UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
19. Cuma kumur kumur


__ADS_3

Setelah selesai sarapan merekapun berangkat kekota kelahiran Shafa, kedua mobil mewah itu melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan yang tidak begitu ramai.


Shafa duduk di belakang dengan Jones, kursi mereka berpisah dengan sekat meja mini di antaranya, awalnya Jones ngotot ingin menyetir sendiri tapi Shafa lebih ngotot lagi tidak mau di supirin Jones yang sudah mulai ngantuk karna tidak tidur semalaman.


Ternyata sehebat hebatnya Jones dan dengan segala ke kerasannya masih kalah telak dengan Shafa, mau di lawan juga dia sendiri yang akan rugi nantinya, ia takut kalau sampai Shafa ilfil padanya.


Shafa menyandarkan tubuhnya ke kursi empuk nan mewah itu, ia mengambil buku buku yang sengaja ia bawa dari rumah, lalu ia membuka lembar demi lembar buku kedokteran di


tanganya itu.


"Kamu ya, bukannya istirahat malah baca buku,baca buku di dalam mobil itu bisa membuat mata sakit lo, udah dong, baca bukunya setelah sampai aja."


Jones meraih buku tebal itu dari tangan Shafa kemudian ia letakkan di atas meja di antara tempat duduknya dan Shafa.


"Uncle..:


" Shafa." senyum genit Jones.


"Ishhh ganggu tau."


"Biarin." Jones memejamkan matanya mencoba untuk tidur, Shafa menatap laki-laki yang sedari dulu selalu ceria dan humoris itu.


"Uncle kenapa ya, kok jadi aneh gitu ke Shafa, kok Uncle ngikutin Shafa gimana kalau calon istrinya nanti marah, bisa bisa Shafa di salahkan, tapi kenapa di salahkan Shafa kan bukan apa apa sama Uncle, toh Uncle udah Shafa anggap Uncle Shafa sendiri Uncle juga kan teman papa, lah Shafa kok mikir ke sana heheheh."


Shafa membatin bertanya sendiri dan menjawab sendiri, karna dia sangat bingung, dia menganggap sikap Jones aneh padanya.


Tampa sadar ia juga malah ikut terlelap, hari sudah siang saat mereka sampai di kota tempat tinggal Lisda dan Daniel, Shafa dan rombongan sengaja tidak singgah di kota kelahiran Zahra karna mama yani serta seluruh keluarga sedang ada di rumah lisda.


mereka kesana karna Lisda melahirkan anak keempatnya, tampaknya kepanjangan KB bagi Daniel bukan keluarga berencana tapi keluarga besar, bukan tampa alasan Daniel membiarkan Lisda hamil lagi.

__ADS_1


Daniel yang usianya yang semakin tua bukannya tambah dewasa malah tambah kekanakan, dia selalu cemburu pada setiap laki laki yang menyapa Lisda, wanita itu bukannya makin dewasa secara pisik malah makin remaja dan makin cantik.


Bahkan pernah ada anak muda yang bertanya langsung pada Daniel apakah boleh melamar Lisda karna laki-laki itu menganggap lisda putri Daniel, tentu saja laki-laki yang maha berani itu mendapatkan hadiah berharga dari Daniel karna sudah cukup bernyali melamar istrinya pada dirinya sendiri.


Karna selalu di cemburui ahirnya Lisda selalu membawa anak anaknya kemana ia pergi, sebab kalau Daniel sudah cemburu maka dia yang akan jadi sasaran kemarahan Daniel, yah meski marahnya di lampiaskan di atas tempat tidur, meski enak ya cape juga.


"Aunty.. apa kabar, duh dede bayinya gemes banget." Shafa ingin menggendong bayi imut yang baru lahir beberapa jam itu, namun karna ia belum terbiasa menggendong bayi tangannya malah gemetaran.


"Oalah.. gendong bayi saja gemetar gitu, gimana dengan bayinya sendiri." celetuk Jones pelan di dekat Shafa, ia meraih bayi mungil itu dari tangan Jones, untungnya cuma dia dan Shafa yang mendengar suaranya kalau sampai sang nenek dan yang lain dengar bisa berabekan.


"Uncle ngomong apa."


"Aku ngak ngomong kok, cuma kumur kumur." memperhatikan bayi perempuan itu dengan tatapan damba.


"Kapan aku punya bayi sendiri ya, orang orang sudah pada punya bayi aku malah sering gendong bayi orang lain." oceh Jones.


"Makanya nikah biar punya bayi, jangan asik ngeluarkan bayi orang lain, sesekali keluarkan bayi sendiri pasti seru." ejek Daniel yang sudah cukup mengenali Jones si jomlo ngenes.


"Alahhh paling belum lahir."


"Lah gua bilang belum gede, bukan belum lahir."


"Nes.. nes .. malang benar nasib lu, gua kasihan sih tapi gua ngak bisa bantu, asal jangan lu tunggu bayi gua gede aja bisa kacau dunia persilatan."


"Cihh gua memang akan nikahin putri lu, tapi bukan yang ini."


"Halah.. bilang aja lu ngak punya calon, lu trauma kan jatuh cinta, lu takut di selingkuhi lagi hahahaha." sama hal dengan Johan Daniel juga selalu beradu mulut kalau sudah ketemu dengan Jones, mereka seperti musuh bebuyutan dari masa kemasa.


"Husss gua sumpal pakai softex mulut lu baru diam." emosi Jones yang tersinggung masa lalunya di buka Daniel di hadapan Shafa.

__ADS_1


"Aihhh Uncle ngomong apa sih." hardik Shafa dengan mata melotot, Shafa berjalan menjauh dari dua orang dewasa itu.


Di hardik begitu Jones langsung diam, ia menutup mulutnya sementara sorot matanya menatap Daniel tajam.


"Hai neng, mulut gua ngak pernah di sumbat pakai softex tapi pakai ***** sering, lu ngak tau kan rasanya, makanya nikah hahaha." ejek Daniel.


"Dasar otak lo jorok, isinya.air comberan air kobokan ( air cuci tangan )." gerutu Jones berjalan ke arah mama Yani setelah memberikan baby pada Daddynya.


"Hallo nek, apa kabar." sapa Jones..


🕳🕳🕳🕳🕳🕳


Hallo man teman sesama Author dan teman pembaca salam sehat dan sayang, yuk saling mendukung dengan cara :


🌷Like


🌷Vote


🌷Rate


🌷Hadiah


🌷Komen yang membangun


dan banyak ya.


Aku selalu menunggu kehadiran kamu semua


Saling dukung.

__ADS_1


Happy Reading..


__ADS_2