
Asiah, Lila dan bik Tum juru masak Shafa keluar dari dalam rumah dengan membawa berbagai makanan yang di hidang di ruang tunggu rumah itu, Shafa sendiri sejak tadi hanya duduk patuh tak jauh dari Jones.
"Uncle ya, sudah minta minum minta makan lagi, ngak modal banget."
"Namanya belum punya istri ya minta sama calon istri aja deh, itung itung belajar ngurusin calon suami."
"Hahhhh Uncle, jangan ngomong gitu, nanti Shafa di gebukin sama Aunty pake balok, rusak deh kecantikan Shafa." gaya lebay sembari mengibaskan kerudungnya.
"Emang kamu cantik ?."
"Iya dong, cantik."
"Mana ?, ngak kelihatan tuh."
"Nih.." Shafa hampir membuka cadarnya, untung saja Lila mendehem hingga Shafa tersadar.
"Ishhh gara gara Uncle hampir aja."
"Ngak apa apa lo, ngak rugi juga kan ngak ada yang berkurang."
"Hahhh itu kata Uncle, kata Shafa." cicit gadis itu
"Mari makan pak dokter, ayo yang lain juga." ucap bik tum mengakhiri perdebatan Shafa dan Jones.
"Kamu ngak makan gils."
"Ngak Uncle, Shafa puasa."
"Hahhh puasa." Jones langsung menghentikan makannya, rasa lapar dan haus hilang seketika.
"Iya Uncle, puasa sunat."
"Kok ngak bilang." Jones meletakkan nasinya di atas meja, ia merasa tidak enak hati makan dan minum di depan Shafa sementara gadis itu hanya menontonnya sedari tadi.
"Ngak apa apa Uncle, ayo makan teruskan saja Shafa ngak ngences kok lihat Uncle makan."
"***** makan saya hilang."
"Loh kok gitu, makan aja Uncle tuh nasi sama lauknya udah menjerit jerit minta di makan, dosa loh membuang buang makanan."
"Udah ngak mood."
"Jangan gitu, makan cepat nanti nasinya dingin tambah ngak enak, kalau Uncle merasa ngak enak Shafa jadi penonton Shafa ke dalam aja."
Kata kata Shafa seperti titah ratu bagi Jones, tampa di minta dua kali ia langsung meraih piringnya dan langsung makan.
"Habisin Uncle, dosa buang buang makanan." Shafa meninggalkan Jones yang hatinya langsung ngenes akibat di tinggal Shafa.
Shafa tidak langsung masuk rumah namun ia mengambil selang air untuk menyiram tanaman bunga di halaman rumah yang tumbuh indah dan subur.
Sampai sore Jones tetap bertahan di ruang tunggu rumah itu dengan berbagai alasan, dia tidak mau pulang sebab masih ada misi yang akan ia lakukan.
"Gils .. sudah jam lima sore, buka di luar aja ya, aku traktir deh, sebagai ungkapan terimakasih karna udah di kasih makan sama yang puasa." modus Jones, karna sebenarnya ia ingin berlama lama dengan gadis itu.
"Ngak usah Uncle, bik Tum sudah masak banyak nanti di marah."
"Ngak marahlah, nanti aku yang habisin."
"Ngak Uncle, papa ngak bolehkah Shafa keluar makan malam."
"Ya jangan bilang lah, lagian keluar sama aku kok ngak apa apa dong."
"Shafa tanya papa dulu ya."
"Ngak usah, aku udah kirim pesan ke mama kamu."
"Loh, kok langsung ke mama Uncle."
"Kalau ke papa kamu pasti aku di maki hehe."
"Ngak ah papa ngak gitu, Uncle kan temannya."
Ucap Shafa membela sang papa.
"Kamu ngak tau aja kekejaman papa mu gils, ayam mati bisa tambah mati." tawa Jones.
"Ihhh ngak Uncle, papa Shafa orang terbaik di dunia, terus apa kata mama."
"Ngak apa apa asal kakak kakak kamu ikut." menatap Lila dan yang lain.
Zahra menyebutkan Asiah serta bodyguar Shafa yang lain kakak putrinya itu, karna Zahra tidak mau terkesan sombong karna memiliki bodyguar dan banyak pelayan.
"Owhhh iya Uncle, Shafa siap siap dulu." karna Jones mengatakan sang mama sudah izin Shafa pun mengalah dan mau ikut dengan laki-laki itu.
Sore itu merupakan sore terindah bagi Jones, untuk pertama kalinya ia berhasil membawa Shafa keluar, meski hanya untuk sekedar menemani Shafa buka puasa.
Sementara itu di rumah utama Johan sedang marah marah pada para bodyguardnya begitu tau Shafa keluar rumah bersama Jones, amarahnya memuncak dan meletup letup.
"Lu semua bego ya, gua udah bilang jauhkan putri gua dari si Jones malah biarkan putri gua jalan sama itu orang."
__ADS_1
"Maaf tuan, kami tidak bisa melarangnya karna karna kata pak Jones beliau sudah dapat izin dari dari." kata kata bodyguar berhenti karna suara Zahra.
"Saya yang kasih Izin ko, jangan marah marah mereka ngak salah."
Johan terdiam begitu mendengar suara pawangnya datang, lidahnya seketika kelu dan tidak bisa berkata kata.
"Ta.. tapi yangk."
"Sudahlah ko, biarkan saja kalau memang jodoh sehebat apapun kita menentangnya tidak akan bersatu, kalau tidak jodoh sehebat apapun usaha kita untuk menyatukan tidak akan pernah bisa bersatu, biarkan mengalir semestinya tapi tetap awasi."
Kata kata bijak Zahra semakin membuat Johan membeku, memang benar yang di katakan oleh sang istri dan dia sadar itu, perjuangan cintanya juga cukup menyakitkan saat itu sampai ahirnya ia bisa bersatu dengan Zahra.
"Kalau begitu ayo kita menyusul mereka yangk." ucap Jones bangkit dari kursi kebesarannya.
"Baiklah, aku memang ingin jalan jalan."
Zahra meninggalkan Johan di ruang kerjanya, ia masuk kedalam kamar untuk menganti baju dan sedikit berhias diri.
Setelah selesai Zahra dan Johan pergi berdua saja tampa inces Janeet karna gadis kecil itu sedang asik bermain dengan kakak kakaknya.
*****
"Dasar tua bangka, cari kesempatan pandai betul." umpat Johan demi melihat putrinya yang terus terusan di tatap penuh cinta oleh Jones.
Mereka duduk tidak jauh dari kedua orang beda generasi itu, Johan menatap penuh amarah pada sahabatnya itu.
"Koko bisa ngak duduk tenang, makan makanan koko nanti dingin ngak enak." omel Zahra sambil mengunyah makanannya.
"Ehhh iya yangk." dengan patuh pak bucin menyantap makanannya di barengi dengan amarah makannan yang ada di mulutnya tentu saja cepat lumer dan halus.
"Koko, jangan marah marah aja kenapa sih santai dikit dong, anak perempuan koko emang sudah besar jadi wajar dekat dengan laki-laki."
"Iya yangk, tapi bukan Jones."
"Koko, serahkan semua pada yang maha kuasa meski kita menentang tapi jangan terlalu, aku juga ngak setuju Shafa dengan dokter Jones tapi andai itu terjadi kita tidak mampu menghindarinya, biarkan saja seperti air yang mengalir jangan terlalu di tentang, tugas kita mengarahkan dan mengawasi anak kita."
"Iya tapi koko tetap ngak mau kalau Jones bersama putti koko."
"Aku juga ngak mau ko, tapi tolong jangan kasar amat, lagian apa koko lupa kalau dulu koko juga pernah mengalami perjuangan mengejar cinta koko seperti dokter Jones, ngak lupakan."
"Ya ngak dong yangk, ngak akan pernah lupa, sakitnya di cuekin, belum lagi di tolak berkali kali Ehhh di bilang lagi kalau kencing koko belum lurus sudah menyatakan cinta, emang ada kencing orang yang lurus jatuhnya."
Hahahhahaha
Zahra tertawa terbahak bahak, dia lupa ada makanan di mulutnya, hampir saja beterbangan keluar dari mulut, ia pun menutup mulutnya dengan tangan kecilnya.
"Dasar bumil, kita lagi menguntit sayang bisa ketauan dong kan malu, hahhh pantas mau aja di ajak keluar ternyata bumil mau makan di luar kirain mau ngawasin anaknya."
"Seperti Inces Janeet saja, kalau makan cake pasti belepotan, hmmm manis." mengomel sambil mengecup sekilas bibir Zahra.
"Koko, apaan sih ini di tempat umum." ucap Zahra dengan mata melotot.
"Biarin, aku cium istri ku kok, siapa yang keberatan." jawab Johan cuek.
"Ngak ada yang keberatan ko tapi ngak enak di lihat orang lo."
"Siapa yang lihat, ngak ada yangk."
Tempat mereka duduk sudah di sterilkan, tidak ada seorang manusia pun di sana dan mereka juga duduk di tempat yang tertutup, tidak ada yang bisa melihat mereka di dalam, namun kaca yang merupakan dinding pembatas ke luar tembus pandang sehingga mereka bisa melihat Jones dan Shafa yang duduk tidak jauh dari mereka.
"Hemm gitu ya anak gadis papa, keluar rumah ngak minta izin sekarang." Johan dan Zahra muncul di hadapan Jones dan Shafa.
Para bodyguard seketika memucat melihat kehadiran majikannya, sorot mata tajam Johan memang tidak di tujukan pada mereka namun pada Jones, tapi laki-laki itu santai saja mendapatkan tatapan seperti itu.
"Papa.. mama, maaf Shafa tadi." Shafa berdiri mendekati papa mamanya, meski dekat dengan sang papa tetap saja Shafa takut karna ia belum pernah di marah dan di kasari oleh papa sambung nya itu, dan dia memang salah pergi tampa minta Izin terlebih dulu.
"Gua udah minta izin pada nyonya Zahra."
Melihat ke arah Zahra sembari memelas meminta pertolongan.
"Akukan udah bilang sih ko." ucap Zahra menggelayut manja di lengan pak bucin yang masih tampak marah dan makin menatap tajam ke arah Jones.
"Papa, mama maaf, Shafa emang pengen buka puasa di luar kebetulan Uncle ngajak jadi kami pergi ramai ramai."
"Hmmm anak gadis papa sudah pintar beralasan ya, ya sudah lain kali harus lebih ramai orang yang ikut menjaga kamu ya gils, untuk itu tidak ada bantahan."
"Iya papa, makasih."
"Sudah makan pak bos, kalau belum mari makan bareng." ajak Jones basa basi, padahal ia malah ingin Johan segera pergi.
'Tumben lu ngajak makan, cihh pasti basa basi lu dalam hati lu malah pengen gua cepat pergi."
"Lah itu bos tau, kok ngak pergi juga." ucap Jones pasang wajah tampa dosa.
"Kampret.." umpat Johan menahan emosi.
"Papa sama Uncle kalau jumpa berantem mulu, ngak ada Uncle Niel Uncle Nes pun jadi." tawa Shafa menutup mulutnya.
"Apa Nes ?." Johan.
__ADS_1
"Ngenes hahahah." spontan Shafa berlari ke arah sang papa dan bersembunyi di balik punggungnya.
Hahahahhaha
Seketika Johan, Zahra tertawa terbahak bahak dan para bodyguard tampa sadar ikut tertawa juga mendengar kata kata Shafa yang ceplas ceplos.
"Gua ngak sempat bilang lu ngenes, putri gua malah lebih dulu, sadarlah lu memang ngenes." ejek Johan.
"Iya gua memang ngenes, karna siapa lu tau lah." ucap Jones sewot.
"Awas kamu ya gils, ntar kalau sudah jadi tak hukum di kasur tujuh hari tujuh malam." gumam Jones dalam hati menatap Shafa dengan senyum yang sulit di artikan.
"Hehehe Uncle ngak boleh marah ya, Shafa cuma bercanda, maaf."
"Iya aku tau, lagian aku mana bisa marah sama kamu, mau marah juga ngak punya tenaga." cicit Jones tapi masih terdengar oleh Johan dan Zahra.
Johan menatap Jones sembari mencebik, Jones sendiri tidak perduli, ia tetap duduk santai sambil menyeruput minuman dinginnya.
Zahra mengajak Johan pulang lebih dulu karna ia masih ingin mencari beberapa keperluan untuk dirinya dan juga keperluan Janeet, meski awalnya Johan tidak mau pulang tampa Shafa tapi karna sang istri bersikeras ingin pergi berdua dengan terpaksa ia ahirnya menurut.
"Koko, biarkan dokter Jones mengantar Shafa pulang, mereka tadi pergi sama sama, tidak pantas kita comot anak kita seperti itu, jangan terlalu tampak kita tidak suka, besok kita panggil Shafa pulang lalu kita kasih nasehat dan pengarahan."
Zahra berkata panjang lebar karna Johan masih saja kesal, ia duduk diam di dalam mobil mewahnya sementara sang istri duduk bersandar di dada bidangnya sambil memainkan jari jemari Johan satu persatu memberikan pijatan dan menarik narik jari jari Johan agar mengeluarkan suara.
"Sakit ko." melirik Johan yang masih kesal.
"Hmm ngak yangk."
"Terus kok diam aja, koko marah ?."
"Sama sekali ngak yangk, koko cuma lagi memikirkan apa yang sayang bilang, mungkin memang lebih baik jangan terlalu keras pada Jones, kita jauhkan Shafa saja darinya."
"Yahhh ko, sama aja, yang ada dokter Jones makin mengejar Shafa, yang betul kita awasi Shafa dan kita nasehati dia agar jangan terlalu dekat dengan dokter Jones itu saja."
"Ouhhh ya yank." sebenarnya ia masih kesal pada sang nyonya karna pulang tampa Shafa tapi meski kesal Johan tidak berani bersuara, ahirnya omongannya tidak sesuai dengan isi hatinya.
Sementara itu Jones mengantar Shafa serta para bodyguard kembali ke rumah, wajah sumringah Jones tidak bisa di kondisikan ia selalu tersenyum sambil bersiul siul, sementara kedua tangannya berada di stir mobil.
"Sepertinya Uncle lagi bahagia nih, senyum terus awas wajah Uncle nanti kaku asik senyum aja."
"Senyum itu ibadah gils."
"Hmmm iya memang, tapi jangan senyum sendiri dong." tawa Shafa yang duduk di bangku sebelah Jones.
"Namanya juga lagi bahagia gils."
"Bahagia, kenapa."
"Bisa jalan sama kamu, aku sangat bahagia gils." senyum Jones.
"Loh jalan sama Shafa kok bahagia sih, sama Aunty dong."
"Sama kamu dan dia sama saja, sama sama bahagia." melirik Shafa sekilas lalu pokus ke jalan raya.
"Kok bisa, Shafa kan bukan Aunty ?."
"Anggap aja gitu."
"Gitu apa ?."
"Apa ya, apa aja deh." senyum Jones sembari mengedipkan matanya.
"Ishhh Uncle genit."
"Sama kamu aja gils." cicit Jones.
Mobil melaju sedang menyusuri jalan ibu kota mengantarkan pujaan hati sampai ke tujuan, sebenarnya hati Jones sedang berperang melawan prasangka buruk pada Johan, ia sangat takut kalau Johan akan menyembunyikan Shafa darinya.
Andai itu terjadi entah seperti apa hidupnya tampa melihat Shafa satu hari saja, mungkin ia akan stres dan prustasi.
ππππ
Hai teman-teman author dan teman teman -pembaca yang baikΒ terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
πLIKE
π RATE
π VOTE
π HADIAH yang banyak
π KOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
__ADS_1
Happy Reading