Wanita Tangguh

Wanita Tangguh
56. kepergian Restu


__ADS_3

Hari telah berganti hari minggu sudah berganti minggu dan bulan sudah berganti bulan. Selama itu juga Wahyu bolak balik ke rumah sakit guna memeriksakan keadaannya. Tentu saja bersama Vinka. Wahyu tidak mau orang lain yang mengantar.


Hubungan Wahyu dan Ibunya juga semakin renggang. Vinka sudah beberapa kali mengajak Wahyu untuk menemui Ibunya. Namun Wahyu selalu menolak dengan alasan sibuk. Ya sejak saat itu, Wahyu sudah mulai bekerja disalah satu perusahaan swasta atas bantuan Restu.


Pembangunan ruko telah selesai, Wahyu sudah bekerja dan hubungan rumah tangga Vinka sudah membaik. Restu memutuskan untuk memulai lembaran baru dihidupnya. Sesuai apa yang ia pernah rencanakan, ia akan pergi menjauh dari kehidupan Vinka sang mantan terindah. Terus bersama dan melihat Vinka setiap saat selalu membuat hati Restu teriris sakit.


Restu akan membuang jauh semua kenangan bersama Vinka. Ia sudah siap dan mantap untuk memulai kehidupan barunya. Namun ia tidak sepenuhnya pergi, ia masih akan menjalin silaturahmi dengan baik dengan Vinka dan keluarganya. Walau bagaimanapun, kini Restu sudah menjadi anak angkat orang tua Vinka.


" Aku sebenarnya sangat berat untuk pergi dari kota ini. Namun berada disini, membuat hatiku tidak bisa melupakannya. Kita memang tidak berjodoh dan hanya ditakdirkan sebagai kakak beradik." Semakin sesak hati Restu mengingat kenangan indahnya bersama Vinka.


Cekleeekk


" Restu. Kamu sudah selesai berkemas?" Budhe Endang menghampiri Restu dan duduk disebelah Restu.


" Sudah Budhe. Tidak banyak yang Restu bawa karena disana orang-orang Restu juga sudah menyiapkan semua keperluan Restu."


" Kamu yakin, ingin pergi dari sini?. Bukan untuk menghindari Vinka kan?" tebak Budhe Endang.


Restu terdiam sejenak." Tidak Budhe. Insya Allah Restu sudah ikhlas melepaskan Vinka. Lagi pula sekarang, Vinka sudah menjadi adik Restu. Memang akan lebih baik seperti ini."


Budhe Endang memeluk Restu dengan begitu erat. Ia tak kuasa membendung air matanya. Anak yang ia rawat dan besarkan dengan penuh kasih sayang kini akan pergi meninggalkan dirinya. Semenjak orang tua Restu meninggal. Budhe Endang dan suaminya lah pengganti orang tua Restu. Ia menyayangi Restu seperti anaknya sendiri. Budhe Endang juga tidak mempermasalahkan saat sahabatnya mengangkat Restu sebagai anak. Budhe Endang sangat faham perasaan sahabatnya.


" Walau kamu akan jauh dari kami. Kamu harus janji sama Budhe untuk selalu memberi kabar. Kalau Budhe ada waktu, Budhe akan mengunjungimu kesana."pinta Budhe Endang melepaskan pelukannya.


" Iya Budhe. Restu akan selalu memberi kabar kepada Budhe. Kalau kerjaan Restu longgar, insya Allah Restu akan berkunjung kemari."


" Lalu bagaimana dengan pabrik,resto dan toko kamu disini?"


" Budhe tenang saja. Semua sudah ada yang mengelolanya."


" Budhe berharap, saat kamu pulang nanti. Kamu sudah membawa calon untuk dikenalkan kepada Budhe."


" Doakan saja Budhe."


" Budhe selalu mendoakanmu. Usia kamu juga sudah cukup matang untuk membina rumah tangga. Apalagi yang kamu tunggu. Bahkan karier dan pekerjaanmu sudah lebih dari cukup."


" Restu hanya belum bertemu jodoh yang tepat saja Budhe. Mungkin jodoh Restu tidak disini."


Budhe Endang tersenyum mendengar celotehan ponakannya. Ia sangat berharap Restu segera menemukan jodohnya. Ia ingin ponakannya bisa bahagia memiliki pendamping hidup yang sesuai dengan keinginannya.


" Budhe. Sepertinya supir Restu sudah datang. Restu akan mampir ke rumah Vinka dulu untuk berpamitan."


" Iya Restu. Kamu hati-hati dan baik-baik disana. Semoga kamu bisa menemukan apa yang kamu cari disana." Budhe Endang memeluk Restu dengan erat.


Restu mengerti ini sangat berat. Namun ia tidak punya pilihan lain. Berada di dekat Vinka selalu membuat ia tidak nyaman. Apalagi cinta itu masih setia tumbuh di dalam hatinya.


Restu segera berlalu menuju mobil yang sudah siap membawanya menuju kota yang akan ia tuju. Restu akan mampir dulu untuk mengurus sesuatu dikota S. Setelahnya ia baru akan melanjutkan hidupnya di kota K. Restu berharap, semoga kali ini ia benar-benar bisa menghapus Vinka dihatinya.


" Kita jalan sekarang Pak?" Supir Restu menoleh ke belakang karena tak kunjung mendapat perintah.

__ADS_1


" Iya Pak. Maaf menunggu lama."


" Tidak masalah Pak. Sudah tugas saya."


Mobil hitam milik Restu segera membelah jalanan yang padat disore hari itu. Kurang dari 25 menit, mobil milik Restu sudah sampai dikediaman Vinka. Restu segera turun. Ia tidak ingin berlama-lama berada disana.


" Assalamu'alaikum."


" Waalaikum salam." Mbak Lastri membuka pintu.


" Mas Restu. Silahkan masuk Mas. Ibu, Bapak, Mbak Vinka dan yang lainnya ada didalam." Mbak Lastri segera membuka pintu lebar-lebar.


" Terimakasih Mbak. Saya tunggu di ruang tamu saja. Beritahu Ibu dan yang lain kalau saya datang."


" Siiiap Mas Restu." Mbak lastri segera berlalu menghampiri majikannya.


Suasana Rumah Vinka yang sekarang semakin bertambah ramai semenjak hadirnya kembali Wahyu dalam rumah tersebut. Walau sampai saat inipun, Wahyu belum juga mengingat apapun.


" Maaf Bu. Di depan ada Mas Restu."


Mendengar nama Restu disebut. Wahyu terlihat waspada, namun detik berikutnya ia bisa mengontrol perasaannya. Meyakinkan diri, bahwa Restu bukanlah musuhnya. Wahyu sendiri bingung dan tidak mengerti kenapa setiap mendengar nama Restu disebut ia akan waspada. Apa mungkin ia dan Restu ada masalah di masa lalu. Atau ia dan Restu tidak seakrab sekarang dimasa lalu. Wahyu tidak mengerti dengan fikirannya sendiri.


" Kenapa tidak langsung disuruh masuk saja kesini Mbak?" jawab Bu Tami.


" Mas Restu tidak mau Bu. Ia memilih menunggu diruang tamu."


Dahi Bu Tami mengkerut." Tidak biasanya anak itu. Ya sudah, kita temui dulu Kakak kalian. Mungkin ada yang ingin ia sampaikan."


" Hendri!" bentak Vinka.


" Iya iya bawel." gerutuan Hendri tiada henti hingga sampai diruang tamu.


" Ckk. Ngapain sih Kak ngumpulin kita disini?. Udah tau kita lagi repot didalam." Hendri lansung saja menerocos saat tiba diruang tamu.


" Hendri!. Diamlah dulu." Bu Tami memberikan tatapan tajam kepada putra bungsunya.


" Iya iya. Aku diam." Hendri segera diam dan duduk dengan tenang disamping Wahyu.


Semua sudah berkumpul dan siap mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh Restu. Sebagai orang tua angkat, kedua orang tua Vinka tidak membedakan Restu dengan anak-anak kandungnya. Kedua orang tua Vinka menyayangi Restu seperti anak kandung mereka sendiri.


Restu mengatur nafas sebelum ia mengucapkan kalimat perpisahan. Walau belum siap meninggalkan keluarga barunya. Restu tetap akan melanjutkan keinginannya demi menjaga hatinya agar tidak semakin sakit.


" Maaf membuat kalian semua harus berkumpul seperti ini. Terutama untuk Ibu dan Bapak." Restu menjeda sejenak ucapannya.


" Kedatangan saya kesini untuk berpamitan kepada kalian semua." Restu memandangi satu persatu wajah keluarga barunya. Mereka sangat terkejut dengan apa yang Restu sampaikan.


" Memangnya kamu mau pergi kemana, Nak?. Bukankah kamu sering pergi untuk perjalanan bisnis?. Tapi kenapa sekarang berbeda?" Bu Tami seakan bingung dengan ucapan anak angkatnya.


" Saya ingin menetap dikota K untuk waktu yang cukup lama. Saya ingin memulai hidup baru saya disana. Siapa tau nanti ketemu jodoh." Tanpa filter Restu langsung mengungkapkan isi hatinya.

__ADS_1


" Kenapa harus jauh sekali. Kenapa tidak di kota sebelah saja?.Kenapa harus berbeda pulau?" Bu Tami masih belum rela melepaskan anak angkatnya.


" Disana saya sedang mendirikan pabrik baru. Sekarang sedang ramai-ramainya. Saya ingin memantau langsung perkembangan pabrik baru saya." Bohong Restu. Ia melirik Vinka yang sejak tadi hanya diam berada disamping Wahyu.


" Ibu tau pabrik kamu ada dimana-mana. Kenapa sekarang kamu ingin tinggal disana?. Biasanya kan hanya berkunjung dan mengecek. Orang-orang kamu banyak, kenapa harus turun tangan sendiri?" Bu Tami masih berusaha untuk menahan Restu. Karena ia yakin, bukan itu alasan utama Restu ingin pergi dari kota tempat kelahirannya.


" Yang ini beda Bu. Saya ingin mengembangkan pabrik itu menjadi perusahaan raksasa seperti cita-cita masa kecil saya."


" Jujur Ibu sangat berat melepasmu pergi Nak. Namun jika keputusanmu sudah bulat. Ibu tidak akan menghalangi keinginanmu. Semoga keputusan yang kamu ambil adalah yang terbaik. Pintu rumah ini selalu terbuka untukmu." Bu Tami mau tak mau harus merelakan anak angkatnya pergi.


" Iya Restu. Ibumu benar, pintu rumah ini akan selalu terbuka untukmu. Jangan lupa, ada keluarga disini yang selalu menantikan kabarmu. Baik-baik ditempat barumu Nak. Jangan pernah tinggalkan kewajibanmu dan selalu memberi kabar kepada kami. Ingatlah, kami selalu menunggu kedatanganmu kemari." Pak Sarif memeluk anak angkatnya erat.


" Aku akan selalu merindukan kalian." Restu membalas pelukan Ayah angkatnya tak kalah erat. Buliran air bening membasahi pipinya.


" Sudah-sudah. Jagoan Ibu nngak boleh nangis."


" Aku pasti akan sangat kangen saat disana." Restu segera berhambur memeluk Ibu angkatnya.


" Ibu juga pasti akan kehilangan sosok pahlawan di keluarga ini. Tetap jadi dirimu sendiri Nak. Jangan lama-lama berada disana." Bu Tami sangat erat memeluk Restu.


Suasana diruang tamu itupun berubah menjadi haru. Vinka sejak tadi hanya diam mengamati interaksi Restu dan kedua orang tuanya. Vinka tau Restu berbohong tentang alasan kepergiannya. Vinka tau Restu berusaha menjauh darinya dan berusaha membuat hubungan mereka layaknya kakak beradik.


Vinka tidak ingin menahan Restu. Karena ia tau, Restu akan semakin sakit bila terus berada dikota yang sama dengannya. Vinka tau Restu masih mencintainya. Vinka tidak ingin memberikan harapan palsu kepada Restu. Biarlah mereka bersama layaknya kakak beradik. Itu akan jauh lebih baik.


" Vinka,Wahyu, Hendri. Aku pamit dulu. Jaga Ibu dan Bapak dengan baik. Kamu Hendri, aku percayakan keutuhan dan keselamatan keluarga kita ditangan kamu. Kamu anak bungsu Bapak dan Ibu, kamu juga satu-satunya anak laki-laki2 dikeluarga ini. Kamu harus bisa menjadi pahlawan untuk keluarga kita." Restu beralih memeluk Hendri.


" Kamu tenang saja Kak. Tanpa diminta pun, aku akan melindungi keluargaku. Aku tidak akan membiarkan sedikitpun ada yang mengusik kebahagiaan keluargaku."


" Wahyu. Aku titip adikku dan keluargaku disini. Sekarang kamu sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Semoga ingatanmu segera pulih. Ingat, Vinka istri kamu." Restu memeluk Wahyu.


" Aku akan selalu melindungi keluargaku tanpa diminta. Aku juga sudah sangat yakin, Vinka adalah istriku. Mereka adalah keluargaku. Kamu jangan khawatir. Semoga kamu bahagia dan menemukan apa yang kamu cari disana."


Restu sudah lega setelah berpamitan dan membuat drama air mata perpisahan disana. Restu tidak mengucao kalimat perpisahan apapun kepada Vinka. Namun ia mengirimkan pesan kepada adik angkatnya tersebut. Restu tidak sanggup untuk mengucapkan kalimat perpisahan langsung kepada wanita yang masih setia hinggap dihatinya.


Setelah urusannya dirumah Vinka selesai. Restu segera pergi meninggalkan kediaman orang tua angkatnya. Mereka semua mengantarkan kepergian Restu.


" Selamat Tinggal. Aku pasti akan sangat merindukan kalian. Selamat tinggal kenangan, aku sudah bersiap untuk menyambut cerita baruku esok." Restu berguman sambil memandangi jalanan yang cukup ramai.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁💞💞💞💞💞💞💞


Happy reading semua.


maaf ya, Bunda suka lama ngasih episode barunya.


Bunda masih berusaha bagi waktu antara kerjaan bunda dan juga karya tulis bunda.


semoga kalian tidak bosan menunggu update episode dan karya bunda selanjutnya.


Jangan lupa ya,beri like,komen, subcribe, Vote dan hadiah untuk bunda.

__ADS_1


Love you fuull semua😘😘😘


__ADS_2