UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
146. USG.


__ADS_3

Shafa tersenyum simpul melihat Arkhan menjaga dan merawat Naya dengan baik, ahirnya suami istri itu bersatu lagi meski Naya masih belum benar benar sadar tapi dia tau betul suaminya itu menjaga dan merawatnya dengan tulus.


Shafa mengelus perutnya, bayangan wajah suami yang memanjakannya terlintas di benaknya.


Sesak..sakit dan pedih itu lah yang kini di ia rasakan, melihat Naya dan Arkhan bersama lalu dia bagai mana, sedang gugatan cerai yang di ajukan sudah ia tanda tangan meski terpaksa karna takut Johan menyakiti suami.


Zahra menarik napas dalam dalam melihat putri sulungnya tiba tiba diam sedang tangannya masih sibuk membelai perutnya yang semakin besar.


"Koko..lihat putri mu, tidak kasihan padanya, jangan pisahkan dia dengan Jones lama lama kalau begini terus aku takut kak Shafa nanti sakit."


"Kak Shafa itu kuat yank, ngak apa apa, Jones tidak bisa di maafkan, karna dia putri koko hampir tidak tergolong, kalau kali ini di maafkan kejadian yang sama bisa jadi terulang lagi."


"Ko..Tuhan saja memberikan kesempatan pada hamba hambanya yang bersalah untuk taubat, masa kita ngak ko, setidaknya pikirkan putrimu, lihat, menurut koko kakak tidak butuh suaminya, ingat waktu aku hamil dulu, aku malah ingin dekat koko terus, untungnya kakak tidak seperti aku yang selalu muntah sampai harus di infus berkali kali."


"Kakak pasti kuat yank, dan tak lama lagi dia akan lupa pada laki-laki bedebah itu."


"Ko.." Zahra tidak tau lagi bagai mana membujuk Johan agar bisa memaafkan Jones sahabatnya sendiri, selama ini Johan selalu patuh pada Zahra tapi kali ini Johan tidak.


"Sudah lah yank, ayo kita pulang, sayang putri cape, kakak juga." bangkit dari duduknya.


Sudah lebih lima jam mereka menemani Naya dan Arkhan di rumah sakit, setelah kondisi Naya lebih baik mereka ingin kembali ke Rumah besar.


Tapi baru saja melangkah keluar dari kamar rawatan Naya ketiga orang itu di kejutkan dengan suara bising dari arah samping kanan mereka sekitar delapan meter dari Johan dan istri serta putrinya.


"Sayang.. de..dede.. maaf.. maafkan Aa yank, ayo kita pulang ke apartemen kita yank." teriak Jones memanggil manggil Shafa.


Johan menatap Jones tajam, kemudian ia menatap para bodyguar yang berjumlah lima orang yang kini sedang menghalangi Jones mendekat pada Shafa.


"Urus dia, gua tidak mau melihat dia mendekati putri gua." titah Johan dingin.


"Baik tuan .." jawab para bodyguar.


"Johan..lu jangan begini, Shafa istri gua, gua berhak padanya, jangan pisahkan kami, gua mohon, gua minta maaf gua minta maaf, gua mohon." Jones membuka jas dokter yang sedang ia pakai kemudian ia berlutut di depan Johan serta yang lain.


Untung koridor rumah sakit itu sepi karna hanya di huni keluarga Wu, orang lain yang tidak berkepentingan di larang mendekat ke wilayah itu, sehingga tidak banyak yang melihat dan mendengar keributan dan kejadian apa yang ada di sana


Flasback...


Awalnya Jones sedang berada di ruangan poli ruangan yang biasa ia pakai untuk memeriksa pasien rawat jalan, sedang sibuk melayani pasien dokter Ryan dan dokter Anton datang tergopoh gopoh.


Mereka mengatakan kalau Shafa istrinya sedang ada di rumah sakit itu, mereka lalu menceritakan alasan kedatangan Shafa di sana.


Tentu saja Jones langsung berlari ke lantai atas tempat Shafa berada, laki-laki itu tidak sempat naik lift karna lift menuju lantai itu di nonaktifkan agar orang lain yang tidak berkeperluan tidak bisa naik ke lantai khusus itu.


Jones berlari menaiki anak tangga untuk sampai ke sana, Jones sempat kewalahan menghindari para bodyguar yang berjaga di sana, untung Jones sudah tau seluk beluk tempat itu hingga ia hanya berhadapan dengan bodyguar penjaga pintu kamar Naya saja.


Flasback Off.


"Hak lu bilang, cih.. sejak lu meninggalkan putri gua dalam keadaan terluka hati dan fisiknya lu bukan lagi bagian dari keluarga kami, dan bukan lagi suami putri gua cam kan itu."


Johan menunjuk nujuk Jones kesal dan emosi memuncak, Shafa sendiri hanya bisa menunduk sakit dan sakit itulah yang di rasakan Shafa


saat itu.

__ADS_1


Di sebelah hati dia masih marah pada suaminya itu karna kelakuan kasar Jones padanya tapi di bagian hati lainnya ada rasa rindu, rindu kasih sayang, belaian dan canda suaminya itu.


Air mata Shafa jatuh tidak terkendali, meski marah dan kesal Jones tetap lah suaminya sebelum pengadilan ketuk palu, ia tidak tega melihat Jones yang berlutut di hadapan mereka, karna itu Shafa menunduk.


"Tidak.. gua suaminya, gua tidak akan pernah berpisah dengan istri gua, cuma satu yang bisa memisahkan gua darinya, kematian, kalau gua sudah mati di situlah saat nya kami berpisah, gua salah gua salah gua akui itu, gua ceroboh ya gua memang bodoh tapi apa gua tidak meminta maaf ?, lihat istri gua sedang hamil, lu tidak kasihan pada kami." ucap Jones memelas.


"Lu tau siapa.gua kan, lu tau prinsip gua, jadi lu berhenti mendekati putri gua, ikuti saja apa mau mamamu itu, agar lu dan semua keluarga lu bahagia, gua tidak akan memberikan lu kesempatan memiliki putri gua lagi karna kesempatan dari gua sebagai orang tua sekali, gua tidak akan memberi ampun dan maaf kada siapapun yang berani menyakiti dan mengganggu keluarga gua meski itu teman atau pun bagian dari keluarga gua sendiri, tidak akan."


"Gua mohon, beri gua satu kesempatan lagi, gua mohon, gua janji tidak akan menguranginya lagi, gua mohon Johan."


Jones mengatupkan kedua tangan di depan dada, seraya memohon pada Johan, tapi hati Johan terlalu keras tanpa bertanya pada putrinya dia sudah langsung bertindak tanpa ampun.


"Ayo kak, ingat pesan papa kan." nada mengancam, Shafa tentu ingat janjinya pada sang papa, kalau tidak ingin Jones celaka dia akan menurut pada ayah sambungnya itu.


"Iy..iya papa." jawab Shafa tanpa mengangkat kepalanya, jawab yang pelan dan lemah.


"Sayang .. Aa mohon, kembali bersama Aa yank, Aa minta maaf yank, Aa sangat cinta, Aa sangat sayang pada mu yank, Aa mohon maaf kan Aa, Aa minta maaf yank, ayo kita pulang, ingat anak anak kita yank, Mereka butuh Daddynya dan Aa butuh sayang, Aa mohon."


Jones berdiri dan berusaha menembus para bodyguar yang menghalanginya mendekat Shafa, sedang Shafa sudah di bawa oleh sang papa pergi dari tempat itu.


"Mama..mama tolong jangan bawa istri ku, tolong mama, kasihani lah aku ma, tolong ma.." teriak Jones kencang karna ketiganya makin menjauh sementara dia sendiri tidak bisa mengejarnya.


" Sudahlah sobat..ayo kita pergi, untuk sekarang biarlah begini dulu, toh lu sudah bertemu dengan istri lu, dan lu lihat nyonya baik baik saja kan, sekarang kita pikirkan langkah selanjutnya bagai mana cara lu kembali pada istri lu lagi, karna nyonya tidak perlu di cari dan lu tau sendiri di mana tempatnya sekarang." bujuk dokter Anton.


"Betul sobat, ayo kita pergi dulu, lu tenangkan diri lu dulu." menarik tangan Jones dan membawanya keluar dari tempat itu melalui tangga darurat lagi.


Jones pasrah di bawa kembali ke ruangannya oleh teman teman, jadwal poli sudah selesai karna sudah jam dua siang, dokter Anton dan dokter Ryan dan dokter safrudin sedang menikmati makan siang di ruangan Jones, sedang laki-laki itu sama sekali tidak menyentuh makanannya.


"Sobat.. makanlah, perjuangan lu masih panjang, lu butuh tenaga." dokter Ryan menyodorkan satu kotak nasi lengkap dengan lauknya.


"Lu juga kurus sobat, kalau nyonya Shafa kurus ya wajar karna istri lu berbagi nutrisi dengan ketiga anak lu." dokter Anton.


"Istri gua setiap hari makan masakan gua, gua takut istri gua ngak terbiasa makan masakan orang lain, apa lagi sejak hamil istri kemana pun pergi istri gua tidak akan makan selain yang gua masak mmmhh hahhhhh."


Jones duduk bersandar di sopa panjang dekat sahabat sahabatnya, pandangan mata Jones terkadang kosong membuat para sahabat tidak tega, tapi mereka tidak punya kemampuan untuk membantu, mereka hanya bisa memberi suport dan nasehat pada Jones.


Drett drett..


Handphone dokter Ryan bergetar, ada panggilan vidio masuk, membuat kening dokter tampan itu betkerut bingung.


"Lah.. tumben dokter vita mengajak vc bro." tawa laki-laki itu geli.


"Ada apa ?, angkat dong." dokter safrudin.


"Ini lagi di angkat sobat." dokter Ryan menggeser tanda panggilan masuk.


"Hallo.." sapa dokter Ryan.


Laki-laki itu bingung karna yang terlihat hanya tempat tidur pasien, tempat tidur kosong dokter itu makin bingung karna mendengar suara dokter vita yang sedang berbincang dengan orang lain yang sedang berhadapan dengannya.


Sepertinya panggilan vidio itu sengaja di buat untuk seseorang, mode suara di nonaktifkan sehingga yang terdengar hanya suara dokter senior itu saja dengan orang yang berada di sekitarnya, sedang dokter Ryan atau yang lain tidak dapat memberikan komentar.


"Apa yang nyonya rasakan sekarang, saya lihat nyonya pucat." tanya dokter obgin.

__ADS_1


"Mungkin karna Shafa susah tidur dokter, Shafa juga susah makan." jawab Shafa.


Deg..


Mata Jones melotot mendengar suara dari handphone dokter Ryan, dokter Ryan sendiri langsung menyerahkan handphonenya pada Jones karna sudah paham arti panggilan itu.


Mata Jones memperhatikan layar handphonen yang masih menunjukkan tempat tidur kosong, laki-laki itu berkali kali menarik napas dalam dalam mendengar perbincangan yang ada di sebrang sana.


"Nyonya harus memperhatikan pola makan, meski kurang selera makan tapi nyonya harus tetap makan kasian bayinya kan kalau Mommy kurang nutrisi tentu anak anaknya juga."


Jones mendengar semua pembicaraan mereka dengan jelas, dan tiba saatnya Shafa naik ke atas tempat tidur pasien, Jones tertegun melihat wajah istrinya yang pucat, matanya cekungan bahkan garis wajahmu terlihat tirus.


"Yank .." suara Jones tertahan.


Dokter Ryan dan yang lain saling pandang, mereka tau sahabatnya itu menahan tangis dan rindu yang dalam, kasihan dan simpatik tentu saja tapi apa daya mereka.


Jones menggeser duduknya menjauh dari mereka karna dokter vita sedang mengarahkan alat USG di atas perut Shafa.


"Alhamdulillah baby triplets semuanya sehat, tapi jenis kelamin belum terlihat, mungkin di pemeriksaan selanjutnya nyonya."


Shafa mengangguk dalam senyum.


"Tapi dokter baby Shafa kenapa belum bergerak ya, mereka kan sudah empat bulan." tanya Shafa.


"Mungkin harus Daddynya yang periksa ya, hehehe selama inikan Daddy yang pantau jadi mereka mungkin ngambek." canda dokter Vita.


Dokter Vita tau permasalahan yang terjadi dengan Jones bersama anak pemilik rumah sakit itu, tapi dia pura pura tidak tau.


Karna itu dokter Vita sengaja membuat panggilan vidio pada nomor dokter Ryan sebab dia yakin mereka sedang berkumpul.


Dokter Vita juga tau bagai mana tersiksanya teman sejawatnya itu karna harus berjauhan dengan Shafa.


Dia ingin membantu tapi tidak bisa, menurutnya hanya itu caranya dia bisa membantu Jones dengan menunjukkan hasil pemeriksaan Shafa tanpa sepengetahuan Shafa dan Zahra yang ada di dalam ruangan itu.


Awalnya Johan ingin mengajak Shafa serta Zahra langsung pulang ke rumah besar setelah bertemu Jones tadi, tapi Shafa tiba tiba merawat pusing sehingga Zahra membawa Shafa untuk periksa kandang serta periksa konsep kesehatan putrinya itu.


*******************££££


pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


🪴 LIKE


🪴 RATE


🪴 VOTE


🪴 HADIAH yang banyak


🪴KOMEN yang sebanyak banyaknya.

__ADS_1


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.


__ADS_2