
"Andai saja mama lu itu bukan mama Jones andai saja perempuan itu bukan orang tua Jones sahabat yang gua anggap saudara di saat susah dan senang." Johan berkata sambil menatap mama Dara tajam.
"Sahabat sekaligus saudara yang gua angkat dan terima menjadi menantu gua, gua percayakan kebahagiaan putri gua padanya, meski itu terjadi karna gua merasa terhutang budi sebab telah menolong putri gua berulang kali." menjeda kata kata sambil menghirup udara untuk mengisi paru parunya.
"Andai saja perempuan yang di panggil mama oleh Jones bukan dia, gua pastikan tangan gua langsung yang akan mematah matahkan seluruh anggota gerak tubuhnya tanpa sisa, gua akan berikan pada anjing anjing lapar jalanan, tapi gua tidak lakukan itu bukan karna tidak tega, namun lebih dari pada menghargai Jones saja, tapi gua sangat kecewa sekarang kecewa." Johan.
Dari kata kata Johan terdengar jelas ungkapan kekecewaan berat, emosi yang dalam dan tertahan pada keluarga Jones terutama mama Dara.
"Johan gua mohon." Jones.
"Lu tau siapa gua kan, sekali gua bilang tidak maka sampai kapan pun tidak." Johan.
Tiba tiba Jones berdiri dan langsung menarik sesuatu yang ada di pinggang Robby benda itu selalu di bawa oleh anak buah Johan kemana pergi sebagai alat untuk pertahanan diri atau untuk melindungi tuan mereka dari bahaya.
"Jones apa yang lu lakukan hahh, jangan nekat Jones." teriak Robby terkejut menyadari pistol di pinggangnya sudah berpindah tangan ke Jones.
"Tidak ada lagi gunanya gua hidup Robby tanpa istri dan anak anak gua, gua sudah lelah bro, tidak ada harapan untuk itu." jawab Jones lirih menodongkan senjata api itu tepat di kepalanya.
"Jangan bodoh, apa lu kira dengan kematian lu akan menyelesaikan masalah, goblok." Robby.
"Betul sobat, jangan nekat, kita pikirkan jalan keluarnya, please sobat sabar." dokter Ryan.
Mereka sama sama panik dan sama sama terkejut, ingin mendekati Jones tapi tidak berani, apa lagi Jones bergeser cukup jauh dari mereka.
"Kak.. jangan kak, tolong jangan lakukan itu kak, ingat kak istri dan anak anak kakak, kakak harus kuat dan sabar, pasti ada jalan lain kan." Jack berjalan pelan mendekati kakak laki-laki itu.
"Jangan mendekat, gua pastikan pistol ini akan meledak." ancam Jones pada kedua adiknya.
Lalu bagai mana reaksi mama Dara, dia menganggap semua itu hanya lelucon, dia tidak percaya apa yang terjadi di sana nyata adanya, dari photo pulgar dan vidio shurr Nina sampai pistol yang siap menembus kepala anak bulenya itu.
Wanita itu tetap mematung dan diam di tempat meski melihat sendiri kejadian di depan matanya.
"Mama.. jangan diam saja ma." panggil Jack prustasi dengan genangan air mata yang tidak terbendung lagi.
"Kenapa ? lu pikir gua takut, lu pikir gua akan merubah keputusan gua melihat lu begitu, silahkan lakukan gua tidak perduli." cebik Johan dingin.
Tatapan mata memohon dari Jones untuk terahir kalinya tidak merubah keputusan Johan sama sekali.
"Ayo .. tinggalkan tempat ini, bunuh mereka semua, lakukan dengan bersih." titah Johan pada anak buahnya.
Johan berjalan pelan dan pasti meninggalkan tempat itu, tanpa perduli dengan panggilan orang orang di sekitarnya yang panik mendengar perintahnya yang tidak bisa di bantah dan pasti akan terjadi.
"Bos..lu jangan gila." Robby.
"Kalau lu mau pergi dari sini silahkan gua kasih lu kesempatan tapi tidak dengan membawa yang lain bersama lu, kecuali dokter dokter itu." berkata pada Robby tanpa berbalik.
Dor.. dor..
"Jones......" teriak Robby, dokter Ryan dan dokter Anton bersamaan.
__ADS_1
"Kak Jones..tidak......" Jack, Piyo.
Seketika mereka lupa dengan perintah Johan untuk membumi hanguskan mereka semua yang ada di sana karna melihat Jones yang tiba-tiba menekan pelatuk pistol di tangannya.
Jones langsung tersungkur di lantai bersimbah darah dengan luka di kepalanya, Robby yang sempat menyadari tindakan yang akan di lakukan Jones berlari cepat dan berhasil menendang tangan Jones.
Kalau peluru pertama tidak bisa di halangi untuk tidak menembus kulit kepala Jones peluru kedua berhasil menembus tembok yang berada di belakang Jones.
Tapi sayang luka akibat peluru pertama di kepala Jones lumayan membuat perdarahan hebat, meski luka itu cuma luka lecet karna hanya terserempet peluru tapi ternyata cukup dalam dan panjang sampai ke bagian belakang kepala Jones.
Jones..Jones.. teriak Robby, seketika semua orang orang terdekatnya datang menghampiri kecuali mama Dara.
Nina dan Rombongan sudah di amankan oleh bodyguar Johan, mereka di ikat bersama an dengan tali tambang besar di sudut ruangan.
Wajah wajah ketakutan tergambar jelas di wajah mereka, mereka saling mengumpat dan saling menyalahkan satu sama lain, apa lagi setelah mereka tau siapa orang yang tengah mereka hadapi kini, orang berhati batu dan dingin.
"Ini semua karna kau pak Rahman, kau begitu sombong, lihatlah apa yang terjadi pada kita." marah pak penghulu yang rencana akan menikahkan Jones dan Nina.
"Iya .. kalau aku tidak tertarik jadi saksi aku tidak akan terjebak di sini, sekarang pikirkan bagai mana cara meloloskan diri dari sini, aku tidak mau mati konyol, anak anak dan istri ku membutuhkan ku." sambung orang lainnya.
Rahman dan Nina cuma bisa diam, apa lagi melihat mama Dara yang terluka wajahnya akibat kekasaran bodyguar Johan.
Sebenarnya para bodyguar tidak berniat menggubris mama Dara, tapi karna mama Dara memaki mereka karna mengikat Nina dan yang lain alhasil tanpa perasaan mereka lalu mendorong kasar tubuh tua itu agar merapat pada Nina.
"Dasar perempuan gila, anaknya sekarat bukan di lihat tapi malah sibuk memikirkan pelacur." cebik salah seorang bodyguar.
"Iya nih.. dia ini gangguan mental pasti, lagian apa sih yang di cari dari wanita ini, kaya tidak, cantik tidak sholehah ..? pelacur iya, dia tidak ada apa apanya di banding nyonya muda." jawab lainnya memandang rendah mama Dara.
Tapi yang lain tidak perduli mereka sibuk menghentikan perdarahan di kepala Jones, mereka lebih takut memikirkan apa yang akan terjadi pada Jones dari pada mama Dara.
Bahkan mereka tidak perduli dengan pergerakan anak buah Johan yang sudah siap siap akan meledakkan tempat itu.
"Ro..Robby..bantu gua..aa." ucap Jones dengan suara terbata.
"Diamlah Jones, jangan banyak bicara, lu harus segera di tangani, lu harus kerumah sakit." ucap Robby menahan emosi dan tangis.
"Please..to..tolong sampaikan pa..da ma..ma mertua guua, tolong jaga istri dan anak anak gua, gua..gua..cuma..a percaya padanya." ucap Jones lagi.
Air mata sudah tumpah di wajah tirusnya, pandangannya mulai kabur kesadarannya juga mulai hilang timbul.
"Apa apaan si lu bilang gitu sobat, sabarlah, lu tidak akan apa apa." ucap dokter Ryan sambil menekan perdarahan di kepalanya, dengan baju Robby yang ia lepas tanpa berpikir panjang.
Mereka sedang bersiap membawa Jones ke rumah sakit tapi mereka bingung bagai mana keluar dari tempat itu sementara yang bisa keluar dari sana hidup hidup cuma mereka bertiga.
Robby, dokter Ryan dan dokter Anton serta Jones tentunya tidak akan sulit keluar dari sana, tapi bagai mana dengan keluarga Jones apa laki-laki itu mau meningkatkan keluarganya di sana, apa lagi ibu kandungnya.
"Bagai mana ini Robby.." tanya dokter Anton melirik bodyguar yang sibuk kesana kemari mempersiapkan sesuatu.
"Tidak apa apa dokter, bawalah kakak kami keluar dari tempat ini tolong selamatkan kakak kami." Jack.
__ADS_1
"Lalu bagai mana dengan kalian semua." dokter Ryan.
"Tidak apa apa dokter, mungkin inilah ahir hidup kami, kami pasrah, tolong cepat bawa kakak kami sebelum semua terlambat, di antara kami harus ada yang hidup, itu kakak kami, kami sudah cukup bahagia selama ini karna kakak, sedang kakak baru mulai tapi sudah begini, ini waktunya kakak bahagia semoga kalian bisa menyelamatkannya untuk kami." ucap Piyo lirih.
"Iya kak Robby tolong tinggalkan tempat ini segera." Jack memohon pasrah.
"Ti..tidak, kalian yang pergi bi..biarkan gua..di sini, to..tolong sampaikan pada istri guuaa kalau gua sa..sangat mencintai..nya." ucap Jones di sela kesadarnya masih ada.
"Tidak kak, pergilah." mohon Jack.
"Pak Robby, kalau mau keluar sekarang waktunya, tempat ini akan hancur sebentar lagi, tuan hanya memberikan waktu pada kami lima belas menit." ucap salah seorang bodyguar.
Sedang Johan sejak tadi sudah meninggal tempat itu, dia sempat mendengar suara tembakan dan dia tau itu ulah siapa, cukup lama Johan berdiri mematung di luar apartemen untuk kemudian dia meninggalkan tempat itu.
"Per..gilah.." mohon Jones dengan wajah pucat, meski perdarahan bisa di tekan tapi darah masih merembes dari sela baju sebagai alat untuk mendep.
"Tidak..lu harus ikut kami, ingat istri dan anak anak lu, lu tidak seharusnya begini Jones pemikiran lu terlalu pendek." Robby.
"Gua su..sudah pas..rah bro lu tau mer..tua gu..a kerasnya, ti..tidak aada harapaan laagi." jawab Jones dengan genangan air mata.
"Sudah...ayo pergi." Robby berusaha mengangkat tubuh Jones di bantu dokter Ryan dan dokter Anton.
Tapi Jones berusaha meronta meski tidak sanggup, dia menolak di bawa dari tempat itu oleh teman temannya, dia benar benar sudah siap untuk pergi selamanya, membawa cintanya sampai mati sesuai keinginannya.
"Mama..mamaaaaa, mama puas sekarang hahhhhh, mama bahagia sekarang, kita semua akan mati di tempat ini karna ulah mamaaa." teriak Jack pada mama Dara.
Mama Dara masih diam, entah apa yang ada dalam pikirannya namun melihat Jones yang sudah tidak berdaya, tiba-tiba dia menjerit kuat tanpa kata, karna kini tangan serta kakinya sudah terikat.
Istri Jack hanya diam mematung di tempat nya semula, dia juga pasrah akan apa yang terjadi pada mereka di apartemen itu, tidak ada yang bisa menghentikan tindakan Johan selain yang maha kuasa menurut mereka.
☘☘☘☘☘☘
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
☘ LIKE
☘ RATE
☘ VOTE
☘ HADIAH yang banyak
☘KOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
__ADS_1
Happy Reading.