
Axton memandang lemas sosok yang terbaring lemah di atas tempat tidur ruang ICU rumah sakit terkenal di pusat kota Jakarta itu.
Dia di temani dokter Ryan dan dokter Anton di dalam ruangan intensif itu, dua kawannya itu masih belum menyangka kalau Jones masih memiliki ayah.
Karna selama ini mereka taunya Jones hanya bersama mama Dara saja, dan Jones pernah mengatakan dia tidak tau siapa ayahnya dan dimana.
Namun di saat mereka bertemu kondisi nya malah sangat mengkhawatirkan, meski belum tau siapa Axton sebenarnya tapi mereka yakin laki-laki itu bukan orang sembarangan karna dia di kawal beberapa orang di sekelilingnya.
"Bagai mana kondisi putra saya, tuan tuan." Axton menatap kedua dokter di dekatnya.
"Jangan panggil tuan pak, panggil saja nama kami saya dokter Ryan dan ini kawan saya dokter Anton, kami teman sejak lama." dokter Ryan.
"Baiklah dokter Ryan saya ingin tau kondisi Jones." Axton.
"Begini pak luka di kepala Jones cukup dalam dan panjang sepanjang perban yang membalut lukanya, dan perdarahan banyak, karna ada urat saraf dan vena yang putus tapi sudah di atasi." dokter Ryan.
"Hanya saja karna lama baru mendapat kan pertolongan Jones kondisi Jones jadi kritis seperti sekarang, dia sepertinya menolak untuk sembuh dan menolak hidup, dia benar benar putus asa tidak bisa bersama nyonya muda." dokter Anton.
"Hahhhh kenapa sampai bertindak begitu nak, maafkan Daddy karna terlambat datang, kalau Daddy cepat Daddy akan membantu mu membawa Shafa, dia wanita yang sangat baik, sangat cantik lembut dan manja." Axton menggenggam tangan putranya sembari menyalurkan kekuatan dari sana.
Axton keluar dari dalam ruangan karna harus bertemu seseorang di luar, lagi pula di dalam ruangan ICU memang keluarga atau pengunjung tidak boleh berlama lama.
Jack, Piyo dan istri Jack terkejut saat kembali dari mesjid rumah sakit untuk menunaikan sholat isya melihat orang orang berseragam serba navy yang lebih Bingung lagi mata mereka berwarna biru.
Gagah dan tampan tampan tapi sangar, mereka berjalan mendekat ke arah para pengawal itu.
"Kak .. siapa mereka ya, kok berdiri di depan kamar kak Jones." Piyo.
"Kita sama sama tidak tau siapa mereka karna itu kita tanya dulu." Jack.
Pintu ruangan Jones terbuka dari dalam muncul sosok pria separuh baya dengan wajah lusuh namun yang membuat Jack serta kedua orang lainnya tambah bingung begitu melihat wajahnya.
"Kak Jones.." panggil Piyo dengan wajah bodoh.
"Loh kakak Jones kenapa tiba tiba jadi tua begitu keluar dari ruangan itu." Istri Jack melonggo.
"Kok jadi tua." Jack.
Laki-laki itu menatap ketiga orang yang memanggilnya Jones, dari bibirnya muncul senyum yang juga mirip senyum Jones.
"Kak Jones.." panggil Piyo lagi.
"Siapa kalian, apa kalian teman putra saya Jones." Axton menghampiri ketiganya dengan senyum ramah.
"Putra..mak..maksudnya ?." Jack.
"Ya Jones putra saya, baru hari ini saya bertemu tapi kondisinya malah seperti itu, hmmm." Axton menghela napas panjang.
"Jadi bapak ..ayahnya kak Jones ?." tanya Piyo memastikan kalau tidak salah dengar.
"Iya.. menantu saya Shafa yang memberikan informasi kalau saya punya seorang putra di negara ini, oke siapa kalian ini." Axton.
"Permisi tuan ku, ada panggilan dari tuan Johan." seorang pengawal datang menghampiri Axton dia menunduk dan berkata sopan serta hormat. ( bahasa inggris ) maaf author tidak bisa bahasa inggris ye.
"Baik, maaf saya angkat telepon dulu." pamit Axton meraih benda pipih dari tangan ajudannya.
"Hallo tuan Johan, apa kabar." sapa Axton.
"Tuan Axton bisakah saya minta tolong pada anda, putri saya sejak tadi menanyakan anda terus dan ingin makan masakan anda."
Johan terpaksa merendahkan dirinya meminta bantuan Axton demi putri sulungnya itu, hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya pada orang lain apa lagi pada orang yang baru ia kenal.
__ADS_1
"Ya..ya tuan Johan tentu saja, saya akan kesana sebentar lagi." panggilan terputus.
Namun sebelum pergi ia menyempatkan diri menemui seseorang di ruangan lain rumah sakit itu, setelah berpesan pada para bodyguar untuk mengawasi dan memantau kondisi Jones laki-laki itu pun pergi menuju rumah besar.
Jack dan istri serta Piyo yang ingin bertanya banyak hal pada Axton menjadi Bingung karna langsung di tinggalkan begitu saja tanpa menoleh pada mereka, menyisakan banyak pertanyaan dan penasaran yang dalam di hati mereka.
Setelah yakin Shafa tidur dan sudah tenang Axton kembali kerumah sakit, sebenarnya Johan sudah menawarkan agar menginap di rumahnya tapi Axton menolak.
Ia lebih memilih menginap di ruang tunggu rumah sakit yang sudah di siapkan untuknya secara khusus.
Satu kamar mewah dengan pasilitas mewah, Johan memerintahkan kepercayaannya untuk menyiapkan kamar khusus itu secara langsung agar Axton merasa nyaman di sana menemani putranya.
Kamar tempatnya beristirahat hanya di pisahkan dinding saja, sehingga ia mudah keluar masuk ke ruang tempat Johan di rawat.
Pukul lima pagi itu semua anggota keluarga Wu sudah selesai melakukan sholat subuh berjamaah, namun tiba tiba seorang maid datang tergopoh gopoh menemui Johan.
"Tu..tuan.." panggilnya takut takut.
"Ada apa, kalau tidak lihat kami baru selesai Sholat." jawab Johan dingin.
"Maaf tuan, ada panggilan dari rumah sakit, penting." jawab maid itu gugup.
Deg..
Deg..
Baik Johan maupun Zahra sama sama memegang dadanya, Johan langsung berdiri namun Zahra tetap berusaha tenang.
Di bantunya Janeet membuka mukena lalu ia menyuruh salah seorang pengasuh gadis kecil itu untuk membawanya kekamar pribadinya.
"Ma.. siapa yang di rumah sakit kenapa papa seperti kebingungan ya." tanya Shafa memperhatikan wajah Johan yang tiba tiba berubah pucat.
"Ahh ngak apa apa kak, kakak ganti mukenanya ya." membantu Shafa melepaskan mukena dan melipatnya.
Zahra menganguk lalu berjalan mendekat dari raut wajah Johan tampak lain, hati Zahra semakin berdebar tidak karuan.
"Ko.."
"Yangk..ayo bawa kakak kerumah sakit, Jones..Jones."
"Ada apa ko, jangan buat bingung, siapa yang menelphon koko." setengah berbisik karna mereka tidak begitu jauh dari musholla tempat mereka sholat tadi, apa lagi Shafa memperhatikan gerak gerik mereka berdua.
"Tuan Axton menghubungi kondisi Jones semakin buruk, kata tuan Axton bawa kakak kesana, mungkin mungkin.. siapa tau ingin melihat Jones untuk terahir kalinya." jawab Johan gugup.
Hatinya juga hancur saat berkata begitu tadi saat Axton mengatakannya Johan sempat meninggikan suara karna tidak yakin dengan pendengarannya sendiri.
Meski membenci Jones bukan berarti dia senang mendengar menantu, sahabat nya itu sekarat, dan mungkin sudah tidak lama lagi di dunia.
"Apa ko.." ucap Zahra setengah berteriak.
"Cepatlah yank, mobil sudah di siapkan kita pergi begini saja, ingat jangan panik, nanti kita katakan pada kakak di mobil atau di rumah sakit." Johan.
"Ba..baik ko." Zahra berjalan cepat ke arah Shafa, semua orang tampak kebingungan terutama Shafa sendiri.
"Kenapa ma." tanya Shafa dengan hati yang tiba tiba terasa sakit.
"Ayo ikut mama dan papa nak." membantu Shafa berdiri.
"Kemana ma, Shafa ganti baju dulu."
"Ikut aja dulu nak, ngak usah ganti baju, Niken ambil niqab kakak."
__ADS_1
"Kenapa nak." tanya Daddy Wu, dia membaca gelagat tidak enak dari anak serta menantunya itu.
"Nanti di kasih tau koko ya Daddy, kami berangkat dulu." Zahra menggandeng tangan Shafa.
"Baik nak, segera hubungi kami."
"Iya Daddy, kami permisi Assalamualaikum wrwb." Zahra.
"Waalaikumsalam wrwb." Daddy, Mommy.
Johan sudah berada di dalam mobil menunggu kedua wanita kesayangannya itu, dengan hati masih berdebar Johan membantu Shafa masuk kedalam mobil.
Shafa duduk di antara mama serta papanya, kedua orang tua itu sama sama membisu tidak tau harus menjawab apa di setiap pertanyaan Shafa.
"Kenapa papa, kenapa mama kemana kita pergi, kok hati Shafa ngak enak ya."
"Ngak apa apa nak, Shafa yang kuat ya, dan Shafa harus sabar." ucap Zahra menggenggam tangan kanan Shafa.
"Maksud mama apa ?."
"Enghhhh.. itu, anu .." Zahra tidak berani menjawab, begitupun Johan.
"Kenapa sih ma, pa." makin bingung melihat tingkah aneh mama, papanya.
"Nanti saja kalau sudah sampai di sana ya kak, sekarang kakak sabar dulu ya, sebentar lagi kita sampai." jawab Johan ikut menggenggam tangan kiri Shafa.
Tak lama setelah berkata begitu mereka pun sampai di halaman dan pintu utama rumah sakit mewah milik keluarga Wu dan tempat Jones bekerja.
"Kenapa ke sini papa, ada apa ?, siapa yang sakit mama."
"Ayo turun dulu kak." ucap Zahra dengan suara berat tercekat di tenggorokan.
"Kok hati Shafa ngak enak banget ya, seperti ada yang mau hilang dari diri Shafa, ngak enak banget lo ma."
Zahra tidak menjawab, air matanya hampir mengalir, Johan juga tidak berkata apa apa, mereka mengalit Shafa berjalan sedikit cepat memasuki rumah sakit itu.
Shafa terus bertanya dia mulai kesal pada mama dan papanya karna tidak satupun pertanyaan darinya yang di jawab memuaskan, sampai mereka tiba di depan ruangan.
"Siapa yang ada di dalam ma, papa." tanya Shafa bingung.
Di depan pintu banyak sekali bodyguard Axton berdiri sembari siaga, di sebelah kiri pintu tidak jauh dari para bodyguar ada Jack, Piyo, Nayla istri Jack bahkan mama Dara juga ada di sana.
"Aa.." gumam Shafa pelan dan lemah.
☘☘☘☘☘☘
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
☘ LIKE
☘ RATE
☘ VOTE
☘ HADIAH yang banyak
☘KOMEN yang sebanyak banyaknya.
__ADS_1
Wo Ai Ni all..
Happy Reading.