Wanita Tangguh

Wanita Tangguh
57. Kak Restu


__ADS_3

Setelah mengantarkan kepergian Restu. Vinka masih saja diam membisu. Mulutnya seakan terkunci rapat oleh sesuatu. Wahyu menyadari ada yang aneh di diri Vinka. Ia lantas menggandeng Vinka dan membawa wanita itu ke kamar agar Vinka nyaman bila ingin bercerita.


" Ada apa?. Hemm." Wahyu mengunci pintu rapat-rapat dan ikut duduk disebelah Vinka.


" Aku merasa, kepergian Kak Restu ada sangkut pautnya denganku Mas."


Dahi Wahyu berkerut." Kenapa kamu bisa berfikir seperti itu?. Kalian ada masalah?"


Vinka menggeleng." Tidak. Aku hanya merasa ada sesuatu hal lain yang Kak Restu sembunyikan."


" Apapun itu, kita harus selalu mendukung Restu. Mungkin ini yang terbaik untuknya. Siapa tau disana ia segera menemukan jodohnya. Kamu nngak kasian lihat Kakak kamu jomblo kayak gitu?"


" Ya kasian sihh. Aku sudah berusaha mendekatkan Kak Restu dengan teman dan rekan bisnisku. Tapi hasilnya selalu nihil. Semoga saja benar, Kak Restu bisa bertemu jodohnya disana."


" Aamiin. Sudah, kamu jangan terlalu fikirkan hal itu. Mumpung anak-anak sedang tidak dirumah. Gimana kalau kita-" Wahyu tersenyum penuh arti menatap Vinka.


" Ini masih sore Mas. Jangan aneh-aneh dechhh." Vinka mulai awas.


" Sebentar saja sayang. Boleh ya, pliss." Wahyu memohon dengan manja sambil memeluk pinggang ramping istrinya.


" Nanti malam saja Mas. Aku gerah, mau mandi." Vinka segera berdiri.


Namun Vinka tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya karena Wahyu dengan cepat menarik tangannya. Kini Vinka berada diatas tubuh Wahyu membuat senyum Wahyu kian merekah.


" Isshh Mas. Jangan kaya gini. Ini masih sore." Vinka berontak ingin bangun dari tubuh Wahyu.


Wahyu dengan sigap mengunci pergerakan Vinka dan mengambil alih posisi. Kini tubuh Wahyu sudah berada di atas tubuh Vinka. Wahyu tersenyum penuh arti. Ia tersenyum memandangi wajah cantik alami istrinya. Perlahan tangannya mengelus wajah cantik wanitanya.


" Sayang. Kamu sangat cantik. Aku ingin memilikimu selamanya. Bolehkah aku egois, menginginkanmu saat ini." Wahyu menatap intens wajah wanitanya.


Sejak Wahyu tinggal bersama Vinka 1 bulan yang lalu. Wahyu dan Vinka memang belum melakukan hubungan layaknya suami istri. Mereka hanya tidur bersama dan saling memeluk. Vinka fikir, Wahyu masih butuh waktu untuk memantapkan hatinya. Maka dari itu, Vinka tidak banyak menuntut.


" Mas. Apa kamu sudah yakin, kalau aku ini istrimu?" pertanyaan polos itu lolos begitu saja dari bibir Vinka.


" Iya sayang. Ingatanku memang belum pulih. Namun hatiku selalu nyaman berada didekatmu. Dalam hatiku bahkan mimpiku, selalu kamu dan anak-anak yang terlintas."


" Kamu tidak akan tinggalkan aku kan Mas?. Walau nanti akan ada badai dan guntur yang akan menghadang kita saat bersama kembali." Vinka masih ragu untuk memulai.


Vinka bahagia, 1 bulan ini hubungannya dengan Wahyu sudah semakin membaik. Wahyu selalu membuatnya nyaman dan bahagia. Namun untuk hubungan yang sesungguhnya layaknya suami istri. Vinka masih belum siap. Ia masih ragu lantaran saat ini, Ibu mertuanya masih saja mencari celah untuk memisahkan mereka.


" Kenapa sayang?. Kamu masih ragu." Wahyu beringsut bangkit dari atas tubuh Vinka.


Walau nalurinya sangat mengingikan hal itu. Namun Wahyu berusaha untuk mengontrol adik kecilnya. Bohong jika selama sebulan ini Wahyu tidak tergoda dan memiliki nafsu kepada istrinya. Hanya saja Wahyu berusaha menahan dan menunggu momen yang tepat.


" Mas Wahyu marah?. Maafkan aku Mas." Vinka duduk dan menundukkan wajahnya.


" Tidak apa-apa. Pelan-pelan saja, ikutin saja alurnya. Semua butuh proses." Wahyu ikut duduk disamping Vinka.


" Mas Wahyu tidak marah kan?. Vinka janji, Vinka akan memberikan hak Mas Wahyu sebagai suami Vinka. Namun tidak hari ini. Vinka belum siap." Vinka semakin menunduk.


" Kamu tidak perlu merasa bersalah. Harusnya aku yang minta maaf karena terlalu egois." Wahyu mengacak acak kepala Vinka yang tertutup hijab.


" Terimakasih Mas."


" Sama-sama sayang. Ya udah, mandi gih. Nanti keburu anak-anak pulang."


Vinka mengangguk dan segera berlalu menuju kamar mandi. Tak lupa ia membawa baju ganti. Vinka belum siap menampilkan tubuh indahnya didepan Wahyu. Sampai saat ini pun, Vinka masih setia mengenakan hijab walau sedang tidur. Vinka akan memberi kejutan indah untuk Wahyu sang suami saat waktunya tiba nanti.


Wahyu memandangi punggung wanitanya yang menghilang dibalik pintu kamar mandi.

__ADS_1


" Sabar junior. Kamu belum beruntung saat ini. Kamu harus lebih semangat lagi. Agar kita bisa segera mencetak gol." Wahyu mencoba menjinakkan adik kecilnya.


Sementara itu didalam kamar,Ibu Vinka terus saja menangis setelah mengantarkan kepergian anak angkatnya.


" Sudah Bu. Jangan kaya gini. Lagi pula Restu tidak pergi jauh. Hanya beda tempat saja dengan kita. Kita masih bisa menelfon atau mengunjunginya nanti."


" Bapak nngak ngerti sichh, gimana perasaan Ibu. Restu itu sudah Ibu anggap anak sendiri. Ibu belum siap kehilangan Restu Pak. Jarak kita cukup jauh, Ibu belum siap jauh dari anak-anak kita. Mira saja masih sering Ibu kunjungi." Seketika Bu Tami terdiam.


Bu Tami teringat sudah hampir 1 tahun ia tidak berkunjung ke rumah anak keduanya. Semenjak Mira dinyatakan keguguran waktu itu. Bisa dihitung dengan jari Bu Tami berkunjung ke rumah Mira. Bu Tami sibuk mengurus Vinka dan cucu-cucunya. Apalagi kemarin saat ruko milik Vinka terbakar dan Vinka mengurung diri dikamar. Bu Tami seakan tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain selain anak sulungnya itu.


" Pak, sudah lama ya kita tidak mengunjungi Mira?. Mira juga hanya sebentar-sebentar bila kesini?. Apa mereka terlalu sibuk?. Gimana mau cepet punya anak kalau keduanya sibuk terus?" gerutu Bu Tami.


" Sudahlah Bu. Mungkin mereka masih ingin menikmati kebersamaan dan masa muda mereka. Soal anak, itu rejeki dari Allah."


" Iya sih Pak. Tapi kan mereka sudah menikah hampir 3 tahun. Apa kata keluarga kita nanti jika Mira tidak kunjung hamil?"


" Sudahlah Bu. Jangan terlalu mikirin omongan orang lain. Mereka hanya melihat dari luar tanpa tau yang sebenarnya."


" Ya udah decchh Pak. Tapi bulan depan kita berkunjung ke rumah Mira ya?. Ibu mau bawakan sayuran yang banyak. Juga Ibu mau bawakan jamu, agar Mira bisa cepat hamil lagi."


" Terserah Ibu saja." Pak Sarif dibuat jengkel dengan sikap istrinya yang keras kepala.


...***...


Sementara itu dikota lain. Seorang wanita sedang duduk menangisi nasip tragis yang menimpanya. Semenjak ia dinyatakan keguguran dan sulit untuk mengandung kembali. Sikap suaminya sekarang berubah 180 derajat. Kini suaminya jarang pulang dan sering marah-marah tanpa sebab.


Wanita itu adalah Mira. Adik Davinka itu dulunya adalah gadis yang ceria. Sama seperti Vinka, hanya bedanya Mira lebih kalem dan lembut. Mira menikah dengan Dani karena saling mencintai. Namun kini rasa cinta itu seakan terkikis lantaran Mira yang sulit mengandung kembali setelah keguguran.


" Apa Mas Dani akan menceraikan aku, jika aku tidak kunjung hamil?. Tidak, aku tidak mau." Mira menangkup wajahnya.


Ia menangis sesenggukan ditaman seorang diri. Tepukan di pundak wanita itu menyadarkannya. Ia mendongak guna melihat siapa orang yang telah menepuk pundaknya.


Mira buru-buru menghapus air matanya. Ia tidak ingin Restu dan keluarganya tau tentang masalah ia dan rumah tangganya.


" Kamu sedang apa sedirian disini. Suami kamu mana?. Kenapa ia biarkan istrinya pergi sendirian malam-malam." Restu ikut duduk disebelah Mira.


" Mas Dani. Eummzz ... Sedang kerja Kak. Iya sedang kerja."


Restu menangkap ada hal aneh dari gelagat Mira. Ia akan menyuruh orang untuk menyelidikinya nanti. Untuk saat ini, Restu berusaha untuk percaya. Agar Mira tidak curiga.


" Kak Restu kok ada disini?. Apa ada pekerjaan didaerah sini?"


" Iya. Aku ada kerjaan untuk 2 atau 3 hari ini disini. Sebenarnya aku ingin menghubungimu besok. Tapi malah sudah ketemu disini."


" Menghubungiku?. Untuk apa?" Mira heran.


Jarang sekali Restu menghubunginya. Kecuali dulu saat bersama Vinka. Mira akan selalu diteror oleh Restu jika ponsel Vinka tidak aktif.


" Aku ingin pamitan dan ajak kamu jalan-jalan. Sudah lama kan, kita tidak jalan-jalan bareng. Kamu itu adikku juga. Sebagai kakak yang baik, aku ingin royal kepada adikku."


" Kak Restu ada-ada aja. Mending uangnya ditabung buat nanti Kak Restu nikah. Biar tidak lagi minta amplop sama aku."


" Kenapa?" Restu memicingkan matanya.


" Isshhh Kak Restu. Biar uangku amanlah, jadi nngak ada beban buat isi amplop. Tinggal datang dan makan. Hhhaaa." Mira tertawa lepas.


Hal itu malah menimbulkan tanda tanya besar dalam hati Restu. Benarkah Mira baik-baik saja. Ada guratan kesedihan diwajah gadis cantik itu. Mira tak kalah cantiknya dengan Vinka. Apalagi mira mempunyai lesung pipi dan mata yang indah. Sungguh beruntung laki-laki yang sudah meminang gadis itu.


" Dasar adik nngak modal." cibir Restu.

__ADS_1


" Biarin, lagi pula kan fakta. Aku nngak kerja Kak. Uang dari mana coba?" Mira sejenak terdiam." Eummzz. Ngomong-ngomong, Kak Restu ada nngak kerjaan daerah sini yang cocok denganku?"


Restu memandang Mira intens." Kamu nngak salah cari kerjaan?. Suami kamu kan kaya?. Kenapa repot-repot kerja sih. Memang jatah bulanan kamu kurang?"


" Aku bosan dirumah terus Kak. Hanya makan dan tidur membuatku suntuk. Biasanya kalau dirumah Ibu, aku sudah bisa melakukan banyak kerjaan. Kalau disuruh duduk mulu, pegel nie badan." Bohong Mira.


Mira bertekad ingin bekerja. Ia tidak ingin menggantungkan hidupnya kepada siapapun. Apalagi semenjak ia keguguran jatah bulanan dari sang suami semakin sedikit dan sekarang tabungannya menipis.


" Kamu nngak perlu kerja. Aku akan transfer uang jajan kamu setiap bulannya."


" Issshhh aku nngak mau Kak. Sama aja bohong dong, kalau kaya gitu. Aku mau kerja Kak. Kerja apa aja dech, aku mau. Aku serius Kak." Mira mengguncangkan lengan Restu.


" Apasih yang sebenarnya terjadi sama kamu, hummz?. Aku tidak yakin dengan alasan kamu?"


" Kalau Kak Restu nngak mau ngasih aku kerjaan. Ya udah, aku cari kerjaan sendiri saja."


Mira hendak berdiri, namun dicegah oleh Restu. Restu sangat yakin kalau saat ini Mira sedang dalam masalah.


" Ya udah. Besok aku akan carikan pekerjaan yang cocok untukmu. Sekarang aku antar kamu pulang. Udah terlalu malam. Tidak baik bagi wanita berkeliaran malam-malam."


" Terimakasih Kak." Mira dengan reflek memeluk Restu.


Restu kaget mendapat pelukan dadakan dari adik angkatnya. Ada perasaan aneh yang hinggap dihatinya. Namun coba ia tepis lantaran Mira sudah ia anggap adiknya sendiri.


" Ya sudah. Ayo aku antarkan pulang." Restu segera bangkit.


" Ayo Kak." Mira ikut berdiri dan menggandeng lengan Restu manja.


Restu dibuat tidak berkutik dengan tingkah adik angkatnya. Badannya menegang dan jantungnya berdebar debar. Restu berusaha sekuat tenaga bersikap setenang mungkin.


Mira selalu menempel saat didalam mobil. Beberapa kali Restu mengelap keringat yang membasahi wajahnya. Restu merasa lega karena sudah sampai di depan rumah Mira.


" Terimakasih tumpangannya Kak. Aku tunggu kabar baiknya besok." Mira tersenyum dan keluar dari mobil Restu.


" Iya sama-sama. Kamu cepetan masuk. Ini sudah malam."


" Siiap Kak." Mira segera masuk sesuai perintah Restu.


Setelah memastikan Mira masuk ke dalam rumah dengan selamat. Restu segera pergi dari rumah mewah tersebut.


" Duucch. Lama-lama kaya gini. Bikin aku cepet masuk rumah sakit."


πŸπŸπŸπŸπŸπŸπŸπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Kira-kira ada apa ya dengan Restu.


apakah Restu sudah jatuh cinta kepada Mira?


masih samar-samar ya!!!


Tunggu cerita selanjutnya.


pasti lebih seru🀭🀭


Jangan lupa like,komen,subcribe, vote dan hadiahnya.


Maaf jika karya Bunda belum sebagus karya Author yang lain. Semoga kalian suka.


Love you fuull😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2