UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
92. My wife


__ADS_3

Rasa bahagia teramat dalam di hati Jones sehingga ia tidak dapat memejamkan mata semalaman, ia terus saja memandangi wajah cantik dan molek wanita yang beberapa jam lalu resmi dan sah menjadi istrinya.


Rasa syukur terus terucap dari bibir dan hatinya, ahirnya wanita yang ia idam idamkan dan ia perjuangkan dengan segenap jiwa raga bisa ia miliki seutuhnya meski harus mempertaruhkan nyawanya beberapa kali.


Malam Jones benar benar mengajak istrinya begadang sampai pagi, Mereka mulai melakukan dari jam dua puluh tiga lewat tiga puluh menit hingga hampir pagi.


Jones baru berhenti hampir jam lima pagi, tiga kali Jones melakukannya dengan sang istri, dan Shafa hanya bisa menuruti kemauan Jones dia membiarkan suaminya itu melepaskan hasratnya pada tubuhnya meski ia merasa sakit tapi karna Jones terus meminta dia pun pasrah.


Shafa langsung tertidur begitu Jones selesai pada dirinya, melihat istrinya tidur Jones ikut tidur tapi hanya sebentar hanya tiga jam saja ia sudah bangun karna ia merasa terganggu dengan pergerakan istrinya di bawah selimut yang memancing hasratnya bangkit lagi.


"Sayang, bangun dong pulas banget tidurnya, kamu memancingnya yangk." bisik Jones lembut di telinga Shafa.


Karna tidak ada respon dari sang pujaan hati membuat Jones gemas, ia memeluk tubuh istri kecilnya itu, lalu menciumi berkali kali tapi Shafa masih lelap juga.


"Sepertinya aku akan bekerja sendiri nih." tawa Jones geli sendiri memikirkan saat ia menginginkan istrinya tapi malah pulas padahal sudah di ganggu sedemikian rupa.


Awalnya Shafa tidak terganggu tapi begitu merasakan tubuhnya bergerak tidak beraturan sontak Shafa terkejut, bola matanya langsung melotot sempurna.


"Uncle.." panggil Shafa dengan suara khas bangun tidur, tubuhnya terasa berat dan sakit.


"Emghhh sayang ahirnya kamu bangun juga hmm." suara serak Jones membuat Shafa bingung.


" Uncle ngapain ?." tanya Shafa bingung, ia heran melihat Jones yang berkeringat dingin dan sedang bergerak tak karuan di atasnya.


"Mmhhh ngapain lagi yangk, bercocok tanam kayaknya ." jawab Jones kesal karna kepolosan sang istri, sudah jelas Jones sedang berjuang dengan napas seperti di kejar serdadu perang masih bertanya pula.


Satu jam lebih Jones melakukannya hingga ia ahirnya melepaskan hasratnya, senyum Jones makin melebar tak tahan melihat mata Shafa yang berkedip kedip kebingungan.


"Uncle bercocok tanam, di mana."


"Di sini sayang." mengelus perut rata Shafa.


"Hahhh kok di perut Shafa Uncle, emang sawah." marah Shafa dengan bibir mengerucut.


Hahahahaha


Jones berusaha mengatur pernapasan nya yang masih tersengal sengal, ia tersenyum bahagia menatap wajah Shafa yang lucu saat terkejut di bangunkan dengan cara aneh dan kebingungan mendengar kata kata bijak Jones yang sulit untuk Shafa pahami.


"Bukan sawah sayang, tapi tempat bibit cinta di tanamkan." ucapnya mencium kembali seluruh permukaan wajah Shafa.


"Shapa makin bingung, Shafa ngak ngerti Uncle ngomong apa."


"Sudah jangan bingung yangk, nanti kamu juga akan mengerti sendiri."


Berlahan lahan Jones turun dari atas Shafa, kemudian ia tidur miring di sisi Shafa lalu memeluk erat tubuh Shafa.


Jones membelai rambut panjang Shafa rasa bahagia di hatinya tidak bisa ia ucapkan dengan kata kata, berulang kali Jones mencium seluruh wajah Shafa sebagai tanda cinta dan kasihnya yang teramat besar pada sang istri.


"I love you sayang ku."


Henghhhh..


"Uncle jam berapa, kita belum Sholat subuh." ucap Shafa yang tidak tau waktu ia lalu menyusup di dada Jones.


"Ehhh sayang, ini sudah jam delapan kurang, waktu subuh sudah lama berlalu, maaf sayang kita melewatkannya." sesal Jones melihat jam di atas nakas di samping tempat tidur.


"Kok Uncle ngak bangunkan Shafa."


"Maaf sayang aku juga ketiduran."


Shafa kesal pada dirinya sendiri dan ia juga merasa bersalah sebab tidak bangun padahal sudah menjadi kebiasaannya bangun pagi saat subuh datang.


Tubuh Shafa terasa pegal dan karna masih mengantuk ahirnya ia tertidur lagi, di susul

__ADS_1


Jones ikut pulas di sisinya.


Jam sepuluh lewat empat puluh menit di pagi menjelang siang Jones terbangun lagi, ia melihat wanita yang teramat di cintainya itu masih terlelap dalam pelukannya.


Sejenak ia memperhatikan wajah polos dan cantik sang istri, pelan pelan ia menciumi berkali kali wajah Shafa.


"Rasa sayang dan cintaku semakin besar padamu sayang, setiap hari makin tumbuh subur, aku tau rasa itu belum tumbuh di hatimu, tapi aku akan membuatnya berlahan lahan tumbuh dan berkembang di dalam hatimu my wife." gumam Jones pelan.


Setelah mencium bibir Shafa sekilas Jones menyelimuti tubuh polos istrinya itu sampai sebatas leher setelah itu ia pun turun dari atas tempat tidur.


Jones masuk kamar mandi dan mandi, kemudian setelah selesai ia keluar kamar mandi memakai handuk di pinggangnya, ia melihat sebentar ke arah tempat tidur istri cantiknya masih terlelap.


Jones memakai baju, kemudian ia keluar kamar menuju dapur setelah mencuri morning kiss sang istri, Jones masuk ke dapur mewah miliknya dan istrinya kini, ia mencari cari sesuatu yang akan ia masak di dalam kulkas, tapi alangkah kesalnya ia saat melihat isi kulkas yang hanya ada telor dan minuman dingin lainnya.


"Sial, gua lupa belanja." umpat Jones, niat hati ingin memasak di hari pertama mereka bangun sama untuk sang istri malah persediaan kulkas kosong.


Jones memasak nasi lebih dulu, kemudian ia menghubungi Reza agar mengantarkan beberapa sayuran yang ia butuhkan, sambil menunggu reza ia kembali ke kamar untuk membangunkan istrinya.


"My wife.. bangun honey, bangun mandi biar kita makan, ini udah siang honey." bisik Jones di telinga sang istri.


Ia menciumi seluruh wajah cantik Shafa, kemudian ia memeluk tubuh itu dari balik selimut yang di pakai Shafa.


"Sayang ku, cintaku bangun, cup..cup..cup."


"Enghhh Shafa masih ngantuk."


Kraukkk....


Jones tertawa mendengar suara merdu dari dalam perut sang istri, Shafa membuka matanya ia terkejut mendapati wajah Jones tepat di depan matanya.


"Uncle, jangan dekat dekat."Shafa mencium aroma wangi pada tubuh sang suami, ia tau percis pastinya suaminya itu sudah mandi, sementara ia sendiri masih lusuh, kusut dan berantakan.


Sungguh tidak adil, dia serasa layu bagai bunga yang di hisap sari madunya, sementara sang suami sudah rapi dan sangat tampan.


"Kenapa tidak boleh sayang, kamu masih malu hmmn" goda Jones.


Shafa memukul pelan dada Jones yang memeluknya dengan sangat erat, laki laki itu tertawa mendapatkan pukulan kecil dari tangan sang istri.


Berlahan Jones duduk, ia lalu turun dari atas tempat tidur, ia mengulurkan tangan untuk membantu Shafa bangkit dari tempat tidur dan berniat membawa sang istri ke kamar mandi.


"Ayo yangk, aku bantu ke kamar mandi, sekalian aku mandikan ya"


"Ngak, Shafa mandi sendiri." mencoba bangkit.


"Sayang suami gendong ya, kamu ngak akan kuat jalan ke sendiri ke sana honey." bujuk Jones.


"Ngak apa apa." berusaha bangkit namun tidak sanggup, badannya terasa sakit semua terutama di bagian bawah.


"Uncle.." cicit Shafa tidak berdaya.


"Kan sudah aku bilang sayang, kamu ngak kuat , aku gendong ya yangk."Jones memeluk istri nya itu dengan mesra.


Shafa masih dalam selimut menutupi seluruh tubuhnya yang polos tampa busana, Jones dengan penuh kasih sayang berusaha menenangkan Shafa.


Jones meraih selimut tipis yang ada di atas tempat tidur untuk menutupi tubuh istrinya kemudian ia gendong ke kamar mandi.


"Sayang aku sudah siapkan air hangat lengkap dengan aroma terafy untuk kamu berendam, biar tubuh kamu yang pegal dan sakit berkurang."


Henghhhh..


Berlahan Jones menurunkan istrinya di bawah shower, kemudian ia atur suhu air agar hangat, sebelum istrinya masuk kedalam bathtub terlebih dulu ia minta Shafa mandi di bawah Shower.


"Baca doanya sayang." ucap Jones lalu membuka kran air hangat pelan.

__ADS_1


Meski Shafa masih malu mandi di depan Jones tapi Jones tetap memaksa untuk memandikan istrinya itu, dan dengan terpaksa Shafa harus pasrah dan menurut apa kata sang suami.


Setelah mandi niat Jones mengangkat tubuh Shafa yang berbalut selimut tipis berwarna putih itu kedalam bathtub, sebelum Jones pergi laki-laki itu terlebih dulu membuka dan menarik selimut itu dari tubuh istrinya.


"Jangan Uncle." tolak Shafa mempertahankan selimut tetap melekat pada tubuhnya.


"Masa berrendam pakai selimut sih sayang, ngak apa apa kan di dalam bathtub, ngak terlihat juga."senyum Jones tetap menarik selimut dari tubuh Shafa.


Shafa pasrah lagi.


"Honey.. aku keluar sebentar ya, mandinya jangan lama lama sayang, nanti kamu masuk angin oke my wife."


Henghhhh..


Sebelum Jones keluar dari dalam kamar mandi ia menyempatkan diri menggoda sang istri ia memijit pelan pundak dan punggung Shafa, kemudian pindah ke tangan secara bergantian lalu ke kaki dan paha Shafa membuat Shafa mendorong tubuh Jones karna tidak tahan dan merinding pijit di bagian pahanya.


"Jangan Uncle, geli."


"Geli geli enak kan sayang." goda Jones.


"Uncle ihhh."


"Sayangku."


Jones mencium bibir Shafa lembut, senyumnya kembali mengembang setelah berhasil menggoda dan menggangu sang istri, wajah Shafa merona sempurna akibat ulah Jones.


"Uncle.., keluar, Shafa mau mandi." cicitnya.


"Baiklah nyonya ku, mandilah aku akan keluar." Jones kembali mencium bibir Shafa dan memagut bibir candunya itu pelan, Shafa masih belum bisa membalas ciuman suaminya itu dia hanya diam membiarkan Jones melakukan apapun pada bibir **** dan munginya.


"Aku tunggu di ruang makan ya sayang, ingat jangan lama lama berendamnya hmm."


Henghhhh..


Jones keluar dari kamar mandi sambil menutup pintu, kemudian Shafa memejamkan matanya menikmati aroma terafy dan kehangatan air di dalam bathtub.


Laki-laki itu berjalan ke tempat tidur mereka yang masih berantakan, di sibaknya selimut dan bantal yang tidak beraturan, senyum Jones mengembang melihat bercak darah yang tidak beraturan di atas tempat tidur yang di lapis seprey warna putih gading kombinasi kuning itu.


Jones takut istrinya melihat bercak darah yang ada di sana, ia lalu membuka alas tempat tidur itu melipat rapi dan menyimpannya ke sebuah kotak kayu yang sangat indah dan unik.


Kotak kayu itu ia simpang pula di laci lemari khusus, sebelum istrinya selesai dari kamar mandi ia sudah memasang alas tempat tidur dengan bahan dan warna yang sama.


Saat Jones memasang seprey ia melihat bercak darah tembus sampai ke kasur mereka, laki-laki itu kembali tersenyum.


"Terima kasih sayang, kamu membuat ku menjadi laki-laki yang paling beruntung di dunia ini, dan aku laki-laki yang paling bahagia karna sudah memiliki mu." gumam Jones.


******


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


☘ LIKE


☘ RATE


☘ VOTE


☘ HADIAH yang banyak


☘KOMEN yang sebanyak banyaknya.

__ADS_1


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.


__ADS_2