UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
107. Mau di Peluk.


__ADS_3

"Jones, istirahat lah biar saya yang menjaga kak Shafa." Zahra.


"Tidak apa apa ma, kalian saja yang istirahat saya mau nungguin istri saya bangun, saya akan tetap di sini sampai istri saya terjaga."


"Ya sudah, kami juga akan menunggu di sini saja." Zahra mengalah, sedari tadi di suruh istirahat Jones selalu menolak dengan alasan ia ingin saat Shafa terjaga orang yang pertama kali ia lihat adalah dirinya.


Jones tidak pernah melepaskan genggaman tangannya dari Shafa, ia bahkan berkali kali menciumi wajah istrinya meski di ruangan itu bukan cuma mereka berdua dia tidak perduli.


"Hiks.. Sayangku, ayo bangun dong, jangan bobok terus, Aa ngak punya teman cerita, Aa kangen suara sayang, bangun dong yank." bisik Jones.


Padahal setelah operasi setelah jam kemudian Shafa sudah terjaga tapi tidak lama kemudian ia tertidur lagi, mungkin karna sejak menikah pola tidur Shafa sering terganggu karna sering melayani suami setiap hari dan setiap malam sehingga setelah operasi dia jadi mengangtuk terus dan ingin tidur.


Sudah jam lima sore Shafa belum juga bangun, Shafa operasi jam delapan pagi dan selesai satu jam kemudian, Shafa sudah tidur beberapa jam dan selama itu Jones tetap setia di sisinya.


Jangankan bangkit makan, buang air kecil saja ia tahan karna tidak ingin meninggalkan istri nya itu, sejak pagi laki-laki itu tidak makan sama sekali bahkan minum kalau tidak di paksa Johan ia tidak minum.


"Koko di kenal orang Ceo dingin tapi bucin, sekarang tambah satu bucin lagi di rumah kita, hahhh dasar laki-laki." gumam Zahra.


Pasangan suami istri itu sama sama duduk di sopa di sudut ruangan, mereka berdua bergantian menegur Jones agar istirahat tapi suara mereka berdua tak satupun yang ia dengarkan.


"Huhhh .. dia saja yang niru niru koko yank, padahal dasarnya memang dia bucin kalau sudah jatuh cinta, walaupun tau wanita yang dia pacari wanita yang tidak setia." senyum Johan mengingat masa lalu Jones.


"Jones pernah menjalin hubungan dengan wanita lain sebelum bersama kak Shafa ko."


"Iya sayang, laki-laki paling brengsek di antara kami ya dia, koko belum pernah berhubungan dengan wanita manapun sebelumnya robby juga menikah karna di jodohkan."


"Ohhh lalu bagai mana putus."


"Pas malam pertama kita, Jones berjanji menemui kekasihnya tapi begitu bertemu Jones meninggalkannya lagi karna koko telepon, begitu urusan selesai Jones menemui perempuan itu tapi perempuan itu sedang berada di bawah laki-laki lain." kenang Johan.


Siapa sangka jodoh Jones justru putrinya.


"Maksudnya, berhubungan badan gitu ?."


"Iya yank, lagi di goyang laki-laki lain."sinis


Johan.


"Ishhhhh apa kupu kupu malam ko ?."


"Bisa di bilang begitu, dia cuma ingin uang Jones sedangkan dia bergonta ganti laki-laki untuk tidur dengannya, kami sudah memperingatkan tapi Jones tidak mendengarkan karna katanya kami tidak punya bukti."


"Dia sangat mencintai orang itu ?."


"Tidak juga, tapi Jones di jodohkan mamanya, Jones lalu berusaha untuk menyesuaikan diri dengan perempuan itu, tapi Jones memang tipe orang yang setia karna itu dia berusaha bertahan, apa lagi memang dia tidak memiliki bukti untuk membatalkan perjodohan mereka."


Zahra mengangguk, wanita itu baru tau kalau menantunya itu pernah menjalin hubungan serius dengan wanita lain selain putrinya.


"Sudah tidak usah di bahas sayang, itu cuma bagian masa lalu Jones, jangan sampai putri kita tau koko takut kakak tersinggung, putri kita belum pernah tau laki-laki selain Jones."


"Iya ko."


Sedang asik berbincang tiba-tiba suara isakan Jones terdengar, tubuh laki-laki itu bergetar menahan tangisnya, Jones berulang kali menyeka air matanya, ia menunduk mendekati wajah Shafa berulang kali memanggil namanya.


"Sayangku, bangun dong, Aa kangen." isaknya membuat Johan dan Zahra bingung dan saling pandang.


"Kak Shafa ?." Zahra.


"Kenapa ?." Johan.


Keduanya sama sama bangkit dari duduk masing masing dan berjalan ke arah Jones, mereka mengira ada yang terjadi pada putri mereka itu sehingga mereka berdua menjadi ketakutan.


"Ada apa, putri gua kenapa Jones ?." tanya Johan panik sembari mendekati Shafa menyentuh keningnya.


"Shafa kenapa." Zahra.


"Ngak apa apa, gua cuma ingin membangunkan istri gua." jawab Jones.


"Hahhh lalu kenapa lu pake nangis sih, buat gua spott jantung saja lu." Johan.


Jones tidak menjawab.


"Lu butuh istirahat, sana makan, mandi biar lu ngak buat panik." Johan.


"Ngak gua akan di sini saja, lu aja yang istirahat." bicara tampa menoleh.


"Dasar .." Johan kembali duduk bersama Zahra, Zahra terdiam, ia lalu teringat kondisinya dulu pasca operasi dia sempat tidak sadar beberapa hari, mengingat itu menjadikan Zahra takut dan cemas kalau hal yang sama terjadi pada putrinya.


"Kenapa yank."


"Koko aku takut terjadi sesuatu pada kakak, aku takut kejadian yang ku alami dulu terjadi pada kakak koko." ucap Zahra berkaca kaca.


"Sttt.. jangan takut sayang, ngak akan kenapa napa yangk percayalah, putri kita pasti akan baik baik saja."


"Aminn.. semoga ko."


Jones mencium tangan Shafa berkali kali, dia tau kondisi istri nya stabil tapi yang membuat dia takut istrinya tidur terlalu lama, padahal sebenarnya Shafa beberapa kali terbangun namun tidur lagi, hanya saja Jones lupa hal itu.


"Enghhh.. Aa.." panggil Shafa dengan suara serak khas bangun tidur.


"Yank.. sayangku, dede udah bangun." semangat Jones begitu melihat mata bening istri nya yang menetap teduh padanya.


"Enghhhh Aa, haus .."


"Dede mau minum, sebentar Aa periksa dulu ya."


Jones lalu meraih stetescop di atas meja instrumen, perlahan ia periksa bagian perut dan dada istrinya.


"Dede belum buang angin."


"Ngak tau A, Shafa minum ya, haus."


"Sebenar lagi ya sayang."

__ADS_1


"Enghhhh.. haus Aa." rengek Shafa.


"Aa juga haus, haus ciuman sayang, Aa kiss aja ya hmmm boyeh ?."


"Aa Shafa haus mau minum bukan mau kiss." kesal Shafa.


"Sabar istri ku, sebenar lagi ya."


"Loh...kesayangan papa sudah bangun." Johan dan Zahra datang menghampiri begitu mendengar bisik bisik pasangan suami istri itu.


"Enghhhh ya papa."


"Udah baikan kan nak, atau masih ada yang sakit kak." membelai kepala Shafa senyum kelegaaan terpancar di wajah cantik sang mama, melihat putranya yang sudah bangun bahkan sudah bisa berdebat kecil dengan suaminya.


"Shafa ngak apa apa ma, pa Shafa cuma haus aja, Aa ngak mau kasih minum Shafa." adunya pada kedua orangtua.


"Jones.." hardik Johan.


"Sayang, Aa kan jadi di marah." pura pura sedih.


"Jangan bertingkah lu Johan, kenapa putri gua ngak di kasih minum."


"Belum waktunya papa mertua, tunggu buang angin dulu, dan gua masih harus memeriksa lanjut pristaltik usus istri gua."


"Apa itu, jangan gunakan bahasa yang gua tidak mengerti." Johan.


"Tunggu saluran pencernaan berfungsi kembali koko, biasanya sehabis operasi memang belum bisa makan dan minum sebelum ada tanda tanda saluran pencernaan berfungsi." jelas Zahra.


"Ohhh gitu ya, lalu kapan itu."


"Biasanya di periksa pakai alat stetescop atau kalau sudah buang angin baru bisa makan minum itupun tidak boleh langsung banyak." Zahra.


Johan mengangguk angguk.


"Kalau gitu kakak sabar ya nak, paling sebentar lagi sudah bisa minum." bujuk Johan.


"Hmmm iya pa." pasrah.


Setelah yakin putrinya sudah lebih baik Johan, Zahra dan keluarga lainnya pamit pulang, Jones bahkan mengusir terang terangan mertuanya itu karna ingin merawat dan menjada istri sendiri.


Kini tinggal pasangan suami istri itu berdua di dalam kamar rawatan, sementara di luar pengawalan tetap di perketat.


"Jangan banyak minum dulu ya sayang, dikit dikit saja, nanti kalau pencernaan sayang sudah benar benar berfungsi baru banyakin minum ya."


"Iya Aa."


"Ada yang sakit sayang ?."


"Ngak Aa, cuma Shafa mau miring punggung Shafa panas, boleh."


"Boleh yangk tapi sebentar aja ya."


"Enghhhh ya Aa."


"Assalamualaikum wrwb.."


Pintu kamar di buka dari luar, lalu muncul Nazwan dan Irwan di sana, mereka datang membawa beberapa kantong plastik berisi buah buahan dan oleh oleh dari kampung.


"Apa kabar anak ayah." Nazwan.


"Ayah .. Shafa baik yah."


"Alhamdulillah.., Shafa udah bisa makan ? tadi ayah masak bubur kesukaan mu nak."


"Boleh A."


"Boleh sayang, tapi jangan banyak dulu ya."


"Kalau gitu ayah suapin ya."


"Iya yah.."


"Kamu istirahat saja, biar aku yang temani Shafa dulu." Nazwan membuka rantang berisi bubur nasi lengkap dengan sayuran dan lauknya yang di masak bersamaan.


Aroma makanan itu melompat keluar begitu rantang terbuka, aroma rempah pada kuah sop bercampur nasi itu begitu wangi menggugah selera.


"Saya ngak apa apa yah, ngak perlu istirahat, tapi saya mandi sebentar saja tolong ayah temani istri saya." menelan ludah melihat makanan yang mulai di sendokkan Nazwan ke mulut Shafa.


"Ya mandi sana, pantesan dari tadi bau cacing ternyata kamu yang ngak mandi." ejek Nazwan.


"Hisss jangan gitu ayah mertua, begini nih menantumu yang paling ganteng sedunia." tawa Jones, berjalan ke kamar mandi membawa perlengkapan mandi dan bajunya.


"Dasar menantu sialan."


"Ayah jangan bilang sialan dong."


"Terus ?."


"Paling ganteng sedunia ?." kekeh Shafa tertahan karna luka operasinya.


"Wahhh udah kompak sekarang ya."


Hehehehe..


Setelah selesai mandi Jones keluar sudah rapi namun dia masih mengeringkan rambutnya yang sedikit panjang dengan handuk kecil di tangannya.


Suara handphone Jones berdering.


"Hallo papa mertua, kenapa nelpon malam malam kangen ya." tawa Jones.


"Cih.. muntah gua, mana putri gua, mamanya mau ngomong."


"Sebentar papa .." berjalan ke arah Shafa dan menyerahkan handphone itu pada

__ADS_1


Huhhh .. keluh Johan jengah.


"Assalamualaikum wrwb iya mama." Shafa.


"Lagi apa kak ?." Zahra.


"Makan mama."


"Makan ?, pakai apa ?."


"Bubur sop mama, di masak ayah."


"O.. ya.. bagus dong, kak.. suami kakak sudah makan ?."


"Ngak tau mama."


"Dari pagi suami kakak belum makan bahkan bum ada istirahat, minta suami kakak makan dulu kasian nak, pasti dia sangat cape."


Seketika nafsu makan Shafa hilang, mulutnya berhenti mengunyah, hatinya terasa nyeri mendengar perkataan mamanya, di tatapnya suaminya yang sibuk membereskan obat obatnya dan membereskan barang barang.


Shafa menjadi tidak sanggup menerima suapan dari ayahnya, betapa egois nya dia betapa tidak berbaktinya ia, meski tidak bisa menyiapkan perlengkapan atau makanan untuk suaminya setidaknya ia bertanya apakah sudah makan atau belum, tapi yang terjadi dia malah makan sendiri.


"Kakak.. kakak dengar mama ?."


"Iya mama, Shafa dengar." jawabnya lirih.


Panggilan terputus.


"Kenapa.nak kok ngak makan lagi ?." Nazwan.


"Shafa belum boleh makan banyak yah, nanti Shafa makan lagi." jawabnya padahal dia masih lapar.


"Yah udah nasinya ayah simpan lagi."


"Iya yah.."


Nazwan menyimpan makanan itu lalu ia beranjak menuju kamar mandi untuk mencuci tangan, Jones menggantikan mertua duduk di depan Shafa.


"Kok berhenti makanya yank."


"Kata Aa belum boleh banyak."


"Iya yank, tapi kalau dede lapar lagi nanti boleh kok makan lagi."


"Iya Aa, Aa udah makan ?."


"Nanti saja sayang."


"Makan sekarang."


"Aa belum makan nanti saja ya."


"Kalau Aa ngak makan, nanti Shafa juga ngak mau makan lagi." ancamnya, mewek.


"Loh kok gitu yank."


"Pokoknya Aa harus makan, nanti kalau Aa sakit karna ngak makan makan yang urusin Shafa siapa masa abang abang perawat sih." ancam Shafa.


"Eitshhhh ngak dong, meski Aa sekarat Aa tidak akan izinkan orang lain menjaga dan merawat sayang, oke .. Aa akan makan tapi bentar lagi ya."


"Sekarang.."


"Oke.. oke .. Aa minta asisten Aa membelikan makanan untuk Aa biar di antar ke mari." mengambil handphone lalu menghubungi seseorang.


Nazwan dan Irwan sudah kembali ke apartemen Jones kini tinggal mereka berdua saja, Jones duduk di kursi empuk di sisi Shafa sedang sang istri sudah berulang kali menguap karna mengantuk.


"Aa Shafa bobok ya."


"Iya yank bobok lah."


"Aa ?."


"Aa akan berjaga disini."


"Enghhhh tapi Shafa mau di peluk." merentangkan kedua tangannya agar Jones datang memeluknya.


"Sayang mau di peluk ?." tersenyum bahagia, untuk pertama kali sang istri minta di peluk.


"Enghhhh.. ya."


"Tentu saja sayang ku, Aa juga mau banget peluk sayang." Jones naik ke atas tempat tidur yang cukup luas itu, sehingga bisa untuk mereka berdua.


Sebenarnya Shafa sengaja meminta Jones memeluknya agar laki-laki itu bisa istirahat dengan nyaman bersamanya tampa harus duduk kaku di atas kursi.


πŸ«’πŸ«’πŸ«’πŸ«’πŸ«’πŸ«’


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baikΒ  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


πŸ’ LIKE


πŸ’ RATE


πŸ’ VOTE


πŸ’ HADIAH yang banyak


πŸ’KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..

__ADS_1


Happy Reading.


__ADS_2