
Siang yang terik tak menyurutkan semangat Vinka untuk bergegas menemui suaminya dirumah sakit. Dengan membawa kue dan beberapa makanan kesukaan Wahyu. Vinka sangat berharap Wahyu bisa segera mengingat semuanya.
Vinka menenteng paper bag itu dengan senyuman yang terus terukir dibibirnya. Vinka segera menghampiri ojek online pesananannya ketika driver ojek tersebut sudah mengabarinya.
" Maaf. Apakah ini pesanan atas nama Davinka?"
" Iza Mbak. Silahkan." Ramah driver ojek menyambut Vinka.
Vinka segera naik ke atas motor driver ojek tersebut setelah mengenakan helm. Memakan waktu sekitar 25 menit, Vinka sampai didepan rumah sakit. Vinka segera turun dan langsung menuju ruang perawatan Wahyu.
" Assalamu'alaikum."
" Waalaikum salam."
Semua orang yang berada disana menoleh dan memperhatikan Vinka. Mereka tengah berkemas karena hari ini Wahyu sudah diperbolehkan pulang. Vinka menatap satu persatu orang yang ada dalam ruang rawat suaminya. Matanya tak lepas dari sosok wanita yang dari tadi terus menempel pada lengan suaminya.
Wahyu yang menyadari Vinka tengah menatapnya segera melepas tangan wanita itu dan berusaha menjauh. Namun karena Wahyu belum bisa berjalan normal, ia sedikit kesulitan untuk menggeser tubuhnya.
Tak ada seorang pun yang peduli dengan kehadiran Vinka. Vinka hanya berdiri mematung di depan pintu. Hatinya begitu sakit disuguhi pemandangan seperti itu.
" Vinka. Ayo masuk!" ajak Wahyu.
" Sepertinya aku salah jam besuk. Lagi pula,kehadiranku tidak begitu diinginkan disini."
" Bagus kalau kamu sadar diri!" Sinis Bu Asty.
" Bu. Jangan seperti itu! Bagaimanapun juga, Vinka masih sah menjadi istriku." Bela Wahyu.
" Iza, istri yang sebentar lagi akan kamu ceraikan." Bu Asty tersenyum mengejek.
Hancur sudah hati Vinka. Ingin rasanya ia berlari pergi. Tapi kakinya begitu berat untuk melangkah. Dunianya seakan hancur berkeping keping. Perjuangannya selama ini untuk bisa berkumpul kembali dengan suaminya sudah musnah.
Vinka harus menelan pil pahit karena semua yang ia perjuangkan tidak ada artinya dimata Ibu mertuanya.
" Wahyu belum bisa mengambil keputusan Bu."
Pak Handoko yang tidak ingin melihat anak kesayangannya bersedih segera menghampiri Wahyu. Ia tidak ingin Wahyu mempermainkan perasaan anaknya.
" Wahyu. Kamu itu harus tegas sebagai laki-laki. Jangan mau harga dirimu diinjak-injak. Kalau kamu tidak mau menceraikan dia. Jangan kamu dekati putri saya!" tegas Pak Handoko.
" Kita bisa bicarakan ini baik-baik Pak. Saya yakin, Wahyu sangat mencintai menik. Iya kan Yu?" Bu Asty menyenggol lengan Wahyu.
" Aku belum tau Bu. Aku masih bingung." Wahyu merasa tidak enak dengan Vinka.
Wahyu mendekati Vinka yang dari tadi hanya berdiri mematung didepan pintu. Wahyu tidak tau kenapa hatinya sangat sakit melihat Vinka yang terluka.
" Vinka. Ayo masuk!" ajak Wahyu.
Vinka menggeleng." Tidak Mas. Ini buat kamu." Vinka memberikan kue yang tadi ia bawa kepada Wahyu.
" Apa ini?" Wahyu merasa tidak asing dengan kue yang Vinka bawa." Ayo kita makan bersama! Pasti sangat lezat." Wahyu menarik tangan Vinka.
Vinka yang tenaganya kalah kuat dengan Wahyu hanya bisa pasrah mengikuti kemana suaminya pergi. Namun sebelum sampai disofa, tangan Vinka sudah dicekal oleh Bu Asty.
" Kamu ini apa-apaan sih Yu. Itu ada Pak Handoko dan Menik. Kamu mau buat Ibu Malu?" geram Bu Asty kepada putranya.
__ADS_1
" Mereka kan tamu Ibu. Bukan tamuku." jawab Wahyu dengan santainya dan menarik Vinka agar duduk.
Wahyu mulai menikmati kue yang Vinka bawa. Rasa dari kue itu tak asing lgi bagi Wahyu. Ia sangat menikmatinya. Vinka senang karena Wahyu mau menerima kue yang ia berikan. Bahkan kini kue itu hampir habis.
" Kamu tidak makan Vinka. Ini enak sekali. Rasanya sungguh tak asing lagi dilidahku."
" Buat Mas Wahyu saja. Aku sudah kenyang. Itu memang kue kesukaan Mas Wahyu."
" Benarkah." Wahyu menatap Vinka." Aku ingin segera mengingat semuanya. Agar hatiku tenang." Wajah Wahyu mendadak murung.
Saat Vinka hendak memegang tangan Wahyu. Bu Asty lebih dulu menariknya.
" Cepat pergi! Urusanmu kan sudah selesai."
" Ibu apa-apaan sih. Vinka kan masih istriku Bu. Biarkan dia disini. Atau jangan-jangan Ibu memanfaatkan keadaanku untuk kepentingan Ibu sendiri." Wahyu menatap Ibunya tajam.
" Ibu melakukan semua ini demi kebahagiaanmu. Vinka bukan perempuan yang baik untukmu."
" Tapi dia masih istriku Bu."
" Ibu akan kasih lihat kamu pelan-pelan. Siapa sebenarnya istrimu itu!" Bu Asty menatap Vinka tajam.
" Maksud Ibu apa?"
" Kamu bisa nilai sendiri besok saat bukti-bukti kebusukan istrimu Ibu sudah dapatkan."
Vinka terdiam dan menunduk. Ia masih memikirkan bukti yang akan mertuanya tunjukkan. Vinka tidak pernah berkhianat atau melakukan hal terlarang apapun. Tapi mengapa mertuanya begitu yakin kalau ia adalah perempuan yang hina. Apa mertuanya mau memberikan Wahyu bukti palsu.
" Sudahlah Mas. Mungkin sebaiknya aku pulang saja. Mas Wahyu istirahat dan jangan lupa salat. Aku akan sering mengunjungimu." Vinka bangkit dari duduknya.
" Heh. Jangan harap kamu bisa sering bertemu dengan Wahyu. Saya tidak akan membiarkan kamu merusak kebahagiaan anak saya!" tegas Bu Asty.
" Kalau mau pulang. Ya pulang sana! Kamu juga tidak diharapkan disini." ketus Bu Asty.
" Aku pulang dulu Mas. Assalamu'alaikum." Vinka mencium punggung tangan Wahyu.
Ada perasaan hangat dan berbeda yang menyelimuti hati Wahyu setiap ia berdekatan dengan Vinka. Wahyu merasa sangat dekat dan nyaman. Namun lagi-lagi karena ingatan yang belum kembali. Selalu membuat jarak untuk hubungan mereka.
Wahyu menatap kepergian wanita yang mampu mendebarkan hatinya dengan perasaan sedih. Wahyu mengamati jendela, ia ingin memastikan Vinka baik-baik saja.
Hingga pemandangan yang ia tidak ingin lihat. Terlihat jelas didepan mata. Vinka terlihat mengobrol cukup akrab dengan seorang pria. Bahkan pria itu menatap penuh damba kearah wanita yang saat ini masih sah menjadi istrinya.
Bu Asty tak tinggal diam. Ia mengompori Wahyu yang panas hatinya. Kesempatan ini Bu Asty manfaatkan untuk merusak hubungan Wahyu dan Vinka.
" Tuuuh. Kamu bisa lihat sendiri kan kelakuan istri kamu?" Bu Asty tersenyum mengejek.
" Mereka hanya mengobrol." jawab singkat Wahyu.
Tidak dipungkiri, hati Wahyu dongkol melihat pemandangan tersebut. Ingin sekali dirinya menarik Vinka agar menjauh dari laki-laki tersebut.
Di halaman rumah sakit. Vinka berpapasan dengan Restu yang saat itu juga tengan selesai menjenguk temannya. Mereka mengobrol sebentar tanpa tau kalau ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka.
" Assalamu'alaikum Vinka. Kamu habis jenguk suamimu?"
" Waalaikum salam. Iya Kak Restu. Kak Restu ada kepentingan juga disini?"
__ADS_1
" Aku menjenguk temanku yang sedang dirawat disini. Gimana keadaan Wahyu? "
" Mas Wahyu sudah baik an. Sebentar lagi juga sudah diperbolehkan pulang." Raut wajah Vinka berubah murung.
" Alhamdulillah. Bagus dong Wahyu sudah sehat. Kenapa kamu murung?"
Vinka menghela nafas panjang." kalau Mas Wahyu sudah tidak disini. Kami akan sulit untuk bertemu. Dan akan sulit bagiku untuk mengembalikan ingatan Mas Wahyu."
" Kamu yang sabar Vinka. Jika kalian jodoh, pasti akan ada jalannya."
" Aamiin Kak. Mudah-mudah an. Maaf Kak, aku harus pergi duluan. Ada hal yang harus aku kerjakan segera."
" Boleh aku mengantarmu?" Restu nampak ragu-ragu. Takut Vinka marah atau menolak tawarannya.
" Lain kali saja Kak. Maaf Vinka buru-buru. Assalamu'alakum."
" Waalaikum salam."
Restu menatap kepergian Vinka. Wanita berhijab yang tambah membuat ia kagum dengan kepribadiannya.
" Kamu sungguh wanita yang sangat istimewa Vinka." batin Restu.
Restu melanjutkan langkahnya menuju mobil setelah ia melihat Vinka sudah pergi dengan ojeknya.
Wahyu melihat sangat jelas semua yang terjadi lewat jendela kaca rumah sakit. Wahyu sedikit lega, Vinka tidak seperti apa yang ibunya tuduhkan. Dari yang Wahyu lihat tadi. Hanya pria itu yang selalu curi-curi pandang dan menatap kagum Vinka. Tapi Vinka selalu menjaga pandangannya.
Wahyu sangat yakin, Vinka adalah wanita baik-baik. Tidak heran banyak kaum adam yang ingin mendekatinya. Selain cantik,Vinka juga lembut dan sopan. Siapapun akan betah berlama-lama dekat dan mengobrol dengannya.
Wahyu kembali duduk diatas ranjang pasien sambil menunggu hasil pemeriksaannya keluar. Barang-barang Wahyu sudah selesai dirapikan. Ia akan segera pulang kerumah.
" Wahyu. Kamu harus ingat. Kamu harus segera mengurus surat perceraian kamu dengan Vinka. Ibu tidak mau tau alasan apapun!" tegas Bu Asty.
" Aku tidak bisa Bu. Lagi pula semua masih samar bagiku. Ingatanku belum pulih. Ibu tidak bisa terus memaksaku seperti ini!" tegas Wahyu.
" Kamu jangan jadi anak pembangkang gara-gara Vinka. Kamu harus nurut apa kata Ibu."
" Tidak Bu. Sepertinya aku akan menolak. Maaf, aku belum bisa memutuskan semuanya jika belum jelas."
" Kurang jelas apalagi Yu!!" geram Bu Asty.
Bu Asty sangat marah dan kecewa karena Wahyu membantah dan tidak menuruti keinginannya. Ia harus melakukan cara lain agar Wahyu dan Vinka segera berpisah. Ia bahkan tidak peduli dengan nasib kedua cucunya. Yang ia perdulikan hanyalah uang dan dirinya sendiri.
" Aku akan melakukan cara apapun untuk memisahkan dan menjauhkan Wahyu dari wanita itu. Dia memang sekarang kaya. Tapi selalu pelit dan membangkang ucapanku. Aku tidak suka menantu seperti itu." batin Bu Asty.
ππππππππππππ
Mohon maaf. Sedikit dulu ya guyyyss....
untuk mengobati rasa kangen kalian.
maafkan aku belum bisa update rutin.
Tetap dukung karyaku ya!!!
like, komen, subcribe, vote dan hadiahnya aku tunggu.
__ADS_1
jangan bosen untuk nunggu update dan baca karyaku ya!!!
Terimakasihπππ