
Hari ini sudah lebih dari tiga hari sejak terjadinya musibah kebakaran ruko. Vinka masih saja mengurung diri dikamar. Pesanan dan komplain dari pelanggan semua Leni yang mengurusnya.
Entah ada apa dengan Vinka. Mungkin karena sekarang, Vinka sudah kehilangan penyemangat hidupnya. Jauh dari Wahyu sang suami sampai 3 bulan lamanya tanpa kabar. Ternyata mampu membuat perubahan yang cukup drastis di kehidupan Vinka.
Elsa anak sulung Vinka dan Wahyu menatap sedih ke arah Ibunya. Ia tidak tega melihat Ibunya terus-terusan terpuruk. Walau kini usianya sudah hampir 13 tahun. Elsa tetap masih imut dan kekanak kanakan. Namun kini Elsa dihadapkan pada situasi sulit. Ia harus bisa mandiri dan menjadi sandaran untuk sang Ibu di usianya yang masih belia.
" Elsa. Sedang apa kamu?" tanya sang Nenek.
" Aku hanya ingin memastikan Ibu baik-baik saja Nek." jawab Elsa tanpa mengalihkan pandangannya kepada Ibunya.
Bu Tami menghela nafas berat. Sudah lebih dari tiga hari, Vinka seperti ini. Bu Tami sudah kewalahan dengan sikap Vinka. Dinasihati sama saja, cuma sebentar dan akan kembali seperti itu lagi.
" Kamu bujuk Ibu kamu untuk keluar kamar dan makan."
Bu Tami berlalu pergi setelah mengatakan itu kepada cucunya. Elsa mengatur nafas dan segera mengetuk pintu kamar Ibunya.
Tok tok tok
" Bu. Apa aku boleh masuk?"
" Iya sayang. Masuklah." Vinka tersenyum menatap putri sulungnya yang sudah beranjak dewasa.
" Kita makan yuk, Bu. Kalau Ibu tidak suka makan dirumah, kita bisa makan diluar. Elsa traktir decchh." Eksa mwncoba merayu sang Ibu dengan candaanya.
" Waahh anak Ibu sepertinya sedang banyak uang nicchh." goda Vinka.
Elsa hanya menyengir kuda menanggapi godaan Ibunya. Setidaknya ia bisa melihat senyum sang Ibu yang sudah redup selama beberapa hari ini.
" Sekarang Elsa siap-siap. Safa juga diajak. Hari ini kita jalan-jalan. Elsa beritahu Mbak Lastri suruh persiapkan semuanya."
" Baik Bu."
Elsa sangat bersemangat. Sampai ia kegirangan dan langsung pergi begitu saja. Vinka sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya. Sebenarnya hari ini Vinka tidak berniat untuk pergi. Namun melihat anaknya yang sepertinya menginginkan mereka bisa punya waktu lebih banyak bersama. Vinka akhirnya berinisiatif mengajak mereka jalan-jalan. Sudah lama juga Vinka tidak punya waktu bersama anak-anaknya. Mungkin musibah ini teguran untuknya.
" Aku harus segera bersiap. Pasti anak-anak sangat menantikan momen ini. Sudah lama juga aku tidak menemani mereka bermain."
Vinka segera bersiap dan memasukkan semua keperluannya ke dalam tas. Ia segera keluar untuk berpamitan kepada kedua orang tuanya. Vinka segera memesan taxsi online.
" Vinka. Mau kemana kamu?. Kok sudah rapi?"
" Mau jalan-jalan sama anak-anak Bu." Vinka tersenyum menatap Ibunya.
" Nah begitu dong. Jangan ngurung diri trs. Hiburan itu perlu, agar bisa berfikir untuk kedepannya. Masa depan kamu masih panjang Vinka." Nasihat sang Ibu.
" Iya Bu. Kalau begitu Vinka pamit. Ini pesanan taxsi online Vinka juga sudah mau sampai. Vinka panggil anak-anak dulu. Assalamu'alaikum" Vinka pamit dan mencium punggung tangan Ibunya.
" Waalaikum salam. Hati-hati."
Vinka mengangguk dan tersenyum. Ia segera menuju kamar anak-anaknya. Disana begitu kacau, terlihat Mbak Lastri yang kewalahan dengan tingkah Safa. Balita 2 tahun itu begitu aktif. Kamar selalu terlihat seperti kapal pecah dibuatnya. Elsa terlihat menekuk wajah. Ia sangat kesal dengan tingkah adiknya.
" Sayang. Ayo segera bersiap. Taxsinya akan segera sampai. Jangan buat Mbak Lastri pusing dong sayang."
" Acu amu ama Ibu." jawab balita itu tidak jelas.
" Ya sudah. Sini sama Ibu." Vinka dengan telaten mendandani anaknya.
Setelah memastikan semua siap dan taxsi pesanannya pun sudah sampai. Vinka segera membawa anak-anak dan pengasuhnya keluar.
" Pak. Baru pulang?" sapa Vinka.
" Iya sayang. Habis antar pesanannya Bu Denok untuk acara lamaran putrinya. Kamu mau kemana?"
" Mau jalan-jalan sama anak-anak Pak. Sudah lama aku tidak mengajak mereka bermain."
__ADS_1
" Ohh baiklah. Semoga setelah ini, kebahagiaan kembali menyertaimu Nak. Jangan terlalu larut dalam kesedihan." nasihat Pak Sarif.
" Iya Pak. Vinka pamit dulu. Maafkan Vinka, selalu membuat Bapak dan Ibu kecewa dan sedih."
" Walau kamu sudah dewasa, menikah dan punya anak. Tapi bagi Bapak dan Ibu, kamu tetaplah putri kecil yang harus kami jaga dan sayangi."
Vinka terharu mendengar ucapan sang Ayah. Ia langsung menghambur kepelukan Ayahnya. Vinka seperti anak kecil yang tidak mau pisah dari Ayahnya. Suara Bu Tami memisahkan momen mengharukan itu.
" Katanya mau pergi!. Malah glendotan sama Bapaknya."
Vinka melepas pelukannya. Ia menatap sang Ibu.
" Ibu cemburu?"
" Isshh kamu. Mana ada Ibu cemburu sama anak sendiri!"
Vinka menyengir kuda, ia tau Ibunya pasti bahagia melihat kedekatan ia dan Bapak. Vinka segera berpamitan karena takut nanti pulangnya kemaleman.
" Vinka pamit dulu ya, Bu Pak. Assalamu'alaikum." Vinka mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
" Waalaikum salam."
Vinka segera keluar. Anak-anak sudah menunggu dengan sangat antusias. Semua barang sudah dimasukkan ke dalam mobil. Mereka segera berangkat menuju mall yang agak lumayan jauh. Perjalanan bisa memakan waktu 1-2 jam.
...******...
Dikediaman Wahyu, ia masih uring-uringan karena album foto pemberian Vinka belum juga ketemu. Wahyu masih mengurung diri dikamar dan mengacak-acak isi kamarnya. Bu Asty sudah geram melihat tingkah putranya yang sudah seperti orang gila.
" Wahyu. Kamu nngak ada kerjaan lain selain mengobrak abrik kamar seperti ini?. Sebentar lagi Menik sampai. Ia ingin mengajakmu jalan-jalan. Segeralah bersiap!"
" Aku tidak ingin pergi kemanapun hari ini Bu. Aku pusing."
" Kamu jangan membantah!. Segara bersiap-siap!!!" Marah Bu Asty.
Dengan malas, Wahyu menuruti kemauan Ibunya.
Wahyu sangat tidak bersemangat untuk pergi. Ia pun hanya memakai pakaian seadanya. Karena dari sananya sudah tampan. Mau pakai apapun ya tetap tampan.
" Menik sudah sampai. Ia menunggu diruang tamu." Bu Asty menemui Wahyu dikamarnya.
" Ya. Sebentar lagi." balas Wahyu cuek.
" Cepat!. Jangan buat calon istrimu menunggu terlalu lama."
Wahyu berdecak sebal. Ibunya selalu saja memaksa. Wahyu segera keluar kamar. Saat hampir tiba diruang tamu, ia menatap wanita yang duduk santai disofa dengan tatapan sinis.
" Haaiisshh. Pakaian seperti itu malah membuatku semakin jijik. Dia fikir aku akan tertarik jika dia berpakaian seperti itu. Telanjang pun, pisangku tidak mempan." batin Wahyu sebal.
Penampilan Menik saat ini memang berlebihan. Ia menggunakan pakaian yang mini untuk menarik perhatian Wahyu. Walau kulitnya sama putih dengan Vinka. Namun body Vinka jauh lebih menarik dimata Wahyu. Walau saat ini Vinka penampilannya berhijab. Tapi tidak mengurangi kadar kecantikan dan keseksiannya dimata Wahyu.
Memang dasar si Wahyu. Yang di ingat hanya yang enak-enak saja. Wahyu segera mendekat.
" Ekhheem. Jadi pergi nngak?"
Menik mengangkat wajahnya. Ia terpesona dengan penampilan Wahyu. Menik menjawab dengan gugup.
" I-iya. Jadi kok."
Menik berdiri dan hendak merangkul lengan Wahyu. Namun Wahyu segera berlalu pergi membuat Menik merasa kesal.
" Awas ya kamu. Akan aku buat kamu bertekuk lutut dihadapanku. Apalagi jika sudah menikmati kemolekan tubuhku. Kamu pasti tidak akan tahan untuk tidak menyentuhku." batin Menik dengan percaya dirinya.
Menik dan Wahyu segera pergi untuk berjalan-jalan. Sepanjang perjalanan, menik selalu menempel. Wahyu sangat tidak nyaman dengan suasana tersebut.
__ADS_1
...*****...
Kini Wahyu dan juga Menik telah sampai di sebuah mall yang cukup terkenal di kota mereka. Begitu sampai, Wahyu bergegas masuk tanpa memperdulikan Menik yang tengah berlari mengejarnya.
Hingga tanpa sengaja Wahyu bertabrakan dengan balita yang sedang lari-larian bersama Kakaknya.
" Ajuuhhh atit." ucap batita itu sambil memegangi lututnya.
Wahyu yang kaget karena ditabrak secara tiba-tiba mulai panik. Wahyu segera berlutut mensejajarkan tubuhnya dengan balita itu.
" Apanya yang sakit Nak. Maafkan Om, Om tidak sengaja." Wahyu menyadari ia juga salah.
Tanpa ia sadari, empat pasang mata membeku melihat interaksi keduanya. Vinka dan Elsa seperti patung yang tidak bergerak. Pengasuh Safa sampai bingung dengan sikap Ibu dan anak tersebut.
" Ada apa sihh?. Sampai Ibu dan Non Elsa bengong gitu?" Mbak Lastri mengikuti arah pandang majikannya.
Disana ia melihat ada Safa yang sedang menangis disebelah pria. Ia juga sepertinya pernah melihat wajah pria itu, tapi dimana ia lupa.
" Sayang jangan menangis. Om tidak jahat kok." Wahyu tersenyum menatap balita tersebut.
Wahyu sempat kaget, wajah balita itu sangat mirip dengannya. Bahkan wajah balita itu terlihat ceria setelah melihat wajahnya. Ucapan balita itu bahkan membuat Wahyu mematung seketika.
" AYAH." Safa berdiri dan merangkul leher Wahyu.
Wahyu diam karena syok. Ingatannya belum pulih, ia belum mengingat anggota keluarganya. Saat ia terakhir bertemu Safa, balita itu masih bayi. Kini usia Safa sudah hampir 3 tahun.
" Safa. Kemari Nak?" Vinka segera memanggil putri kecilnya karena ia melihat Menik mendekat.
Suara yang begitu Wahyu rindukan membuyarkan lamunannya. Ia mendongak menatap sang pemilik suara indah tersebut.
" Vinka."
Wahyu segera berdiri dan mendekati Vinka beserta anak-anaknya. Namun sebelum Wahyu mendekat. Tangannya sudah di cekal oleh seseorang. Siapa lagi kalau bukan si biang kerok Menik.
" Mas Wahyu. Aku cariin kemana mana, ternyata kamu disini. Ayo Mas, katanya kamu mau membeli barang-barang untuk lamaran." Menik sengaja memamerkan hubungannya dengan Wahyu.
" Lepas. Kita bukan mukhrim, tidak usah gandengan!" Wahyu sangat tidak suka Menik membahas hal tersebut didepan Vinka.
" Vinka. Apakah mereka anak-anakku?" Wahyu tersenyum bahagia.
" Aku rasa, kalian pasti punya ikatan batin yang kuat. Hingga takdir mempertemukan kalian," jawab Vinka datar.
" Sayang. Ini Ayah Nak." Wahyu merentangkan kedua tangannya menyambut kedua buah hatinya.
Ia sedikit kecewa, karena Elsa tidak mendekatinya. Ia menatap sedih pada anak remaja tersebut.
" Kamu marah sama Ayah?"
" Tidak. Aku hanya kecewa. Aku juga tidak tau, sampai kapan Ayah akan melupakan kami."
Kata-kata Elsa yang cukup pedas. Mampu membuat hati Wahyu terusik. Ia mendekati putri sulungnya itu.
" Ayah memang banyak salah. Setelah ini, Ayah mohon bantu Ayah untuk mengingat semuanya. Ayah akan ganti waktu kita yang hilang."
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁💞💞💞💞
Dikit2 dulu ya guysss..
mohon maaf selalu telat update dan kurang maxsimal.
aku akan usahakan supaya bisa bagi waktu.
Jangan lupa like, komen, subcribe, vote dan hadiahnya.
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir dan baca karya author.
Love you😘😘😘