
Johan mengemudikan mobil dengan kencang tampa di minta oleh sang putri, tak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit milik keluarga Wu.
Para dokter dan perawat bergerak cepat menangani dokter Jones teman sejawat mereka begitu laki-laki itu di bawa ke ruang IGD dan seterusnya ke ruang operasi.
Setelah kurang lebih satu jam operasi berjalan dengan lancar, kemudian Jones di pindahkan keruang pemulihan sebelum di bawa ke kamar rawatan.
Di luar ruangan di koridor rumah sakit yang sunyi, sunyi karna tempat itu sudah di sterilkan dari orang umum.
"Bagai mana kalian bisa lalai dan lalai lagi, menjaga putriku saja kalian tidak becus, kalau bukan karna putriku yang meminta sudah lama ku tendang kalian semua." marah Johan meledak ledak pada para bodyguard yang berdiri di hadapannya dengan kepala tertunduk.
Niken, Asiah dan Lila terduduk di lantai, dalam hal ini mereka sebagai bodyguard pribadi Shafa yang paling bersalah karna sudah lalai menjaga majikannya.
"Jelaskan mengapa bisa begini hahhh, kenapa kalian diam saja." suara Johan makin meninggi.
Tap..tap..tap...
Suara langkah kaki menghentikan kemarahan Johan, dia menatap kedua wanita itu dengan pandangan terkejut dan kemudian ia menjadi salah tingkah.
"Kak..kakak Niken." panggil Shafa sembari berlari pada bodyguarnya itu.
Semua orang berusaha bersikap normal dan santai begitu kedua wanita sumber ketakutan Ceo Johan datang, karna sudah menjadi kebiasaan kalau sang Nyonya dan nona ada mereka harus bersikap biasa saja meski batin tersiksa dalam tekanan Johan.
"Kak...kakak ngak apa apakan." teriak Shafa ikut duduk di lantai dengan bodyguardnya.
"Tidak apa apa nona." jawab Niken tunduk tidak berani melihat Shafa.
"Sakit.. mana yang sakit kak." memeriksa tubuh Niken dari wajah yang memerah tangan dan juga kaki gadis itu.
"Ngak sakit nona." Niken.
"Bohong ini pasti sakit, sakitkan ? ayo bilang ke Shafa mana lagi yang sakit." tanya Shafa dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.
"Ngak sakit lagi nona."
"Bohong, ini pasti sakit , ini juga lalu mana lagi kak, apa dia buat lagi ke kakak huaaaa." tangis Shafa tiba tiba kencang.
"Benaran nona ngak ada lagi, udah ngak sakit." jawab Niken berusaha menenangkan nonanya di bantu oleh Asiah dan Lila.
"Kakak Asiah mana yang sakit, kakak Lila." beralih menatap Asiah dan Lila.
"Kami ngak apa apa nona, jangan kwatir." Lila mengelus tangan Shafa yang memeriksa mereka satu persatu.
"Kak Niken, mana lagi yang sakit, sudah ke dokter ? Uncle Erwin, kak Niken sudah di periksa dokter ?." balik bertanya pada kepala pengawal.
"Su..sudah nona, Niken tidak apa apa." jawab laki-laki itu.
"Pasti ngak di periksa secara detail, ayo periksa lagi kak." menarik tangan Niken.
"Saya ngak apa apa nona, jangan kwatir."
"Ngak apa apa gimana, biar Shafa yang periksa kalau gitu, mana mana yang sakit, dia ngak jahatkan ke kakak." Shafa sangat khawatir saat ingat ancaman Dino yang akan menodai Niken.
"Dia ngak jahatkan kan."
__ADS_1
"Ngak nona."
"Mana, ini merah ini bengkak pasti sakit huaaa." tangis gadis itu makin jadi.
"Sttt nona jangan nangis dong, malu ah." Asiah.
Semua orang menunduk dan bingung mendengar kata kata Shafa yang bertanya pada Niken, " kakak ngak di jahatinkan ." sudah jelas Niken di jahatin sampai luka begitu malah di tanya lagi.
Sedangkan maksud pertanyaan Shafa menjurus ke pada kekerasan seksual tapi gadis itu tidak mungkin bertanya seperti itu di hadapan yang lain.
"Kak, beneran ngak di jahatinkan huuu." terus bertanya hal yang sama sambil memeriksa tubuh Niken yang lain, meski tangan Niken menahan tapi Shafa yang paling berkuasa ia terus saja memeriksa.
Tangis Shafa makin menjadi saat tampa sengaja ia melihat beberapa tanda aneh menurutnya di bagian leher Niken yang tampa sengaja ia periksa sampai ke sana.
Huaaaaaa Jahatttttt.. huaaa.. jahat...
Aaaaaaaa
Johan, Zahra dan yang lain terperanjat mendengar nada suara Shafa yang naik dua oktav, Shafa berdiri dan menarik Niken, Asiah serta Lila ia menyeret ketiga wanita itu agar menjauh dari sana tentu saja cuma dua orang yang bisa ia pegang tangan yang satu lagi tidak.
Ahirnya Shafa menarik mereka seperti menarik anak sekolah menyeberang di tengah jalan, dia masih saja menangis dengan suara melengking ia melewati papanya dan yang lain.
Tapi belum jauh dari mereka ia berbalik, ia melepaskan tangannya dari tangan Niken dan yang lain, ia meninggalkan ketiga wanita itu berdiri di tempat mereka berhenti.
Shafa berjalan ke arah para bodyguar yang berdiri berjejer di depan Johan, tiba tiba tangan kecilnya meninju dada bodyguard satu persatu kadang ia menendang bodyguard yang berjumlah lebih dari sepuluh orang itu.
Tidak ada angin, hujan atau badai tiba tiba wanita muslimah, baik, lemah lembut tutur kata dan bahasanya itu menendang dan memukul mereka satu persatu, jangankan mengaduh kesakitan bergeser saja tidak dari posisi berdirinya.
Setelah puas memukuli mereka dengan amarah tidak terkendali Shafa menatap tajam kearah mereka, Robby bahkan papanya juga tidak luput dari tatapan tajam putri kesayangan sang papa.
Slingh.... cringhhh..
Johan yang terkejut mendapatkan pandangan mata yang tajam dari Shafa tampa sadar ia mengangkat kedua tangannya ke udara seperti tanda menyerah, seperti orang latah Robby juga ikut ikutan mengangkat tangan, bahkan semua bodyguard sama sama angkat tangan menirukan gaya majikannya.
Sadar ia tidak sopan pada sang papa Shafa meninggalkan Johan serta mamanya yang pura pura sibuk dengan handphone padahal perut buncitnya sudah bergetar menahan tawa.
Saat Shafa berbalik tadi sebenarnya Jones sudah keluar dari ruang pemulihan bersama asistenya, ia tidak mau di antar keruang perawatan dengan brangkat pasien tapi dengan kursi roda.
Lalu Saat melihat Shafa memghajar bodyguard laki laki, Jones tidak kalah terkejut sama dengan yang lain, mulutnya terus menganga sampai Shafa menyelesaikan misinya.
Dan saat Shafa menatap Robby, papanya tajam ia bergidik sendiri, bahkan asisten pribadinya yang tengah memegang cairan infus tampa sadar menjatuhkan botol infus Jones keatas lantai rumah sakit itu.
"Awas mulutnya nanti di gerumuni lalat." ucap Shafa dingin dan sorot mata tajam pada Jones yang ia lalui.
Jones segera menutup mulutnya rapat rapat entah karna takut mulutnya di gerumuni lalat atau karna bucinnya langsung patuh di perintahkan Shafa untuk tutup mulut.
"Dasar laki-laki semua jahat huuuu." Shafa berjalan meningalkan mereka semua dengan suara tangisan yang masih melengking.
Semua orang saling pandang mengapa tiba tiba gadis itu bersikap begitu, Johan sendiri garuk garuk kepala bingung mau ngomong apa.
"Kamu lagi PMS ya gils, kok tiba tiba marah marah seram tau." gumam Jones menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Salah ku apa, kok aku di marah akukan lagi sakit." cicit Jones mendongak kearah asisten yang sibuk memperbaiki tetesan cairan infusnya.
__ADS_1
"Ngak tau pak, dalam hal ini bapakkan korban." jawab sang asisten ikut bingung.
"Yaa ampun, anak perempuan gua kenapa ya ?, haduh yang mau lahir laki-laki saja, punya perempuan di rumah sampai tiga nambah satu lagi bisa binasa gua." cicit Johan tapi masih terdengar sampai di telinga Zahra.
"Apa ko ?? jadi ngak mau anak perempuan lagi hahhh, emang kami apain koko." berkacak pinggang.
"Ehhh bukan, bukan gitu yangk, anu .. Laki-laki saja nanti kalau cewek lagi nambah saingan sayang tercantik di rumah." alasan Johan.
"Huhhh mencla mencle kemarin katanya mau anak perempuan juga sekarang laki-laki, dasar laki-laki jahat." berjalan meningalkan sang suami yang tambah shoc karna di marahin dua orang wanita sekaligus.
"Salah gua apa." tanyanya pada Robby dan di jawab Robby dengan gelengan.
"Mari kita bingung." Robby.
"Bingung berjamaah." Jones.
"Ehhh lu udah sadar, hidup lagi." Johan.
"Senang banget ya kalau gua mati." Jones.
"Senang sih ngak tapi bahagia." cebik Johan.
"Dasar papa mertua, jahat." menirukan gaya marah Shafa.
"Hehhh lu masih berani sama putri gua, lu ngak lihat marahnya seperti apa, masih minat." Johan.
"Mau, minat dan berani, emang lu takut bini, tampang saja yang sangar begitu di hadapan nyonya langsung jadi anggora, kalau gua mah pasti jadi pawang yang baik." balas mencebik Johan.
"Sialan lu kira putri gua singa."
"Singa betina." tawa Jones meminta asisten mengikuti Johan mencari Shafa dan Zahra.
********
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baikΒ terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
πLIKE
π RATE
π VOTE
π HADIAH yang banyak
π KOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
Happy Reading
__ADS_1