UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
152. Bayi Panda.


__ADS_3

Tidak sampai satu kali dua puluh empat jam sepasang Bayi panda berhasil di dapatkan oleh Johan meski bukan bayi panda yang Shafa mau, karna tidak berhasil bernegoisasi dengan pihak pemerintah negara penghasil panda cantik itu.


Awalnya Shafa menolak bayi panda yang di dapat Johan tapi karna bujuk rayu satu rumah ahirnya Shafa menurut.


Panda panda cantik beserta pengasuhnya kini sudah menghuni halaman belakang rumah mewah itu.


Sebelum berangkat Johan sudah memerintahkan Robby untuk membuat kandang besar beserta alat bermain panda di dalamnya.


Di dalam kandang bahkan di buat pohon pohon rindang yang tidak terlalu besar, asli pohon bukan pohon buatan.


Shafa masih tertidur pulas ketika Zahra dan Johan masuk kekamar putri kesayangannya itu, Wajah Shafa yang tampak teduh dan pucat tertidur lelap sambil memeluk coat yang di berikan Jones pada saat mereka bertemu.


Johan menatap putrinya itu dengan rasa iba, dia tau Coat yang di peluk Shafa adalah Coat suaminya tapi dia pura pura tidak tau.


"Kalau lu tidak meninggalkan putri gua dalam keadaan terluka waktu itu mungkin gua tidak akan sedendam ini pada lu Jones, gua akui gua kejam tapi semua karna salah lu, dan gua sulit memaafkan lu karna itu, kalau cuka karna lu membentak putri gua mungkin masih bisa gua tolelir karna walau bagai manapun aduan mama lu wajar lu tanggapi, tapi tidak seharusnya lu langsung bertindak kasar tanpa menyelidiki terlebih dulu." gumam Johan dalam hati.


Zahra duduk di sisi tempat tidur dan berusaha membangunkan Shafa, sedang Johan berjongkok searah kepala Shafa di sisi tempat tidur, tangan kanannya membelai kepala Shafa penuh kasih sayang, kasih sayang ayah pada putrinya.


"Lu tau Jones hati gua hancur ketika gua melihat Cctv gua sakit ketika lu menunjuk nunjuk putri gua lalu memaki putri gua kasar, gua tidak terima, asal lu tau gua berikan putri gua pada lu karna gua percaya lu mampu menjaga dan menjadikan putri gua ratu di hati dan di rumah lu, tapi lu mengecewakan gua Jones." gumam Johan lagi.


"Meski lu tidak ada di sisi putri gua, gua dan semua keluarga gua akan menjaga putri gua, lebih baik dari lu dan apa pun yang putri gua mau gua akan turuti meski harus mencarinya keujung langit sekalipun." Johan membelai kepala putrinya itu.


Zahra memperhatikan gerak gerik Johan, ada genangan air mata di sudut mata laki-laki itu, meski Johan keras dan arogant tapi kalau sudah masuk kedalam rumah dan berkumpul dengan keluarga dia akan berubah lembut dan penyayang.


Terharu, tentu saja Zahra merasakan itu, begitu besar kasih sayang suaminya itu pada putri yang ia bawa putri yang bukan anak kandungnya, bukan darah dagingnya.


"Ko.. kakak masih tidur, pulas banget kasian nanti saja kita bilang pesanannya sudah datang." tegur Zahra melihat Johan yang termenung menatap putrinya.


"Tapi yank, dari semalam kakak belum makan karna nunggu koko bawa baby panda itu, sekarang koko sudah bawa cape cape masa iya baru bilang nanti, lagi pula koko mau lihat reaksi kakak gimana lihat pesanannya datang."


Zahra menarik nafas dalam dalam benar juga, dari semalam Shafa tidak makan, bahkan menunggu Johan datang sampai larut malam, sekarang keinginannya sampai malah tunggu nanti baru di kasih tau.


Tentu saja Johan tidak terima, jauh jauh membeli keinginan putrinya bahkan Johan mengeluarkan uang banyak serta melibatkan beberapa orang penting untuk meloloskan hewan lindung itu keluar dari negaranya sampai di rumah malah tidak di anggap.


"Kak..kakak..bangun nak, papa sudah sampai ni, ayo bangun.." panggil Zahra sambil menepuk nepuk tangan Shafa.


"Enghhhh papa, papa sudah pulang ?." tanya Shafa langsung bangun.


"Hmmm papa sudah pulang, malah boboknya pulas banget." rajuk Johan.


Bukannya menyapa sang papa, Shafa langsung turun dari tempat tidur, tanpa menggunakan hijab bahkan niqab wanita hamil itu berjalan cepat menuju tempat perkiraan hewan yang ia inginkan di tempatkan.


"Ehhh ehhh kak, bukan nya peluk papa bilang makasih malah lari." protes Johan, tapi tetap Saja Shafa tidak perduli.


"Yank.. kok putriku gitu sih sekarang ?."


"Koko pernah di usilin wanita hamil kan, di repotin, Shafa mau ngusilin dan ngerepotin siapa kalau bukan koko." hardik Zahra.

__ADS_1


"Hmm iya sih, sayang malah lebih ngeri ngidamnya." senyum senyum.


"Ooo ngeri ya." berkacak pinggang.


"Ehh maksudnya, ngidam mual muntah sampai hyperemesis berat maksud koko." langsung ngelendot seperti koala.


"Huhhh .. aku begitu karna siapa ?." cebik Zahra berjalan menyusul Shafa keluar dari kamar sang putri sambil membawa hijab dan niqabnya.


"Karna koko, koko yang buat sayang hamil, bahkan berkali kali." tawa Johan memeluk pinggang Zahra mesra, berjalan beriringan ke taman belakang.


"Kalau tidak mau di repotkan, biarkan kakak bersama suaminya." menatap Johan sinis.


"Tidak..tidak..tidak akan koko izinkan, kesempatan Jones sudah habis." marah Johan meski tidak kasar.


"Ko..sekarang ini kakak masih minta sesuatu yang bisa koko beli, bagai mana kalau kakak minta suaminya."


Johan diam, di gandengnya tangan Zahra tanpa kata, dia tidak mau menjawab pertanyaan Zahra laki-laki itu memilih diam.


Kedua orangtua itu menatap Shafa yang sibuk dengan mainan barunya, suara tawanya terdengar nyaring dan penuh kebahagiaan, dia ingin sekali menggendong bayi panda yang sedang minum susu di bantu oleh pengasuhnya yang sengaja di bawa dari negara รฝang sama.


Johan tersenyum bahagia melihat dan mendengar suara tawa anak perempuannya itu di peluknya Zahra dari belakang dahunya ia letakkan di atas bahu Zahra.


"Kenapa tidak dari kemarin kemarin kakak minta ini itu, kalau memang yang kakak mau, melihatnya tertawa begitu koko sangat bahagia, koko jadi ingat waktu kakak kecil dulu, cerewet, pintar dan lincah." memeluk pinggang Zahra.


"Wanita hamil itu mood mootan ko, hari ini mau ini, besok lain lagi, hari ini tertawa besok nangis."moodnya ngak terbaca.


"Ko.. ayo makan dulu, setelah itu istirahat, koko pasti masih cape."


"Cape koko amlas yank, terbayar dengan tawa dan senyum kakak." senyum Johan tetap memeluk Zahra.


"Kan sudah lihat, sekarang waktunya istirahat." menarik Johan meninggalkan tempat itu.


"Hmmm baiklah yank." mengalah lalu kakinya melangkah mengikuti sang istri.


"Apa itu Robby.."tanya Johan melihat Robby datang membawa tas plastik.


"Nasi goreng dan nasi padang pesanan nyonya Shafa bos." jawab Robby mendekat ke meja makan tempat Johan dan Zahra berada.


"Makan nasi goreng pagi, siang,malam ngak bosan ya, lagian lu beli di mana sih, kok putri gua suka banget gitu." tanya Johan.


"Ini beli di aplikasi bos, masakan rumahan kayaknya, karna waktu gua tanya resto mana katanya ngak buka, cuma delipery saja."


"Lu yakin makanan itu aman buat putri gua, lu sudah cari tau." Johan.


"Yakin lah bos, gua sudah suruh anak buah gua cari tau." jawab Robby sedikit gugup.


"Hmmm dan lu sudah tau dong tempatnya." tanya Johan sambil.mengunyah makanannya.

__ADS_1


"Tau bos..lu jangan kwatir makanan ini aman.".Robby menatap Zahra sekilas, sedang yang di tatap pura pura tidak tau.


"Oke .. lain kali gua mau berkunjung ke sana, atau lu bisa bawa dia kemari buat bantu koki, lu tawarkan sepuluh kali lipat dari gaji maid asal dia mau tinggal di sini, jadi tukang masak putri gua." bertanya tanpa melihat Robby.


"Owhhh boleh banget bos, besok gua kesana." senyum terpaksa.


"Hmmm good." Johan.


"Mampus gua, sepertinya bos mulai curiga nih, mana nyonya Zahra ngak mau bantuin gua ngomong lagi." gumam Robby dalam hati.


" Untuk apa menambah juru masak ko, kakak paling sukanya juga ngak lama, nanti pasti berubah lagi, lihat sendiri hari ini mau ini besok mau itu, koko sudah merasakan mood kakak yang berubah ubahkan." Zahra.


"Tapi yank, sepertinya kakak sangat suka masakannya, koko pikir apa salahnya kalau kita coba minta dia jadi koki di sini."


"Ya dia pasti mau dong ko, apa lagi di tawarkan sepuluh kali lipat, tapi koko ingat ngak kelakuan kakak, bentar minta kelinci, kelinci dari mongolia lagi, ikan mas, kucing nah semalam bayi panda harus langsung dari asal masing masing dan ingat harus koko yang beli, katanya suka banget ehh bentar lagi berubah mau yang lain lagi."


"Itu mainan yank, ini makanan."


"Bukan mainan ko, tapi keinginan mendadak dan harus di turutin kalau ngak kakak nangis, sekarang masih berupa makanan, hewan hiburan, semua koko turutin meski harus mengeluarkan uang banyak, besok besok kakak akan minta suaminya koko harus turuti juga."


"Apa pun akan koko penuhi asal bukan minta si brengsek itu, no .. koko tidak akan turuti."


"Kita lihat saja, apa koko sanggup melihat putri koko ngambek tidak makan dan tidak mau berhenti menangis."


"Koko punya senjata sendiri kalau kakak minta si brengsek, karna itu kakak tidak akan pernah minta di pertemukan dengannya."


"Hahh terserah sih.." senyum sinis Zahra.


"Ooo.jadi gosip yang gua dengar dari maid dan orang kepercayaan gua yang ada di sini benar ya, beberapa hari ini nyonya Shafa menyikapi bos Jo dengan permintaan permintaan aneh hahahaha oh Jones perut gua hampir meledak gua tidak bisa bayangkan si bos maki maki lu terus karna merasa tertekan."


Robby memegangi perutnya karna benar benar sakit dan tidak sanggup menahan tawanya, karna itu Robby segera meninggalkan tempat itu setelah menyerahkan makanan pada Zahra.


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


Dukung aku terus ya All.


๐Ÿ˜Like


๐Ÿ˜Rate


๐Ÿ˜Vote


๐Ÿ˜Hadiah


๐Ÿ˜Komen ya All..


Wo Ai Ni

__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2