UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
164. Janda.


__ADS_3

Sudah hampir dua minggu sejak kepergian Jones, selama dua minggu itu Shafa terbaring di tempat tidur kamarnya di rumah besar.


Tidak ada air mata, tidak ada tangis tidak ada senyum bahkan tidak ada gairah hidup, jiwanya seakan di bawa Jones pergi, dia diam membisu.


Makan kalau di suruh makan itupun cuma dua tiga sendok karna di paksa, mandi kalau di minta mandi, sholat kalau di ingatkan sholat.


Shafa seperti mayat hidup yang kebutuhan nutrisinya selalu di bantu oleh cairan infus serta tenaganya di bantu obat obatan.


Johan sama terpukul melihat kondisi putri sulungnya itu, selama ini dia sangat dekat dengan Naya, sampai sampai Naya di suruh pulang ke Indonesia bersama anaknya yang masih bayi dan Arkhan tentunya.


Namun kehadiran mereka di sana belum ada tanda tanda membuahkan hasil, Shafa tetap tidak ingin berintegrasi dengan siapapun meski itu kakak angkatnya sendiri.


Naya duduk di samping Shafa di biarkannya Arkhana putra anaknya bermain di samping Shafa.


Naya berharap dengan melihat putranya ada di sisi Shafa wanita cantik itu bisa bersemangat dan bisa memotifasi dirinya untuk bangkit, demi anak anak yang ada di dalam rahimnya.


Tapi Shafa tetap diam, segala cara sudah ia lakukan, biasanya Shafa sangat mudah untuk di dekati dan di beri masukan kali ini dia seakan menutup diri dari apapun dan dari siapapun.


"Dek..jangan begini, jangan diam saja, kalau Shafa mau nangis nangis lah dek asal jangan meratap, jangan diam saja lepaskan sesak dan sakit yang ada di dadamu dek, lebih baik menangis dari pada diam menyimpan, nanti bisa jadi penyakit, menangis lah dek."


Naya memeluk Shafa menepuk nepuk punggung Shafa pelan, sembari memberikan nasehat nasehat pada sang adik angkat.


"Dek.. waktu di asrama kita di ajarkan bagai mana bersikap saat kita kehilangan kan, dalam agama kita tidak di perbolehkan berduka berkepanjangan harus bangkit dan harus kuat, karna apa doa dan amalan dari kita yang di butuhkan bukan ratapan atau duka yang panjang."


Naya terus saja memberikan nasehat nasehat pada Shafa, sudah empat hari mereka tinggal di rumah besar, setiap hari Naya selalu memotifasi Shafa agar bangkit dan kuat.


"Dek.. semua akan kembali padanya tidak terkecuali kita sendiri, karna itu kita harus kembali bersemangat menghadapi hidup ini, adek sayang sama diri adek kan."


Naya melepaskan pelukannya dan menatap manik mata teduh dan lembut milik Shafa, Naya ingin melihat reaksi wanita muda itu, namun tetap tidak ada jawaban.


"Adek sayang sama suami adek ?." tanya Naya lagi, menggenggam tangan Shafa.


Hiks...


Tiba-tiba terdengar suara tangis Shafa untuk pertama kalinya sejak Jones di bawa pergi oleh Daddynya, sejak Jones di nyatakan meninggal dan meninggalkan nya kenegara Axton untuk di makamkan di sana sesuai keinginan sang Daddy.


"Menangislah dek, menangis tidak ada larangan untuk hamba Allah untuk menangis kalau sedang berduka atau hal lainnya, menangislah jika membuat hatimu lega." ucap Naya lagi.


Hiks..hiks..


"Adek sayang suami adek kan ?." tanya Naya lagi.


"Hiks..hiks ya kak." jawab Shafa putus putus dan dengan suara pelan.


"Baik..kalau memang sayang adek harus bangkit, lihat ini buah cinta suami adek, suami adek sangat sayang dan cinta pada adek, dia cuma khilaf sebelumnya, tapi itu semua bukan ia sengaja, cuma khilaf dek, mau kan memaafkanya."


"Yahh kak, Shafa udah lama maafkan Aa hiks..hiks..hiks."


"Kalau begitu bangkitlah dek, jangan sakiti diri adek, apa lagi ini yang ada di dalam rahim adek, kalau Mommynya sakit anaknya juga sakit kalau Mommy nya sedih anaknya juga pasti ikut sedih kita sama sama tau itu, apa lagi adek kan dokter, adek lebih tau bagai mana baiknya seorang bumil bersikap pada saat hamil."


Hiks..hiks..


"Menangislah dek, puaskan dan lepaskan beban di hatimu dek, lebih baik lagi menangislah di atas sejadahmu adukan padanya yang maha kuasa segala keresahan yang ada di hatimu dek karna hanya padanya kita berserah diri dan memohon pertolongan tapi setelah itu adek harus bangkit."


Hiks..hiks..


"Gimana Shafa mau bangkit kak, Shafa bingung kak, Shafa bingung." tangis Shafa sambil menutup wajahnya.


"Apa yang adek bingungkan katakan pada kakak mana tau kakak bisa bantu cari solusinya."


"Kakak ngak bisa kak."


"Tidak ada yang tidak bisa dek, tergantung usaha kita." membelai tangan Shafa lembut.


"Shafa bingung kak, kalau anak anak Shafa lahir nanti dan bertanya Daddynya Shafa harus apa kak, Shafa bilang Daddynya sudah ngak ada, apa anak anak Shafa ngak sedih kak, lagian apa Shafa bisa urus sendiri anak anak Shafa."

__ADS_1


Shafa ahirnya mengeluarkan keluh kesahnya, ia menangis semakin jadi sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Dek.. adek berpikir terlalu jauh, itu masih tiga empat tahun lagi saat mereka pandai bicara, sekarang ini yang perlu adek pikirkan adalah kesehatan adek dan anak anak adek." menjeda kata katanya sejenak melihat reaksi Shafa.


"Kalau adek sayang suami adek berarti adek sayang anak anaknya kan, anak anak yang ia titipkan di rahim adek untuk adek jaga dan lindungi sampai mereka lahir dan tubuh besar hingga dewasa." menatap manik mata Shafa dalam.


"Kalau adek begini terus bagai mana adek menjaga dan melindungi anak anak adek, adek mau mereka lahir nanti BBLR atau gizi buruk dan bisa jadi lahir cacat karna kurang nutrisi dari Mommynya, adek mau gitu ."


"Ngak...ngak kakak hiks ngak kak." tangis Shafa.


"Kalau ngak mau bangkit dek, berjuanglah demi anak anak adek, demi suami adek bangkitlah dek, adek sudah hampir dua minggu begini terus, lihat adek makin kurus dan sangat kurus malahan."


Naya menatap iba adek angkat nya itu, bagai mana mungkin semuda ini menjadi janda di umur yang bahkan belum genap dua puluh tahun.


Tapi itulah takdir kita manusia tinggal menjalani dan berusaha saja, segala ketentuan di kehidupan ini sudah tertulis di garis tangan masing masing.


Naya sedikit banyaknya sudah berhasil membuka hati Shafa agar lebih tenang dan tegar, tinggal Johan yang tidak tenang setelah mendengar pembicaraan Naya di balik pintu bersama Zahra.


Laki-laki itu menangis di pelukan Zahra, dia menyesali semua tindakannya yang ahirnya membuat putrinya terpuruk, laki-laki besar itu kini tidak berdaya dengan segala kekesalan dan kemarahan pada dirinya sendiri.


Entah pemikiran dari mana datangnya sehingga Johan sangat ingin membuat putrinya itu berpisah dari Jones, awalnya ia berpikir kalau Shafa tidak akan terpengaruh tapi dia salah.


Shafa justru terpuruk dan terluka akibat kepergian Jones hal yang di luar perkiraannya, karna selama ini Shafa tidak pernah menunjukan rasa sayang dan cinta pada suaminya itu.


Padahal bukan karna tidak sayang hanya saja Shafa tidak tau dan tidak pandai mengapresiasikan perasaannya pada Jones.


Meski rasa sayang dan cinta Jones terlihat jelas dari cara ia memperlakukan Shafa dari cara ia menjaga dan memanjakan Shafa istrinya.


"Ko.. sudahlah, ayo Sholat ko, tenang kan diri koko, istiqfar ko, semua manusia punya kesalahan, apa lagi silaf lagi ouka semua itu terjadi sudah takdir putri kita."


Zahra mengajak Johan menuju kamar mereka, wanita itu tidak mau kalau sampai tiba tiba putrinya keluar kamar dan menemukan mereka di sana.


"Yank.. maafkan koko ya, ini semua terjadi karna koko, andai saat itu koko tidak keras dan tidak memaksa Jones meninggalkan kak Shafa semua ini tidak akan terjadi koko masih bisa melihat senyum dan tawa kak Shafa, maaf yank koko bukan ayah yang baik."


Untung ada Andy dan Aldo yang menghendle perusahaan sementara waktu, Robby sendiri juga sudah dua minggu tidak kekantor bahkan dia menabuh genderang perang dengan Johan.


Robby menyalahkan Johan karna kematian Jones, Robby tidak terima semua yang terjadi pada Jones, dia marah dan memaki Johan karna kekeras kepalaan Johan yang tidak mau memaafkan Jones dan membiarkan Jones kembali bersama istrinya.


Kedua orang itu kini sama sama sedang introspeksi diri, sama sama berkurang di rumah masing masing.


"Dek.. makan ya, kakak masak sayuran kesukaan Shafa, makan ya biar kakak suapin." bujuk Naya.


Wanita cantik dan lembut itu menyodorkan sendok berisi nasi dan sayuran ke mulut Shafa tapi Shafa menolak.


"Katanya mau makan dan mau bangkit demi anak anaknya tapi kok ngak mau makan sih." Naya.


"Shafa ngak bisa makan kak, perut Shafa ngak mau terima, Shafa ngak bisa kak."


"Bisa dek, sedikit sedikit aja dulu, lama lama nanti enak juga makannya."


"Naya.. biar papa yang nyuapi kak Shafa, kamu urus Arkhana dia menangis terus ayahnya sudah bingung mendiamkannya." Johan mengambil piring berisi nasi dari tangan Naya.


"Iya pa, ma Naya lihat Arkhana dulu ya, dek kakak ke bawah dulu, adek makan ya." mencium kening Shafa, kemudian dia pergi meninggalkan Zahra dan Johan di kamar Shafa.


"Kak..makan ya, papa mohon, nanti kalau kakak sudah sehat dan punya tenaga kakak boleh pukul papa dan menghukum papa kalau kakak rasa itu bisa membuat kakak lega, papa salah ya papa mengaku salah karna memisahkan kalian maafkan papa nak, tapi percayalah bukan seperti ini yang papa mau, papa hanya ingin memberikan pelajaran pada suami kakak agar tidak bertindak sembarangan lagi."


Shafa diam.


"Kakak marah pada papa ya ?, kakak tidak mau memaafkan papa hmm."


"Tidak pa, Shafa tidak marah." jawabnya lirih.


"Kalau begitu ayo makan nak, sudah beberapa hari ini kakak makanya tidak teratur, kasian calon cucu cucu papa."


"Nanti saja papa, sekarang Shafa belum mood makan."

__ADS_1


"Jangan menunggu mood nak, lihat tubuh mu sangat kurus, tinggal tulang di balut kulit, bibirmu sampe pecah pecah begini kakak ngak kwatir sama anak anak kakak ya, kalau kakak begini terus suami kakak di sana pasti akan makin tersiksa, mana dia pergi dengan cara begitu."


"Huaaa huaaaa Aaa aa huaaa huaaaa aaaaaa kenapa kenapa perginya begitu huaaa bagai mana Shafa menolong Aa huaaaa."


Shafa menangis histeris dia menjambak rambutnya kuat, melempar semua bantal dan bahkan ia melempar piring yang ada di tangan Johan.


Johan dan Zahra kebingungan bagai mana cara menenangkan Shafa, ternyata selama dua minggu ini hal itulah yang menjadi beban pikiran Shafa.


Suaminya meninggal karna bunuh diri dengan cara menembak kepalanya sendiri, Shafa jelas tau itu dosa besar dosa yang sulit di ampuni oleh Allah.


Shafa menangis sejadi jadinya, Zahra memeluk putrinya itu erat merasa bersalah karna mengungkit sebab kematian Jones.


"Kak..maaf kan mama ya nak, bukan maksud mama."


"Ma.. Shafa bukan istri yang baik buat Aa, Shafa jahat sama Aa, Shafa sering buat Aa terluka Shafa tidak pernah buat Aa bahagia, Shafa bukan istri yang baik sampai Aa melakukan hal di larang Agama ma, Shafa jahat Shafa berdosa pada Aa." teriak Shafa.


"Tidak nak kakak jangan begitu, kakak istri yang baik dan istri yang sudah membuat suami kakak bahagia, impiannya bisa bersama kakak meski segala cara ia lakukan sudah terlaksana dia pasti bahagia nak." Zahra ikut menangis begitupun Johan.


"Tidak ma, karna Shafa juga penyebab Aa meninggalkan Shafa selamanya, Shafa jahat ma, pantas mama Dara benci sama Shafa huaaa huaaa."


"Stttt jangan bilang gitu nak, kakak putri papa yang terbaik, karna kakak yang terbaik makanya Jones tidak sanggup berpisah dengan kakak."


"Lalu kenapa kami ngak bisa sama papa, apa salah Shafa." tangis Shafa sesegukan.


Johan terdiam, dia tidak bisa menjawab karna sumber permasalahan mereka tidak bisa bersama tidak luput dari peran Johan.


Johan orang yang paling keras menentang mereka bersama kembali sampai sampai Johan mengurus surat cerai putrinya itu.


"Papa..papa.. kenapa papa." tangis Shafa.


"Kak..tolong jangan menangis lagi, papa minta maaf semua salah papa, papa yang salah, maafkan papa kak."


Tangis Johan, laki-laki itu tidak sanggup lagi berhadapan dengan putrinya itu tanpa kata, Johan bangkit dari duduknya lalu keluar dari kamar Shafa dengan air mata masih mengalir.


"Kak..jangan begitu nak, lihat papa, papa sama terpukul dengan kita, papa merasa bersalah karna papa penyebab salah satu


nya membuat Jones nekat, tapi percaya lah bukan seperti itu yang papa mau, papa cuma ingin kakak terhindar dari kejutan mama Dara, mertua kakak jika satu kali saja dia berani menampar kakak bukan tidak mungkin lain waktu nanti dia bisa melakukan lebih, karna itu papa tidak rela kalian bersama lagi, papa memang salah tapi Jones juga yang nekat, maaf nak bukan mengungkit kesalahan yang telah tiada tapi itulah kenyataannya."


Zahra membelai belai rambut Shafa, dia juga bingung bagai mana cara menjelaskannya pada sang putri bagai mana cara menenangkan putrinya itu.


"Mama..kenapa Daddy belum datang, Daddy bohong sama Shafa kata Daddy cuma satu minggu setelah urusan Aa selesai kenapa sampai sekarang Daddy ngak datang juga, apa Daddy marah pada Shafa ma."


"Mama tidak tau nak, mungkin Daddy masih sibuk Daddy juga masih shoc dengan kejadian ini, sabar lah nak."


☘☘☘☘☘☘


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


☘ LIKE


☘ RATE


☘ VOTE


☘ HADIAH yang banyak


☘KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2