
Shafa tertidur di sopa besar di samping tempat tidur Nazwan, dengan hati hati Jones menyelimuti tubuh kecil Shafa yang tidur miring menghadap ayahnya.
Nazwan memperhatikan Jones yang penuh perhatian pada sang putri, senyum mengembang di bibirnya, meski Nazwan tau kalau Shafa hanya menganggap Jones teman papanya yang harus ia segani.
Tapi Nazwan tau betul perasaan yang di tunjukan Jones terang terangan pada semua orang dan mereka pahami namun Shafa sendiri yang tidak mengerti.
"Shafa sudah tidur." tanya Nazwan menarik selimut sampai dadanya.
"Sudah yah.. eh pak." jawabnya gugup, Nazwan tersenyum menanggapi panggilan Jones.
Kalau di depan Shafa ia sengaja memanggil ayah dan berharap gadis itu peka dengan panggilan yang sama dengannya namun nyatanya Shafa sama sekali tidak paham.
"Duduklah di sini." titah Nazwan menunjukkan kursi yang ada di dekatnya.
Jones tampa beban dan canggung duduk di tempat yang di tunjuk oleh ayah Shafa, sesaat mereka sama sama diam saat sudah duduk berhadapan.
"Berapa umur kamu dokter Jones."
"Tiga puluh empat tahun pak."
"Bujang lapuk." tawa Nazwan.
"Iya pak hahaha, tapi meski lapuk masih berkilau." tawa Jones.
"Iya ya ya.. aku juga dulu menikahi Ara sudah berumur tiga puluh tujuh tahun."
"Wah bujang lapuk juga." ejek Jones.
"Betul.., kamu menyukai putriku."
Tawa Jones seketika hilang mendengar pertanyaan Nazwan yang menembak dua belas pas, Jones sendiri tau kalau Nazwan curiga padanya tapi karna dia memang sedang berusaha mendekati dan mengambil simpati Shafa maka dia juga berusaha mengambil simpati Nazwan.
"Iya pak, saya suka sama Shafa." jawabnya mantap dan tegas.
"Hmmm ya, aku sudah bisa baca itu, lalu putriku."
melihat reaksi dan sikap Jones.
"Ntahlah pak, sepertinya dia hanya menganggap ku sama seperti dulu." curhat.
__ADS_1
"Papanya tau."
"Tau pak."
"Lalu."
"Johan tidak setuju."
"Hmm aku yakin itu, papa mana yang mau anak perempuannya menikah dengan temannya
sendiri. "
"Tapi pak, aku benar benar menyukai Shafa, aku sangat mencintainya aku benar benar sangat mencintainya pak, ku mohon restui aku dengan Shafa."
"Maaf aku tidak bisa membantu mu, semua kembali pada Shafa dan papanya, kalau mereka memberi restu maka aku juga sama, berusaha lah membuat putriku menyukai mu, dan jangan langgar hal yang ia patuhi kini."
"Baik pak, aku mengerti setidaknya bapak tidak sama dengan si bos yang melarang aku dengan Shafa.".
"Aku tidak melarang dan juga tidak mendukung itu semua kembali pada usahamu dan takdir kalian, aku sebagai orang tua hanya mendoakan yang terbaik pada putriku."
"Iya pak, aku akan lebih berusaha lagi."
"Karna terlalu cinta pada Ara, terlalu sayang sehingga rasa takut kehilangannya membuatku malah menyakitinya, aku kasar dan sering membuatnya terluka, terluka pisik dan hati juga, aku sangat jahat padanya, bahkan aku sengaja tidak memberikannya uang agar ia tidak bisa berbelanja barang barang untuk mempercantik dirinya."
Air mata tampak merembes di mata tua Nazwan yang kini sudah berumur lima puluh satu tahun itu Nazwan memang lebih tua lima belas tahun dari Zahra, pada saat menikahi Zahra ia masih berumur dua puluh dua tahun saat itu.
"Sekarang aku sangat menyesal karna tidak lagi bisa bersamanya, tapi apa boleh buat ini hukuman padaku karna telah menjebaknya dulu untuk menikah dengan ku, sekarang aku hanya bisa pasrah dengan nasibku."
Jones tau arah kata kata Nazwan, semua yang Nazwan katakan sebagai peringatan padanya agar tidak melakukan kesalahan yang sama seperti dirinya.
"Jadi aku minta, miliki putriku atas kemauannya bukan karna terpaksa dan di paksa, kalau suatu saat kau harus mundur maka mundurlah sebab segala sesuatu yang di paksakan tidak akan membuahkan hasil yang baik."
Jantung Jones seakan di tusuk oleh tombak yang sangat tajam hingga membuat ia merasakan sakit pada ulu hatinya karna tidak terima dengan kata kata yang di ucapkan oleh ayah Shafa.
"Aku berjanji akan menjaga Shafa seumur hidup ku bila nanti kami bersama, aku akan berusaha meluluhkan hatinya dan papanya, tapi andai aku kalah aku akan mundur meski aku akan hancur karnanya."
Jones berkata tidak iklas, jauh di dasar hatinya ia terluka sendiri dengan kata-katanya tapi ia harus iklas bila itu terjadi dan ia harus rela suatu saat bila harus melepaskan Shafa untuk yang lain mau tak mau ia harus siap untuk itu.
Mereka lalu berbincang tentang masa lalu Shafa yang kurang kasih sayang sosok seorang ayah
__ADS_1
dengan segala penyesalan dan segala keluh kesah keduanya, hingga ahirnya mereka kelelahan dan Jones pamit tidur karna Nazwan juga butuh istirahat.
Jones tidur di sopa di sudut ruangan, di sana juga ada Asiah dan Lila tapi mereka tidur di lantai beralasan karpet, dua bodyguar laki-laki berjaga di depan pintu kamar rawatan Nazwan.
Jones menatap Shafa yang tertidur miring ke arah ayahnya, cadarnya sedikit tersingkap sehingga wajahnya juga terlihat sebagian, hati Jones terasa makin perih mengingat kata kata Nazwan yang mengharuskan ia mundur apa bila tidak di terima Shafa apa lagi Johan.
Sepertinya Nazwan sudah iklas kalau Johan mengurus segala sesuatu keperluan dan kebutuhan Shafa, termasuk masalah jodoh putrinya itu.
Nazwan bisa melihat kalau Johan sangat menyayangi putrinya itu seperti anak nya sendiri, bahkan Johan sudah mewariskan sebagian hartanya pada Shafa sebagai tanda kasih sayangnya, kasih seorang ayah pada putrinya meski hanya anak tiri.
"Kenapa kamu harus terlahir sebagai putri Johan, kenapa kamu begitu menggoda, kenapa aku harus jatuh cinta padamu, ya Tuhan ku tolong hamba mu ini, rasa ini begitu menyakitkan." gumam Jones dengan mata berkaca kaca.
Di tempat lain.
Niken tampak sedang berbincang dengan seseorang lewat panggilan telepon, mereka tengah serius membahas segala sesuatu tampa ia sadari kalau handphonenya di sadap oleh
orang lain.
"Ingat kau tidak boleh melukai nona Shafa, jika niat mu hanya untuk bisa memilikinya maka lakukan cara mu, asal jangan menyakitinya."
"Kau tenang saja, aku tidak akan mungkin melukainya, aku sangat menyukai dan mencintainya aku tidak akan berbuat gila selain membuatnya menerimaku meski terpaksa."
"Baik.. lakukan sesuai caramu, ingat aku juga tidak mau kalau nona kenapa napa."
"Kau tenanglah, pokoknya muluskan aku melancarkan aksi ku itu saja."
"Okay.. sepakat." jawab Niken ragu, rasa cinta di hatinya pada Jones yang semakin besar membuatnya lupa kalau ia akan berhianat pada wanita yang seharusnya ia jaga dan lindungi.
Ia lupa siapa Johan, laki-laki itu tidak akan melepaskan siapapun yang mengusik keluarganya apa lagi sampai menyakiti orang orang yang ia cintai.
*********
Maaf kalau banyak typo maklumlah ngetiknya pas lagi di perjalanan kadang mobil terguncang dan goyang ahirnya ketikannya mencla mencle wkwkwkwk.
Dukung aku terus ya man teman daratkan jempol manismu di cerita aku ya, sekaligus komen, rate, Vote dan hadiah yang banyak, aku tunggu.
Mari saling mendukung..
LOVE U ALL...
__ADS_1
HAPPY READING.