UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
103. Sarok sarok kulit pisang.


__ADS_3

Sesampai di dalam kamar Jones langsung membuka baju dan celana panjangnya membuat Shafa bingung matanya melotot melihat pemandangan indah yang setiap hari bahkan setiap saat ia lihat.


Wajah Shafa merona karna malu, sudah hampir dua minggu menikah tapi dia masih malu melihat seluruh tubuh Jones namun meski begitu pandangan matanya tidak mau beralih dari tubuh sang suami.


"Aa.. ngapain gitu." tanyanya tergagap.


"Panas yank." jawab Jones pelan, seluruh wajah dan dada Jones memerah.


"Maaf." menunduk sedih, padahal dia sempat


piktor karna mengira kalau Jones menginginkan dirinya.


"Sudah jangan minta maaf terus yank, ngak apa apa kalau ngak begitu Aa mungkin tidak akan pernah merasakan makanan yang super pedas." senyum Jones tangannya membelai kepala Shafa penuh kasih sayang.


Shafa masih menunduk sampai ia sadari tiba tiba tubuhnya melayang di udara karna di angkat oleh Jones Shafa yang terkejut terpekik pelan.


"Aa."


"Sayang, ayo bobok lagi, atau dede mau hmm, dari tadi lihatin dada Aa terus, ini milik dede kok boleh di pegang, di raba di uyel uyel sesuka hati." goda Jones.


"Mau apa."


"Bercinta, sudah dua hari kita tidak melakukannya, apa dede rindu ?." senyum mesum.


"Ng..ngak, Shafa kan masih flu, ngak mau."


"Seperti nya sudah baikan, tubuh dede juga udah ngak panas lagi." goda Jones semakin jadi.


"Shafa ngantuk." menarik selimut tinggi tinggi sampai ke leher membuat Jones terbawa kecil.


"Ya udah ayo bobok, Aa ngak akan ganggu dede kalau ngak mau." senyum Jones masuk kedalam selimut, ia meraih kepala Shafa agar berbantal pada lengannya, di peluknya tubuh kecil Shafa mesra, hawa tubuh Shafa masih terasa hangat meski demamnya sudah turun.


Pagi itu rumah jadi makin ramai dengan kehadiran Jones dan Shafa, mereka tengah duduk sarapan pagi bersama, perang dingin masih terjadi antara Jones dan mertua laki-laki, mereka saling melempar tatapan dingin dan membunuh meski banyak orang di antara mereka.


"Kakak udah ngak demam lagi sayang." menatap Shafa penuh perhatian.


"Alhamdulillah udah ngak lagi papa, tinggal fileknya aja." jawab Shafa.


"Kalau gitu istirahat saja dulu ya, papa akan berangkat ke kantor bersama mama, sambil antar adek Wu sekolah."


"Iya papa."


"Inces ikut kan papa, Inces mau ngantor juga." tanya Janeet yang sudah memakai baju stelan kantor lengkap dengan kaca matanya.


"Ahhh iya sayang papa lupa, hari ini hari pertama Inces masuk kantor ya." tawa kecil Johan melihat penampilan putri kecilnya.


"Mey mey kalau ngantor jangan ganggu papa ya." oma Wu mengelus rambut panjang cucu manjanya itu.


"Ngak oma, Inces nanti sama sekretaris pribadi inces aja, inces mau lihat orang kerja, inces gak ganggu janji deh." Janeet.


"Pintar kesayangan oma."


"Mey mey punya asisten pribadi ?, siapa ?." Shafa.


"Uncle ganteng." Janeet.


"Siapa ?."


"Uncle Jemmy." senyum manis balita itu sambil memperlihatkan deretan gigi kecilnya.


"Siapa Uncle Jemmy ?." tanya Shafa bingung dia baru pertama kali mendengar nama itu.


"Sepupu jauh papa." opa Wu.


"Ohhh belum pernah denger namanya opa." Shafa.


Johan tersenyum miring ke arah Jones yang hatinya mulai terbakar mendengar sang istri yang kepo pada laki-laki lain.


Jones diam saja tampa reaksi apa pun, meski hatinya terasa sakit tapi ia berusaha bersikap biasa saja agar sang mertua tidak membulynya kalau ketauan cemburu.

__ADS_1


Setalah Johan dan Yang lain pergi kini tinggal para pelayan, baby Wu serta oma, dan kedua pengantin baru itu saja di rumah, Shafa permisi pada oma untuk kembali ke kamarnya bersama Jones.


"Yank.. bisa ngak tidak membahas laki-laki lain di depan Aa." duduk di samping Shafa yang tengah memeriksa ponselnya.


"Kenapa A."


"Aa tidak suka."


"Kenapa ?." mengangkat kepalanya menatap mata biru Jones bingung.


"Karna Aa ngak suka pokoknya."


"Iya kenapa ngak suka A."


"Karna ngak suka itu saja, oke dede janji hmm."


Meski bingung Shafa menggangguk saja menuruti Apa yang di titahkan oleh Jones, Jones tersenyum kini bola matanya menatap layar handphone di tangan sang istri ikut memeriksa pesan pesan yang masuk di sana.


"Yank, masa cuti Aa akan berakhir, mulai besok Aa akan kembali bekerja, kalau dede udah jauh lebih sehat dan kalau dede udah siap lusa Aa akan memeriksa dede, bagai mana ?."


Shafa mengangkat kepalanya ia tau secepatnya setelah menikah dia harus di periksa dan dia sudah siap untuk itu, Shafa kembali mengangguk tanda setuju.


"Libur dede udah habis juga ya."


"Iya Aa, terus gimana."


"Aa sudah menghubungi pihak kampus kalau sementara dede daring dulu."


"Tapi kan Aa Shafa baru masuk semester enam, masa langsung daring, tatap muka dulu satu minggu ya, kan awal perkuliahan."


"Tidak apa apa yangk, lebih cepat lebih baik oke."


"Hmmm iya Aa, Shafa ikut saja keputusan Aa."


"Nah gitu dong, baru namanya istri sholehah." mengecup bibir Shafa mesra.


Sudah dua hari Jones mulai kerja, banyak teman teman seprofesi yang tiap hari menggodanya karna setiap siang Jones akan tergesa gesa pulang ke rumah besar seperti siang ini.


"Ahhh lu gitu aja, semalam lu pusing juga dasar pengantin baru, ngak bisa jauh jauh dari nyonya muda." ejek dokter Ryan.


"Lu kayak ngak pernah aja Ryan, maklum dong, kepalanya pusing karna ada yang mau di tuntaskan." tawa dokter Syafaruddin.


"Lu semua nyerocos terus gua lagi ngomong sama dokter Alwi." marah Jones.


"Iya ya .. kita apa lah, masa berani melawan menantu pemilik Rumah sakit ini sih, kita mah pasrah aja iya kan bro..bro." canda dokter Alwi.


"Iya bro, awak ini apalah sarok sarok kulit pisang hahahahhaha." dokter Anton.


"Apa itu ?." dokter Syafaruddin bingung tidak mengerti dengan istilah bahasa padang dokter Anton.


"Sampah kulit pisang, kalau terpijak terjerembab hahahaha." dokter Anton.


"Hahahaha parah lu bro, segitunya." Ryan.


"Ya udah, terserah lu semua deh, gua mau pulang." ucap Jones.


"Sono pulang, mau nyusu kan." dokter Syafaruddin.


"Tau aja lu bro, nyusu sekalian buat anak." jawab Jones cuek.


Jones bangkit dari duduknya, mereka semua baru selesai tugas di poli masing masing dan berkumpul di ruangan Jones hanya untuk menggoda laki-laki itu dengan alasan mengajak makan siang bareng, tapi karna teringat istrinya Jones menolak dengan alasan istri sudah menunggu di rumah.


"Dasar dokter mesum." ejek Ryan.


"Sory bro, gua mesum cuma sama istri gua, dari tadi lihat punya orang terpampang di depan mata gua, gua sama sekali ngak ngiler bro, kalau yang di rumah baru lihat kakinya saja senjata gua langsung tegang, kejang kejang dan minta di puaskan." Jones.


"Iya deh, kalah mah, jangan lupa minum obat bro biar fit terus." goda Ryan.


"Ngak butuh gua, ngak minum aja istri gua sampe minta ampun apa.lagi minum." Jones.

__ADS_1


"Ya..ya tuan muda." tawa Anton.


"Ehh..emang beda ya yang terbungkus rapi sama yang terpampang, di pertontonkan sama orang banyak." Alwi.


"Beda lah, kalau yang sudah di perlihatkan terbuka rasanya gimana ya, untung bini gua udah hijrah kalau ngak gua bakal emosi kalau pahanya banyak yang lihat." Ryan.


"Betul itu, meski tidak seperti istri si ngenes, yang penting udah tertutup." Ryan.


"Jangan bilang ngenes lagi, udah ber flower flower juga, nanti cilaka hahaha." Syafaruddin.


"Sialan lu semua." Jones berjalan ke luar ruangan meninggalkan sahabat sahabatnya yang tertawa garing Menggodanya.


Jones menyetir sendiri mobilmya tampa supir atau asisten, sebelum pulang ia sudah mengirimkan pesan pada sang istri agar menunggunya di kamar.


Dia ingin segera memeluk Shafa begitu sampai di rumah namun tidak mungkin ia memeluk istri kalau Shafa masih di ruang tamu atau lagi kumpul sama keluarga Lainnya.


Johan belum memberikan izin mereka pulang ke apartemen sampai pemeriksaan Shafa dan sampai hasil di ketahui, Johan ingin putrinya itu segera di obati dan selama itu berlangsung ia ingin mereka tetap tinggal satu atap agar mereka bisa menjaga dan merawat Shafa nanti


bersama sama.


Jones membuka pintu kamar tergesa gesa, begitu melihat Shafa dengan baju transparan yang biasa ia pakai sebagai dalaman membuat darah Jones mengalir cepat, Jones melemparkan tas yang ia jinjing sembarangan kemudian ia langsung memeluk Shafa erat.


Napas laki-laki itu memburu menahan gejolak di dadanya, Shafa kewalahan menghadapi serangan mendadak Jones, setiap pulang kerja selama dua hari itu Jones akan langsung menyerangnya begitu masuk kamar.


Napas Shafa terengah engah merasakan ciuman panas dan keaktipan tangan Jones di seluruh tubuhnya.


Setelah berhasil membuka seluruh pakaian Shafa ia lalu melepaskan pakaiannya sendiri dan membawa Shafa ke atas tempat tidur.


"Aa merindukan mu sayang, sangat merindukan dede." bisiknya di telinga Shafa.


"Emhhh.. Aa, enghhh pelan A." lirih Shafa menikmati hujaman senjata ajaib suaminya pada tubuh bagian bawahnya.


"Enak banget yank, Aa ketagihan, sangat enak sayang membuat Aa rindu terus." ucap Jones dengan suara terputus putus.


Jones mengerang hebat dan kuat merasakan puncak kenikmatan, ia menghentak hentakkan senjatanya dengan cukup kuat hingga hentakan lama kelamaan menjadi pelan karna ia sudah memuntahkan larva panasnya.


"I love you beb, love you so much." mengecup leher, bibir dan seluruh wajah Shafa.


Kraukkk.. terdengar irama dan kode alam dari salah satu perut mereka membuat Jones tersentak karna terkejut, posisi laki-laki itu masih berada di atas Shafa dengan menahan berat badannya agar tidak menghimpit tubuh kecil istrinya.


"Dede lapar ?, belum makan yank ?."


"Enghhh iya Aa, Shafa nunggu Aa." jawabnya polos rona merah tergambar jelas di wajahnya karna perutnya yang tidak tau malu.


"Ya ampun Yank, maaf .. harusnya tadi kita makan dulu, Aa juga belum makan, tapi makan dede dulu, kalau gitu ayo kita mandi abis itu makan ya."


Shafa mengangguk kecil di bawah kangkungan Jones lalu Jones mengeluarkan senjatanya yang sedari tadi belum ia bebaskan, kemudian ia meraih selimut untuk menutupi tubuh polos istrinya untuk ia bawa ke kamar mandi.


Setelah mandi mereka pun makan bersama di kamar karna Shafa sudah kelelahan dan sangat lapar, Jones tidak tega kalau harus membuat istrinya itu berjalan lagi kelantai bawah.


*********


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


💝 LIKE


💝 RATE


💝 VOTE


💝 HADIAH yang banyak


💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..

__ADS_1


Happy Reading.


__ADS_2