UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
80. Jangan marah please.


__ADS_3

Shafa langsung berjalan cepat ke arah Arkhan dan pengantin wanita begitu ijab kobul selesai, gadis cantik itu menyalami dan memeluk pengantin wanita sembari memberi selamat.


"Selamat ya kakak Shafa, semoga Samawa Shafa senang deh jadi kakak beneran nih ." memeluk manja sang kakak.


"Jadi selama ini ngak beneran ya." rajuk pengantin wanita itu pura pura.


"Ishhh kakak dong, tapi kan kakak kakakan hehe." tawa Shafa seperti lepas beban.


"Hahh dari tadi peluk pelukan saja berdua, aku juga mau di peluk dong dek, ayo peluk sini." Arkhan merentangkan tangannya pura pura ingin memeluk Shafa.


Tapi bukan Shafa yang masuk ke dalam pelukannya melainkan Jones yang tiba tiba menarik tubuh Arkhan yang menghadap ke samping di mana Shafa dan pengantin wanita berada.


"Jangan coba coba memeluk punya ku, peluk milikmu sendiri." ucap Jones menepuk punggung Arkhan sedikit kuat.


Pok..pok..pok..


"Ashhh sial kamu mau membunuh aku ya." omel Arkhan membalas tepukan Jones.


"Hampir saja gua membunuh lu." bisik Jones.


"Emang banci bisa membunuh ?." ejek Arkhan.


"Sialan, gua bisa bunuh beneran lu nih tapi kasihan, ntar bini Lu janda sebelum malam pertama." balas mengejek.


"Brengsek.. berani lu nyakitin hati adik gua lagi nanti gua pastikan masa depan lu itu gua kasih ke buaya ya." berbisik.


"Cih .. sok hebat lu, tenang saja gua ngak akan pernah nyakitin my gils, buat mendapatkan saja gua cengap cengap kok." balas Jones.


"Kalian ngomong apa ?, kok akrab banget." selidik Shafa menatap Jones dan Arkhan yang selalu saling sahut menyahut tapi suaranya tidak terdengar dengan jelas.


"Tidak apa apa sayang, cuma lagi memperingatkan Arkhan agar jangan terlalu kasar saat malam pertama." jawab Jones tampa berpikir akan membuat Shafa bingung.


"Kenapa kasar, kasar sama siapa." menatap Arkhan marah.


"Yaa ampun bisa gagal malam pertama ku, gara gara kakaknya di sembunyikan nanti, lu sih ngomong begituan badannya saja yang besar daya nalarnya jelas kurang." marah Arkhan pada Jones dengan mata melotot.


"Nasib mulah." tawa Jones, ia lalu menarik tangan gadisnya agar menjauh dari pelaminan.


"Uncle.. jangan tarik tarik, tangan Shafa nanti putus." cicitnya.


"Ehh maaf sayang, aku ngak sengaja, abisnya kamu itu ngangenin banget sayang, lagian masa sampe putus sih kayak tangan barbie saja sayang." goda Jones berjalan pelan tampa melepas tangannya dari Shafa.


"Jangan pegang Uncle, malu tau, ngak boleh juga." berusaha melepaskan tangan Jones.


"Kok malu sih sayang, kita kan udah jadian, aku sudah pasang cincin di jari kamu, aku anggap kita sudah tunangan juga." membawa Shafa ke arah lain tempat itu.


Tempat yang sepi, ruangan khusus pengunjung, Keluarga penyewa ballroom itu, dan kebetulan sepi karna semua keluarga sedang berada di dalam ballroom.


"Jadian apa sih Uncle, ngak ada jadi jadian."


"Iya deh bukan jadian tapi tunangan."


"Mau kemana Uncle."


"Mojok."


"Hahh ngapain Mojok."


"Mau ngasih hukuman ke kamu." mendorong pelan tubuh Shafa hingga mentok ke dinding.


Lalu dengan jarak yang lumayan dekat, Jones membuka cadar Shafa kemudian ia membelai wajah cantik itu dengan penuh kasih sayang.


"Aku sangat mencintaimu gils, apa kamu sengaja membuat ku menderita dulu hmm." ucap


Jones pelan.


"Shafa ngak gii..gitu Uncle." jawabnya gugup saat tubuh besar dan tinggi itu makin merapat padanya.


"Ngak sengaja hmm, tapi kok kamu ikutan fitting baju sama mereka, kamu juga ikut di beliin cincin sama si Arkhan itu, kamu tau ngak gils aku sangat hancur saat itu." berkata lembut dan pelan.


"Salah sendiri kenapa ngak bilang kalau Uncle suka sama Shafa, Shafa mana tau kalau ngak Uncle bilang."


Shafa mengangkat kedua tangannya yang memgepal di depan dadanya, bola mata gadis itu berkedip kedip karna grogi.


"Aku takut kamu menolakku gils, jadi kamu juga suka sama aku ya hmm."


"Ngg..ngak ahh." gugup.


"Terus.. kenapa terima lamaran aku." tahya Jones tenang, meski hatinya terasa sedikit sakit mendengar kata kata Shafa tapi ia tau gadis itu belum tau bagai mana perasaan dan hatinya yang sebenarnya.


"Karna.. karna papa bilang Uncle suka dan sayang sama Shafa, kata papa Uncle bisa menggantikan papa menjaga Shafa selalu." makin gugup, karna Jones makin merapat padanya.

__ADS_1


Kedua tangan Jones menempel di dinding agar ia bisa menahan tubuhnya untuk tidak terlalu rapat pada Shafa, walau ia sangat ingin memeluk gadis itu tapi ia mencoba menahan karna takut Shafa marah dan menjauhinya.


"Papa kamu bilang begitu gils."


Henghhhh.. manggut manggut.


"Baiklah, meski kamu bilang ngak suka ngak apa apa tapi aku akan segera membuatmu suka dan cinta padaku sayang." tersenyum menggoda.


"Ehhh Uncle jangan dekat dekat, ngak boleh."


"Aku kangen banget sayang." mata Jones tampak berkabut, ia benar benar sangat bahagia karna ahirnya Shafa menerima lamarannya.


"Jangan dekat."


"Boleh kiss sedikit saja sayang."


"Hahhh ngak boleh."


"kiss sedikitttt saja ya sayangk."


"Ngak." melotot.


"Peyuk boyeh ya." mengedipkan matanya meniru gaya Janeet membuat Shafa terkekeh.


"Ngak."


"Pelit ah..." Jones lalu menarik pinggang kecil Shafa kemudian ia memeluknya sebentar dan mencium pucuk kepala gadis itu sebentar pula.


"Ngak di kasih minta di curi pun jadi."


"Uncle......" marahnya mencubut kuat pinggang Jones, membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan.


"Aihhh sakit sayang." mengusap pelan pinggang nya yang terasa panas dan perih.


Bibir Shafa mengerucut.


"Sayang secepatnya kita nikah ya, tidak pakai lama lama, dua minggu dari sekarang ya."


"Jangan bilang sama Shafa Uncle, bilangnya ke papa saja." masih marah.


"Aku pasti bilang ke papamu, tapi kamu juga harus setuju lebih dulu." memandang bibir lancip Shafa gemas, greget.


"Apa kata papa saja Uncle, terserah."


"Besok kan bisa Uncle, kita di mana ini coba."


"Ehh iya ya hehehe, epek ngak kuat."


"Ngak kuat apa ?."


"Nahan."


"Nahan apa, emang Uncle sakit ya." bingung.


"Nahan rasa sayang, segala rasa."


"Apa sih Shafa ngak nyambung." mengibaskan tangannya lalu berjalan ingin keluar dari


tempat itu.


"Mau kemana sayang." menyusul.


"Ngak boleh berdua duaan saja Uncle, Shafa mau ke luar nanti mama dan papa nyariin." lanjut berjalan keluar.


"Sayang kita belum selesai bicara." modus Jones padahal dia hanya ingin duduk berdua.


"Shafa mau kesana Uncle."


"Tunggu sayang, kamu ngak lagi marah kan." tanya Jones cemas.


"Marah."


"Sayang jangan marah please."


"Shafa ngak marah tapi Uncle jangan ikutin


Shafa terus dong, Shafa kan malu."


"Ngak ikutin yangk, tapi nempelin."


"Uncle.."

__ADS_1


"Sayangku." tetap mengikuti.


Sementara itu Johan yang tengah menerima tamu undangan sibuk mengangkat telepon Andy yang mengabarkan keberadaan Jones dan


putrinya itu.


Sebenarnya Johan tau kalau Jones membawa Shafa dan dia melihatnya, tapi dia biarkan saja meski dia tau Jones membawa Shafa kemana karna dia yakin Jones tidak akan berbuat macam macam pada putrinya.


"Bos.. terimakasih ya." ucap Robby menyalami Johan.


"Terimakasih apa." jutek pura pura sibuk dengan handphonenya.


"Terimakasih sudah membiarkan nona dengan Jones, percayalah Jones pasti akan menjaga nona dengan baik."


"Hmmm gua tau, kalau sempat dia buat macam macam nyawanya sebagai taruhan."


"Dia tidak akan macam macam, bos lihat sendiri bagai mana besar cintanya."


"Hmm semoga dugaan lu benar."


"Bukan dugaan bos tapi gua yakin begitu, kita sama sama kenal siapa Jones sejak dulu."


"Hmm ya."


Acara pernikahan Arkhan dengan Naya berjalan dengan lancar, tampa kendala dan hambatan dari pihak mana pun, berhubung karna Naya anak yatim piatu jadi yang menghadiri pernikahannys hanya pamannya saja.


Sementara Arkhan semua keluarga nya datang dari kampung, meskipun pesta di tanggung oleh Johan sebagai imbalan atas jasanya membantu Johan membuat Jones panas dingin.


Sebenarnya Johan sudah tau kalau Arkhan dan Naya taaruf dari Zahra tapi demi membuat Jones mengaku dan memberikan Jones pelajaran Johan ahirnya mengajak Arkhan bekerja sama.


Shafa sempat kecewa dengan keputusan papanya yang akan menikahkan dirinya dengan Arkhan menurutnya, dan Shafa juga awalnya korban prangk papanya, karna sang papa ingin tau bagai mana perasaan putrinya itu pada Jones.


Dan begitu Shafa menolak lalu curhat pada mamanya di situlah Johan yakin kalau putrinya itu memilih Jones, barulah Johan dan Zahra menceritakan rencana mereka ngeprangk Jones agar laki-laki itu mengakui perasaannya dan maju melamar Shafa.


Awalnya Shafa menolak karna takut Jones tidak serius sayang padanya, tapi karna sang papa meyakinkannya maka dia mengikuti scenario yang di buat oleh sang papa.


"Koko.. koko perut ku sakit." ucap Zahra pelan, saat sang suami sudah berada di dekatnya.


"Sakit, sakit bagai mana sayang." tanya Johan lembut tapi cemas.


"Sepertinya aku his koko."


"Hahh sayang mau melahirkan ?."


"Sepertinya iya ko, ayo kita ke rumah sakit tapi jangan heboh ya, dan jangan beritahu orang orang kalau kita ke rumah sakit, kasian tamunya masih rame koko."


"Tapi sayang."


"Ngak apa apa ko, beritahu Mommy ,Daddy dan kak Maili saja." berjalan pelan di papah Johan.


"Baik sayang, koko akan menghubungi mereka." Setelah menghubungi Mommy dan yang lain Johan meminta Andy dan Aldo tinggal untuk mendampingi tamu tamu Johan yang datang karna dia juga mengundang relasi bisnisnya.


Robby berlari kencang ke arah parkir mobil membawa mobil ke depan pintu loby hotel agar Zahra tidak perlu berjalan jauh menuju mobil.


Setelah Johan dan Zahra duduk di bangku belakang Robby segera membawa mereka keluar dari pekarangan hotel itu, Johan menggenggam tangan istri memberikan kekuatan di sana.


Air mata laki-laki itu tiba tiba jatuh melihat wajah Zahra yang berubah pucat, bahkan keringat sebesar biji jagung menempel di dahi wanita hamil itu.


Tak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit, Johan dengan sigap menggendong istrinya itu langsung ruangan bersalin, Mommy dan Daddy serta Maili menunggu di depan pintu ruang sayang ibu dan anak itu.


Sudah hampir dua jam belum juga ada tanda tanda kalau Zahra sudah melahirkan, suara tangis bayi pun tidak ada, yang terdengar keluar hanya suara erangan kesakitan dua orang, suara Zahra dan Johan.


Shafa dan Jones berjalan cepat menuju ruang di mana Zahra akan melahirkan, Maili terpaksa memberitahu kalau Zahra di bawa ke rumah sakit untuk melahirkan, sebab Shafa berulang kali bertanya di mana sang mama dan papa pada Maili melalui panggilan telepon.


********


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


💝 LIKE


💝 RATE


💝 VOTE


💝 HADIAH yang banyak


💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.

__ADS_1


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.


__ADS_2