
Tatapan Jones pada Shafa dari depan kelas hampir tidak berkedip, ia bahkan lupa materi yang sudah ia paparkan pada mahasiswa dan mahasiswinya, membuat ia malu sendiri saat salah seorang mahasiswi menggodanya.
"Maaf pak, lagi ngak pokus ya, butuh agua." tanya seorang wanita berparas manis.
Hahahaha semua orang sontak tertawa mendengar pertanyaan wanita itu, tak terkecuali Shafa dan Niken, Niken yang mengerti mengapa Jones begitu hanya menggeleng gelengkan kepala melihat tingkah Jones, ia tertawa sembari melirik Shafa yang juga tertawa bersama yang lain.
"Kamu ngak tau saja nona, dokter Jones begitu karna memperhatikan nona, dia mungkin sudah sangat rindu melihat nona karna sejak pulang dari kampung, kalian jarang bertemu."
Gumam Niken dalam hati, lalu pandangannya kembali kedepan kelas dimana Jones ikut tertawa menyadari kebodohannya.
"Sory semua, maklumlah saya kan baru saja pulih jadi memang sering gagal pokus." ucap Jones beralasan.
"Bukan karna ada yang di rindukan pak, makanya gagal pokus ya." goda mahasiswa lain.
"Itu termasuk salah satunya, tapi sayang yang di rindu tidak perduli."
"Wahhh siapa pak, saya ya hahaha." goda mahasiswa bergaya manis dengan tangan melambai.
"Hahahaha ogah saya, amit amit." tawa Jones di ikuti tawa mahasiswa dan mahasiswi lainnya.
Suasana menjadi riuh, namun tidak lama karna mereka kembali pokus pada pelajaran, setelah beberapa saat, mata kuliah yang di ajarkan oleh Jones pun berakhir para mahasiswa dan mahasiswi keluar kelas satu persatu.
"Gils.. langsung pulang atau mau ke mana lagi." tanya Jones menghampiri Shafa yang masih duduk di kursi membereskan peralatan tulisnya.
"Langsung pulang Uncle, kenapa ?, Uncle mau ajak Shafa jalan jalan ?." canda gadis cantik itu.
"Dengan senang hati tuan putri, hamba akan setia menemani." membungkuk hormat.
"Hahaha jangan Uncle nanti yang di rindukan marah lihat Uncle jalan sama Shafa."
"Tidak akan, tidak mungkin marah, karna hanya aku yang merindukannya dia tidak."
"Kok bisa ?."
"Yahh gitulah, hatinya ngak peka."
"Wahhh di bilang dong Uncle kalau rindu, kalau ngak di bilang ya ngak tau."
"Takut kalau di bilang dia kabur dan ngak mau dekat lagi, biarlah aku mengikutinya saja menjaganya setiap waktu yang aku bisa siapa tau nanti dia jadi cinta."
"Wahhh Auntynya udah ganti lagi ya."
"Ngak ngak pernah ganti, masih itu itu saja yang aku suka dan cinta, aku tipe cowok setia ya."
"Yahh tapi dulu kata Uncle mau lamar, kalau mau lamar kok Aunty ngak kangen sama Uncle, berarti cinta Uncle bertepuk sebelah tangan dong."
"Hmmm sementara ini ya gitu."
"Ouhhh kasian Uncle." senyum Shafa di balik cadarnya.
"Yahhh kasian kasian kasian."
"Kalau gitu Shafa pamit duluan ya Uncle."
"Lohh tadi bukannya mau jalan bareng ya."
"Shafa mau ke swalayan aja Uncle, beli persiapan di dapur, Shafa lagi belajar masak sama kak Niken dan kak Lila."
"Oo ya, ayo kalau gitu, aku juga mau belanja isi kulkas udah habis."
__ADS_1
"Emang Uncle masak sendiri ya."
"Ya iya, masak masak sendiri makan makan sendiri cuci baju sendiri tidur pun sendiri." bernyanyi menirukan gaya artis dangdut.
"Kasian.."
"Bisanya bilang kasian terus, makanya cepat cepat dong."
"Cepat apa Uncle."
"Cepat besar, biar aku jemput."
"Shafa udah besar, emang mau kemana Uncle." tanya Shafa bingung.
"Kehatiku sayang, kemana lagi." gumam Jones garuk garuk kepala.
"Sudahlah, ayo pergi nona." ajak Niken karna Jones juga ikut bingung mau jawab apa pada Shafa.
"Ayo naik mobil ku saja."
"Ngak usah Uncle,Shafa bareng kak Niken aja."
"Niken lu ikut kami aja, ayo cepat."
Jones membuka pintu mobil bagian depan untuk Shafa dan memaksa gadis itu naik kedalam mobilnya.
"Shafa di belakang aja Uncle."
"Ngak boleh, di depan, emang aku supir kalian, tapi kalau jadi supir kamu seumur hidup mah ngak apa apa sih." tawa Jones.
"Shafa ngak bisa bayar Uncle, mana mungkin dokter jadi supir Shafa."
"Bayar pake hati kamu aja." ucapnya pelan.
"Ngak apa apa, ayo pasang safety beltnya."
Tampa banyak kata Shafa memakai safety belt, Niken yang duduk.di belakang bisa melihat wajah sumringah Jones yang bahagia bisa jalan sama dengan Shafa lagi.
"Setidaknya dengan membiarkan dokter mendekati Nona begini berkurang rasa bersalah ku, semoga tuan besar ngak marah, aku senang melihat dokter bahagia, semoga harapan untuk memiliki nona tercapai." doa Niken dalam hati.
Tak berapa lama kemudian mereka sampai di tujuan, Shafa di temani Jones mendorong keranjang belanjaan mencari beberapa bahan untuk.di masak, Niken, Lila dan Asiah berjalan tidak jauh dari mereka.
"Hmmm berasa berjalan dengan istri." senyum Jones melirik Shafa yang asik memilih berbagai sayuran dan buah segar.
Setelah selesai Jones mendorong troli ke kasir, di kasir ia malah berdebat dengan Shafa hanya karna Shafa tidak mau di bayari belanjaannya.
"Gils jangan buat aku malu dong, masa cewek yang bayar belanjaan sih, lihat kita di perhatikan orang orang, sudah biar aku yang bayar."
Shafa terdiam saat menyadari banyak mata tertuju pada mereka, meski ia tidak tau dan tidak mengerti makna dari tatapan mata orang orang tapi ia ahirnya mengalah dan membiarkan Jones membayar semua belanjaannya.
Setelah berbelanja mereka pulang ke rumah yang di tempati Shafa dan yang lain.
"Kamu juga pecinta bunga ya seperti mama kamu di sekeliling rumah bunga semua." ucap Jones begitu mereka sampai di halaman rumah besar itu yang hanya di tempati Shafa dan para bodyguard.
"Namanya cewek Uncle, emang hubbynya nanam bunga, kalau nanam bunga deposito biasanya cowok."
"Emang Shafa cewek ya, aku ingat dulu kamu itu tomboy banget, malah suka manjat pohon."
"Ya ceweklah Uncle, lagian itukan dulu." sewot Shafa sembari menurunkan belanjaannya di bantu oleh Asiah dan yang lain.
__ADS_1
"Marah ni yee, ehh aku ngak di ajak masuk, ajak minum teh atau apa kek."
"Ishhh ngak boleh ya, lewat pagar ini sudah wilayah haram untuk cowok."
"Pelit amat sih, udah di temani belanja juga."
Ucap Jones mengerucutkan bibir.
"Ihhhh ngak di ajak juga tadi, jadi Uncle ngak iklas gitu sampe minta imbalan."
"Iklas pake banget, minta imbalan ya wajar dong, akukan haus dari tadi ngak di ajak minum, lapar juga iya."
"Ishhhh modus." tawa Niken berjalan mendahului kedua orang yang tengah berdebat.
"Modus apa kak Niken ?."
"Ahhh bukan apa apa nona hehehe."
"Uncle tunggu aja di sana, nanti Shafa ambilkan minum, Uncle mau minum apa."
"Apa saja deh gils yang penting kamu yang buat kamu yang antar dan plus temani aku minumnya." senyum Jones mulai pasang aksi.
"Hahhhh kok pake di temani ?."
"Ya iya.. emang enak minum sendiri."
"Ya sudah, Shafa masuk dulu Uncle, jangan ikut ngak boleh."
"Ya ngak apa apa, sekarang ngak boleh nanti juga boleh."
"Sekarang ngak ya nanti ngak juga Uncle."
"Udah jangan ngomel, cepat buatkan haus
banget nih."
Shafa masuk kedalam wilayah haram dengan menutup pintu pagar, sementara Jones berjalan ke arah ruang tunggu yang luas dengan sopa besar terletak di sana, ruangan itu terbuka di bagian sisi depan dan kanan sehingga siapa saja yang duduk di sana akan terlihat Jelas.
"Brengsek, siapanya Shafa dosen itu, kenapa dia bisa bebas mendekati Shafa gua ngak bisa, ternyata rumahnya gede juga pengawalnya juga ketat banget, siapa dia sebenarnya."
Gumam seseorang yang sedari tadi memperhatikan Shafa dari seberang jalan, ahirnya dia bisa mengikuti Shafa karna para bodyguard membiarkannya sebab mereka ingin tau maksud dan tujuan Dino mengikuti dan mendekati majikan mereka itu.
🌴🌴🌴🌴
Hai teman-teman author dan teman teman -pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
🌴 LIKE
🌴 RATE
🌴 VOTE
🌴 HADIAH yang banyak
🌴 KOMEN yang sebanyak banyaknya.
__ADS_1
Wo Ai Ni all..
Happy Reading