Wanita Tangguh

Wanita Tangguh
55. Wahyu kembali sakit


__ADS_3

Karena kelelahan akibat terlalu nyaman bertukar cerita plus bahagia karena bisa bersama kembali. Hingga mentari meninggi dua insan yang masih kangen-kangenan ini, masih setia terpejam. Bahkan Vinka sepertinya lupa untuk menyiapkan keperluan anaknya untuk sekolah.


Semua penghuni rumah tidak ada yang berani membangunkan mereka. Bu Tami bahkan rela telat pergi ke pasar demi menyiapkan sarapan dan keperluan cucunya. Sementara untuk antar jemput sekolah, Vinka sudah membayar jasa ojek.


" Nek. Elsa berangkat dulu. Pak Diman juga sudah nunggu didepan." Elsa segera berpamitan dan mencium punggung tangan sang Nenek.


" Iya sayang. Kamu hati-hati. Nngak usah pamitan sama Ayah Ibumu. Mereka masih kecapekan."


" Iya Nek. Elsa ngerti kok. Elsa berangkat dulu. Assalamu'alaikum."


" Waalaikum salam."


Bu Tami segera membereskan dapur dan semua kekacauan disana. Ia bergegas pergi ke pasar setelah semua beres. Sementara anak bontotnya sedang menginap dirumah Neneknya. Jadi Bu Tami hanya menyiapkan sarapan dan bekal untuk cucunya.


Sebelum pergi, Bu Tami menghampiri Mbak Lastri untuk memastikan dan juga menitipkan Safa. Bocah kecil itu sangat aktif sehingga membuat Bu Tami sangat berwanti-wanti kepada pengasuh Safa.


" Mbak Lastri, titip Safa. Aku mau kepasar dulu. Vinka dan suaminya masih tertidur. Jangan dibangunkan!. Biar mereka bangun sendiri saja, kasihan."


" Suami??" beo Mbak Lastri bingung.


Selama ini Mbak Lastri belum mengenal Wahyu. Hanya pernah bertemu beberapa kali saat ia diajak Vinka untuk jalan-jalan. Seingat Mbak Lastri, Wahyu akan menikah. Menurutnya juga Vinka dan Wahyu akan berpisah. Tapi kenapa sekarang mereka malah bersama dan tinggal bersama.


" Sungguh aneh." batin Mbak Lastri.


Belum sempat Bu Tami selesai bersiap- siap. Ia sudah di kejutkan dengan keributan diluar rumahnya. Nampak seorang perempuan paruh baya sedang marah-marah dan mengamuk. Ia ingin menerobos masuk ke dalam rumah.


" Siapa Bu. Berisik sekali pagi-pagi. Apa ia tidak nelihat jam dulu sebelum datang bertamu ke rumah orang?" Mbak Lastri dan Bu Tami mengintip dibalik jendela.


Bu Tami menghela nafas." Aku sudah menduga Mbak. Semua akan terjadi. Biar aku yang hadapi perempuan matre itu!. Mau apa dia sebenarnya?" Bu Tami segera beranjak untuk keluar rumah.


Sementara itu, karena suara gaduh yang sangat memekan telinga. Vinka terbangun dari tidurnya. Ia sangat kaget saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Itu artinya ia terlambat dan anak-anaknya ia lupakan. Vinka merutuki dirinya sendiri yang tidak becus menjadi seorang Ibu.


Karena pergerakan Vinka yang cukup membuat tempat tidurnya goyang. Wahyu pun ikut terbangun dan ia sayup-sayup mendengar suara Ibunya dari arah luar.


" Sayang, kamu kenapa?. Tunggu dulu-" Wahyu menajamkan pendengarannya.


" Kamu dengar nngak? Kaya ada ribut-ribut diluar. Sepertinya itu suara Ibuku." Wahyu kembali menajamkan pendengarannya.


" Iya Mas. Sepertinya itu suara Ibu dan juga Ibu kamu. Ayo kita segera keluar. Pasti Ibu kamu datang kesini mencarimu." Vinka segera mengambil kerudungnya dan hendak keluar. Namun Wahyu mencekal tangan Vinka dan menggelengkan kepalanya.


" Nngak usah Vinka. Aku malas bertemu dengannya. Nanti kalau capek, pasti akan pulang sendiri."

__ADS_1


" Kamu nngak boleh gitu Mas. Walau bagaimanapun, beliau tetap Ibumu. Aku nngak mau, karena ingin bersamaku dan anak-anak. Kamu malah jadi anak durhaka."


Perkataan Vinka menghujam hati Wahyu. Benarkah ia sudah menjadi anak durhaka lantaran selalu menolak keinginan sang Ibu. Namun dibalik itu, Wahyu bersyukur karena ia memiliki istri seperti Vinka yang selalu mengingatkannya.


" Hhemmz. Kamu benar Vinka. Terimakasih sudah mengingatkanku. Aku berharap, ingatanku akan segera pulih. Kita akan terus bersama selamanya."


" Aamiin."


Vinka dan Wahyu akhirnya beranjak keluar rumah untuk melerai perdebatan antara kedua wanita paruh baya tersebut.


" Bu .... Sudah cukup. Wahyu bukan anak kecil lagi. Aku kesini juga untuk menemui anak dan istriku. Apa aku salah?" Wahyu mendekati Ibunya.


" Kamu tidak seharusnya ada disini Yu. Sebentar lagi kamu dan Vinka akan berpisah. Kamu akan segera menikah dengan menik. Apa kata orang nanti, jika kamu malah tinggal disini." sewot Bu Asty.


" Bu. Aku tidak akan menceraikan istriku. Aku sudah bilang, aku butuh waktu. Ingatanku belum pulih. Ibu yang selalu memaksaku." keluh Wahyu.


" Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu. kamu itu lebih pantas hidup bersama Menik. Dia lebih segalanya dari pada Vinka. Istri kamu yang tidak becus itu!" tunjuk Bu Asty.


" Apa kamu bilang??. Anak saya tidak becus jadi istri?. Kamu fikir, selama ini siapa yang membiayai dan merawat anak kamu?. Kamu fikir semua yang anak saya lakukan itu dari pemberian anak kamu?" Bu Tami menjeda sebentar ucapannya guna mengontrol emosinya yang meletup letup.


" Anak saya rela banting tulang, kerja siang dan malam untuk biaya rumah sakit. Ia juga masih harus mengurusi kedua anaknya. Kamu fikir mudah bagi anak saya melewati semuanya. Hah." Bu Tami menatap besannya dengan nafas memburu dan tangan terkepal kuat.


Karena Wahyu terus berusaha mengingat tentang jati dirinya, kepala Wahyu kembali sakit.


" Auuuggghhh. Sakit sekali." rancau Wahyu sambil menjambak rambutnya.


" Mas. Kamu kenapa?" Vinka panik dan segera menghampiri Wahyu.


" Kita bawa ke rumah sakit." putus Pak Sarif.


" Biar aku saja yang bawa anakku." Bu Asty mendekat.


" Aku nngak mau!.Aku ingin istriku saja yang mengantarku. Auuugghh." Wahyu semakin kuat menjambak rambutnya.


" Sudah Bu. Biar Vinka saja, Vinka tidak mau Mas Wahyu semakin kesakitan."


Akhirnya Vinka pergi ke rumah sakit ditemani Pak Sarif. Vinka sudah memiliki mobil dan supir pribadi. Itu semua juga atas rekomendasi dari Restu. Usaha Vinka semakin berkembang, untuk memudahkan Vinka saat menyetorkan dagangannya. Restu membelikan Vinka mobil. Namun Vinka enggan menerimanya dengan percuma. Akhirnya Restu menyetujui saat Vinka mengganti uangnya.


Vinka tidak mau menerima begitu saja. Ia sadar betul hubungannya dengan Restu. Walau sekarang Restu sudah menjadi kakak angkatnya. Namun tetap saja Vinka tidak enak hati. Bagaimana pun juga, mereka pernah memiliki rasa. Vinka tidak mau memberi harapan palsu kepada pria lain.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama. Mereka kini telah sampai disalah satu rumah sakit di kota mereka. Vinka telah menghubungi Dokter Ridwan sebelum datang ke rumah sakit. Sehingga Vinka dapat segera langsung membawa Wahyu ke ruang pemeriksaan.

__ADS_1


Vinka dibantu Pak Sarif dan juga perawat mendorong brangkar Wahyu menuju ruang pemeriksaan. Vinka sangat khawatir melihat Wahyu yang begitu kesakitan. Padahal baru kemarin ia ke rumah sakit ini , sekarang sudah datang lagi.


" Ada Apa dengan Pak Wahyu? Bukankah kemarin saya sudah beri obat?" Dokter Ridwan segera memeriksa keadaan Wahyu.


" Iya Dok. Tadi Mas Wahyu berusaha menggali ingatannya kembali. Lalu ia menjadi seperti ini." jelas Vinka.


" Heemzz. Bukankah sudah saya katakan, jangan memaksa untuk membuat memori ingatannya kembali. Lakukan pelan-pelan," ucap Dokter Ridwan.


" Istri saya tidak bersalah Dok. Saya yang mencoba terus mengingatnya. Namun ternyata begitu sulit." Wahyu menyadari kesalahannya. Ia tidak ingin Vinka disalahkan.


" Saya mengerti bagaimana perasaan anda saat ini. Namun saya minta, jangan dipaksakan. Ini akan berakibat fatal. Semua butuh proses dan pelan-pelan."


" Maaf Dok. Bukankah ini sudah lebih dari 2 tahun. Tapi kenapa ingatan saya belum juga pulih?. Sampai kapan saya akan seperti ini?" Wahyu merasa frustasi dengan masa depannya.


" Pak Wahyu tenang saja. Dengan sering terapi dan juga dibantu oleh keluarga. Pasti ingatan Pak Wahyu akan segera pulih." Dokter Ridwan memberi semangat untuk Wahyu.


" Mas Wahyu tenang saja. Aku akan bantu. Kita akan bersama jalani semua ini. Mas Wahyu harus semangat." Vinka tersenyum manis.


" Terimakasih Vinka."


Setelah kondisi Wahyu sudah stabil, ia diperbolehkan pulang dengan syarat harus istirahat total. Vinka yang akan memantau sendiri kesehatan Wahyu. Vinka memutuskan untuk tidak pergi ke ruko hari ini. Ia sudah mengubungi Restu dan menyerahkan semua tanggung jawab ruko kepadanya.


Kini Vinka dan Wahyu sudah tiba dikediaman orang tua Vinka. Vinka segera membantu Wahyu untuk beristirahat. Sementara ia akan bekerja dari rumah. Vinka segera membuka laptopnya dan mulai mengecek email yang masuk. Vinka juga mengecek keuangan ruko.


" Istriku sungguh sangat pekerja keras. Wanita Tangguh yang sangat kuat. Aku bersyukur bisa memilikinya. Semoga aku segera sembuh, mengingat semua dan membahagiakannya." batin Wahyu.


Wahyu hanya mampu memandangi istrinya yang begitu sangat sibuk. Ia tidak begitu faham tentang bisnis. Ia juga harus istirahat agar kesehatannya segera pulih.


πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸπŸπŸπŸ


Hayyy readers


maaf ya!!!


lama menunggu. Biasa ada kerjaan urgent🀭🀭


semoga kalian suka dengan lanjutan ceritanya.


Jangan lupa like,komen,subcribe,vote dan hadiahnya.


Love you fuuulll😘😘

__ADS_1


__ADS_2