UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
118. Mau Mata dan Hidung Aa.


__ADS_3

Jones masuk kedalam apartemen di lihatnya ketiga bodyguar Shafa sedang sibuk membujuk istrinya yang menangis sesegukan, rasa bersalah langsung menyerang hatinya.


Ketiga bodyguar meninggalkan mereka begitu Jones memberikan kode agar keluar, laki-laki itu berjalan pelan ke arah sopa tempat sang istri duduk.


Jones mengangkat tubuh Shafa pelan kemudian ia dudukan di atas pangkuannya, Shafa tidak menolak dia diam membisu dengan air mata berurai.


Jones memindahkan rambut panjang Shafa dan merapikannya ke belakang, sebelah tangan laki-laki itu memeluk pinggang Shafa sedang tangan lainnya membelai punggung.


"Maafkan Aa ya sayang, Aa beneran tadi cuma kumpul dan membahas tentang penyakit pasien dokter Anton yang menurut kami aneh, dan akan di rujuk ke laboratorium pusat untuk mengetahui penyakitnya, Kami ngak lagi makan kok yank, ini aja Aa kelaparan." rayunya.


Shafa diam.


"Sayang jangan marah dong, Aa mohon."


Masih diam, hanya suara sesegukan dan isakan yang lepas dari mulutnya, membuat hati Jones terasa perih bagai luka di beri asam.


"Sayang, Aa minta maaf, maafin Aa ya." bujuknya lagi, namun Shafa tetap diam.


"Yank.. Aa minta maaf, please jangan marah lagi dong, dede boleh hukum Aa, di cubit, di tampar di gigit atau di cakar juga boleh asal jangan diamin Aa begini Aa takut tau."


Shafa tetap diam, namun jauh di dasar hatinya ingin tertawa mendengar kata cakar dari mulut Jones, emang harimau pikirnya.


"Sayang, maaf ya." suara lembut merayu, namun Shafa tetap tidak bersuara bahkan berreaksi.


Jones jadi prustasi, dia tidak tau lagi bagai mana cara membujuk istrinya itu, berkali kali Jones meminta maaf tapi tetap saja tidak ada tanggapan dari sang istri.


Dalam kebingungan Jones malah menciumi seluruh wajah Shafa, mencumbu dan melakukan hal yang saat itu di sukai istri, merasakan tidak ada perlawanan Jones makin semangat melakukan aksinya.


Laki-laki itu melepaskanny seluruh pakaian mereka kemudian melakukan hubungan suami istri untuk pertama kalinya di ruang tamu mereka, biasanya Shafa hanya mau bercumbu di kamar atau di kamar mandi.


Jones melakukan serangan di atas sopa, meski tempat terbatas tapi malah membuat Jones makin semangat karna mereka tidak pernah melakukan di tempat seperti itu.


Jones menutup punggung Shafa dengan kemejanya setelah mereka selesai, napas keduanya masih memburu tapi Jones tetap memberi ciuman ciuman sayang pada sang istri.


"Kita mandi dulu ya yank, abis itu baru makan hmm Aa juga lapar." memeluk Shafa yang kini duduk di atas pangkuannya.


Enghhhh..


"Love you sayang ku, sangat sangat mencintaimu." bisik Jones di telinga Shafa.


Setelah mandi dan makan Jones lalu membawa kembali Shafa ke kamar mendudukkan Shafa di atas tempat tidur lalu menyelimuti kakinya.


"Aa bereskan pakaian kita di ruang tamu dulu ya, dede tunggu sebentar hmm." mengecup bibir Shafa lembut.


Enghhhh..


Setelah membereskan pakaian mereka yang berantakan di ruang tamu Jones kembali ke kamar, laki-laki itu tertegun di depan tempat tidur mendapati istrinya yang tertidur dengan posisi duduk menyandar di headboard tempat tidur.


"Astaga baru Aa tinggal sebentar udah bobok." ucap laki-laki itu bicara sendiri.


Jones lalu menurunkan tubuh Shafa agar bisa tidur dengan baik, kemudian laki-laki itu ikut berbaring di sisi Shafa sambil memeluk istri.


"Kenapa gampang marah sekarang sayang, ngambekan lagi, Aa takut tau." mencium kening Shafa berulang ulang.


"Hahhh ternyata kalau perempuan marah dan diam saja malah lebih menakutkan dari pada melihat hantu." gumam Jones membelai wajah cantik istri.


Malam itu Jones kembali begadang demi melayani hasrat istrinya, sudah ronde ke tiga baru Shafa berhenti, wajah cantik itu tampak puas setelah melihat wajah kelelahan suaminya.


"Aa Shafa boleh bobok di sini lagi." menunjuk dada suaminya.


"Tentu sayang, apapun untuk istri Aa." senyum laki-laki itu.


Shafa lalu merapatkan tubuhnya pada Jones dada berisi dan montok itu menempel sempurna di dada bidang sang suami, tapi tiba tiba dia duduk lagi di atas perut Jones.


"Kenapa sayang ?."


Shafa tidak menjawab kedua tangannya mengarah pada mata kanan Jones seperti sedang mengambil mata laki-laki itu kemudian ia arah kan ke perutnya detik kemudian ganti tangan lainnya le arah mata kiri suami.


Setelah itu Shafa menarik hidung mancung Jones kemudian kembali ia arahkan ke perutnya membuat senyum Jones terlihat getir, dia paham dan tau betul maksud istrinya itu meski dia pura pura tidak tau.


"Apa maksudnya hmm."

__ADS_1


"Shafa mau mata sama hidung Aa untuk bayi Shafa." jawabnya kemudian kembali kembali merapatkan tubuhnya pada Jones.


Tangan kecil wanita itu ia jadikan bantal di atas dada Jones, mulut Jones terbuka menahan sakit dan perih di dadanya.


Kalau biasanya mama Dara yang ngotot ingin segera punya cucu kali ini Justru istrinya yang berharap hamil dan punya anak.


Mata Jones terpejam erat sedang kedua tangannya ia lingkarkan di pinggang Shafa, laki-laki itu mencium pucuk kepala Shafa berkali kali.


Jones berusaha mengendalikan denyut jantungnya yang mulai kencang serta tarikan napasnya agar sang istri tidak curiga dengan kegundahan hatinya, Jones berusaha keras menahan perasaannya.


"Aa.."


"Iya sayang kenapa ?." suara berat.


"Nanti kalau Shafa hamil Aa aja yang ngidam ya, Shafa kan mau wisuda dan ujian."


Suara Jones tercekat di tenggorokan, untuk sesaat dia terdiam, rasa sesak di dadanya semakin terasa berat dan sakit.


"Emhhh iya sayang Aa, nanti biar Aa yang ngidam, mual dan muntah serta keluhan lainnya dede makan yang banyak dan enak enak untuk pertumbuhan anak kita." jawabnya pelan tangan kanannya membelai sayang punggung Shafa sampai sang istri tertidur pulas.


"Ya Tuhan ku.. ku mohon tolong titipkan di rahim istriku anak yang sangat kami inginkan, ku mohon ya Tuhan aku sungguh tidak tega melihat istri ku nanti kalau harapan dan keinginannya tidak tercapai." doa Jones dalam hati dengan air mata mengalir.


Keesokan harinya Shafa bangun dengan posisi masih berada di atas Jones, di lihatnya wajah sang suami yang tampak pucat serta mata terpejam.


Seketika Shafa turun kesamping, di rabanya wajah dan dada Jones, laki-laki itu tampak kaku kedua matanya masih terpejam.


"Huaaa... Aa... Aa.. jangan mati Aa, huaaaa Aa bangun .. bangun." tangis Shafa kencang membuat Jones melompat bangun karna terkejut.


"Kenapa sayang, ada apa ?." Jones langsung memeluk tubuh polos Shafa yang duduk di sampingnya.


"Huaaa Aa.. Aa.."


"Kenapa istri Aa." tanya Jones bingung dengan suara serak dan berat khas bangun tidur.


"Aa.. huaaaa.. Shafa kira Aa tadi kenapa napa, Aa diam aja wajah Aa juga pucat, pasti karna Shafa bobok di sini semalaman kan, Shafa berat ya Aa ngak bisa napas." tangisnya makin jadi.


"Cup..cup..cup.. ngak kok sayang, Aa ngak apa apa, semalam dede juga bobok di sini kan ngak apa apa hmm." menunjuk dadanya.


"Jangan goda Aa sayang, udah pagi kita belum mandi dan sholat." membelai rambut panjang Shafa.


"Siapa yang menggoda Aa." mengusap air mata.


"Ya sudah ayo mandi, Aa mandikan ya hmm." membelai rambut panjang Shafa.


Jones berjalan sempoyongan, kepalanya tiba tiba pusing namun dia berusaha kuat berjalan ke kamar mandi karna takut istrinya cemas lagi.


Jones dengan cepat memandikan istrinya kemudian dia, setelah mandi, berganti pakaian dan menunaikan ibadah sholat subuh Jones meninggalkan Shafa di kamar sendirian karna ingin tidur lagi.


"Kenapa ahir ahir ini istri gua suka tidur lagi habis sholat subuh, biasanya ngaji atau belajar." gumam Johan dalam hati.


Laki-laki itu berjalan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan, sewaktu sibuk menggoreng bawang tiba tiba Jones ingin muntah, laki-laki itu berjalan cepat menuju wastapel setelah mematikan kompor.


Uekkk.. uekkk...


Kepala Jones pusing lagi, perutnya terasa perih laki-laki itu kembali muntah sampai tenggorokannya terasa sakit.


"Aa.." panggil Shafa.


Hmmm..


"Aa kenapa hiks.." memeluk Jones dari belakang sementara laki-laki itu masih mencuci mulutnya.


"Tidak apa apa sayang Aa." berbalik dan membalas pelukan wanita yang teramat sangat ia cintai itu.


"Terus kok Aa muntah, Aa sakit ya hiks.."


"Ngak sayang, Aa mungkin cuma masuk angin, ngak apa apa yank, jangan nangis hmm." mengecup kening Shafa.


"Beneran ?."


"Iya istri ku sayang." tersenyum.

__ADS_1


" Aa biar Shafa aja yang masak ya."


"Jangan Aa saja, dede tunggu di sana ok." menunjuk kursi makan.


"Ngak Shafa aja yang masak, Aa yang duduk di sana saja, sejak kita nikah Shafa belum pernah masak untuk Aa, Shafa jadi malu kan masa di masakin terus, padahal urusan dapur dan rumah kan urusan perempuan."


"Betul sayang, tapi Aa ngak mau dede kerjakan itu semua, selagi Aa bisa biar Aa yang kerjakan, lagian Aa yang mau ngak ada yang maksa, anggap aja sebagai tanda cinta Aa pada istri."


"Tapi Shafa kan pengen masak untuk Aa."


"Nanti ada waktunya sayang, sekarang biar Aa yang melakukannya oke." membawa Shafa berjalan ke arah meja makan.


"Tapi Aa Shafa ngak mau makan yang berminyak, Shafa mau salad sayur sama buah aja." cicitnya manja.


"Hahhh pagi pagi sayang."


"Huuhhhhh.. mau salad Aa."


"Tapi minum susu dulu ya."


"Ngak A Shafa mau salad aja," rengeknya.


"Oke .. tapi nanti tetap makan nasi ya."


"Hmmm nanti aja."


Jones lalu membuatkan salad yang di inginkan oleh Shafa, setelah sarapan Jones lalu mengantar Shafa kekampus menggunakan mobil yang biasa di pakai oleh Shafa.


Setelah yakin Shafa masuk ke dalam kampus bersama bodyguar Jones baru meninggalkan Shafa dengan mobil lain.


Di rumah sakit Jones kembali pusing, mual bahkan muntah, praktek poli tidak sampai selesai ia kerjakan masih banyak pasien yang antri dan terpaksa di teruskan oleh dokter Alwi yang bertugas di ruang rawat inap sementara Jones sendiri istirahat di dalam kamar khusus untuk dokter.


"Gua antar pulang saja ya, lu istirahat di rumah biar lebih nyaman." dokter Ryan.


"Ngak usah di sini saja, paling gua cuma masuk angin bro tidak apa apa, lu semua kerjakan tugas saja gua ngak apa apa kok." Jones berbaring lemah di tempat tidur.


"Ya mungkin saja masuk angin, tekanan darah dan pemeriksaan lainnya semua normal kok." dokter Anton.


"Tapi lu tetap butuh istirahat, kita ngak tenang ninggalin lu sendiri di sini bro, atau gua hubungi asisten lu buat antar lu pulang ?." dokter Ryan.


"Tidak usah, kalau gua pulang sekarang dan istri gua tau bisa bisa istri gua menangis seharian karna cemas."


"Jadi lu ngak mau pulang." dokter Anton.


"Iya lu pergi saja, kalau sudah enakan nanti gua pulang sendiri." Jones.


"Oke .. tapi kalau ada apa apa hubungi kita bro."


dokter Anton.


"Oke .."


************


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


💝 LIKE


💝 RATE


💝 VOTE


💝 HADIAH yang banyak


💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..

__ADS_1


Happy Reading.


__ADS_2