UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
88.Hari Bersejarah.


__ADS_3

"Gua papanya Shafa, dia putri gua dan gua sangat menyayanginya seperti darah daging gua sendiri, tapi lu juga ayahnya, lu juga berhak padanya dan gua tidak boleh egois, gua harus tau diri."


Johan menjeda kata katanya, hatinya terasa sakit saat mengatakan itu, di sudut matanya tampak genangan air yang bersiap terjun bebas kapan saja, Nazwan sendiri juga merasakan sakit mendengar kata kata Johan, ia merasa gagal sebagai ayah karna kesalahannya sendiri.


Nazwan tetap diam menunggu lanjutan kata kata Johan, ia tetap menyimak apapun kata yang di sampaikan oleh laki-laki itu.


"Maksud gua, gua minta lu yang akan menjadi wali nikah Shafa, pernikahan mereka tinggal satu hari lagi pada saat itu tiba gua berharap lu bisa hadir dan memberikan restu pada putri gua." suara Johan tercekat di tenggorokan.


"Kenapa bukan kamu ?, kamu juga papanya."


ucap Nazwan tenang.


"Masih ada lu, gua tidak mau lancang, bukan gua tidak mau jadi wali nikah putri gua, gua mau sesuai alurnya."


"Kamu saja, kamu papanya, yang orang tau kamu yang membesarkannya dan kamu yang juga berhak menjadi walinya." jawab Nazwan.


"Tapi lu ayahnya, gua tidak mau putri gua sedih kalau bukan lu yang jadi walinya."


"Memang kamu ada ngomong sama Shafa ?."


"Ya ada, katanya terserah kesepakatan kita, tapi gua ragu, gua pikir putri gua mau lu yang jadi walinya."


"Kalau begitu aku yang akan bertanya padanya."


"Lu ngak bisa ke rumah gua, putri gua juga sudah di pingit, ngak bisa keluar." ucap Johan karna takut Nazwan bertemu istrinya.


"Aku tau, aku ngomong melalui panggilan telepon saja, dua hari ini aku telepon tapi handphone ngak aktif." kelas Nazwan.


"Handphone di ambil mama, nanti di rumah gua bilang ke mama biar ngasih Handphone pada putri gua." setelah berkata begitu Johan lalu berdiri dan pergi dari ruangan private room di salah satu restoran terkenal di kota itu.


Johan sengaja menundang Nazwan untuk bicara berdua dengan izin Zahra untuk membicarakan perihal pernikahan putri mereka itu.


Setelah Johan pergi Handphone Nazwan bergetar menandakan panggilan masuk dari seseorang setelah melihat siapa penelephone tersebut Nazwan langsung menekan tanda hijau di layar handphonenya.


"Assalamualaikum wrwb." Nazwan.


"Waalaikumsalam wrwb, apa kabar ayah, sudah sampai ?." tanyanya.


"Alhamdulillah sehat, sudah, tadi siang ?, kamu apa kabar lagi di pingit ya, bule blesteran bisa di pinggit juga ya." ejek Nazwan, hatinya sedikit tertidur begitu mendengar suara laki-laki yang akan menjadi menantunya itu.


" Ya bisa lah yah, aku apa bedanya yah, hahahaha o iya yah, ayah di apartemen ku saja ya, jangan di hotel aku suruh Reza jemput ayah ya."


"Tidak usah, aku sudah check in di hotel xx bersama Aswin."


"Loh bukannya om Aswin di hotel yang di pesan sama bos Johan yah." masih memanggil bos karna masih canggung memanggil calon papa mertuanya itu di depan orang papa, di depan Johan saja dia yang nekat untuk menggoda laki-laki itu.


"Aswin bersama aku, Irwan yang di hotel itu."


jelas Nazwan.


"O gitu ya, ya sudah, ayah sudah bertemu sayangku." tampa malu menyebut Shafa sayangku di dengar Nazwan.

__ADS_1


"Belum, aku terlambat datangkan ?, Shafa sudah di pingit ngak bisa keluar rumah lagi, ngak apa apa setelah kalian menikah aku akan bertemu dengannya."


"Iya yah.. o iya ayah bawa pesanan ku kan, kemarin waktu di kampung aku ngak ingat bawa." tanya Jones.


"Bawa, kamu itu kan sudah seperti jelangkung datangnya, datang dan pergi suka hati." ejek Nazwan.


"Ayah kayak ngak pernah muda saja, mana tahan aku lama lama berjauhan dengan putri ayah itu." tawa Jones terbahak bahak.


"Dasar bucin, ingat ya jangan kau sakiti putri ku, kalau berani macam macam ku gantung kau di monas." tawa Nazwan.


"Jangan dong yah, janda putrimu." tertawa bersama.


Setelah lamaran resminya di terima oleh Johan, Johan juga menyuruh Jones untuk bicara pada Nazwan, karna merasa tidak sopan berbicara lamaran lewat Handphone, tampa sepengetahun Shafa dan yang lain Jones terbang ke kampung kelahiran Shafa untuk berbicara dengan Nazwan.


Hari itu adalah hari yang di tunggu tunggu oleh Jones, hari bersejarah baginya , di mana ia akan mempersunting pujaan hati yang ia perjuangan restu dan cintanya sampai bertaruh nyawa meski belum di cintai.


Senyum laki-laki itu tidak pernah lepas dari bibirnya, pagi sekali ia sudah bangun di mana semua orang masih terlelap dalam tidur karna baru tertidur setelah jam satu dini hari karna acara malam ba inai yang juga di lakukan oleh Jones seperti permintaan calon mama mertuanya.


Meski Shafa memakai cadar tapi adat tradisi dari kampung mereka yang selalu mengadakan acara malam ba inai kalau ada yang akan menikah maka Zahra juga melakukan hal yang sama pada putrinya.


Pagi sekali Jones sudah membuat keributan agar seisi rumah bangun, ia tinggal bersama mama Dara di rumah yang ia beli untuk mama dan keluarga itu sejak ia di pingit.


"Ya ampun Jon, kamu itu seperti anak anak yang baru di belikan mainan, ngak sabaran banget ya, lihat tuh masih jam empat subuh lo, mengganggu saja kamu hahhh." marah pamannya


adik mama Dara.


"Paman ya, jam empat subuh itu sudah pagi lo, cepat siap siap nanti kita telat, papa mertua ku galak lo nanti di tendangnya kita semua." canda Jones tertawa terbahak bahak.


"Bagus di tendangnya, paling acara batalkan." omel mama Dara.


Jones sedih mendengar kata kata mamanya, dia hanya bercanda tapi malah di tanggapi serius oleh mamanya itu.


Setelah sedikit berdebat dengan sang mama ahirnya semua orang benar benar bangun dan bersiap siap untuk berangkat ke acara pernikahan yang di adakan di Hotel mewah milik Johan.


Shafa sendiri sudah bangun dari jam tiga dini hari setelah sholat malam ia pun mengulang hapalan ayat suci yang selalu ia hapalkan di saat senggang, setelah hapalan nya selesai ia lalu menunaikan Sholat subuh.


Tidak lama setelah gadis itu selesai sholat MUA terkenal dan handal yang sengaja di datangkan oleh Maili dari luar negeri dan sekaligus berkoloborasi dengan MUA lokal untuk merias Shafa agar lebih cantik meski memakai cadar.


Karna setelah akad nikah nanti cadar Shafa akan di buka sebentar untuk di lihat oleh Jones, dan kalau Jones mengizinkan Shafa akan melepas cadarnya sebentar untuk di lihat oleh orang lain agar orang orang bisa mengenali istri dari dokter Jones itu dan agar orang tidak berpikir kalau Jones menikahi gadis yang cacat wajahnya seperti yang selama ini di bicarakan orang lain.


Shafa dan semua keluarga sudah sejak dua hari yang lalu di hotel xx, bahkan acara malam ba inai nya di laksanakan di hotel itu yang di hadiri oleh keluarga mereka saja.


Shafa di rias se cantik mungkin meski pada ahirnya wajahnya harus di tutup cadar lagi, tapi walau begitu aura kencantikan Shafa tetap terpancar ke luar.


Semua keluarga sudah berkumpul di ballroom yang di hias indah dan sangat mewah serta megah, Jones juga sudah sampai di sana tapi sebelum akad nikah berlangsung Jones di minta oleh Johan untuk menemui Nazwan di ruangan Khusus bersamanya.


Jones berlutut di depan Nazwan untuk sungkem, karna laki-laki itu tidak ingin masuk ke dalam ruangan pernikahan putrinya, air mata Nazwan dan Jones sama sama keluar saat mereka saling berjabat tangan.


Dan setelah Jones keluar tinggal Johan, Nazwan dan Robby serta Aswin di sana, sebelum acara di mulai Johan tetap bertanya keputusan Nazwan.


"Lu yakin tidak mau duduk di sana bersama kami, lu yakin gua yang akan menjadi wali putri kita." untuk pertama kali Johan berkata putri kita, biasanya dia akan berkata putri gua.

__ADS_1


"Iya aku yakin, kamu lah yang menikahkan putri ku, aku iklas dan rela, dan aku akan tetap di sini, dari sini juga terlihat jelas acaranya." Nazwan tetap meminta Johan untuk menjadi wali Shafa.


"Kenapa lu tidak mau duduk di sana bersama


kita." Johan.


"Aku punya alasan sendiri."


"Kenapa, lu pikir gua malu, lu jangan kwatir gua ngak perduli dengan cerita orang dan gua pastikan yang hadir tidak akan bersuara."


"Tidak aku tidak menghawatirkan mu, tapi aku mengkhawatirkan Zahra, aku tidak mau orang orang melihatnya rendah, aku tidak mau orang menganggapnya hina karna seorang janda menikah dengan seorang pengusaha seperti mu, dan aku juga tidak mau orang lain mencemoohkan putriku karna di anggap bukan darah dagingmu."


Jawaban Nazwan membuat Johan terkesiap ada amarah di dadanya saat Nazwan masih memikirkan Zahra meski hanya sebatas menjaga tapi hati Johan tetap sakit, namun ia berusaha membuang jauh jauh amarahnya dan apa yang di sampaikan oleh Nazwan ada juga benarnya.


Meski sebenarnya itu bukan alasan logis tapi keputusan Nazwan ada di tangannya dan keputusan itu sudah bulat.


Ahirnya Johan meminta MUA mengantarkan Shafa kedalam ruangan yang di tempati Nazwan ruangan itu ada di lantai atas ballroom tempat acara akan di mulai.


Ruangan itu berdinding kaca tapi hanya dari dalam yang bisa melihat keluar dan langsung melihat ke lantai bawah sedang dari luar tidak bisa melihat isi ruangan itu.


Johan sengaja meminta Shafa ke ruangan ayahnya agar Shafa bisa di antar oleh Nazwan saat MUA dan keluarga menjemput Shafa meski hanya sampai pintu keluar saja, setelah akad nikah yang di ucapkan Jones selesai.


"Ayah.." tangis Shafa saat berada di pelukan ayahnya.


"Putri ayah yang cantik, jangan menangis nak, ini hari pernikahan mu, nanti riasannya luntur lo." Canda Nazwan memeluk putrinya itu.


"Ayah juga nangis." cicitnya.


"Iya ayah nangis karna bahagia bisa melihat putri ayah menikah secara langsung, ayah menagis ngak apa apa dong, ngak akan ada yang luntur dan rusak ayah kan ngak pake meke up." tawa Nazwan di tangisnya.


"Ayah.." tawa kecil Shafa, ayahnya itu masih bisa bercanda di saat seperti itu.


Ayah dan anak itu lalu duduk berdampingan, tatapan mereka sama sama tertuju pada kedua orang di bagian depan ballroom yang kini saling berjabat tangan.


********


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


🪴 LIKE


🪴 RATE


🪴 VOTE


🪴 HADIAH yang banyak


🪴KOMEN yang sebanyak banyaknya.

__ADS_1


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.


__ADS_2