UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
81. Siap Fisik dan Mental.


__ADS_3

"Bagai mana kabar mama mami." tanya


Shafa cemas.


"Belum lahiran kak, kita tunggu saja ya jangan cemas." Maili.


"Kakak.. tata nanis hiks." adu Janeet pada


Jones yang tengah menggendongnya.


"Ngak apa cantik, tata cuma kelilipan." jawab Jones membelai lembut punggung Janeet.


"Duduk kak, jangan berdiri di situ nanti capek nanti pingsan lagi." panggil Mommy.


"Sayang, kamu sering pingsan ya." tanya Jones Lembut membawa gadis itu duduk di kursi tunggu di samping oma Wu dan opa Wu.


"Iya tata suka bobok sembarangan kakak."


Janeet ngelendot manja.


"Betul itu sayang." Jones.


"Ngak sering sih tapi pernah."


"Jangan bohong yangk, karna aku akan tau kebenarannya nanti." menatap mata Shafa


dalam dalam.


"Shafa ngak bohong kok." menunduk.


Mommy melihat interaksi antara Shafa dan Jones membuat wanita tua itu terharu, ia yakin Jones bisa membimbing dan menjaga Shafa dengan baik, Mommy bisa melihat betapa Jones sangat mencintai cucu sambungnya itu.


"Shafa harus segera di periksa nak Jones, dia gampang lelah sekarang, sering lemah makanya pingsan." Mommy.


"Iya oma, kami akan segera menikah agar pemeriksaan Shafa bisa cepat di lakukan, mungkin karna daya tahan tubuh Shafa yang sedikit melemah jadi Oma doakan ya Shafa


selalu sehat." Jones.


"Tentu Jon.. kamu pasti bisa jaga cucu


oma." terseyum.


"Iya oma, in saa Allah."


Hari sudah sore saat Zahra di bawa ke rumah sakit, sudah jam sembilan malam wanita itu belum juga melahirkan, Johan sudah memohon berkali kali agar Zahra mau Caesar tapi dia tidak mau dia tetap ingin melahirkan normal.


"Sayang kamu sudah lemah, dan lelah operasi


saja ya, koko mohon."


"Ngak ko aku masih kuat kok, ngak apa apa koko." tersenyum namun menahan rasa sakit.


" Sayang koko mohon yangk."


" Ngak apa apa ko."


Zahra tetap bertahan dalam pendiriannya, dia tetap gigih tidak mau operasi, sementara di luar ruangan keluarga besar sudah berkumpul di sana Mama yani, keluarga Arkhan bahkan sang pengantin baru Arkhan dan Naya.


"Bagai mana tante dek." tanya Naya duduk di samping Shafa.


"Belum lahiran juga kak, padahal sudah lebih empat jam, kata papa mama ngak mau operasi." ucap Shafa sedih.


"Jangan takut dek, tante ngak apa apa, kodrat wanita memang begitu hamil dan melahirkan bagi wanita yang beruntung."


"Iya kak." mata Shafa sedikit terbuka lebar melihat Jones yang datang berjalan ke arahnya sambil menggandeng tangan kecil Janeet.


"Sepertinya calon adek ipar sudah lengket pada calon kakak ipar nih, tapi kok seperti anak dan Daddy ya hehehe." ejek Arkhan pada Jones.


Mata Shafa terbelalak bukan karna melihat Jones menggandeng adik kecilnya tapi karna melihat penampilan Jones yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


Laki-laki itu memakai baju koko panjang warna putih gading lengkap dengan celananya, di kepala terpasang peci rajut warna senada, Jones terlihat tampan dan berwibawa.


"Kenapa sayang, apa calon suami mu ini tampan." mengedipkan mata pada sang pencuri hati.


"Hahhh tampan Uncle, lihat dari monas hahaha."


"Gitu banget, ngaku aja kalau aku tampan kenapa sih." cicit Jones di telinga Shafa.


"Jangan dekat dekat."


"Hahh begini amat nasib ku." menghela napas pura-pura sedih.

__ADS_1


"Tata Annett cantik kan ?."


"Ouwhhh cantik dong, apa lagi pakai hijab begini ,makin cantik seperti barbie, siapa yang pakaikan Meimei ?."


"Kak Ones tata, baju Annett di beli in."


"Wahhh asik, pantas cantik."


"Buat kamu juga aku beli tadi, mandi dan ganti baju sana gils biar segar, dari tadi belum gantikan." Jones menyerahkan tas pakaian yang baru ia beli secara onlane beberapa waktu lalu.


"Tapi Uncle."


"Sudah jangan mikir panjang, aku beliin buat calon istri ku kok, jadi jangan berpikir kalau harus ganti uangnya, atau segan karna di beliin, sana mandi sayang terus Sholat ya."


"Enghhh iya Uncle." Shafa menurut ia lalu berjalan ke salah satu ruangan yang di khususkan untuk keluarga mereka kalau sedang ada di rawat di rumah sakit itu.


Setelah mandi berganti pakaian dengan baju berwarna navy lengkap dengan hijab dan cadarnya Shafa pun sholat sesuai titah Jones, setelah itu ia kembali ke ruang tunggu, namun baru saja ia datang sudah terjadi


kehebohan di sana.


"Loh papa kenapa ?." tanya Shafa bingung melihat penampilan papanya yang acak acakan.


Kaca mata Johan miring sebelah, rambutnya seperti kulit landak, wajahnya merah di beberapa bagian, kancing kemejanya lepas sampai tiga buah, penampilan yang sangat kacau.


Mommy, Daddy dan beberapa orang tidak dapat menahan tawanya sedang yang lain cuma bisa cengar cengir karna takut pada laki-laki itu.


"Ya Allah papa, kok bisa begini." mendekati sang papa dan memperhatikan mana tau ada yang luka di wajah atau bagian lainnya.


"Hahaha derita suami saat istri melahirkan." ahirnya Jones bersuara karna sudah tidak tahan menahan tawanya yang ingin pecah.


"Lu ngatain gua hahhh, gua sumpahin nanti lu dapat karmanya dari putri gua." marah Johan.


"Silahkan, ngak takut bos, yang begituan aku sudah siap fisik dan mental, iya kan sayang ?." menatap mesra Shafa.


"Apa ?." Shafa.


"Hahaha bego putri gua ngak pahamkan, mampus lu, sialan gua sampe lupa bini gua." bergegas ingin masuk lagi kedalam, sebab tadi Johan keluar ingin menjemput Janeet yang menangis terus karna tidak melihat mamanya.


"Papa bagai mana mama ?."


"Adik kakak sudah lahir, laki-laki sangat tampan seperti papa." bangga.


"Alhamdulillah syukurlah papa, mama sehat kan." tanya gadis itu bahagia.


"Alhamdulillah, Annett sama tata ngak ada caingan lagi." jawab Janeet sambil mengangkat kedua tangannya seperti bersyukur dan berdoa.


"Hahaha jadi Meimei takut kalau adek perempuan takut ada saingan lagi." tanya Johan menggendong tubuh berisi putri kecilnya itu.


"Iya, nanti papa ngak sayang Annett lagi, Annett sedih dong." mata berair.


"Yaa ampun inces papa, ngak dong nak, papa pasti akan tetap sayang dan cinta sama Meimei sama dengan pada kakak, koko, abang dan adek." menciumi pipi gembul Janeet.


"Janji ?."


"Janji sayang papa, sekarang ayo lihat mama


dam adek cowok." senyum Johan, ia lalu berbalik masuk kembali kedalam ruang bersalin, karna Zahra belum di pindahkan dari sana sebab harus di observasi dulu.


Sepeninggal Johan.


"Kalau sayang melahirkan nanti aku jangan di buat gitu ya, habis dong ketampanku yangk." berbisik.


"Ketampan papa ngak habis tuh."


"Jadi sayang berniat membuat aku seperti itu hmm ?." goda Jones.


"Lihat nanti ehhh kenapa cerita seperti itu sih Uncle malu tau." omel Shafa.


"Malu sama siapa gils. "


"Sama diri sendiri."


"Yahh kalau diri sendiri ngak punya malu gimana dong sayang." makin menggoda.


"Auuhhh ahhh gelap."


"Hahaha gelap di terangin dong, atau kamu suka yang gelap gelap sayang." mengedipkan mata.


"Shafa ngak bisa tidur kalau terlalu terang." jawab gadis itu apa adanya dan jujur.


"O ya, bagus kalau di kasih tau duluan jadi nanti kalau kita mau bobok lampunya di matikan dulu biar kamu ngak grogi dan takut."

__ADS_1


bicara ngelantur.


"Maksudnya ?."


"Maksudnya mama sudah di bawa keluar, yuk kita keruang rawatan lihat mama dan adek baby." mengalihkan pembicaraan yang hanya dia sendiri yang memahaminya.


" Ya Uncle." berjalan mendahului.


"Ehhh sayang tunggu dulu."


" Kenapa Uncle."


"Bisa ngak jangan panggil Uncle, masa calon suami di panggil seperti itu, apa kata dunia."


"Enghhh lalu Shafa panggil apa ?."


"Panggil sayang juga dong, atau abang, beb, honey atau apalah yang kamu mau."


"Uncle lah." berjalan cepat.


"Ehhh itu ngak bener dong, sama aja sayang."


"Uncle.. bisa ngak jangan panggil Shafa sayang dulu, Shafa ngak enak hati."


"Kok ngak enak hati, kamu ngak suka aku


panggil sayang, kamu malu ya."


"Ngak malu Uncle, tapi kan segan, Shafa belum nikah sama Uncle."


"Ya ampun sayang, ngak apa apa dong


biasa lagi."


"Biasa apa ? Uncle biasa manggil sayang sama cewek lain ya ?." mentap Jones penuh selidik.


"Aihhh mati gua." gumam Jones.


" Bu..bukan sayang, ngak mungkin aku panggil cewek lain sayang, bisa baper mereka, yang aku sayang dan cinta kan kamu, jadi manggil sayang harus sama kamu dong." merayu.


Shafa tidak menghiraukan lagi gombalan Jones ia segera masuk keruang rawatan Zahra, sementara Jones menyusul dari belakang dengan mimik wajah ketakutan.


"Kenapa wajah lu Jones." Daddy.


"Cucu opa kayaknya ngambek." adunya.


"Hahaha dasar lu ya, sama saja dengan Johan, sepertinya kalian berdua akan sama sama." melirik Johan yang setia ngelendot pada Zahra yang tampak masih kelelahan.


"Sama apa nya opa." Jones.


"Sama sama suami takut istri hahaha, ehh lu jangan panggil gua opa, biasanya Uncle


risih gua." Daddy Wu.


"Ahh ngak mungkin Uncle lagi dong, aku kan sebentar lagi jadi suami Shafa."


"Percaya diri banget lu, emang lu udah yakin


bakal jadi suami cucu gua."


"Yakin dong opa, aku sudah lamar Shafa di depan kalian semua, opa juga bisa jadi saksi opa kan juga lihat, aku malah sudah pasang cincin tunangan di jari Shafa di depan kalian semua."


Jawaban Jones membuat Daddy Wu tertawa kecil karna ia merasa dengan kehadiran Jones di antara mereka nanti seisi rumah pasti akan makin ramai sebab Jones termasuk orang yang ramah, baik, supel dan banyak canda.


*************


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


💝 LIKE


💝 RATE


💝 VOTE


💝 HADIAH yang banyak


💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.

__ADS_1


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.


__ADS_2