kenapa mendadak." tanya Axton dengan intonasi suara sedikit meninggi karna terkejut, kelopak matanya yang tadi masih merem melek terbuka sempurna.
"Janeet sakit Daddy, mey mey Shafa hiks kata papa Shafa boleh pulang hiks."
"Iya Daddy, adek Janeet adek Shafa, mey mey artinya adik Daddy, sakit sudah dua hari kata papa manggil Shafa terus." tangis Shafa masih berdiri di depan Axton.
"Ahhh ya..kapan berangkat ?." tanya Axton pelan, laki-laki itu tampak tidak rela di tinggalkan oleh anak angkatnya itu, meski sebenarnya bukan anak angkat tapi ayah mertua tapi Axton kan belum tau yang sebenarnya.
"Sebentar lagi Daddy, jam enam."
"Hahh kenapa cepat banget, ini jam berapa ?." tanya Axton lagi tambah terkejut.
"Jam empat tiga puluh Daddy." Shafa mengusap air mata yang mengalir sedari tadi, Johan menghubungi Shafa setengah jam lalu, para bodyguar pun dengan sigap langsung siap siap.
"Ya .. Daddy mandi dulu dan ganti baju, Daddy akan ikut dengan mu Bee." berbalik.
"Daddy .. maaf jangan sekarang ya, Nanti Daddy menyusul.saja, karna Shafa tidak lama di sana, kalau Shafa lama Daddy baru nyusul." menahan pintu kamar Axton yang akan di tutup nya.
"Kenapa begitu Bee, apa kamu tidak mau mengenalkan Daddy pada mama papa mu ?." tanya Axton kecewa.
Laki-laki itu sudah berencana ikut ke negara asal Shafa untuk berkenalan dengan keluarga Shafa, tapi malah di tolak, tentu saja laki-laki itu merasa kecewa.
"Bukan begitu Daddy, Shafa tentu sangat senang kalau Daddy ikut, tapi ada sesuatu alasan untuk Daddy ngak boleh ikut sekarang, tapi secepatnya tanpa Shafa minta Daddy pasti nyusul Shafa kok." bujuk Shafa, entah apa yang ada dalam hati wanita hamil itu.
"Jado Daddy ngak boleh ikut sekarang Bee." nada sedih.
"Iya.. kalau Shafa ngak pulang juga dalam empat hari kedepan, atau paling lama satu minggu, Daddy pasti akan datang menyusul Shafa tanpa di minta." senyumnya penuh arti.
"Maksudnya ??." tanya Axton bingung.
"Udah Daddy mandi dulu gih, terus sholat subuh, abis itu antarkan Shafa ke bandara ya Daddy." pintanya dengan mata berkedip kedip lucu.
"Uphhhh kamu ya Bee paling bisa membuat Daddy penasaran oke deh, Daddy siap siap dulu." membelai kepala Shafa yang tertutup hijab penuh kasih sayang, kasih sayang seorang ayah pada putrinya.
Tepat pukul enam tiga puluh mereka semua sudah berkumpul di bandara, Axton mengantar Shafa dan rombongan sampai di landasan pesawat.
Laki-laki itu tertegun melihat pesawat pribadi yang menjemput Shafa lengkap dengan para pengawal yang ketat.
__ADS_1
"Aku makin penasaran siapa kamu sebenarnya Bee, kamu itu pasti bukan keturunan biasa saja, bahkan agen ku saja tidak bisa menemukan identitas mu, aku yakin orang tua mu adalah salah satu orang yang berpengaruh di sana, pesawat yang menjemput mu saja begitu mewah dan canggih." gumam Axton dalam hati.
Laki-laki itu sangat tau jenis pesawat yang di pakai oleh Shafa karna hanya ada beberapa di dunia, dan harga yang cukup menguras isi kantong, bahkan negara tertentu saja belum tentu sanggup membeli pesawat itu.
"Daddy.. Shafa pamit ya, jaga kesehatan Daddy, Shafa sayang Daddy."
"Terimakasih Bee, Daddy juga sayang Shafa, Shafa jaga kesehatan ya nak, ingat cucu cucu Daddy mereka harus terawat dengan baik di dalam sini." ucap Axton pelan.
Menunjuk perut Shafa yang semakin besar karna sudah empat bulan apa lagi di dalam ada tiga janin tentu saja perut wanita itu makin besar.
"Iya Daddy, o iya .. ini hadiah untuk Daddy, dalam empat atau satu minggu Shafa belum pulang Daddy baru bisa buka kotak ini, kalau pun Daddy memaksa Daddy tidak akan bisa membukanya kecuali Daddy bom hehehe, tapi Shafa minta kembalikan lagi kotak ini nanti pada Shafa saat kita bertemu lagi."
Shafa menyerahkan sebuah kotak berukuran kecil pada Axton, kotak yang terbuat dari campuran baja dan stenles kotak mewah tanpa kunci atau gembok.
Kotak itu akan terbuka sendiri pada waktu yang di tentukan, karna itu walau pun berusaha membukanya tidak akan berhasil kecuali di rusak, di buka paksa.
"Bee.. kenapa harus menunggu sih, buka saja sekarang Daddy penasaran tau." pinta Axton dengan mimik wajah lucu.
"Ngak boleh Daddy, ngak kejutan lagi dong namanya, tapi kalau Daddy sudah melihat isinya Daddy harus janji satu hal."
"Apa Bee.."
"Daddy harus datang dengan persiapan jangan asal loncat aja, bahaya tau.., Shafa tunggu Daddy, dan Daddy harus janji lagi." senyum senyum.
"Apa lagi janjinya Bee ?." makin bingung dan makin penasaran.
"Kalau kita jumpa nanti Daddy jangan marah ke Shafa ya." mata berkedip kedip.
"Kenapa, kok jangan marah Bee." pusing Axton di buat persyaratan persyaratan Shafa.
"Pokoknya Daddy jangan marah." ucapnya manja.
"Ya .. Daddy janji ngak marah, mana bisa Daddy marah pada putri Daddy sendiri." jawab Axton pasrah, mau apa lagi sekeras apa pun dia minta penjelasan tidak akan dapat jawaban, jalan satu satunya cuma bisa menunggu selama empat atau satu minggu sampai box yang ada di tangannya terbuka.
Setelah menjabat tangan Axton dan mencium tangan laki-laki itu Shafa menaiki tangga pesawat di bantu oleh Niken dan yang lain mendampingi dari belakang.
Sebelum benar benar masuk pesawat Shafa melambaikan tangan pada Axton, laki-laki itu juga membalas, namun wajah Axton tampak sedih dia benar benar tidak merasa kecewa karna harus berpisah dengan Shafa.
Wanita muda yang memanggil nya Daddy wanita yang mewarnai hari harinya beberapa minggu ini, orang yang mampu membuat dia merasa memiliki keluarga dan tidak sendiri.
Kehadiran Shafa di dalam mansionnya membuat hidupnya lebih berarti dan bahagia, dia sadar cepat atau lambat Shafa pasti akan meninggalkannya tapi dia tidak menyangka secepat itu.
Pesawat pribadi milik keluarga Shafa sudah tinggal landas sejak tiga puluh menit lalu, tapi Axton masih setia berdiri di lantai tiga bandara menyaksikan pesawat pribadi itu sampai tidak terlihat lagi.
"Tuan.. maaf apa kita perlu menyusul ??."
"Kemana ?, apa kau tau tempat nya ace ? dan apa kau tidak mendengar apa yang di ucapkan putri ku tadi ?." jawab Axton dingin.
"Ahhh maaf tuan." jawab Ace menunduk.
"Sudah ayo kita pulang, biarkan kamar putri ku seperti itu, jangan di rubah." titah Axton berjalan berlahan.
Setelah kehadiran Shafa Axton lebih bersemangat lagi dalam menjalani hidup, selama Shafa tinggal dengannya laki-laki itu sudah sangat jarang menggunakan kursi roda.
๐๐๐๐๐๐
Hmmm Apa isi mystery box itu ya ..
๐Like
๐Rate
๐Vote
๐Hadiah
๐Komen ya All..
Wo Ai Ni
Happy Reading.
__ADS_1