
"Uncle.. kok bisa ?."
"Ya bisalah, aku gitu loh hehehe, udah cepat pindah." titah Jones.
Para bodyguard di mobil lain juga ikut parkir di sisi jalan di belakang mobil yang di kemudi Jones, mereka keluar dari mobil dan menghampiri mobil yang membawa majikannya.
"Ada apa, nona tidak apa apa." tanya bodyguar pria pada Asiah yang sudah keluar dari bangku depan.
"Aku ngak apa apa Uncle, mau pindah duduk aja, Uncle kembali saja ke mobil."
"Baik nona." para laki-laki kembali kedalam mobil tapi mata mereka sempat melihat seseorang di bangku kemudi, Jones membuka kaca mata topi dan maskernya agar para bodyguard mengenalinya.
"Pak supir kemana Uncle." tanya Shafa bingung, seperti yang sudah di janjikan supir yang akan membawa Shafa dan para bodyguard adalah supir kepercayaan Johan dan Robby.
"Sudah aku pensiunkan."
"Uncle..."
"Shafa.."
"Jangan bercanda Uncle."
"Ngak tuh, aku ngak bercanda sama sekali."
"Tadi Rio tiba tiba sakit perut, dia diare makanya aku gantikan jadi supir kamu."
"Masa Uncle, lalu Uncle kenapa bisa di sini, kok Uncle tau Shafa berangkat hari ini."
"Masak di dapur hahaha.., karna kamu ngak beritahu kapan berangkat ke kampung aku punya cara lain untuk tau itu."
"Kenapa Uncle ikut."
"Siapa yang ikut ?, ingat ya aku supir kamu sekarang, kamu bayar mahal buat jasa ku." tawa Jones bahagia, ia menyetir dengan semangat dan penuh hati hati karna pujaan hati ada bersamanya.
Shafa menggeleng geleng, ia tak habis pikir mengapa Jones sampai berbuat begitu.
"Uncle masih waras ngak nih, bisanya menggeser posisi Uncle supir, apa maksud Uncle sih, lagian kok manggil Shafa sekarang kamu, kok bahasanya aku, kamu juga ya, Astagfirullah halazimm ya Allah maaf Uncle Shafa udah ngatain Uncle begitu." gumam Shafa dalam hati, kepalanya masih memutar ke arah Jones.
__ADS_1
"Kenapa lihat lihat, naksir ya." tawa Jones.
"Ishhhh ngak ya, masa naksir sama Uncle, ntar lagi peot, penyok hahahaha." Shafa tertawa terbahak bahak.
"Awas nanti kalau sampai jatuh cinta ya, awas juga ketulah cinta." cebik Jones pura pura merajuk.
"Ehhh maaf maaf Uncle, Shafa bercanda tapi kan Uncle banyak yang suka masa mau sama yang bau kencur." canda Shafa, masih mengira Jones juga bercanda.
"Bau ompol juga ngak apa apa kok, aku iklas dan rela." senyum Jones.
"Ishhhh Meimei dong." tawa Shafa.
"Ngak ahh, nunggu Janeet bisa sampe tanah jenggot ku ntar, kakak nya saja."
"Hahahahha akong akong dong, masih bisa jalan ngak itu, kakinya udah tiga tuh."
"Ishhhh segitunya ngatain calon suami, awas kualat lo, nanti tau rasa."
"Nehi... Nehi... Shafa ngak kuat kalau sampai kualat hahaha."
Jones dan Shafa masih asik bercerita sambil bercanda ria, bagi Jones bukan candaan tapi bagi Shafa tidak ada kata serius, Asiah dan Lila memperhatikan mimik wajah Niken yang tampak memerah menahan api cemburu.
Niken sendiri sudah sampai ke alam mimpi, mereka sampai di bandara tadi sudah jam delapan malam, Shafa sengaja berangkat malam agar tidak terlalu terasa jenuh di perjalanan.
"Maaf dokter, kalau sudah cape dan ngantuk biar gantian saja." Asiah.
"Tidak perlu." jawab Jones santai, ekor matanya selalu mengawasi Shafa yang tidur meringkuk karna Kedinginan.
"Baju hangat Shafa ngak ada ya." tanya Jones melirik Asiah dan Lila dari spion.
"Ada pak dokter tapi di bagasi." Lila.
"Ohhh ya sudah." Jones.
Laki-laki itu memarkirkan mobil di pinggir jalan, ia lalu membuka jacket yang ia pakai lalu ia selimutkan pada tubuh Shafa, Jones menurunkan kursi yang di tempati Shafa agar bisa bersandar dan tidur dengan nyaman.
Setelah itu ia lalu mengemudikan kembali mobil dengan kecepatan tinggi namun penuh perhitungan, Jones sudah cukup hapal jalan yang mereka lalui itu karna dulu ia beberapa kali melewatinya.
__ADS_1
Mata hari sudah mulai muncul malu malu dari upuk timur, berlahan udara sejuk masuk kedalam mobil melalui pantulan kaca, Jones memasuki halaman sebuah rumah makan sederhana.
"Nghhhh kita di mana Uncle."
"Di suatu tempat yang sangat indah dan penuh kenangan." jawab Jones memperhatikan Shafa yang masih enggan keluar dari mobil karna merasa dingin.
"Ayo turun." Jones.
"Nghhh iya Uncle." Shafa mengangkat Jacket yang menyelimuti tubuhnya.
"Uncle, ini ...."
"Pakai saja, kamu kan kedinginan."
"Tapi Uncle. "
"Ngak apa apa, pakai saja."
Shafa tentu merasa risih kalau harus memakai pakaian laki-laki lain apa lagi bukan muhrim, namun mau menolak Shafa sendiri ragu karna ia segan dan ia juga kedinginan.
ππππ
Hai....
Dukung author terus ya..
πLike..
πVote..
πRate..
πKomen yang sebanyak banyaknya.
Happy Reading.
Wo Ai ni all.........
__ADS_1
ππππππ