
Vinka terus mengejar Wahyu yang terus menghindarinya. Akhirnya Vinka bisa mengejar Wahyu walau nafasnya ngos-ngos an karena berlari.
" Huuufff Mas Wahyu. Akhirnya aku bisa mengejarmu." Vinka duduk di kursi taman dekat ia dan Wahyu berada.
" Kamu kenapa malah ngejar aku?" Wahyu menatap Vinka.
" Aku takut kamu salah faham Mas. Aku tidak ingin kamu menilai buruk tentang diriku. Aku memang sering bersama Kak Restu dan pria lain. Tapi itu hanya untuk urusan pekerjaan." Vinka langsung menjelaskan kepada Wahyu.
" Aku mengerti, kamu memang wanita hebat. Aku yang minder saat bersamamu. Aku-" ucapan Wahyu terpotong karena Vinka menyela ucapannya.
" Jangan bicara seperti itu Mas. Aku mencintaimu bukan karena harta. Bahkan ruko itu, dulu kamu yang menyewakan untukku dengan uang tabunganmu." Vinka menjelaskan agar Wahyu tidak minder.
" Benarkah?. Tapi tetap saja, aku sekarang hanyalah pengangguran."
" Sebentar lagi pasti tidak Mas." Vinka menyemangati Wahyu.
" Semoga Vinka. Semoga lamaranku diterima."
" Aamiin Mas. Kamu harus semangat." Vinka tersenyum menatap Wahyu.
Wahyu tertegun memperhatikan wajah Vinka. Seperti ada daya tarik kuat sehingga Wahyu ingin menyentuhnya. Tangan Wahyu sudah hampir menyentuh wajah Vinka. Namun ia urungkan karena takut membuat Vinka marah.
" Vinka. Apakah boleh aku membelikan sesuatu untuk anak-anak?" tanya Wahyu guna menghilangkan rasa gugupnya.
" Tentu saja. Kamu kan Ayahnya Mas." Vinka kembali tersenyum.
" Tapi aku belum bisa membelikan sesuatu yang mahal dan bagus. Tapi setelah aku bekerja dan mendapatkan gaji. Aku akan membelikan apa yang mereka mau. Bila perlu kita akan jalan-jalan bersama." tutur Wahyu dengan semangat.
Mendengar penuturan Wahyu, Vinka sangat terharu. Walau sampai saat ini ingatan Wahyu belum juga pulih. Tapi Vinka yakin, seiring berjalannya waktu Wahyu akan kembali mengingat mereka.
" Kamu mau kembali kesana?. Biar aku antarkan." Wahyu berucap tanpa menoleh kepada Vinka.
" Ini sudah hampir jam makan siang. Lebih baik kita makan siang saja. Sepertinya ada warung makan baru diujung sana yang cukup ramai. Sepertinya masakannya enak." tunjuk Vinka ke arah warung makan yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka duduk.
" Lalu bagaimana dengan rekan kerjamu?. Apakah ia tidak diajak sekalian?"
" Biasanya Kak Restu juga akan makan siang sendiri. Ia juga sudah tau, kalau aku mengejarmu tadi."
" Maafkan aku. Seharusnya aku tidak bersikap seperti itu tadi." Wahyu menunduk.
Vinka meraih tangan Wahyu dan digenggamnya erat. Vinka ingin agar Wahyu tidak terlalu minder akan perbedaan diantara mereka.
" Mas Wahyu. Aku tidak akan mungkin mengkhianatimu. Percayalah kepadaku."
" Aku percaya Vinka." kali ini Wahyu juga menggenggam tangan Vinka.
" Ayo segera kita makan siang. Aku tidak mau kamu sakit." Wahyu berdiri dan menarik pelan tangan Vinka.
__ADS_1
Vinka tersenyum dan menatap Wahyu yang saat ini sedang menggenggam erat tangannya.
Vinka dan Wahyu makan siang bersama disalah satu rumah makan dekat ruko milik Vinka. Saat memasuki ruko tidak sengaja Vinka bertemu dengan Restu yang juga akan makan siang. Mereka akhirnya menempati meja yang sama.
" Vinka, Wahyu. Kalian dari mana saja?. Aku menunggu diruko sejak tadi," ucap Restu seraya menggeser kursi dan duduk.
" Maaf Kak. Tadi kami keasyikan ngobrol ditaman," jawab Vinka malu-malu.
Wahyu diam tidak menjawab. Ia masih belum begitu akrab dengan Restu. Restu yang mengetahui Wahyu hanya diam. Mulai membuka obrolan ringan hingga Wahyu semakin nyaman.
Vinka sangat bersyukur, Wahyu bisa mengerti dan lebih mempercayainya. Tak lama makanan pesanan mereka pun tiba.
" Selamat siang. Ini pesanannya Mbak , Mas. Silahkan dinikmati," ucap pelayan ramah.
" Terimakasih Mbak," jawab Vinka tersenyum.
" Mari silahkan. Kamu tidak usah sungkan Wahyu. Dulu kita seperti ini. Aku dan Vinka memang akrab. Karena aku sudah menganggap Vinka adikku sendiri." Restu segera menggeser mangkuk pesanannya dan siap memakannya.
" Iya terimakasih. Aku belum bisa mengingat apapun sampai sekarang. Semoga saja tidak ada yang memanfaatkan situasi ini. Aku takut, kenyataan yang sesungguhnya berbeda." ungkap Wahyu.
Restu menghentikan makannya sejenak kemudian menatap Wahyu. Vinka pun sama, ia juga belum jadi makan siang karena obrolan mereka.
" Kamu pasti merasa bingung dengan keadaan kamu saat ini. Tapi percayalah, Vinka adalah istri sahmu dan anak-anak itu adalah anak kalian. Kamu pasti bisa merasakan mana yang tulus dan tidak. Tanyakan pada hati kecilmu." Restu menepuk pelan bahu Wahyu.
" Kamu masih meragukanku, Mas?" Vinka menatap Wahyu dalam.
" Mau kah kamu menemaniku melewati ini?. Aku takut akan salah langkah," Ucap Wahyu kembali dan menggenggam tangan Vinka.
" Aku akan selalu bersamamu Mas. Kita pernah melewati masa sulit bersama. Aku yakin, Ibumu pasti akan berubah dan mau menerimaku. Aku hanya harus bersabar." Vinka tersenyum menatap Wahyu. Tangan mereka saling menggenggam erat.
Restu hanya diam saja melihat pemandangan romantis dari kedua suami istri yang melepas rindu itu. Kasian sekali nasibnya yang jomblo abadi. Namun kali ini Restu sudah ikhlas melepaskan Vinka. Karena setelah ruko milik Vinka selesai dibangun. Restu akan menetap diluar kota. Mengurus usahanya bersama kawannya disana.
Restu yakin, kekuatan cinta mereka akan mempersatukan mereka kembali. Ia dan Vinka tidak berjodoh, namun ia bahagia bisa menjadi kakak untuk Vinka. Setidaknya silaturahmi mereka tidak putus. Rencana Restu, jika suatu hari ia bertemu dengan jodohnya. Ia ingin menjodohkan anaknya dengan anak Vinka.
" Aku yakin. Kalian bisa melewati ujian hidup kalian. Jangan langsung percaya pada berita yang belum pasti kebenarannya. Setiap masalah pasti ada titik temunya. Dan aku yakin Wahyu, kamu akan jauh lebih sukses dari aku." Restu menasihati kedua pasangan itu.
" Terimakasih Restu. Kamu orang baik, semoga segera bertemu jodoh. Terimakasih selama ini kamu sudah menjaga keluargaku. Aku tidak tau gimana nasib mereka jika tidak ada kamu."
" Kamu jangan bicara seperti itu. Vinka sudah ku anggap seperti adikku sendiri. Sudah sepatutnya Kan?. Seorang kakak menjaga adiknya?"
" Iya. Sekali lagi terimakasih." Wahyu memeluk Restu.
" Sudah sudah. Nanti di kira kita ada apa-apa lagi." Canda Restu. Ia bahagia melihat hubungan Wahyu dan Vinka yang semakin membaik.
" Terimakasih Ya Kak. Berkat bantuan Kak Restu. Semua urusanku menjadi mudah. Kak Restu juga selalu ada saat kami butuh." kini Vinka yang mengucapkan terima kasih.
" Kamu ini Vinka. Kaya sama siapa saja. Kita sudah bersama sejak kecil. Aku selalu menjagamu dari dulu. Kenapa kamu mengungkapkannya baru sekarang?" Restu tertawa sambil mengacak pelan kepala Vinka yang tertutup hijab. Kebiasaan Restu yang susah untuk dihilangkan karena gemas dengan sikap Vinka. Setelah menyadari hal konyol yang ia lakukan. Ia malu sendiri, karena Wahyu sudah menatapnya tajam.
__ADS_1
" Hhheeee. Maaf ya, aku kelepasan. Kebiasaan saat kami bercanda. Padahal sekarang Vinka sudah besar dan sudah menikah." Restu meringis malu.
" Hheemm." Wahyu hanya berdehem.
" Ayo lanjut makannya. Dan segera kembali melihat pembangunan ruko. Aku juga harus mengambil beberapa dokumen disana. Karena aku akan membuat beberapa desain baru yang nanti akan aku luncurkan berbarengan dengan peresmian ruko." ungkap Vinka antusias.
" Wah ide yang bagus." Restu sangat menyetujui ide Vinka.
" Semangat ya. Kamu memang wanita yang hebat. Aku bangga bisa memilikimu." ungkap Wahyu dengan tatapan penuh cintanya.
" Eeccheem. Mulai decch romantis-romantisannya. Nngak kasian apa?. Sama kakaknya yang masih jomblo," ucap Restu mengerucutkan bibirnya.
" Salah siapa terlalu pilih-pilih pasangan. Jadinya sampai sekarang belum juga ketemu jodoh." ledek Vinka.
" Mulai decchhh ceramahnya. Tapi kan setiap orang berhak memilih yang terbaik. Iya nngak Broo?" tanya Restu kepada Wahyu yang hanya tersenyum melihat perdebatan mereka.
" Iya aku setuju. Memilih yang terbaik itu perlu. Tapi jangan terlalu pilih-pilih juga. Tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan. Saling mengerti dan memahami kelebihan serta kekurangan pasangan itu perlu."
" Waahh. Kamu sabar banget ngadepi Vinka yang masih bocah. Pantas saja selama ini rumah tangga kalian terlihat adem ayem. Pantas saja adikku ini juga nngak mau pisah denganmu." ungkap Restu.
" Kamu bisa saja Broo. Tapi aku pun juga tidak mau pisah dari Vinka. Walau ingatanku belum pulih. Namun aku selalu yakin, aku mencintainya."
Ungkapan Cinta yang Wahyu ucapkan membuat Vinka semakin bahagia. Restu juga semakin yakin untuk melepas Vinka untuk selamanya. Agar Vinka dan Wahyu bisa bersatu dan bahagia selamanya.
Tak ada obrolan lain setelahnya. Mereka pun menghabiskan makan siang mereka. Vinka semakin bersemangat untuk segera meluncurkan desain barunya. Apalagi sekarang Wahyu selalu mendukung setiap langkahnya. Hanya tinggal meyakinkan Ibu mertuanya saja.
Vinka tidak akan menyerah untuk meluluhkan hati mertuanya. Karena ia yakin, Bu Asty tidak sejahat itu. Vinka yakin, hanya masalah Waktu saja. Vinka akan menunggu sampai kapan pun. Ia sangat berharap Bu Asty mau menerima ia sepenuhnya menjadi menantu.
ππππππππππ
Hallo readersss
selamat menikmati episode barunya.
maaf, belum bisa update rutin.
Author masih belum sehat.
Doakan Author bisa sehat kembali.
π₯°π₯°
Jangan lupa like, komen, subcribe, vote dan hadiahnya.
Author tunggu.
I love you foreverππ
__ADS_1