UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
76. 5 Hari lagi.


__ADS_3

Pulang kuliah Shafa di jemput oleh Naya dan Arkhan, meski gadis itu sudah di temani oleh Niken dan dua pengawal lainnya tapi pengawal bayangan tetap mengikuti dari arah yang tidak mereka ketahui.


"Kita jadi ke mall kak ?." tanya Shafa pada Naya saat ia sudah duduk manis di bangku


penumpang.


"Iya dek, tapi kan Shafa yang minta." Naya.


"Hehehe iya kak, siapa tau kakak ngak bisa jadi kita ke tempat lain saja." Shafa.


"Kemana ?."


"Pantai kak, Shafa kangen pantai."


"Ya udah kita ke pantai saja." Naya.


"Tapi kakak bilang ada yang mau di beli di mall kita kesana saja dulu, kalau ke pantai sekarang juga masih panas."


"Iya juga." manggut manggut.


"Nah sekarang kemana yang betulnya ini." tanya Arkhan melihat ke arah belakang.


"Mall." jawab kompak keduanya.


"Okay Let's go .." semangat Arkhan.


Mobil melaju sedang di jalanan ibu kota di iringi tawa canda kedua gadis di dalamnya, mobil bodyguar mengiringi di belakangnya.


"Ayo kak, sampai di sini kok tiba tiba Shafa semangat mau belanja ya hahaha." Shafa keluar dari dalam mobil dengan wajah sumringah, setelah Naya keluar dari mobil Shafa langsung menggandeng tangan gadis itu.


"Dek.. kok abang di tinggal sih, abang juga mau di gandeng loh." Arkhan.


"Wekkk emang truk gandeng ishh ngak sudi ya." menarik Naya agar segera mengikutinya masuk kedalam mall besar itu.


"Ihhh parah ya, dasar cewek maunya aja yang harus di turutin mau kita ngak perduli." omel Arkhan mengikuti kedua gadis itu dari belakang.


Arkhan mengikuti kemana kedua gadis itu pergi, masuk toko baju, toko sepatu, toko aksesoris sampai ke toko perhiasan.


"Dek ini bagus lo, cantik kan." ucap Arkhan menunjuk sepasang cincin kawin.


" Itu cicin kawin kayaknya bang, emang abang mau nikah ?." cebik Shafa.


"Ya iyalah mau nikah dong."


"Sama kak Naya." riang.


"Sama kamu dong dek."


"Uwekk.. ngak yauuu, kak lihat abang sembarangan." mengadu pada Naya yang hanya jadi penonton saja.


"Ngak apa apa dong dek." tawa kecil Naya.


"Ishhh No.. No Shafa ngak mau ya."


"Terserah tapi om sudah menentukan tanggalnya mau ngak mau ya harus mau, iya kan dek Naya." senyum menggoda.


"Iya." jawab gadis itu singkat, tapi bola matanya tertuju pada sebuah cincin bermahkotakan berlian yang indah dan berkilau.


"Dek Naya mau cincin itu, abang beli dua deh."


"Kok dua." Shafa.


"Satu untuk adek satu lagi untuk dek Naya."


"Abang punya uang emang, beli sampe dua."


ejek Shafa.


"Eishhh adek lupa abang siapa ya hahh, abang itu pemimpin perusahaan Om di boston, abang kuliah sambil kerja loh, om ngasih gaji besar untuk abang." membangakan diri.


"Ouwhhh pantas sombong." tawa Shafa.


"Iya dong, sombong." Arkhan.


Arkhan benar benar membeli cincin untuk kedua gadis itu, cincin yang hampir mirip, setelah puas berbelanja ini itu mereka pulang dan berjalan beriringan dengan posisi Arkhan yang berada di tengah tengah kedua gadis itu.


"Ahhh berasa jalan dengan dua istri, enaknya kalau bisa akur begini." tawa Arkhan.


"Ishhh ngak sudi ya." Shafa berpindah jalan di samping Naya yang tertawa melihat tingkah adik angkatnya itu.


"Loh iya dong, tadi kan abang udah beli cincin untuk kalian berdua." menaik turunkan alisnya.


"Shafa pulangin lagi deh, Shafa mana mau


berbagi suami ngak ya."


"Tapi Naya mau kan." tawa Arkhan.


"Ngak apa apa deh, aku jadi istri kedua saja Shafa istri pertamanya hahahah." canda Naya.


"Ahhh kakak, ngak mau ya ishhh, Shafa ngak


mau rebutan laki-laki ogah Shafa."

__ADS_1


"Kok rebutan kan mau sama mau." goda Arkhan.


"Mau apanya ?, mau di mutilasi ?." hardik Shafa.


"Jadi Shafa ngak mau madunya kakak ya, kita kan sudah seperti saudara." pura pura sedih.


"Justru karna saudara makanya tidak boleh saling menyakiti kak, udah deh Shafa sumbangkan bang Arkhan untuk kakak aja ya, Shafa mah ogah punya suami bang Arkhan yang ada Shafa pasti naik darah tiap hari karna suka cari gara gara." tawa Shafa nyaring.


"Sumbangkan dek ?? tega ya kamu, emang abang sapi buat daging qurban." melambaikan tangannya alay.


Hahahah serentak kedua gadis itu tertawa.


Setelah selesai dari Mall mereka benar benar menuju pantai, hari yang sudah sore membuat Shafa ingin dekat dekat dengan ombak, gadis itu berjalan sendiri menikmati pemandangan pantai yang sangat indah.


Para bodyguard terus mengawasi tidak jauh darinya, sementara Naya dan Arkhan duduk berdua di temani Niken.


"Maaf mas Arkhan, benar mas Arkhan akan menikah." tanya Niken hati hati.


"Iya .. kenapa ?."


"Ahhh ngak mas, cuma mau tau saja." tersenyum kecut ke arah laki-laki itu.


Pandangan mata Niken kini mengarah pada nonanya yang tampak sedang asik berjalan di pinggir pantai , namun terlihat gadis itu berjalan seperti sedang memikirkan sesuatu, karna ia terus saja berjalan makin menjauh dari mereka semua, dengan langkah pelan dan seperti tampa semangat.


"Kasian kamu dokter Jones, sebentar lagi nona benar benar akan menikah, andai waktu itu dokter tidak menyerah nona pasti akan menikah dengan dokter, sekarang mau bagai mana lagi." gumam Niken dalam hati.


Sementara itu dari kejauhan tampak dua pasang mata sedang memperhatikan gerak gerik Shafa, sebenarnya dia sudah mengikuti mereka sejak di Mall tapi dia hanya mengikuti saja tampa berani mendekati.


"Gils.. apa dia benar benar orang yang terbaik buat kamu, apa kamu juga menyukainya, tadi dia bahkan membelikan kamu cincin ya ?? hmmm jadi Cincin ini yang sudah lama ku beli untukmu mau aku kemanakan gils, aku membelinya sudah sangat lama sejak aku menyukai dan mencintai mu sayang." gumam Jones memandangi Shafa dari dalam mobil mewahnya.


*****


"Apa papa abang menikah ??." tanya Shafa terkejut.


"Iya kak, tentu saja bahkan waktunya tidak lama lagi, tinggal lima hari lagi, jadi kakak harus siap siap ya." jawab Johan tersenyum bahagia.


"Tapi papa, itu terlalu cepat, bagai mana persiapannya."


"Masalah itu sudah papa suruh Uncle Robby mengurusnya." berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke taman belakang, karna saat ini mereka sedang duduk bersama di ruangan keluarga.


Shafa diam, otaknya berputar putar memikirkan banyak hal, hingga suara Zahra


mengejutkannya.


"Besok kalian ke butik Aunty Sella ya, buat fitting baju untuk pernikahan." menepuk pundak Shafa pelan kemudian ia menyusul sang suami ke taman belakang untuk makan buah bersama.


Shafa bungkam, di tatapnya orang orang yang satu persatu meninggalkan dirinya, Arkhan dan Naya di sana.


"Iya dong, masa untuk masalah begitu om bercanda sih dek." mengedipkan matanya.


Duar... jantung Shafa ingin melompat keluar dari tempatnya, bagai mana mungkin papanya akan menikahkan dirinya dengan Arkhan, Arkhan orang yang ia anggap seperti abang sendiri, saudara sendiri.


"Mau kemana dek ?." tanya Arkhan melihat Shafa yang bangkit dari tempat duduknya.


"Mau ke atas bang, maaf ya Shafa tinggalkan sama kak Naya, Shafa lupa harus menghubungi teman kuliah Shafa ada yang mau kami diskusikan." ucap Shafa lalu tampa menoleh ke arah Arkhan dan Naya gadis itu pergi begitu saja.


Arkhan dan Naya saling pandang dan saling lempar senyum melihat Shafa yang pergi meninggalkan mereka berdua.


"Sepertinya dek Shafa marah ya bang ?." Naya.


"Tidak dek, Shafa cuma terkejut saja." Arkhan.


"Apa tuan besar tidak mengatakannya sebelumnya bang, kasian juga dek Shafa padahal di hatinya ada orang.." Naya menutup mulutnya.


"Ada orang lain begitu ?." senyum Arkhan.


"Ehhh iya.. eh ngak bang." gugup.


"Shafa tidak tau apa itu cinta, dia tidak bisa membedakan mana cinta, sayang, hormat dan rasa kagum, jadi belum tentu Shafa menyukai laki-laki itu, jadi ngak apa apa dong."


Naya menarik napas dalam dalam apa yang di katakan Arkhan ada benarnya Shafa memang tidak tau kata cinta, sayang dan dia tidak bisa membedakannya.


Shafa duduk sendiri di kamarnya, ia duduk miring di samping jendela kaca kamarnya, pandangan matanya tertuju pada papa mamanya yang sibuk bercerita tertawa dan saling menyuapi buah sangat romantis.


Dia lalu membayangkan kalau dia menikah dengan Arkhan.


"Bang.. tolong ambil kan buahnya dong."


"Ambil sendiri, adek kan punya tangan wekk." ejek Arkhan berlalu pergi dan tidak perduli.


"Abang jahat." teriaknya sambil berlari mengejar Arkhan dengan sapu.


"Hahahaha baru sadar ya kalau abang jahat." berlari menjauh dari kejaran Shafa.


"Aishhhhh Astagfirullah halazimm ya Robbi, kok Shafa mikir gitu sih hahhhh ampun ya Allah." menepuk nepuk pelan kepalanya sendiri, sambil menggeleng gelengkan kepalanya berulang kali.


"Papa dan mama saling sayang apa Shafa ngak bisa seperti itu, hahhh andai Uncle yang jadi suami Shafa Uncle pasti baik seperti itu ke Shafa kan." bertanya pada dirinya sendiri.


Keesokan harinya.


"Kakak.. kok belum siap siap nak." tanya Zahra yang datang tiba-tiba ke kamar anak perempuannya itu.


"Ehh mama, siap apa ma." menunduk.

__ADS_1


"Siap ke butik Aunty Sella dong kak, kan mau fiffing baju." duduk di samping sang putri yang duduk diam sambil menekuk tubuhnya di sopa kamarnya.


Zahra curiga kenapa putrinya itu menunduk saja sejak tadi, setiap bicara tetap menunduk, pelan pelan di angkatnya wajah sang putri.


"Yaa Allah kak, kenapa mata kakak bengkak


begini kakak habis nangis ya hmm." membelai lembut rambut panjang putrinya itu.


"Mama..." menghambur ke pelukan sang


mama.


"Kenapa sayang, katakan pada mama."


Shafa diam, ia tidak berani mengatakan apa yang ada di dalam hati dan pikirannya, ia hanya bisa menangis sesegukan di pelukan sang mama.


"Katakan nak, Shafa kok nangis."


"Mama.. boleh ngak Shafa.." ragu.


"Katakan sayang, mama akan dengarkan."


"Papa tidak akan marah sama Shafa kan ?."


"Loh kenapa marah, ngak dong sayang, kalau papa marah mama yang akan menjadi lawannya." tersenyum lembut.


"Shafa taun papa sayang pada Shafa sehingga papa ingin yang terbaik buat Shafa tapi mama, Shafa tidak mau.." menggantung kata katanya.


"Tidak mau apa ?."


"Shafa tidak mau menikah dengan bang Arkhan mama, Shafa sudah anggap bang Arkhan seperti saudara Shafa sendiri ma." tangisnya.


"Ohh lalu Shafa kok ngak nolak kemarin pas papa bilang akan menikahkan kalian?."


"Shafa pikir papa ngak serius."


"Hmm gimana dong, waktunya tinggal lima hari lagi mana mungkin di batalkan papa pasti malu kalau itu terjadi, lagi pula papa melakukannya semua untuk kebaikan kakak."


"Tapi Shafa ngak mau kalau abang jadi suami Shafa mama kami pasti berantem terus tiap hari." makin menangis.


"Lalu kakak mau nikah sama siapa ?, Uncle


Jones kakak suka sama Uncle." tembak Zahra.


"Iya.. ehh bukan mama, kan Uncle juga menolak Shafa huaaaa." tangis Shafa makin jadi.


Zahra menarik napas dalam dalam, ia terdiam


dan masih memerluk putrinya itu.


"Brengsek lu Jones, gara gara lu putri gua menangis, kali ini gua pastikan lu yang akan menangis." geram Johan mengepalkan tangannya kuat kuat, ia yang sejak tadi berdiri tak jauh dari mereka tentu mendengar setiap pembicaraan anak dan mama itu.


Zahra menoleh pada Johan menatap sang suami dengan ekspresi memelas, namun Johan memberi kode agar Zahra terus mengajak putrinya itu berbicara.


"Padahal papa yang bilang kalau Uncle suka dan sayang sama Shafa lalu kenapa Uncle bilang ke papa suruh nikahkan Shafa sama orang lain, Shafa ngak pantas buat Uncle ya, Uncle nyesal suka sama Shafa ?." tanya gadis itu polos.


"Mama tidak mengerti sayang, mama sih semuanya terserah kakak, andai kakak ngak mau menikah dengan Arkhan mama juga ngak bisa apa apa, mama tetap berharap yang terbaik untuk Shafa, mama tau pilihan papa itu pasti berat buat kakak tapi Arkhan bukan Rafa nak, kakak sudah kenal Arkhan sejak lama."


"Shafa tau mama, Shafa cuma terkejut saja dan belum siap mama karna setau Shafa bang Arkhan juga menganggap Shafa adiknya."masih menangis di dalam pelukan Zahra, karna itu ia tidak menyadari kehadiran sang papa di antara mereka.


"Kakak dengarkan papa nak." ahirnya Johan


bicara dan duduk di antara mereka.


Shafa terkejut, lalu ia melihat ke arah Johan yang sudah duduk di sampingnya, kemudian dengan lembut dan penuh kasih sayang Johan membujuk dan mengatakan alasan pernikahan yang tinggal beberapa hari lagi itu.


Awalnya Shafa bingung dan tidak mau tapi pada akhirnya ia menurut apapun yang di minta oleh sang papa.


***********


Maaf ya guis aku off dua hari maklum anak sekolah aku lagi ikut ujian hehehe


****


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


💝 LIKE


💝 RATE


💝 VOTE


💝 HADIAH yang banyak


💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2